Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Bahagia


__ADS_3

Ersya bangun dari


tidurnya, dia merasa tidak mendapati pria yang berad disampingnya semalam kini


di sampingnya lagi. Ersya menoleh ke jendela kamar, sudah sangat terang, bahkan


matahari sudah begitu tinggi.


“Jam berapa sekarang?”


gumamnya, ia pun meraba nakas yang berada di samping tempat tidurnya, ia biasa meletakkan benda pipih nya itu di sana, tapi tidak ada.


“mana lagi ponselku?”


Ersya yang belum


membuka sempurna matanya pun terus meraba nakas yang ada di sampingnya.


“Ahhhh …, beneran nggak


ada nih!” gumamnya lagi, ia pun memilih untuk bangun dan meletakkan bantalnya di


atas pangkuannya.


“Iyya …., Iyya …!”


wanita itu tiba-tiba memanggil anak sambungnya itu, “Ahhh kenapa bisa lupa,


Iyya nggak di sini!”


Sudah menjadi kebiasaanya setiap pagi, setiap kali bangun gadis kecil itu selalu


menghampirinya dan mencium pipinya.


“Kangen Iyya!”


Ceklek


Pintu kamar mandi


terbuka menampilkan pria tampan itu lagi dengan celana kolor di atas lututnya


dan handuk yang mengalung di lehernya.


Div mengusap rambutnya


yang basah, ia berjalan menghampiri Ersya.


“Males banget jadi


cewek!” ucap Div sambil melemparkan handuk basahnya tepat mengenai wajah Ersya.


“Apa-apaan sih …!” gerutu Ersya.


“Ingat ya, status kamu


masih baby sitter Divia, jadi jangan seenaknya saja seperti nyonya rumah!”


“Jangan mengingatkanku,


aku sudah tahu!”


Ersya begitu kesal


dengan ucapan pria itu, memang benar dia hanya sebagai baby sitter iyya, bahkan


alasan utama dia menikah dengan pria itu memang demi bisa dekat dengan Iyya.


Ersya pun segera turun dari tempat tidur dengan membawa handuk basah itu menuju ke kamar mandi, Ersya memang harus segera membersihkan diri dan melayani tuannya itu.


Hehhhhhh ….


Ersya sudah duduk di


atas kloset yang tertutup itu, ia bingung harus memakai baju apa. Tidak mungkin


ia berkeliaran dengan baju mini itu, apalagi ada Div di kamar yang sama.


“Gue pakek baju apa


lagi?”


Wanita itu menatap


handuk yang tertumpuk rapi di rak yang ada di dalam kamar mandi. Hanya ada handuk, tidak ada yang lain.


“Malang banget nasib


gue, punya suami rasa majikan!”


Tok tok tok


Pintu kamar mandi di


ketuk dari luar, itu pasti div. pasalnya Ersya memang sudah berdiam diri di


dalam kamar mandi hampir satu jam dan tidak melakukan apapun.


“Hehh dia!” gumamnya


lirih, “Gue harus apa lagi?”


Ersya pun mengedarkan


pandangannya, mencari-cari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai alasan.


Akhirnya Ersya menemukan sebuah sikat toilet, ia segera mengambilnya dari menggosok lantai kamar mandi dengan sikat itu.

__ADS_1


“Sebentar!” teriaknya.


“Apa yang kamu lakukan


di dalam?” teriak dari luar.


“Aku? Aku sedang


membersihkan kamar mandi!”


Div terkejut, ia menempelkan daun telinganya di daun pintu kamar mandi dan benar saja, ia


mendengarkan suara gosokkan di kamar mandi.


“Ersya …! Keluar!”


teriak Div.


Akhirnya Ersya pun


keluar dengan sebuah sikat kamar mandi di tangannya. Ia hanya mengenakan sebuah


handuk yang melilit tubuhnya dari dada hingga ke paha.


“Apaan sih Div?”


“Siapa suruh ngelakuin


itu, kamu jangan buat malu ya!”


Div segera merebut


sikat kamar mandi itu dan membuangnya ke dalam kamar mandi begitu saja.


“Kenapa sih?!” keluh


Ersya.


“kamu yang kenapa?


Siapa suruh menyikat kamar mandi?”


“Tadi kamu sendiri kan


yang bilang kalau aku tuh cuma baby sitter nya Iyya. Jadi kalau Iyya nggak ada berarti aku harus melakukan pekerjaan rumah tangga kan?”


“Jangan banyak bicara, kita sarapan di luar!”


