
“Kamu tetap mau malas-malasan di atas tempat tidur atau mau pergi mengantar Divia?”
Div sudah begitu rapi dengan kemeja dan jasnya sedangkan Ersya masih asik duduk di atas tempat tidur tanpa melakukan apapun, matanya hanya sibuk mengikuti kemanapun Div berjalan, mulai dari kamar mandi, ruang ganti sampai memeriksa beberapa berkas yang sudah siap di atas meja. Ini sudah dua hari semenjak sahabatnya itu pulang tapi pria itu masih belum mengijinkannya kemanapun.
Mata Ersya berbinar saat Div mengatakan hal itu, ia segera menyibak selimutnya. Walaupun sudah membersihkan diri sedari pagi, tapi ersya memilih untuk kembali ke atas tempat
tidur,
“Yang benar aku boleh? Maksudku hukumannya sudah selesai?”
“Hmmm!”
Ersya dengan cepat melompat dari tempat tidur dan memeluk Div dari belakang membuat div
menghentikan kegiatannya,
"Tunggu aku sebentar!"
Div tersenyum, “Akhir-akhir ini kamu suka sekali memelukku, apa pesona seorang Div sudah mampu menggetarkan hati
kamu?”
Ersya melotot kesal, ia dengan cepat menarik tangannya kembali tapi terlambat Div sudah
menahan tangannya agar tidak terlepas,
“Kalau sudah terlanjut di sini, tidak akan bisa di lepas lagi!”
“Ngomong apa sih?”
Div segera berbalik dan
melingkarkan tangannya di punggung Ersya. Ersya harus mendongakkan kepalanya
untuk bisa melihat ke arah Div, “Kamu ngomong apa sih?”
“Maksudnya, pelukan yang sudah terlanjur nggak bisa di tarik lagi, yang benar semakin di eratkan
seperti ini!”
Yang benar aja …., kayaknya hal lain ....
Div tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke bibir Ersya membuat Ersya memejamkan matanya. Hampir saja bibir itu saling bertaut tapi tiba-tiba …
“Mom …, dad …!”
Panggilan itu seketika membuat Ersya dan Div salah tingkah, Div segera melepaskan pelukan
Ersya, sedangkan Ersya pura-pura merapikan kemeja Div,
“Mom cama daddy lagi
ngapain?” tanya gadis kecil itu lagi saat sudah berada di dekat mereka.
“Ini, mom sedang merapikan kemeja daddy, berantakan sekali, iya kan dad?”
“Eh iya sayang! Divia sudah siap? Hari ini mom sama daddy yang akan mengantar ke sekolah!”
“Hoye …, acikkkk …!”
Divia bersorak gembira mendengarkan ucapan daddynya.
“Ya sudah, biarkan mom ganti baju dulu, kita tunggu mom di rumah makan, kita sarapan!”
Div segera mengajak putrinya itu keluar kamar, Ersya menghela nafas dan memegangi dadanya lega.
Hampir saja ….
...***...
Setelah selesai berganti baju Ersya segera menghampiri putri dan suaminya, ia ikut sarapan bersama mereka.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Ersya saat semuanya sudah menyelesaikan sarapannya.
"Siap mom!"
Divia begitu bersemangat, sudah tiga hari ini dia tidak di antar mommy nya.
"Selamat pagi pak Div, nyonya Ersya, Divia!" sapa sekretaris Revan yang sudah menunggu mereka di depan.
"Selamat pagi!" sapa Ersya juga dengan melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Kamu duluan saja, saya akan mengantar Divia dulu!"
"Baik tuan!"
Div meminta sopir untuk mengikuti mereka karena setelah ini dia dan istrinya akan berpencar.
Kali ini Ersya dan Divia berada di satu mobil yang sama tanpa sopir. Hingga akhirnya mobil mereka sampai juga depan sekolah Divia.
“Setelah ini kamu boleh ke rumah Felic tapi ingat dengan pengawalan!” ucap Div saat sudah menurunkan Divia di sekolah. Kini Div sudah akan masuk kembali ke dalam mobil yang berbeda, seorang pengawal dan sopir sudah siap di samping mobil yang akan dipakai oleh Ersya.
