
Sudah lima menit dan kami masih duduk bersama di sini, mau membicarakan apa aku sendiri tidak tahu. Walaupun tidak yakin tapi telinga ini mampu mendengarkan jika di luar ada sebuah mobil datang.
Itu pasti mas Div ...
Kepala pelayan kembali menghampiri kami dan dia membisikkan padaku jika Div datang. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan tamuku, maksudnya tamu yang datang ke rumahku demi menyambut mas Div,
"Katakan aku tidak bisa menyambutnya!" bisikku pada kepala pelayan.
"Baik nyonya!"
Pelan kepala pelayan meninggalkan kami, kini tinggal aku dan ibu Ratih. Entah kenapa saat bersama Bu Ratih hawanya jadi beda gini, AC nya seperti tidak berfungsi padahal saat ini aku sudah memakai baju ternyamanku. Apa malah mungkin karena bajuku tidak sesuai dengan etika menyambut tamu malah membuatku semakin panas.
Dari arah luar ku lihat mas Div sudah berjalan menghampiri kami,
"Bu, sudah lama?"
"Baru saja!"
Mas Div menatapku lalu ia melepas jasnya dan berjalan menghampiriku, tiba-tiba ia mengalungkan jasnya ke kedua bahuku dan seperti biasa dia akan mencium bibirku, cukup terkejut karena ada ibu Ratih di sini.
"Pakailah!" bisiknya kemudian lalu duduk di sampingku.
Aku pun segera memakainya, persis seperti out fit, ternyata tidak jelek juga bila daster di padukan dengan jas.
"Tolong panggilkan mama!" perintah mas Div pada kepala pelayan.
"Baik tuan!"
Ahhh aku sampai lupa jika wanita yang telah melahirkan suamiku itu bahkan belum bergabung dengan kami.
Mas Div mulai membicarakan pekerjaan dengan ibu Ratih dan aku hanya akan jadi pendengarnya saja, rasanya pasti akan percuma jika aku ikut bicara, toh juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Hingga beberapa waktu kemudian Ki lihat mama Aruni ikut bergabung bersama kami, entah kenapa suasananya terasa semakin panas saja sekarang. Aku ingin lihat bagaimana saat dua nyonya besar berkumpul. Rasanya tangan ini gemas ingin mengabadikan dengan camera ponsel, tapi sepertinya stok nyawaku cuma satu.
Aku pun cukup diam dan mendengarkan apa yang sebenarnya akan mereka bicarakan.
"Bagaimana dengan tawaran saya kemarin Aruni?" percakapan langsung di buka oleh ibu Ratih, telinga ini semakin ku pertajam agar bisa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Saya kurang setuju, di sana cukup jauh dengan putra saya!"
Mama Aruni menolak, tapi menolak apa?
"Semarang bukan tempat yang jauh ma, kalau mama ingin berkunjung juga tidak butuh waktu lama!" mas Div membantu meyakinkan mamanya.
"Kamu sengaja mengusir mama?"
"Mama kenapa bisa berpikir seperti itu sih ma, di sana juga tidak buruk!"
__ADS_1
"Saya tidak mungkin memindahkan butik itu ke tempat lain karena di sana sangat strategis, sehari saja omsetnya bisa mecapai sepuluh juta!" ibu Ratih menambahkan hal itu.
"Kalian sengaja menjebakku ya?"
Aku hanya sibuk melempar pandangan pada tiga orang yang sedang berdebat saat ini. Masih belum berniat untuk ikut bicara, lagi pula aku juga tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya diam akan lebih baik.
"Ma, menjebak apanya! Mama meminta bagian yang ada di Indonesia, ibu Ratih sudah berbaik hati membagi bagiannya dengan mama, apa lagi yang kurang?"
"Syaratnya terlalu berat!"
"Bagaimana mama bisa memajukan bisnis mama kalau di kasih syarat gitu aja sudah merasa berat!"
"Baiklah, satu bulan lagi, bagaimana?"
"Terserah mama, kalah menurut Div semakin cepat semakin baik dan mama bisa membuktikan sama ibu kalau mama juga bisa di andalkan!"
"Satu bulan cukup!" ucap ibu Ratih, wanita itu memang selalu bisa menengahi.