Div memilih mengakhiri


perdebatan mereka, ia sudah sangat lapar jadi jika di lanjut sudah pasti dia


akan terpancing emosi.


“Serius?” tanya Ersya,


“Ya serius, kamu nggak lapar?”


“Lapar, tapi …!”


“Apa lagi?”


“Semua bajuku mini!”


Div pun menatap Ersya dari bawah hingga ke atas, memang benar kalau Ersya keluar dengan baju yang mirip handuk yang di pakai sekarang pasti semua orang akan memperhatikan


tubuh seksi Ersya.


“Gini aja, kita sarapan


di sini saja. Setelah itu aku akan keluar mencarikan kamu baju!”


“Itu jauh lebih bagus!”


Div tidak mungkin


menghubungi orang-orangnya untuk mengantarkan baju ke kamarnya karena sudah


pasti mereka tidak akan melakukannya karena ulah Ara dan Nadin.


Dua wanita itu benar-benar tidak tanggung-tanggung mengerjai mereka.


Ersya pun segera mengganti handuknya dengan lingerie dan menutupinya dengan kemeja milik Div. walaupun begitu tetap saja wanita itu terlihat seksi.


Tidak berapa lama


pesanan makanan mereka datang juga, mereka terpaksa makan di dalam kamar.


Setelah menyelesaikan


sarapannya, Div pun segera mengambil ponsel milik Ersya yang di pinjamnya dan


juga dompet miliknya.


“Aku pergi dulu, jangan


kemana-mana! Jangan buka pintu kalau itu bukan aku!”


“Kenapa?”


“Kamu nggak takut jika


yang masuk pria-pria hidung belang dengan penampilan kamu yang seperti itu?”


Benar juga yang di


katakana oleh Div. sekuat apapun dia tetaplah seorang wanita yang pasti akan

__ADS_1


kalah dengan pria.


“Iya!”


“Aku kunci pintunya!”


ucap Div lagi sebelum benar-benar keluar dari kamar mereka.


Div meninggalkan kamarnya


dan menuju ke pintu lift, ia harus menuju ke toko untuk mencari baju untuk Ersya. Kamarnya yang berada di lantai atas sedikit butuh wakt untuk sampai di


bawah.


Seorang belt boy menghampiri Div,


“Selamat pagi tuan, ada


yang bisa di bantu?”


“Saya butuh tumpangan


untuk ke toko baju terdekat!”


“Baiklah tuan, pihak


hotel akan mengantar anda!”


Dengan di antar mobil


hotel Div pun menuju ke toko baju terdekat. Ia memang tidak membawa mobilnya


karena sekretaris Revan yang akan menjemput mereka nanti.


Jarak antara toko dan


hotel benar tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di


toko.


“Sudah sampai tuan!”


“Baiklah, saya tidak


akan lama, jadi tunggu saja!”


“baik tuan!”


Akhirnya sampai juga


dia di sebuah toko. Ia segera turun dari mobil meninggalkan sopir dan mobilnya,


terlihat sekali di sana kawasan elite, hanya ada beberapa orang dengan pakaian


rapi yang sedang lalu lalang, mobil-mobil mewah terparkir di setiap sudut


tempat dnegan area yang luas. Selain toko baju, berjajar dengan toko itu sebuah


restauran khas anak muda dengan menu andalan anak muda nongkrong.


Gedung dengan warna


yang berbeda-beda, ada toko yang khusus menjual sepatu, baju, tas dan pernak-pernik anak muda, ada toko ponsel juga di sana.


Div mendongakkan


kepalanya, memastikan jika dia tidak salah masuk toko. Senyum tipisnya menjadi


jawaban atas keraguannya. Kaki lebarnya mulai melangkah masuk dan seorang


karyawati sudah langsung menyambutnya dengan sapaan dan senyum yang ramah.


“Bisa tunjukan padaku


tempat baju wanita!”


“Silahkan tuan, mari


ikuti saya!”


Karyawan itu mengajak


Div ke tempat di mana berbagai macam model pakaian wanita terpajang.


Begitu banyak hingga


Div bingung harus memilih yang mana. Ia juga lupa menanyakan ukuran baju Ersya.


“Aku telpon saja!”


Div mengeluarkan


ponselnya, melihat warna ponselnya itu ia jadi ingat jika Ersya tidak punya


ponsel karena ponselnya ia bawa. Karyawan yang mengikutinya terlihat tersenyum,


mungkin ia ingin menertawakan warna ponsel pria tampan di depannya. Pria maco


dengan ponsel berwarna pink.


Bersambung


**Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰**


__ADS_2