
Ersya bangun dari
tidurnya, dia merasa tidak mendapati pria yang berad disampingnya semalam kini
di sampingnya lagi. Ersya menoleh ke jendela kamar, sudah sangat terang, bahkan
matahari sudah begitu tinggi.
“Jam berapa sekarang?”
gumamnya, ia pun meraba nakas yang berada di samping tempat tidurnya, ia biasa meletakkan benda pipih nya itu di sana, tapi tidak ada.
“mana lagi ponselku?”
Ersya yang belum
membuka sempurna matanya pun terus meraba nakas yang ada di sampingnya.
“Ahhhh …, beneran nggak
ada nih!” gumamnya lagi, ia pun memilih untuk bangun dan meletakkan bantalnya di
atas pangkuannya.
“Iyya …., Iyya …!”
wanita itu tiba-tiba memanggil anak sambungnya itu, “Ahhh kenapa bisa lupa,
Iyya nggak di sini!”
Sudah menjadi kebiasaanya setiap pagi, setiap kali bangun gadis kecil itu selalu
menghampirinya dan mencium pipinya.
“Kangen Iyya!”
Ceklek
Pintu kamar mandi
terbuka menampilkan pria tampan itu lagi dengan celana kolor di atas lututnya
dan handuk yang mengalung di lehernya.
Div mengusap rambutnya
yang basah, ia berjalan menghampiri Ersya.
“Males banget jadi
cewek!” ucap Div sambil melemparkan handuk basahnya tepat mengenai wajah Ersya.
“Apa-apaan sih …!” gerutu Ersya.
“Ingat ya, status kamu
masih baby sitter Divia, jadi jangan seenaknya saja seperti nyonya rumah!”
“Jangan mengingatkanku,
aku sudah tahu!”
Ersya begitu kesal
dengan ucapan pria itu, memang benar dia hanya sebagai baby sitter iyya, bahkan
alasan utama dia menikah dengan pria itu memang demi bisa dekat dengan Iyya.
Ersya pun segera turun dari tempat tidur dengan membawa handuk basah itu menuju ke kamar mandi, Ersya memang harus segera membersihkan diri dan melayani tuannya itu.
Hehhhhhh ….
Ersya sudah duduk di
atas kloset yang tertutup itu, ia bingung harus memakai baju apa. Tidak mungkin
ia berkeliaran dengan baju mini itu, apalagi ada Div di kamar yang sama.
“Gue pakek baju apa
lagi?”
Wanita itu menatap
handuk yang tertumpuk rapi di rak yang ada di dalam kamar mandi. Hanya ada handuk, tidak ada yang lain.
“Malang banget nasib
gue, punya suami rasa majikan!”
Tok tok tok
Pintu kamar mandi di
ketuk dari luar, itu pasti div. pasalnya Ersya memang sudah berdiam diri di
dalam kamar mandi hampir satu jam dan tidak melakukan apapun.
“Hehh dia!” gumamnya
lirih, “Gue harus apa lagi?”
Ersya pun mengedarkan
pandangannya, mencari-cari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai alasan.
Akhirnya Ersya menemukan sebuah sikat toilet, ia segera mengambilnya dari menggosok lantai kamar mandi dengan sikat itu.
__ADS_1
“Sebentar!” teriaknya.
“Apa yang kamu lakukan
di dalam?” teriak dari luar.
“Aku? Aku sedang
membersihkan kamar mandi!”
Div terkejut, ia menempelkan daun telinganya di daun pintu kamar mandi dan benar saja, ia
mendengarkan suara gosokkan di kamar mandi.
“Ersya …! Keluar!”
teriak Div.
Akhirnya Ersya pun
keluar dengan sebuah sikat kamar mandi di tangannya. Ia hanya mengenakan sebuah
handuk yang melilit tubuhnya dari dada hingga ke paha.
“Apaan sih Div?”
“Siapa suruh ngelakuin
itu, kamu jangan buat malu ya!”
Div segera merebut
sikat kamar mandi itu dan membuangnya ke dalam kamar mandi begitu saja.
“Kenapa sih?!” keluh
Ersya.
“kamu yang kenapa?
Siapa suruh menyikat kamar mandi?”
“Tadi kamu sendiri kan
yang bilang kalau aku tuh cuma baby sitter nya Iyya. Jadi kalau Iyya nggak ada berarti aku harus melakukan pekerjaan rumah tangga kan?”
“Jangan banyak bicara, kita sarapan di luar!”
