Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

"Itu dokter Frans, mas!" ucap Ersya saat melihat seseorang yang hampir memasuki lift.


Karena mungkin teriakan Ersya itu membuat orang itu berhenti dan menoleh ke sumber suara, pria itu langsung tersenyum saat melihat siapa yang datang.


Ersya dan Div mempercepat langkahnya,


"Bang Div!" sapa pria dengan rambut gondrong dan kaca matanya itu.


Div pun melepaskan tangannya dari pinggang Ersya dan menyatukan tangannya dengan tangan dokter Frans. Salam ala laki-laki.


"Hai bapak baru, gimana kabarnya nih?" tanya Div lagi setelah salam pertemuan mereka selesai,


"Baik bang, abang sama Ersya gimana? Udah ada calon adiknya Iyya belum?" tanya dokter Frans sambil menatap Ersya.


Apaan sih dokter Frans nih ...., sudah tahu aku nggak akan punya anak masih nanya lagi ...., batin Ersya kesal. Ia tidak suka dengan pertanyaan yang semacam itu.


Div seperti sadar dengan pertanyaan dokter Frans yang tidak di sukai oleh sang istri.


"Kamu tuh ada-ada aja, ayo antar kami ke kamar istri kamu!" ajak Div dengan meletakkan telapak tangannya di punggung dokter Frans.


"Ayo-ayo ...., kebetulan di sama ada mertua aku juga!"


"Bagus dong!"


Mereka terus mengobrol sambil berjalan menuju ke kamar Felic, sedangkan Ersya hanya terus menjadi pendengar mereka berdua. Suka saja melihat kedekatan mereka, sebelumnya saat dia mengenal dokter Frans dia tidak pernah tahu ada makhluk yang namanya Divta yang sekarang di takdirkan untuk menjadi suami keduanya.


Sungguh takdir yang aneh, dulu dia sempat iri dengan sahabatnya karena memiliki suami yang super tajir dengan segala kebaikannya dan sekarang dia pun juga merasakannya.


Tapi rasanya aneh saja, setelah benar-benar menjadi istri seorang bos besar, ternyata ujian hidupnya bukan soal uang tapi hal lainnya.


"Bagaimana Tisya?"


Deg


Walaupun tidak yakin tapi sepertinya ia mendengar ada nama Tisya di sebut di sela-sela perbincangan mereka.


Tisya ...., wanita itu ....


Ersya pun menajamkan telinganya, kenapa suaminya menyebutkan nama itu. Seingatnya suaminya tidak begitu dekat dengan wanita itu.


Atau memang aku yang tidak tahu kalau mereka pernah dekat?


"Dia sudah baik-baik saja, hanya saja Wilson yang sedikit parah!"


"Benarkah? Apanya?"


"Perutnya tertusuk pisau!"


Kenapa ada Wilson juga?


Ersya semakin penasaran tapi ia tidak ingin bertanya saat ini. Rasanya masih aneh saja menanyakan wanita yang jelas-jelas sudah tidak ada hubungan apapun dengan kehidupannya saat ini. Baginya ya sudah lah, hidupnya sudah bahagia dengan keluarga kecilnya.


Apalagi sekarang ada Ellen yang harus di basmi, benar-benar resiko punya suami tampan plus tajir.


Dia kena tusuk ....., lagi-lagi Ersya tidak bisa mengubah pemikirannya. Ia jadi penasaran kenapa Wilson bisa kena tusuk, atau gara-gara ulah Tisya lagi?


Tisya sudah memiliki kesan yang buruk di matanya sejak pertama kali bertemu, jadi bukan hal yang aneh jika Ersya sampai memikirkan hal yang paling jelek untuk Tisya.

__ADS_1


"Sudah sampai!" ucap dokter Frans membuyarkan lamunan Ersya. Ia kembali teringat dengan sahabatnya itu,


"Aku masuk dulu ya!" dengan cepat Ersya menerobos dua pria itu membuat keduanya menggelengkan kepala.


Tangannya dengan kuat membuka pintu hingga membuat pintu itu terbuka lebar, wanita yang sedang duduk di atas tempat tidur itu tersenyum menyambut kedatangannya.


"Feeeee!"


Ersya dengan cepat berlari dan memeluk sahabatnya itu.


"Ya Allah Sya, gue kira Lo nggak akan datang!"


"Nggak mungkin lah Fe, kalau aja tadi malam nggak gelap, gue udah pergi ke sini sendiri!"


"Iya percaya!!!"


"Selamat ya Fe ...!"


"Terimakasih Sya!"


Ersya mengedarkan pandangannya, karena seingatnya dokter Frans mengatakan kalau ada orang tua Felic juga tapi ia tidak menemukan siapapun kecuali Felic dan bayi nya.


"Katanya tante sama om Dul di sini, mana?"


