
Mereka sekarang sedang berada di sebuah kedai makanan, tapi kecanggungan masih begitu terasa. Hanya suara Dee yang mendominasi, sesekali Kim dan Divia saling memandang tapi kembali segera mereka mengalihkan tatapannya ke tempat lain.
Aku harus apa sekarang? Kenapa rasanya jadi gini ya, Divia bingung sendiri harus melakukan apa. Waktu seakan berjalan begitu lambat apalagi saat ia mengingat ciuman mereka tadi.
"Eomma, aku sudah kenyang!" ucap Dee sambil mengelus perutnya.
"Ohhh sudah kenyang ya, baiklah bagaimana kalau kita pulang!?"
"Hmmmm, aku sudah mengantuk sekali eomma!?"
Saat ini memang sudah cukup malam, mereka pun berjalan menuju ke mobilnya,
"Biar aku gendong Dee!?" Kim pun mengambil Dee dari gendongan Divia, Dee sesekali terlihat menguap. Taman bermain juga sudah mulai sepi mereka menyusuri jalan yang sama tadi dan sekarang atmosfirnya sedikit berbeda. Rasanya terasa lebih dingin dengan kebisuan mereka.
Hingga akhirnya mereka sampai pada mobil yang terparkir di tepi jalan, mobil yang tadi berjejer cukup padat sekarang tinggal beberapa saja,
"Bukalah pintunya, dan masuklah dulu biar aku bantu menggendong kan Dee!?"
"Baik!"
Divia pun melakukan seperti perintah Kim. Ia membuka pintu samping dan masuk lebih dulu, memastikan posisinya sudah nyaman lalu Kim menurunkan dee di pangkuan Divia,
"Bagaimana sekarang?"
"Sudah!"
Setelah memastikan jika divia nyaman, Kim pun segera menutup pintu dan berlari mengitari mobil, ia masuk melalui pintu lainnya dan duduk di balik kemudi. Ini untuk pertama kalinya mereka pergi tanpa pengawalan, Kim sengaja melakukan itu untuk memberi ruang pada Divia dan Dee.
Cukup lama, tapi Kim tidak juga melajukan mobilnya membuat Divia bertanya-tanya.
"Kim_!?" tapi sebelum Divia melanjutkan ucapannya tiba-tiba Kim sudah mendekatkan wajahnya pada Divia. Ia menatap Divia dengan tatapan yang membuat Divia merasa suasana seperti di kutub Utara.
Ada apa lagi ini?
"Vi, aku mencintaimu!"
Kim mengatakan hal itu tanpa mengalihkan matanya dari Divia.
"Kim!?" Divia bingung harus menjawab apa, ini begitu mendadak baginya. Walaupun ada rasa yang aneh saat dekat dengan pria di depannya itu. Tapi baru beberapa bulan dan pria itu baru saja patah hati bagaimana bisa mengatakan cinta padanya.
Apa aku benar-benar tidak salah dengar?
"Aku serius, Vi! Aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang tapi percayalah aku akan menunggu hingga kamu benar-benar siap untuk menerimanya!" terdengar begitu sungguh-sungguh apa yang di katakan Kim, tidak ada keraguan di dalam nada bicaranya maupun tatapannya. Sejenak Divia hampir goyah, tapi kemudian ia mulai berpikir ulang tentang beberapa kejadian.
"Apa ini karena nenek?"
Kim langsung menjauhkan wajahnya, "Kenapa jadi bawa-bawa nenek?"
"Ya kita itu pura-pura dekat karena nenek, bukan berarti kita harus jatuh cinta juga kan!?"
__ADS_1
"Jadi menurutmu apa yang aku katakan sebuah kepura-puraan?" terlihat wajah kecewa dari Kim. Ia pun langsung beralih ke depan dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Kim, aku serius!" Divia merasa bersalah tapi ia juga tidak mau tiba-tiba menjalin hubungan hanya berdasarkan rasa tidak enak.
"Aku lebih serius!"
Divia memilih tidak melanjutkan perdebatan mereka. Mereka kembali saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hingga akhirnya mobil sampai juga di rumah besar itu, penjaga sudah membukakan gerbang untuk mereka. Seseorang sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Kim segera berlari menuju ke pintu dekat Divia,
"Biar Dee denganku, kamu istirahatlah!" perintah Kim, ia mengambil alih Dee yang sudah tertidur pulas.
