Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Rencana baru nyonya Aruni


__ADS_3

Rangga pun kembali menghampiri Divia dan memastikan Divia makan dengan benar.


"Setelah ini om Rangga pulang nggak pa pa ya!" ucap Rangga saat Divia sudah menyelesaikan makannya.


"Om Langga ada acala ya cetelah ini?"


Rangga tersenyum menanggapi pertanyaan Divia.


"Om Rangga janji besok, pagi-pagi sekali sampai di sini! Tapi Iyya nggak boleh nakal ya, harus jadi anak yang baik!"


"Siap om!" ucap Divia sambil meletakkan telapak tangannya di pelipisnya.


Setelah memastikan Divia baik-baik saja bersama pengasuhnya, Rangga pun berjalan hendak keluar rumah.


Saat ia sampai di depan rumah, tiba-tiba langkahnya di hadang oleh nyonya Aruni,


"Selamat sore, nyonya!" sapa Rangga.


"Kenapa cuma mobil kamu? Div belum pulang?"


Nyonya Aruni terlihat mengedarkan pandangannya, rumah memang terlihat sepi.


"Tuan Div menemani nyonya Ersya di rumah sakit, nyonya!"


Nyonya Aruni mengerutkan keningnya hingga membuat kerutan halus di wajahnya semakin terlihat.


"Kenapa lagi wanita itu?"


Rangga pun menjelaskan semua yang terjadi pada nyonya Aruni.


"Div terluka?"


"Iya nyonya!"


"Lalu, jika Div yang terluka kenapa Ersya yang di rawat?" tanya nyonya Aruni lagi setelah mendapatkan kejanggalan dari cerita Rangga.


"Nyonya Ersya tidak sadarkan diri, dan setelah di periksa ternyata nyonya Ersya hamil, nyonya!"


"Hamil?"


Nyonya Aruni terlihat begitu terkejut, ia tidak menyangka jika Ersya bisa hamil karena berdasarkan info yang dia dapat, menantunya itu tidak bisa hamil.


"Iya nyonya, dan bersyukur akibat benturan itu tidak menjadi masalah pada janin nyonya Ersya!"


Bisa-bisanya wanita itu hamil, aku bakal punya cucu dari wanita seperti itu ...., sudah cukup Divia yang tidak tahu asik usul ibunya, sekarang di tambah wanita itu ...., batin nyonya Aruni sambil memegangi kepalanya yang terasa berat saat ini.


"Nyonya, nyonya tidak pa pa?" tanya Rangga khawatir melihat nyonya Aruni terlihat begitu syok.


"Tidak, pergilah!"


Karena di rasa sudah tidak pa pa, Rangga pun berpamitan untuk pulang.


"Saya permisi dulu nyonya!"


"Ya!" ucap nyonya Aruni sambil mengibaskan tangannya.


Rangga pun segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Div. Dia harus menemui seseorang yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi pada hidup temannya itu.


Setelah kepergian Rangga, Nyonya Aruni terlihat begitu panik,


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, wanita itu tidak boleh menang semudah ini!"


"Ellen, ya Ellen ....!"


Nyonya Aruni pun segera menghubungi Ellen.


"Hallo, Ellen!"


"..."

__ADS_1


"Bisa kita bertemu kan, ada yang sangat penting yang ingin saya bicarakan!"


"..."


"Sekarang bisa kan?"


"..."


"Di kafe biasa!"


"...."


"Setengah jam lagi aku datang!"


Nyonya Aruni pun mematikan sambungan telponnya, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke tempat ia akan bertemu janji dengan Ellen.


"Antar saya lagi!" ucapnya pada sopir yang tadi sudah mengantarnya seharian ini.


"Baik nyonya!"


Sopir itu segera membukakan pintu mobil untuk nyonya Aruni. setelah memastikan nyonya Aruni benar-benar masuk, sopir pun menutup kembali pintu mobilnya dan berlari mengelilingi mobil dan masuk melalui pintu lain.


Mobil pun mulai melaju memecah ramainya jalanan di jam orang pulang kantor.


Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh tapi padatnya jalanan membuat mobil berjalan begitu lambat, dan benar saja butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di kafe tempatnya bertemu dengan Ellen.


Nyonya Aruni ternyata datang lebih dulu, ia pun segera mencari tempat duduk yang nyaman.


Baru beberapa menit ia duduk dan gadis yang di tunggunya berjalan cepat menghampirinya,


"Tante, maaf ya Ellen telat!" ucapnya sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri nyonya Aruni.


"Tidak pa pa, saya juga baru datang! Duduklah!"


Ellen pun duduk di bangku yang tepat berada di depan nyonya Aruni duduk.


"Biar kau pesankan minuman untuk kita!" ucap nyonya Aruni yang melambaikan tangannya pada pelayan.


"Ada apa Tante?" tanya Ellen yang tidak sadar ingin segera tahu apa yang akan di bicarakan oleh nyonya Aruni.


"Kamu tahu, wanita itu sekarang hamil?!"


Ellen terlihat begitu terkejut mendengar ucapan nyonya Aruni, "Maksudnya Ersya?"


"Iya!"


"Bukankah_?"


"Sepertinya narasumbermu itu tidak bisa di andalkan, buktinya dia sekarang hamil!"


"Trus, aku bagaimana dong sekarang Tan?"


"Mana aku tahu, aku sekarang juga sedang bingung!"


Ellen begitu terpukul, belum selesai dengan keadaannya saat ini kini di tambah lagi dengan kehamilan Ersya.


"Aku sedang sakit sekarang Tan!" ucapnya yang tidak mampu menahan air matanya.


Nyonya Aruni segera meneguk minumannya, "Sakit? Maksudnya kamu sakit apa?"


"Kanker kandungan!"


"Apa?" nyonya Aruni benar-benar terkejut, padahal dia sudah mengharapkan Ellen akan menjadi menantu ideal untuknya.


"Iya Tan!"


"Kok bisa?"


Ellen pun kemudian menceritakan keadaannya pada nyonya Aruni.

__ADS_1


Hehhh, enak sekali saat sakit dia mau menyalahkan Div ...., batin nyonya Aruni kesal.


Tapi sepertinya keadaan ini bisa aku manfaatkan, kalau sudah tersingkir wanita itu, baru giliran wanita ini, aku harus segera mencari calon yang tepat untuk Div ....


"Tan, apa Tante bisa bantu aku? Aku nggak mau menceritakan ini semua sama papa Tan!"


Nyonya Aruni pun memanfaatkan Ellen dengan keadaannya, tetapi dia tidak benar-benar menerima Ellen menjadi calon istri putranya.


"Begini saja, kamu tinggal saja di rumah Div, Div dan wanita itu tidak mungkin mengusirmu jika keadaanmu seperti ini!"


"Baiklah, Ellen setuju Tan!"


...🌺🌺🌺...


Di tempat lain, Rangga yang sudah berada di jalan menempuh jalan lain yang tidak menuju ke rumahnya tapi berlawanan dengan rumahnya.


"Rumit sekali alamatnya!" gerutunya sambil melihat alamat rumah baru Rizal. Ia ingin memberi menceritakan semuanya tentang Ersya.


Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menemukan rumah baru Rizal dan akhirnya sampai juga.


Rangga segera turun dari mobilnya dan memastikan jika itu benar rumah yang akan dia tuju.


Tok tok tok


Rangga mengetuk pintu, cukup lama hingga ada sahutan dari dalam.


Ceklek


"Ga, kamu ke sini?" tanya pria yang sudah berdiri di balik pintu itu.


"Nggak mau nyuruh aku masuk?"


"Masuklah!"


Rizal pun bergeser membiarkan Rangga masuk ke dalam rumahnya,


"Duduklah!"


"Terimakasih!"


Rangga mengedarkan pandangannya melihat rumah baru Rizal, "Rumah mas Rizal bagus juga!"


"Lumayan, tidak sebesar dulu!" ucapnya ada kegetiran dalam ucapannya, "Mau minum apa?"


"Tidak perlu mas, saya cuma sebentar di sini! Duduk saja mas!"


Rizal pun duduk bersama Rangga di sofa yang berbeda.


"Tumben, ada angin apa ke sini?"


"Ada hal penting yang sebenarnya ingin aku tanya kan sama mas!"


"Apa?"


"Mas tahu kalau Ersya tidak mandul?"


Jederrrrrr


Pertanyaan Rangga sepeti petir yang menyambar di siang hari bolong.


Bersambung


...Sebaik apapun sebuah bangkai di simpan, lama kelamaan akan tercium juga busuknya...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2