"Ibu ribet banget tadi, tiba-tiba kepikiran buat cari makan siang yang cocok buat gue, padahal mah di rumah sakit juga udah di sediain!"


Ha ha ha ha ....


Ersya tertawa mendengar ucapan Felic, memang orang tua sahabatnya itu sangat unik.


"Di mana Iyya? Dia nggak ikut?" tanya Felic karena tidak melihatnya bersama Ersya dan Div.


"Ohhhh ....!"


Ersya sampai lupa kedatangannya ke tempat itu adalah untuk melihat keponakannya. Ersya kembali melihat ke arah keranjang bayi yang ada di samping Felic,


"Lucunya ....!"


Matanya tidak bisa beralih dari bayi laki-laki yang tampan ini. Air matanya tiba-tiba menetes, ia segera mengusapnya sebelum orang lain melihatnya tapi terlambat Felic sahabatnya itu sudah melihat.


"Sya!"


"Tidak pa pa Fe, ini air mata bahagia!"


Rasanya begitu iri saat melihat kebahagiaan yang lengkap yang di miliki oleh seorang wanita. Melahirkan seorang anak, tapi ia sudah sangat beruntung walaupun tidak di takdirkan melahirkan seorang anak, setidaknya ia di takdirkan menjadi ibu dari seorang putri yang cantik.


Ersya pun segera tersenyum dan menatap Felic,


"Siapa namanya nih? Cakep banget!"


"Belum tahu nih belum kepikiran namanya!"


Dokter Frans yang tadinya duduk di sofa bersama dengan Div tiba-tiba berdiri dan menghampiri mereka.


"Kalian ngobrol dulu ya, aku sama bang Div mau keluar dulu!" ucapnya pada sang istri.


Felic pun menganggukkan kepalanya, "Iya!"

__ADS_1


Memang apa yang mau di obrolin, kan di sini juga bisa? mencurigakan ...., batin Ersya tapi dia tidak bisa mencegah suaminya untuk pergi atau menguping pembicaraan mereka.


Kini di kamar itu hanya tinggal Felic dan Ersya juga bayi mungil itu. Ersya jadi penasaran ingin bertanya soal apa yang ia dengar tadi saat di dalam lift. Ersya pun mendekatkan kursinya dan menunjukkan wajah seriusnya.


"Sya, ada apa?" tanya Felic khawatir, suasana kamar menjadi sedikit dingin dengan ulah Ersya ini. Ersya yang biasanya renyah dengan begitu banyak senyum yang bertebaran sekarang tiba-tiba diam dengan wajah serius.


"Tadi pas gue di lift sama suami Lo, gue dengar mereka membicarakan soal Tisya! Memang ada yang belum lo ceritakan ya sama gue?"


Felic terdiam, ia seperti ragu untuk mengatakan yang jujur atau tidak.


"Ayolah Fe, gue butuh pengakuan Lo!"


Hehhhh, terdengar helaan nafas kasar dari Felic, sepertinya beban berat sedang ingin ia letakkan dengan cara bercerita.


"Sya ..., maafin gue ya!"


Maaf,


Ersya cukup tahu jika kata maaf itu di tujukan untuk orang yang pernah melakukan kesalahan. Lalu kesalahan besar apa yang sudah sahabatnya itu perbuat padanya?


"Lo salah apa Fe?"


Felic menarik tangan Ersya dan menggenggamnya dengan begitu erat.


"Sebenarnya Tisya adalah adik kandung Frans!"


Adik kandung?


Ersya tampak begitu terkejut, lelucon macam apa yang baru saja ia dengar? Ersya merasa seperti berada di bagian bumi yang asing,


"Maksudnya? Lo becanda kan Fe?"


"Enggak Sya, gue ngomong yang sesungguhnya!"


Ersya menggelengkan kepalanya cepat sambil menyunggingkan senyum yang terlihat hambar,


"Enggak mungkin! Ini pasti cuma akal-akalan wanita itu agar bisa nguasai harta suami Lo Fe, Lo jangan percaya!"


"Ini kenyataannya Sya, Lo harus terima, Tisya sudah berubah Sya, dia udah nikah sama Wilson!"


Wilson? Dia suami Tisya, seberuntung itukah wanita itu ....


Lagi-lagi Ersya tidak percaya, ini terlalu sulit untuk di percaya.


"Jadi yang kamu yang kamu maksud istri Wilson itu Tisya?"


"Iya Sya!"


Ersya tidak punya bantahan lagi, ia terdiam. Mau marah juga marah dengan siapa? Siapa juga yang tahu kalau semuanya akan seperti ini, seseorang tidak bisa memilih harus bersaudara dengan siapa atau memiliki ibu siapa.


...Ini sakit, sangat sakit! kalau boleh aku memilih untuk tidak bermasalah dengan seseorang aku akan memilih pilihan yang itu, tapi masalah itu ada karena Tuhan ingin kita menyelesaikannya, bukan untuk lari darinya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @ tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2