Setelah keputusan di ambil, terlihat ibu Ratih menyodorkan surat perjanjian. Aku sebenarnya penasaran untuk melihatnya, tapi rasanya akan Tidka sopan jika aku tiba-tiba melihatnya begitu, mungkin nanti aku harus bertanya dulu sama mas Div apa isi perjanjian itu, sepertinya mama tidak iklas sekali.
Setelah menyelesaikan urusannya, ibu Ratih pun berpamitan dan seperti biasa mas Div mengantarnya hingga ke depan tapi dia mencegahku agar tetap diam saja di tempatku.
Tapi sepertinya itu sengaja di manfaatkan mama untuk mendekatiku.
"Kamu pasti yang sudah merencanakan semua ini, dasar menantu licik!" ucapnya dengan penuh penekanan padaku, aku salah apa di sini. Bahkan aku tidak tahu dengan rencana apa.
"Mama sepertinya terlalu takut ya sama aku, lihatlah ma, bahkan perutku saja sedang berkembang sekarang, aku tidak mungkin macam-macam sama mama!" ucapku sambil mengusap perutku yang mulai berisi.
"Awas saja kalau ini ada hubungannya sama kamu!?" ancamnya lalu berdiri meninggalkanku. aku hanya bisa memutar bola mataku kesal. Seandainya saja dia bukan mamanya mas Div sudah aku lawan pasti. Aku masih mengedepankan adab ketimuranku untuk itu.
...🍂🍂🍂...
Sepertinya mas Div tidak berencana untuk kembali ke kantor walaupun sekarang masih siang.
Hehhh, dia benar-benar penggila kerja
Pria yang telah menikahiku itu tiba-tiba menyusukku naik ke atas tempat tidur, ini jadwalku tidur siang.
"Mas Div nggak ke kantor lagi?" tanyaku. Tapi bukannya menjawab mas Div malah merebahkan tubuhnya di sampingku dengan menggunakan tangannya sebagai bantalan kepalanya.
"Capek banget, pengen istirahat!" ucapnya sambil memejamkan mata. Ku usap kepalanya, aku pun menggeser tubuhku hingga posisi tidur di sampingnya, ku gunakan tangan kananku untuk menjaga kepalaku dalam posisi miring.
Kembali ku gunakan tangan kiriku untuk mengabsen wajah suamiku, seperti sedang melukis di sana dengan jari-jariku.
"Mas sama ibu punya rencana apa?"
Mendengarkan pertanyaanku, mas Div membuka matanya dan menatap tepat ke arahku.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan!"
"Aku kan juga penasaran mas!"
"Ibu punya banyak bukti yang bisa membawa mama kembali ke penjara, ibu memberi dua pilihan. Mengambil semua fasilitas atau mengurus butik yang ada di Semarang!"
"Lalu?"
"Kamu tahu kan itu hanya rencana ibu untuk menjauhkan mama dari kamu!"
"Aku?" aku cukup terkejut, aku sampai menujuk diriku sendiri.
Mas Div tiba-tiba menarik tubuhku, sedikit menindihnya.
"Iya!" bibir mas Div sekarang sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Aku sampai beberapa kali menggerakkan kepalaku agar bibir ini tetap bisa bicara tanpa terhalang bibirnya.
"Memang apa hubungannya denganku?"
"Ibu tahu mama sudah merencanakan banyak hal untuk mencelakaimu dan anak kita!"
"Ibu tahu dari mana?"
Jelas aku bertanya seperti itu, ibu jarang datang ke rumah ini. Dia bahkan tidak tahu keseharian kami di rumah ini.
"Kamu tidak tahu sehebat apa ibu!"
"Ahhh!" tiba-tiba bibir mas Div sudah menempel saja di bibirku, jelas aku tidak bisa menghindar lagi dan apa yang seharusnya terjadi terjadilah.
Kini tangan mas Div sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang tanpa sehelai benang pun.
"Tidurlah, aku akan keluar sebentar!"
Aku hanya menganggukkan kepalaku, seperti biasa mas Div akan meninggalkan kecupan di keningku lalu berlalu ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, mas Div memakai pakaian santai dan menyambar kunci mobilnya. Sepertinya dia tidak akan pergi ke kantor lagi, mungkin menjemput Divia. Tapi Divia pulangnya jam empat karena dia sekarang sudah kelas satu.
...Kamu adalah hal terbaik dalam hidupku, biarpun aku harus menentang seluruh dunia untuk melindungi mu, maka akan aku lakukan...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1