
Kali ini Ersya tidak mampu menahan untuk tidak menangis,ia butuh bahu untuk
bersandar kali ini bukan hanya bersandar pada kaki dan senyumnya. Felic pun
segera memeluk sahabatnya itu, ia mengusap punggung Ersya, mencoba menenangkannya.
“Aku rasa bukan itu Sya alasannya!” ucap Felic membuat Ersya melepaskan pelukan
Felic dan menatap sahabatnya itu.
“Apa?” tanya Ersya, ia berharap alasan Felic sedikit meringankan beban di hatinya. Ia terlalu
merasa bersalah dengan suaminya jika benar yang di katakana oleh suaminya itu jika
dia alasan kenapa tidak bisa memiliki anak selama ini.
“Pasti karena wanita itu!” ucap Felic dengan begitu pasti membuat Ersya menghela
nafas, kalau hal itu ia sudah faham tapi ia berharap ada alasan lain agar ia
tidak terlalu merasa bersalah.
“Mungkin memang benar salah satunya Fe, wanita itu adalah anak dari pemilik perusahaan
tempat mas Rizal kerja! Dia sangat kaya, dan juga cantik, jelas pasti mas Rizal milih dia dari apa aku yang Cuma seorang
karyawan bank swasta, orang tuaku juga cuma karyawan biasa, bukan pemilik
perusahaan apalagi sebentar lagi papa juga bakal pensiun!”
“Jadi kamu belum pernah bertemu dengan wanita itu?” tanya Felic yang penasaran.
“Pernah!”
“Pernah bicara langsung sama gadis itu dari hati ke hati, sepertinya gadis itu masih
sangat muda Sya!”
“Aku tidak punya keberanian Fe, aku terlalu takut! Aku belum siap! Bagaimana jika
kenyataannya malah tambah menyakitkan, lebih baik begini saja,! Mungkin jodohku
sama mas Rizal memang Cuma sampai di sini Fe!”
“Dia udah jahat banget sama kamu Sya! Jadi mulai sekarang lupakan saja dia, anggap
dia tidak pernah ada di hidupmu! Mulailah dengan yang baru! Gue mendukungmu!”
“Makasih ya Fe ….! Tapi Fe …, untuk memulai dengan yang baru, aku belum siap! Tidak bisa
menjadi seorang ibu sudah membuatku takut untuk memulai hubungan, aku tidak mau
nanti ada yang terluka dan kecewa lagi gara-gara aku!”
“Sya …!”
“Fe_!”
“Mungkin itu yang membuatmu begitu menyayangi gadis kecil itu!” Felic jadi teringat
bagaimana Ersya begitu menyayangi Iyya, walaupun mereka belum saling kenal.
__ADS_1
“Iya …, dia itu tiba-tiba saja datang di hidup aku Fe, dia itu seperti peri buat aku! Di manapun aku berada rasanya selalu berharap bisa menemukan gadis kecil
itu dan berbicara dengannya, setiap bertemu dengannya rasanya beban hidupku hilang! Ahhhh aku jadi merindukannya, dia di mana ya sekarang?”
“Dia pasti sekarang juga sedang merindukanmu! Semangat ya …!”
Mereka kembali berpelukan, Felic benar-benar tidak menyangka jika rumah tangga
sahabatnya akan berakhir dengan secepat ini. Karena yang ia tahu mereka sudah
menjalin hubungan sejak Ersya masih SMA hingga menikah tidak pernah ada kabar
keretakan hubungan mereka. Selama ini mereka benar-benar pasangan yang begitu
kompak.
Sepuluh tahu sudah dan kini harus berakhir. Ternyata lamanya bersama tidak menjamin
langgengnya sebuah hubungan. Butuh banyak waktu untuk saling mengenal tapi
hanya butuh satu alasan untuk mempertahankan sebuah hubungan, yaitu cinta.
****
Di tempat lain gadis kecil yang sedang di pikirkan itu sekarang sedang berada di
rumah sakit FrAd medika, ia sedang melakukan pemeriksaan rutinnya.
“Dad …, tenyapa kita hayus antli duyu?” tanya Iyya karena bisanya mereka langsung masuk tanpa perlu antri seperti ini.
“Iyya sayang …, Iyya harus melalui tahap ini dulu sebelum masuk! Hari ini tidak uncle dokter, jadi Iyya harus antri bersama teman-teman Iyya yang lainnya!”
“Hehhhh …!” Iyya terlihat menghela nafas, baginya menunggu begitu melelahkan.
“Mungkin bidadari Iyya sedang sibuk, lagi pula kenapa juga dia di sini?”
“dadddd …!” ucap Iyya kesal karena daddy nya tidak begitu antusias saat Iyya membicarakan tentang bidadari nya. Ia ingin daddy nya suatu saat bertemu dengan bidadari nya dan membawakannya pulang untuknya.
“Ehhhh bentar ya Iyya, daddy sepertinya melihat uncle dokter di sana, daddy ke sana dulu ya!” ucap Divta saat tanpa sengaja melihat wajah kacau dokter Frans yang
berada tidak jauh dari mereka.
Kenapa dengannya …? Apa dia ada masalah sama istrinya? Batin Div saat melihat dokter Frans duduk terenung di lantai sambil menatap ponselnya. Apa yang dia lihat ….
“Frans …!” sapa Div membuat dokter Frans tersadar dan menoleh padanya, “Kamu kenapa?”
“Bang!”
Mereka akhirnya duduk di bangku yang berada di samping dokter Frans. Mereka masih
saling diam, Divta memberi waktu pada dokter Frans hingga ia benar-benar siap untuk menceritakan semuanya. Mungkin nanti ia bisa membantu, dia lebih dewasa walaupun belum pernah menikah.
“Ini bukan hal yang serius sebenarnya, bang!”
“Lalu? kalau nggak serius lalu buat apa duduk di bawah kayak orang gila begitu!”
“Hanya aku merasa belum siap saja dengan hal-hal yang mungkin akan aku hadapi sebentar
lagi!”
“Memang Tuhan pernah ya memberi waktu buat kita untuk siap-siap? Kalau sudah waktunya,
__ADS_1
ya datang begitu saja Frans …, pakek siap-siap …!”
Div merasa lucu dengan ucapan sahabat adiknya, ia tahu juga pria di sampingnya itu
bukan hanya sekedar sahabat adiknya, tapi pria di sampingnya itu adalah sepupunya juga karena ayah mereka saudaraan. Tapi Div tidak mau mengatakan hal
itu pada pria di sampingnya sebelum pria itu tahu sendiri nantinya, mungkin Agra pun juga belum tahu hal itu karena nyonya Ratih tetap memintanya untuk
diam.
Dia saja tiba-tiba punya seorang putri tanpa ia bersiap-siap. Dulu tidak pernah
terpikir untuk punya seorang putri secantik Divia.
“Bang …, ada ada aja …!” ucap dokter Frans yang menaggapinya dengan tersenyum tipis.
“Sebenarnya aku bukan orang yang bijak Frans tapi aku sarankan mulai sekarang kamu harus
membuat keputusan pada dirimu sendiri!”
“Maksud, bang Divta?”
“Memutuskan untuk mau menghadapi semuanya dengan segala kekuatan yang kamu punya atau
memilih menghindar tapi selamanya kau akan di kejar-kejar oleh bayang-bayang mungkin ini atau mungkin itu karena kata mungkin tidak akan pernah menjadi pasti!”
Dokter Frans hanya diam, mencoba mencerna ucapan pria yang lebih tua enam tahun darinya.
Div kembali menoleh pada putrinya, antrian yang duduk di depan putrinya sudah habis. Ia pun kembali menoleh pada dokter Frans dan berpamitan.
“Ya sudah …, sepertinya Divia sudah di panggil dokter! Semangat ya!” ucap Divta
sambil meninggalkan dokter Frans sendiri.
Divta kembali menghampiri Divia, dan tepat saat ia berada di samping putrinya. Nama Divia
di panggil.
“Sudah giliran kita sayang!” ucap daddy Div.
“Bukan kita Dad …, tapi Iyya …!” protes Iyya karena ia merasa daddy nya tidak di panggil, hanya namanya yang di panggil tapi tetap saja daddy nya selalu saja
ikut masuk. Gadis kecil itu bahkan sudah tidak takut lagi dengan jarum suntik sekarang.
Ia sudah terlalu lama berteman dnegan jarum suntik dan jua obat-obatan. Rasanya jarum suntik sudah menjadi temannya sehari-hari. Sebenarnya jika Divia bisa mengurangi rasa cemasnya, kesehatannya akan membaik, tapi Div juga tidak tahu apa sebenarnya yang selalu membuat putrinya itu cemas.
Spesial visual Ersya dan Felic
Bersambung
...Memutuskan untuk mau menghadapi semuanya dengan segala kekuatan yang kamu punya atau...
...memilih menghindar tapi selamanya kau akan di kejar-kejar oleh bayang-bayang mungkin ini atau mungkin itu karena kata mungkin tidak akan pernah menjadi pasti...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