Div memilih mengakhiri
perdebatan mereka, ia sudah sangat lapar jadi jika di lanjut sudah pasti dia
akan terpancing emosi.
“Serius?” tanya Ersya,
“Ya serius, kamu nggak lapar?”
“Lapar, tapi …!”
“Apa lagi?”
“Semua bajuku mini!”
Div pun menatap Ersya dari bawah hingga ke atas, memang benar kalau Ersya keluar dengan baju yang mirip handuk yang di pakai sekarang pasti semua orang akan memperhatikan
tubuh seksi Ersya.
“Gini aja, kita sarapan
di sini saja. Setelah itu aku akan keluar mencarikan kamu baju!”
“Itu jauh lebih bagus!”
Div tidak mungkin
menghubungi orang-orangnya untuk mengantarkan baju ke kamarnya karena sudah
pasti mereka tidak akan melakukannya karena ulah Ara dan Nadin.
Dua wanita itu benar-benar tidak tanggung-tanggung mengerjai mereka.
Ersya pun segera mengganti handuknya dengan lingerie dan menutupinya dengan kemeja milik Div. walaupun begitu tetap saja wanita itu terlihat seksi.
Tidak berapa lama
pesanan makanan mereka datang juga, mereka terpaksa makan di dalam kamar.
Setelah menyelesaikan
sarapannya, Div pun segera mengambil ponsel milik Ersya yang di pinjamnya dan
juga dompet miliknya.
“Aku pergi dulu, jangan
kemana-mana! Jangan buka pintu kalau itu bukan aku!”
“Kenapa?”
“Kamu nggak takut jika
yang masuk pria-pria hidung belang dengan penampilan kamu yang seperti itu?”
Benar juga yang di
katakana oleh Div. sekuat apapun dia tetaplah seorang wanita yang pasti akan
__ADS_1
kalah dengan pria.
“Iya!”
“Aku kunci pintunya!”
ucap Div lagi sebelum benar-benar keluar dari kamar mereka.
Div meninggalkan kamarnya
dan menuju ke pintu lift, ia harus menuju ke toko untuk mencari baju untuk Ersya. Kamarnya yang berada di lantai atas sedikit butuh wakt untuk sampai di
bawah.
Seorang belt boy menghampiri Div,
“Selamat pagi tuan, ada
yang bisa di bantu?”
“Saya butuh tumpangan
untuk ke toko baju terdekat!”
“Baiklah tuan, pihak
hotel akan mengantar anda!”
Dengan di antar mobil
hotel Div pun menuju ke toko baju terdekat. Ia memang tidak membawa mobilnya
karena sekretaris Revan yang akan menjemput mereka nanti.
Jarak antara toko dan
hotel benar tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di
toko.
“Sudah sampai tuan!”
“Baiklah, saya tidak
akan lama, jadi tunggu saja!”
“baik tuan!”
Akhirnya sampai juga
dia di sebuah toko. Ia segera turun dari mobil meninggalkan sopir dan mobilnya,
terlihat sekali di sana kawasan elite, hanya ada beberapa orang dengan pakaian
rapi yang sedang lalu lalang, mobil-mobil mewah terparkir di setiap sudut
tempat dnegan area yang luas. Selain toko baju, berjajar dengan toko itu sebuah
restauran khas anak muda dengan menu andalan anak muda nongkrong.
Gedung dengan warna
yang berbeda-beda, ada toko yang khusus menjual sepatu, baju, tas dan pernak-pernik anak muda, ada toko ponsel juga di sana.
Div mendongakkan
kepalanya, memastikan jika dia tidak salah masuk toko. Senyum tipisnya menjadi
jawaban atas keraguannya. Kaki lebarnya mulai melangkah masuk dan seorang
karyawati sudah langsung menyambutnya dengan sapaan dan senyum yang ramah.
“Bisa tunjukan padaku
tempat baju wanita!”
“Silahkan tuan, mari
ikuti saya!”
Karyawan itu mengajak
Div ke tempat di mana berbagai macam model pakaian wanita terpajang.
Begitu banyak hingga
Div bingung harus memilih yang mana. Ia juga lupa menanyakan ukuran baju Ersya.
“Aku telpon saja!”
Div mengeluarkan
ponselnya, melihat warna ponselnya itu ia jadi ingat jika Ersya tidak punya
ponsel karena ponselnya ia bawa. Karyawan yang mengikutinya terlihat tersenyum,
mungkin ia ingin menertawakan warna ponsel pria tampan di depannya. Pria maco
dengan ponsel berwarna pink.
Bersambung
**Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰**