
"Kamu yakin tuan tampan itu tidak memiliki perasaan apa-apa sama kamu?" Yura terus saja bertanya Setalah mendengar bagaimana Kim begitu gembira mendengar berita jika Divia lulus.
"Ya iya lah Yura. Dia itu perhatian sama aku cuma gara-gara Dee. Dia nggak akan melakukan. itu jika tidak karena Dee!"
"Kamu yakin?"
"Ya yakin dong, kamu kan tahu sendiri dia itu dalam golongan pisang makan pisang!"
"Tapi aku kok jadi ragu ya sekarang, sepertinya perhatian yang dia berikan itu bukan hanya sekedar karena Dee. Dia tidak mungkin capek-capek telpon kamu cuma buat tahu bagaimana hasil ujian kamu. Dia kan bisa tanya nanti aja pas kalian di rumah!?"
Divia mulai memikirkan apa yang di katakan oleh Yura, ia juga jadi memikirkan tentang ciuman tadi pagi, ciuman yang ia rasakan tadi pagi begitu berbeda. Rasanya seperti sebuah ciuman yang penuh cinta, tanpa menuntut. Hanya sebentar tapi ia bisa merasa nyaman dengan ciuman itu.
Ahhhh, masak iya sihhhh. Tapi bagaimana dengan Lee dan gosip yang beredar selama ini ....
"Nggak mungkin!?"
"Ya udah kalau nggak percaya, nanti kamu juga tahu sendiri!"
Percakapan mereka terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan mereka, Yura langsung menoleh pada Divia,
"Iya kan, dia bahkan mau bersusah-susah jemput kamu!"
Belum sampai Divia menanggapi, Kim sudah turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua,
"Hai Yura!" sapa Kim, untuk pertama kalinya Kim menyapa Yura.
"Selamat siang, Mr Kim!?"
Kim tersenyum lalu beralih menatap Divia, "Sudah selesaikan kan, kita bisa pergi sekarang?"
"Iya!" Divia beralih menatap Yura, "Aku duluan ya!"
"Iya, semangat!?"
"Semangat?" Divia tidak faham dengan yang di katakan Yura.
Yura mendekatkan bibirnya pada daun telinga Divia, "Semangat buat dapetin hati tuan tampan." bisiknya sambil tersenyum lalu menjauhkan diri dari Divia, melambaikan tangannya.
"Aku pergi!"
Divia pun akhirnya masuk ke dalam mobi di susul Kim yang lebih dulu berlari mengitari mobil lalu masuk melalui pintu lainnya.
Mobil mulai melaju meninggalkan depan kampus, tapi bukan ke arah kantor ataupun ke rumah,
"Kita mau ke mana?" Divia menoleh ke arah Kim yang sedang santai.
"Kita akan ke sekolah Dee!?"
"Tapi ini belum waktunya dia pulang?"
"Aku akan mengajak kalian jalan-jalan!"
"Jalan-jalan?" Divia menatap Kim dengan tatapan penuh selidik, ia tidak percaya pria gila kerja ini tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan.
"Memang aku tampak seperti apa?" ternyata Kim menyadari maksud dari tatapan Divia.
__ADS_1
"Memang apa? Aku tidak pa pa!?"
"Ini sebagai hadiah karena kamu lulus, jadi jangan berpikir macam-macam!"
Divia tidak mau berdebat lagi, ia tidak mau hati baiknya hari ini di nodai dengan pertengkaran mereka.
Akhirnya mobil telah sampai di depan sekolah Dee, dan ternyata seorang guru sudah mengantar Dee di depan sekolah.
"Terimakasih!?" Divia menghampiri Dee dan mengucapkan terimakasih pada guru Dee.
"Sama-sama!"
Segera setelahnya Divia mengajak di masuk ke dalam mobil dan seperti biasa Dee memilih duduk di belakang karena lebih leluasa.
"Appa, kita mau ke mana?" Dee bertanya pada Kim yang tengah fokus menyetir.
"Hari ini Vi lulus ujian, jadi kita harus merayakannya!?"
"Benarkan itu eomma?" Dee terlihat begitu senang sampai ia mendekatkan kepalanya ke depan.
"Iya Dee!?"
"Hore, kita jalan-jalan!?" Dee sampai meloncat-loncat di dalam mobil.
"Dee duduklah!?" perintah Divia yang merasa khawatir dengan Dee.