“Kok gitu sih? Jadi nggak sama kamu?”
“Aku harus ke kantor dulu nanti menyusul!”
“Tapi kan aku harus menunggu Divia pulang sekolah!”
Tiba-tiba ponselnya berdering,
Ersya segera mengangkat sambungan telponnya,
“Iya Fe, ada apa?”
“Jadi ke sini nggak? Aku
sudah di rumah tiga hari, kamunya belum juga datang!”
“Iya, nih mau datang!”
“Nggak lupa kan sama
rumahku?”
“Mana ada lupa sama rumah gedongan itu, tunggu aku ya, aku on the way ke sana!”
“Siap!”
Ersya kembali mematikan
sambungan telponnya dan menatap suaminya itu.
***
di depan rumah besar dokter Frans, seorang pengawal dnegan kaca mata hitamnya
sudah membukakan pintu mobil untuk Ersya. Felic yang melihat kedatangan sahabatnya dari jendela besar kamarnya segera turun dan menghampiri Ersya.
“Wissss, nyonya Divta sudah datang!”
“Apaan sih Fe!”
“Ayo masuk!”
Fe pun mengajak Ersya
ke kamarnya, Ersya mengedarkan pandangannya,
“Dokter Frans ke mana?”
“Oh dia, kebetulan hari
ini ada operasi besar, jadi dia harus ke rumah sakit!”
“Aku denger-denger dokter Frans nemuin saudara kandungnya ya, siapa?”
Felic terlihat terkejut, “Kamu tahu dari siapa?”
“Mas Divta yang bilang,
sebenarnya bukan bilang langsung sih, aku nggak sengaja dengar percakapan mereka di telpon!”
Felic pun segera duduk,
ia bingung harus mulai cerita dari mana. Ersya duduk bersama dengan Felic, melihat wajah cemas sahabatnya ia menjadi begitu penasaran.
“Fe, ada yang tidak beres ya?”
“Bukan, bukan seperti itu!”
“Lalu?”
“Iya, suamiku udah
__ADS_1
menemukan saudarinya!”
“Siapa? Kenalin dong!”
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu kamar
di ketuk, bi Molly masuk setelah Felic mempersilahkan untuk masuk.
“Ada apa bi?”
“Di luar ada nyonya Ara dan nyonya Nadin!”
Ersya dan Felic saling
berpandangan, Felic tersenyum senang.
“Katakan pada mereka aku akan segera turun!”
“Baik nyonya!”
Bi Molly pun segera
meninggalkan mereka.
“Er bantu aku yuk, kita temui mereka!”
“Tentu!”
Ersya pun membantu
Felic untuk turun dengan perut besarnya itu. di ruang tamu sudah ada Arad an Nadin
dengan membawa baby Key.
“Hallo ibu hamil sama
pengantin baru!” sapa Nadin dan Ara. Mereka berempat saling berpelukan.
“Sudah bukan pengantin
baru lagi kali Ra!” ucap Ersya sambil mencium putri kecil Nadin yang berada dalam gendongan Ara.
“Kalian kok bisa di sini?” tanya Felic yang masih merasa surprise dengan kedatangan mereka.
“Iya kebetulan kamu baru saja baby spa buat baby Key, terus keinget deh kalau bumil ini dah pulang dari perantauannya!”
“Seneng banget tahu
kedatangan kalian berdua, lengkap sudah kan sekarang ngumpul! Jarang-jarang loh
kita ngumpul bareng kayak gini!” ucap Felic.
“bener …, sepertinya
kita perlu adain jadwal ketemu setiap satu bulan sekali kayak gini!” usul
Ersya.
“Setuju banget!”
Mereka berempat begitu
klop kalau sudah mengobrol sampai mereka lupa waktu.
Sudah sangat siang dan
Ara harus segera menjemput Sanaya di sekolah. Sagara juga sudah mulai masuk sekolah biasa bersama Sanaya, jadi Ara tidak hanya menjemput Sanaya tapi Sagara juga.
Ara dan Nadin berpamitan terlebih dulu, sedangkan Ersya masih tetap tinggal karena Div sudah berjanji akan menjemputnya bersama Divia.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1