Kim segera berlalu meninggalkan divia, bahkan dia tidak menunggui hingga Divia turun.
Dia pasti marah ..., tapi memang apa salahku? lagi pula kan aku juga bukan memberi jawaban yang dapat membuatnya mendapatkan harapan palsu ...., dasar aneh ...., Divia terus menggerutu dalam hati hingga ia tidak menyadari seseorang yang tengah menunggunya di ruang keluarga.
"Vi!?"
Divia yang sudah hampir menaiki tangga segera berhenti dan berbalik, ternyata sang nenek tengah berdiri di belakangnya.
"Nenek?"
"Apa ada masalah?" terlihat nenek mulai curiga.
"Maksudnya?"
"Ahhhh itu, mungkin karena Kim kelelahan saja.nek, tadi kamu baru saja jalan-jalan seharian!?"
"Syukurlah, ya udah kamu istirahat saja!"
"Baik Nek, selamat malam!?"
Divia pun segera meninggalkan sang nenek, ia tidak bisa tidur di kamar lamanya, ia sekarang harus tidur di kamar Kim.
Setelah kejadian tadi segalanya jadi terasa tidak enak.
Divia memandangi seluruh isi kamar itu, semuanya berhubungan dengan Kim. Ia juga tidak bisa memungkiri, hari-hari yang ia lewati bersama Kim adalah hari-hari yang indah, apalagi akhir-akhir ini saat sikap Kim terasa lebih manis.
"Apa karena itu!?" gumamnya pelan. "Nggak mungkin lah, pusing mending mandi aja!"
Divia pun memilih membersihkan diri ke kamar mandi, tapi saat ia kembali dari kamar mandi ia bahkan belum menemukan Kim berada di kamarnya.
"Apa dia benar-benar marah? Tapi aku kan tidak salah!" Divia masih tidak terima jika kim.marah padanya.
"Terserahlah, mending aku tidur aja!" Divia pun mengambil selimut dan bantal, ia memilih tidur di sofa dari pada di tempat tidur. Baginya lebih baik mereka berdebat dari pada saling diam.
...***...
__ADS_1
Pagi hari saat Divia bangun tidur, ternyata ia masih belum mendapati Kim di kamarnya,
"Jadi dia benar-benar marah!?" gumam Divia sambil memperhatikan tempat tidur yang masih sangat rapi.
Divia tanpa membersihkan wajahnya, ia segera keluar kamar dan mencari pria yang sudah membuatnya cemas sepanjang malam.
"Eomma!?"
Teriakan Dee membuat langkah Divia terhenti dan mencari sumber suara, rupanya pria kecil itu sedang duduk di meja makan bersama Kim juga, pria itu sudah terlihat rapi.
Divia pun segera menghampiri mereka,
"Hai Dee, apa tidurmu semalam nyenyak?"
Dee yang sedang menggigit roti itu mengangukkan kepalanya, "Hmmm, lain kali kita jalan-jalan lagi kan eomma?"
"Iya!?"
Kim hanya diam, ia terlihat sibuk mengoleskan selai ke rotinya, bukan ternyata Kim menyodorkan piring yang berisi roti yang sudah di olesi selai itu di sodorkan ke arah Divia,
"Makanlah!"
Divia yang terkejut pun langsung menatap Kim,
"Kamu?"
"Aku tidak lapar, kalian akan berangkat di antar sopir!?"
"Kamu?" lagi-lagi ini bukan hal yang biasa.
"Aku ada meeting pagi!"
Kim pun segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan. Ia berangkat bersama Lee tanpa menunggu Dee dan Divia.
"Eomma, Kim kenapa?" ternyata Dee juga menyadari perubahan sikap Kim.
Divia hanya menggelengkan kepalanya, "Makan yang banyak, aku mau siap-siap dulu habis itu kita berangkat, okey?"
"Okey!"
Setelah memastikan Dee selesai sarapan, Divia pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Nenek sudah sedari pagi sudah pergi karena ada janji dengan dokter.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...