
...Aku memang hanya hidup sekali, tapi jika kamu yang menjadi bagian dari cerita hidupku, bagiku sekali saja sudah cukup asal kamu bersamaku....
...🌺🌺🌺...
Kim terus saja memegangi bibirnya, ia berkali-kali mencoba untuk melupakan kejadian semalam tapi itu masih terasa nyata.
"Lupakan Kim, gadis keras kepala itu pasti sedang meracuni pikiranmu!"
Tok tok tok
Hingga suara ketukan menyadarkannya dari lamunan, dan seseorang yang begitu ingin ia hindari sudah terdiri di depan ruang kerjanya.
Kenapa dia lagi??? Kim sebenarnya ingin sekali mengusirnya tapi apa daya Dee membutuhkannya.
Lupakan Kim, dia bukan siapa-siapa...., Kim menggelengkan kepalanya cepat.
"Masuklah!"
Divia tersenyum saat sudah berada di ruangan pria dingin itu.
"Apa?"
Ketus banget ...., Divia tetap tersenyum, hari ini tidak boleh gagal ..., batin Divia meyakinkan dirinya sendiri.
"Kimmmm!"
Divia memanggil nama Kim dengan nada yang begitu manis,
"Jangan memanggilku seperti itu!?"
"Mr Kim!"
"Itu jauh lebih baik!"
"Aku bawakan secangkir kopi buat kamu!" Kim sampai tidak menyadari ada secangkir kopi di tangan Divia.
Divia segera meletakkan kopi itu ke atas meja,
"Tidak perlu repot-repot!"
"Tidak, sungguh ini tidak repot!" Divia menggeser cangkir itu hingga begitu dekat dengan Kim.
Tapi na'as, tangan Kim malah menyenggol cangkir itu hingga mengenai dirinya,
"Auhhhgggg panas!"
"Kim!"
Divia yang juga terkejut segera berlari mengitari meja dan mendekati Kim, benar saja baju dan celananya basah karena kopi yang baru saja ia bawa,
"Aku bersihkan!" Divia segera mengambil tisu yang ada di atas meja dan mengelap baju serta celana Kim.
Tapi tiba-tiba tangan Divia berhenti di satu titip, ia baru saja menyadari ada yang aneh di sana.
Kim pun langsung menyadari arah tatapan Divia, dengan cepat ia memundurkan tubuhnya dan mengambil tisu yang ada di tangan Divia,
"Sudah cukup, pergi dari ruanganku!?"
"Tapi Kim?"
"Pergilah!"
Divia pun terpaksa pergi, hari ini pun dia gagal. Divia berdiri di depan pintu ruangan Kim sambil membayangkan kembali apa yang baru ia lihat.
"Itu pasti panas sekali!?"
Persis seperti yang di pikirkan Divia, di dalam Kim sedang mengipasi apa yang ada di dalam celananya.
"Astaga, ini belum pernah tes Drive dan sekarang sudah cidera, bagaimana kalau sampai tidak berfungsi sebelum di gunakan!?"
Kim terus saja mengipasi, kopinya cukup panas. Ia pun segera ke kamarnya, ada pintu yang langsung menghubungkan ruang kerja dan kamarnya.
Ia segara menyiram tubuhnya dengan air dingin,
"Eomma!?"
Dee yang melihat Divia berdiri di depan kamar Kim segera menghampirinya,
__ADS_1
"Husssstttt!" Divia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, "Jangan keras-keras!?"
"Ada apa eomma?"
"Sebenarnya aku sudah buat kesalahan, bagaimana kalau.kim marah padaku?"
"Apa?"
"Tanpa sengaja aku menumpahkan kopi ke tubuhnya!"
Dee pun langsung memeluk Divia,
"Tunggu aku!"
Divia penasaran apa yang akan di lakukan oleh anak itu, setelah melepaskan pelukannya, Dee langsung mengetuk pintu kamar kim yang berada tidak jauh dari mereka berdiri saat ini.
Karena memang di dalam ruangan itu saling terhubung,
"Appa!?"
"Appa!?"
Beberapa kali Dee mengetuk dan memanggil Kim, tapi Kim belum siap membuka pintu karena saat ini ia tengah telanjang dan meratapi juniornya yang memerah karena air panas itu,
"Bentar Dee!"
Setelah beberapa kali akhirnya ada sahutan.