"Iya eomma!?"
Akhirnya mereka sampai juga di sebuah taman bermain, begitu banyak wahana permainan di sana. Dee dan Divia langsung berlarian kesana kemari untuk mencoba semua wahana tersisa Kim yang membawakan tas milik Divia.
"Kim, kita harus coba ini!" Dee menunjukan sebuah wahana yang memacu adrenalin.
"Tidak usah, lain kali saja!?" Kim sebenarnya takut dengan wahana ini, ia tidak bisa membayangkan jika berada di atas sama dan di putar kembali.
"Ayolah Kim, aku ingin. Kita bertiga yang naik Kim!?" Dee terus memaksa membuatnya tidak bisa menolak lagi.
Ini untuk pertama kalinya Kim mengajak Dee pergi ke tempat umum tanpa ada pengawalan. Bahkan Kim menyembunyikan identitasnya saat ini dengan memakai baju khas anak muda dan topi yang menghiasi kepalanya.
Akhirnya mereka bertiga naik wahana rollercoaster. Terlihat keringat dingin sudah membasahi kening Kim,
"Kim, apa kamu takut?" tanya Divia yang memperhatikannya sedari tadi.
"Enggak, siapa yang takut!"
"Itu, kenapa keringetan?"
"Ya emang panas di sini!"
"Benarkah, sepertinya nggak dingin, iya kan Dee?" dan si kecil itu hanya mengangukkan kepalanya sambil sesekali berceloteh. Mesin pun perlahan mulai berjalan, Kim mulai meremas sisi kiri dan kanannya matanya mulai terpejam.
"Aaaaaaa ....!?"
"Aaaaaa....!?"
Teriakan-teriakan itu mulai terdengar seiring dengan laju rollercoaster yang semakin cepat.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit barulah wahana itu berhenti, terlihat wajah Kim semakin pucat.
"Kim, kamu tidak pa pa?" tanya Divia yang mulai khawatir.
"Bantu aku turun!?" dan Divia pun segera memapah pria itu, mereka berjalan meninggalkan wahana itu dan kemudian Kim segera berlari menuju tempat yang sepi,
"Hoeks hoeks hoeks ...!" Kim ternyata memuntahkan seluruh isi perutnya.
Divia dan Dee yang juga menyusul di belakangnya,
"Kim, apa kamu baik-baik saja?" Kim segera memberi isyarat pada Divia agar tidak khawatir.
Divia pun mengusap punggung Kim agar sedikit mengurangi rasa mualnya.
Setelah Kim selesai muntah, Divia mengajak Kim dan Dee untuk duduk di salah satu bangku,
"Minumlah!" kim pun segera mengambil botol yang di berikan Divia, meneguknya dan ia gunakan sebagian untuk berkumur dan sebagiannya lagi ia meminumnya.
"Seharusnya kamu bicara Kim kalau nggak bisa naik itu!" Divia terlihat begitu khawatir dengan keadaan Kim saat ini,
"Tidak pa pa, aku sudah tidak pa pa!"
Beruntung Dee bukan anak yang suka rewel jadi ia bahkan tidak meninggalkan Kim dan Divia saat mereka sedang fokus dengan hal lain.
"Aku hanya tidak ingin membuat kalian kecewa," ucap Kim lagi membuat Divia terdiam sejenak.
"Tapi aku mengkhawatirkan mu! Sungguh!?"
Mendengar perkataan Divia, Kim pun segera menatap wanita yang tengah duduk di sampingnya itu, benar sekali ia terlihat begitu khawatir. Mereka pun saling pandang dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Ingin mengatakan apa yang ada dalam hatinya tapi rasanya bahkan bibirnya tidak mampu untuk berkata-kata.
Cup
Hingga sebuah kecupan mendarat di bibir Divia, mereka sampai lupa juga ada Dee di sana.
"Hmmm!?"
Seketika mereka sadar saat mendapat kode dari Dee dan saling memalingkan wajahnya salah tingkah.
Ya ampun Divia, apa yang sudah kamu lakukan? Bisa-bisanya berciuman di depan anak kecil ..., keluhnya dalam hati.
"Kalian benar-benar keterlaluan!?" keluh Dee sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Saat ini bahkan Divia tidak berani menunjukkan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan saja!?" tawar Kim.
"Iya!?" Divia pun segara berdiri dari duduknya tanpa berani menatap Kim.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1