Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
PoV Div 4


__ADS_3

Hari ini aku sedikit khawatir meninggalkan Ersya sendiri di rumah. Sepertinya Ellen sudah mulai.mengetahui pergerakan kami.


Aku sedang menduga-duga kemana perginya wanita itu kemarin, dia pergi seharian tapi tidak ke kantornya, orang suruhanku melihatnya menemui seseorang tapi sayang mereka kehilangan jejak.


Sebenarnya apa yang terjadi, aku pun memutuskan untuk tidak bekerja hari ini. Tapi aku tetap berangkat ke kantor untuk mencari tahu siapa pria yang di temui Ellen kemarin, untuk orang suruhanku sempat mengabadikan wajahnya jadi dengan alat pemindai wajah aku akan dengan mudah menemukan siapa pria itu. Apa mungkin pria itu ada hubungannya dengan semua ini?


Setelah sampai di kantor aku bergegas membuka laptopku dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.


Ternyata pria yang bersama Ellen kemarin adalah pria berwarga negara asing, untuk apa dia menemui Ellen. Setelah aku selidiki ternyata dia adalah salah satu karyawan kepercayaan orang tua Ellen di Perancis.


Apa mungkin urusan perusahaan?


Tapi untuk apa mereka bertemu secara sembunyi-sembunyi?


Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di benakku. Aku pun memilih mengirimkan data pria itu kepada Rendi, hanya mengirimkan data saja aku rasa sudah cukup membuatnya mengerti apa yang harus dia lakukan.


Kemudian aku teringat dengan kamera pengintai yang semalam sempat aku masang di kamar Divia, aku segera memasukkannya memorinya ke laptop untuk melihatnya.


Setelah aku pergi, semuanya terlihat baik-baik saja, tapi beberapa menit kemudian ada yang membuka pintu kamar Divia.


Aku benar-benar di buat terkejut, tanganku mengepal sempurna. Segera ku ambil kembali memori itu dan ku sambar jas yang ada di belakangku.


Tujuanku saat ini adalah kantor polisi, aku tidak peduli dengan yang lainnya. Ini mengenai Divia. Siapapun tidak boleh ada yang menyakitinya.


Setelah selesai urusanku di kantor polisi, aku pun memutuskan untuk menjemput Divia walaupun belum waktunya untuk pulang. Aku beralasan pada gurunya bahwa ada urusan keluarga.


"Dad, kita mau ke mana?" tanyanya sambil menatapku. Sudut mataku tiba-tiba berair, wajah tegasku hilang berubah menjadi Daddy yang begitu cengeng. Ku rengkuh tubuh mungilnya dalam pelukanku.


"Maafkan Daddy sayang, Deddy benar-benar bukan Daddy yang baik untuk Divia!"


Aku juga merasakan tubuh Divia bergetar, dia juga menangis. Menumpahkan tangis yang beberapa Minggu ini ia tahan demi melindungi adiknya yang belum lahir ke dunia.


"Kita ke rumah sakit!" ucapku setelah aku melepas pelukannya, putriku terdiam. Ada ketakutan di wajahnya saat ini, "Jangan khawatir sayang, semua akan baik-baik saja! Kamu percaya kan sama Daddy dan ayah Rendi?"


Divia menoleh padaku, mendongakkan kepalanya mencoba memastikan apa yang dia dengar itu sebuah kebenaran, "Ayah?"

__ADS_1


"Hemmm, dia sangat menyayangimu!"


Sebenarnya begitu kesal harus mengatakan hal itu, tapi mau bagaimana lagi memang kenyataannya seperti itu.


Kami sudah sampai di rumah sakit, Frans terlihat heran menghampiri kami.


"Ada apa bang?"


"Tolong periksa Divia!"


Pria yang ternyata sepupuku itu tampak begitu teliti memeriksa tubuh Divia yang penuh lebam. Hatiku begitu teriris melihatnya, bagaimana aku bisa seteledor ini. Di rumahku sendiri dan semua ini terjadi.


"Siapa pelakunya bang?" tanyanya terlihat serius. Aku hanya mengusap kepalaku prustasi, semua ini tidak akan terjadi jika saja aku lebih tegas.


Hingga sebuah dering keluar dari ponselku, aku tidak menjawab pertanyaan Frans, aku memilih untuk mengangkat telpon dari mama.


"Ada apa ma?"


"Kamu panggil polisi ya ke rumah? Ada apa?"


Aku pun segera mematikan telpon dan meletakkannya kembali ke dalam saku celanaku.


"Kami harus segera pulang!" aku segera menyambar tubuh mungil Divia yang masih duduk di atas tempat pemeriksaan.


Tapi sebelum keluar dari ruangan itu, aku segera menoleh pada Frans.


"Kirimkan obatnya ke rumah!"


"Iya!" dia menjawab tanpa ekspresi, sepertinya dia sedang mencerna apa yang sedang terjadi.


"Oh iya, hubungi Rendi, katakan untuk segera ke rumahku!"


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Tidak ada waktu!" aku berlalu begitu saja, biarlah dia bertanya pada Rendi kalau di jawab.

__ADS_1


"Dad, mom's tidak pa pa kan?" sepanjang jalan Divia hanya terus menanyakan hal itu.


Sungguh ikatan batin yang seperti apa yang tercipta antara putriku dan istriku. Bahkan putriku rela menahan sakit demi melindungi mom's dan adiknya yang bahkan belum lahir. Aku hanya terus mengusap kepalanya dan memastikan agar dia tidak terlalu khawatir.


Hingga aku sampai di depan rumah, mobil polisi sudah ada di halaman rumah. Mama terlihat menahan mereka.


Ersya segera menghampiri kami saat Ki turun dari mobil.


"Mas, ada apa?"


Aku tidak memberitahukan apapun padanya, mungkin dia juga khawatir sekarang.


"Lebih baik kita bicara di dalam ya!"


Aku mengajak polisi serta untuk masuk, hanya ada mama dan Ersya di rumah. Sepertinya aku melupakan sesuatu, atau aku yang terlalu gegabah karena tidak memastikan dulu kalau Ellen di rumah.


"Maaf pak, bagaimana kelanjutannya?" tanya salah satu polisi yang sedang duduk.


"Sebentar ya pak, saya harus menunggu seseorang!"


Aku mengirimkan pesan pada Ellen untuk segera pulang, aku harus menyelesaikannya hari ini juga. Jika di biarkan terlalu lama, malah akan menimbulkan kekacauan yang semakin parah.


Pelayan sudah menyuguhkan minuman dingin untuk para tamuku, Ersya masih duduk sambil memeluk tubuh Divia. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya itu, aku pikir nanti saja saat semuanya sudah selesai pelan-pelan aku akan memberitahunya.


Mama yang duduk bersebelahan denganku tangannya terlihat beberapa kali ia usapkan ke rok sebatas lututnya, walaupun masih menampakkan wajah arogannya tapi aku tahu mama sangat khawatir.


...Sepandainya kita menutupi sebuah kebenaran, tapi selalu ada jalan yang membuat kebenaranya itu terbuka. Bukan karena ada orang lain yang ingin mengetahuinya tapi mungkin karena perilaku kita sendiri...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani524

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2