Setelah menunggu seperempat jam akhirnya pintu terbuka dan Kim sudah memakai baju lain.
Divia tampak bingung, ia kembali menoleh ke arah belakang. Ke pintu ruang kerja itu,
Aku belum melihatnya keluar, kenapa dia sudah ada di situ aja ....
"Ada apa?"
"Appa, boleh aku masuk?"
Kim pun lalu menatap ke arah Divia,
"Tapi tanpa dia!"
"Masuklah!"
Akhirnya dia pria itu meninggalkan Divia sendiri di luar,
"Apa yang akan mereka bicarakan?"
Divia benar-benar penasaran, ia bahkan tidak berniat pergi dari depan ruangan itu.
Hingga pintu itu kembali terbuka, Divia dengan cepat berlari dan menghampiri Kim,
"Kim, maafkan aku. Sungguh aku tadi tidak sengaja, aku hanya ingin meminta ponselku!?"
Kim masih menunjukkan wajah dinginnya, tapi Dee langsung menarik tepi bajunya agar pria itu menatap ke arahnya,
"Baiklah, aku akan memaafkan mu!"
"Kalau begitu bisa kembalikan ponselku? Ini sudah lebih dari dua Minggu kan?"
"Masuklah!" perintah Kim dan Divia pun ikut masuk.
Tentu ini bukan kali pertama ia masuk ke dalam ruangan itu, jadi bukan hal yang aneh.
"Duduklah!?"
Akhirnya Divia dan Dee pun duduk di sofa, sambil menunggu pria itu kembali Divia pun berbisik pada Dee,
"Dee, apa yang kamu lakukan?"
Tapi Dee tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Kamu sama.misteriusnya sama dia!"
Flashback on
Kim yang mengajak Dee masuk ke dalam kamar dan meminta Dee berdiri di atas tempat tidurnya agar tinggi mereka sejajar.
__ADS_1
Kim sudah berkacak pinggang menatap Dee, tapi sepertinya Dee juga tidak mau kalah,
"Jangan pikir aku akan memaafkan dia Dee, enggak!?"
"Kim, tapi kamu harus memaafkannya!?"
"Atas dasar apa?"
"Vi tidak bersalah!?"
"Hehhhh, aku lebih suka panggilan itu dari pada eomma!?"
"Tapi aku lebih suka memanggilnya eomma!"
"Sudah aku bilang ya, dia bukan eomma kamu, mengerti!"
"Kamu juga bukan appa, Dee!"
"Dee, jangan membuatku kesal ya, aku apa kamu!?"
"Baiklah, jadi Vi juga eomma Dee!"
"Memaksa sekali!?"
Mereka pun terus saja berdebat, tidak ada yang mau kalah satu sama lain,
"Baiklah, bagaimana kalau dengan ini!?"
Dee menunjukkan foto-foto kemesraan Kim dan Vi tanpa sepengetahuan mereka.
"Itu apaan? Dapat dari mana!?"
Dee segera menyembunyikan ponselnya di belakang punggung saat Kim hendak merebutnya.
"Baiklah, apa yang akan kamu lakukan dengan foto-foto itu?"
"Aku akan menyebarkannya di media sosial!"
Dia licik sekali ...., Kim merasa frustasi sendiri dengan kelakuan Dee. Ternyata anak itu benar-benar tidak polos.
"Baiklah, apa yang kamu mau?"
"Vi dan aku akan tidur di sini malam ini!"
"Tidak!" Kim jadi teringat dengan malam itu saat tanpa sengaja mereka berciuman.
"Baiklah, aku akan melakukannya!" Dee tinggal pencet tombol kirim dan semua foto itu akan tersebar ke media sosial,
"Baiklah, baiklah, aku setuju!"
"Satu lagi, appa!?"
"Jangan memanggilku seperti itu jika ingin memerasku!?"
"Appa!?"
"Baiklah apa?" Kim benar-benar tidak bisa berkutik.
"Kembalikan ponsel Vi!"
"Oke, sekarang Keluar dari aplikasi itu!"
"Okey, appa!?"
Kim hanya bisa pasrah dan mengajak Dee menemui Divia kembali.
Flashback off
"Aku kembalikan ponselmu!?" Kim mengacungkan ponsel Divia, mata Divia langsung berbinar-binar menatap ponsel miliknya segera kembali.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...