Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Memilih pergi


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, nyonya Aruni jadi jarang keluar dari kamarnya hingga siang ini tiba-tiba ia keluar dengan membawa sebuah koper besar di tangannya. Div yang memang belum berniat untuk pergi ke kantor sebelum Divia dan Ersya benar-benar tenang pun menghentikan kegiatannya yang sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang keluarga.


Div sengaja tidak melakukan pekerjaan di ruang kerja supaya lebih bisa mengawasi buah hati dan istrinya.


"Mama mau ke mana?" tanya Div dengan tatapan dingin.


Wanita yang telah melahirkan dia ke dunia itu pun berhenti tepat di depannya dan menurunkan kembali kopernya,


"Mama setuju mengelola butik yang ada di Semarang!"


"Ohh, baguslah!" ucap Div yang sudah Kembali fokus pada pekerjaannya.


"Div, kamu benar-benar marah ya sama mama, jangan bersikap seperti ini dong Div sama mama!" wanita itu terlihat menampakkan wajah penuh kepedihan. Jelas saja saat seorang ibu yang kehadirannya tidak lagi di hargai, luka mana yang lebih sakit dari itu.


Div pun menatap mamanya lekat, bukan maksudnya ingin melakukan ini, tapi apa yang di lakukan mamanya terhadap keluarganya sudah lebih dari cukup membuat keluarganya tersakiti. Keberaniannya membawa orang lain dalam keluarganya membuatnya begitu membenci sosok yang seharusnya tempat terendahnya menjadi surga baginya.


"Div harus bagaimana bersikap sama mama? Hormat? atau Div harus melepaskan putri dan istri Div demi memenuhi obsesi mama? Mau sampai kapan ma? Sampai mama kehilangan aku seperti mama kehilangan ayah? Atau sampai Div kehilangan putri Div?" wanita itu terdiam mendengarkan pertanyaan Div yang panjang, "Jawab ma!" kali ini Div meninggikan suaranya.


Hal itu mengundang Ersya untuk keluar dari dapur dan menghampiri sang suami, langkahnya terhenti saat melihat mama mertuanya dengan sebuah koper besar di tangannya.


"Ma, mama mau ke mana?" tanya Ersya sambil memutari mertuanya itu tapi wanita itu tetap diam menahan luka.


"Kalau mama sudah yakin, aku akan meminta seseorang mengantar mama!" Div pun mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja dan menghubungi seseorang.


Ersya masih terdiam, dia sedang mencoba membaca situasi yang terjadi sebenarnya.


Tidak berapa lama ada salah satu pengawal menghampiri mereka.


"Tolong antarkan mama saya ke Semarang, nanti saya akan serlok!"


"Baik tuan!"


Pria dengan perawakan tinggi besar itu beralih menatap ke arah nyonya Aruni,


"Apa nyonya sudah siap?"


Nyonya Aruni malah menatap putranya kembali,


"Maafkan mama Div, tapi mama mohon jangan pernah membenci mama, apapun yang mama lakukan sama kamu, percayalah semua demi kamu!"

__ADS_1


Div tidak mengindahkan, ia hanya tetap dengan sikap dinginnya,


"Baiklah, saya siap!" ucap nyonya Aruni setelah cukup lama mereka terdiam dan tidak mendapat jawaban dari Div.


Pria bertubuh tinggi itu membantu membawakan koper nyonya Aruni. Sedangkan nyonya Aruni memilih melewati Ersya begitu saja seakan mereka bukan orang yang saling kenal.


Div tetap bergeming di tempatnya, tidak berniat mengantarkan wanita yang telah menghadirkannya di dunia hingga ke depan.


Ersya hanya menatap bingung pada keadaan yang sebenarnya terjadi antar suami dan mertuanya itu.


Kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu, Ersya menatap lekat pada wajah suaminya, bohong jika pria itu tidak menyimpan luka di wajahnya, tapi sebuah keputusan penting harus ia ambil untuk menyelamatkan semuanya. Dengan keluarnya sang mama dari rumahnya itu artinya mamanya jauh kemungkinan untuk masuk kembali ke jeruji besi dan dengan cara ini juga ia bisa melindungi keluarga kecilnya.


Dengan memasukkan orang lain ke dalam rumahnya itu berarti membuat masalah baru dalam rumah tangganya.


"Mas, kamu tidak pa pa?"


Ersya sudah berdiri di sampingnya saat ini, mencoba menerka apa yang sedang di rasakan oleh sang suami,


"Ini jauh lebih baik, sayang!"


Ersya pun berhambur memeluk tubuh sang suami, ia tahu jika saat ini suaminya sedang tidak baik-baik saja, mungkin sebuah pelukan akan berhasil membuat hatinya sedikit lebih baik.


***


Bukan tanpa maksud ia melakukan itu, selain karena memang butik itu salah satu hal yang seharusnya menjadi milik nyonya Aruni, nyonya Ratih juga berharap dengan berada di tempat yang baru, istri pertama suaminya itu bisa instrospeksi diri dan menjadi manusia yang lebih baik.


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu menyandarkannya, wanita yang sedang berdiri menatap jendela kaca yang lebar itu menoleh sejenak ke pintu.


"Masuk!"


Manager butik kepercayaannya masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa?"


"Maaf nyonya, ada yang ingin bertemu dengan anda?"


"Siapa?"

__ADS_1


"Maaf nyonya, saya kurang tahu!"


Nyonya Ratih mengerutkan keningnya, ia tidak merasa punya janji dengan seseorang.


"Suruh masuk!"


"Baik nyonya!"


Karena tidak ada urusan lain setelah ini akhirnya nyonya Ratih bersedia bertemu, sebenarnya tidak begitu suka menemui tamu di butiknya, tapi karena sudah terlanjut jadi tidak ada pilihan lain.


Nyonya Ratih kembali membelakangi pintu menghadap jendela besar, menikmati suasana siang yang ramai di pertigaan jalan.


"Selamat siang, nyonya Wijaya!" sapaan seseorang membuat nyonya Ratih berhasil membuat nyonya Ratih membalik badannya.


Sekarang pria seumuran dengan mendiang suaminya itu berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.


"Anda!"


"Boleh saya duduk?" pria itu bertanya lagi.


"Silahkan!" nyonya Ratih tetap dengan gaya tenangnya, setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk, Nyonya Ratih pun juga ikut duduk. Kini mereka saling berhadapan dengan hanya terpisah sebuah meja kerja milik nyonya Ratih.


"Ada angin apa hingga membuat pak Gunawan sampai di sini?" ucap nyonya Ratih sambil tersenyum ringan.


"Saya rasa nyonya Wijaya tahu apa maksud kedatangan saya ke sini, ini masalah putra dan putri kita!"


"Ada apa dengan putra saya?"


"Ellen adalah putri saya, dia satu-satunya putri saya. Sebenarnya kita bisa menyelesaikan dengan kekeluargaan!"


"Anda bisa langsung mengatakan maksudnya tanpa harus muter-muter terlebih dulu taun Gunawan!" ucap nyonya Ratih dengan masih menggunakan nada yang begitu santai tapi tegas.


"Baiklah, begini...!" tuan Gunawan kembali menghentikan ucapannya, terlihat wajahnya sedikit ragu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰 di...


__ADS_2