
Di kamar itu, Divia terus saja memandangi cincin yang ada di jarinya. Ini bukan pertama kalinya ia memakai cincin dengan harga ratusan juta tapi entah kenapa ia merasa cincin ini terasa lebih istimewa.
Hingga suara pintu kamar mandi yang di buka membuat Divia dengan cepat menyembunyikan tangannya di balik selimutnya.
Kim baru saja mandi, ia terlihat semakin maskulin dengan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dia bukan pria yang suka mengeringkan rambut dengan pengering rambut, dia lebih suka membiarkan rambutnya kering sendiri setelah mandi.
"Apa ada yang aneh?" pertanyaan Kim menyadarkan Divia dari lamunannya, ia segera menggelengkan kepalanya dan kembali mengambil bukunya yang ia geletakkan begitu saja di pangkuannya.
Kim meletakkan handuknya di keranjang baju kotor dan menghampiri Divia yang duduk di atas sofa, membuat Divia sedikit menggeser duduknya,
"Tidurlah di tempat tidur, biar aku yang tidur di sini!"
Divia mengalihkan tatapannya dari buku yang ia pegang, ia beralih menatap Kim,
"Tidak pa pa di sini, kan setiap hari saat malam aku akan pindah sendiri di tempat tidur!"
"Issstttt, kau ingin mengerjaiku!?" gerutu Kim dan Divia tersenyum.
"Aku tidak pernah punya riwayat tidur sambil berjalan, tapi jika ada yang memindahkan ku saat tidur. Mungkin saja!" Divia segera meletakkan bukunya dan segera beranjak dari duduknya. Berjalan cepat menuju ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sana. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan ijin langsung untuk tidur di tempat tidur yang empuk itu.
"Ahhhhh, nyamannya!"
Kim hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Divia,
Kim pun juga segera mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan tubuhnya di sofa yang biasa Divia jadikan tempat tidur.
Kim memiringkan tubuhnya hingga ia bisa melihat Divia dengan jelas di atas tempat tidur, ia memakai kedua telapak tangannya untuk di jadikan bantalan kepalanya untuk menambah tinggi bantal yang ia kenakan saat ini,
"Vi, bagaimana perasaanmu?"
Divia yang mendapatkan pertanyaan segera memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan, ia menatap Kim dengan tatapan sendu,
"Aku sedih!"
"Kenapa?"
"Karena mulai hari ini aku tidak bisa melihat Dee lagi, apa dia akan nyaman ya di sana?"
"Dia pasti nyaman di sana karena Yee Ri adalah ibu yang baik!"
"Tapi tetap saja, aku jadi teringat dengan keempat adikku di Indo!"
"Jadi kamu punya banyak saudara?"
"Hmmm!"
"Kamu belum menceritakan apapun tentang keluargamu!"
"Nanti kalau sudah waktunya, aku pasti cerita. Tapi bukan sekarang, maaf ya!"
Hehhhh .....
__ADS_1
Kim hanya bisa menghela nafas, ia tidak bisa memaksakan apapun yang ia inginkan pada Divia bahkan gadis itu belum menyatakan kesanggupannya untuk menjadi calon istrinya.
Aku harus berjuang lebih keras lagi ....
Drettttt dretttttt drettttt
Tiba-tiba ponsel Divia bergetar, hal ini membuat perhatian Divia teralihkan.
"Ayah!?" gumamnya pelan. Sangat jarang ayah nya itu menelpon kalau tidak ada yang penting membuatnya sedikit khawatir.
"Ada apa?" Kim yang menyadari raut wajah Divia segera bangun dari tidurnya dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Tidak pa pa, aku terima telpon dulu!" Divia segar turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke balkon. Hal ini membuat Kim begitu penasaran dengan siapa yang menelpon divia tengah malam.
Divia segera menerima telpon itu,
"Hallo ayah!"
"Hallo nak, bagaimana kabar kamu?"
"Aku_, aku baik yah! Ayah dan bunda?"
"Kami baik!"
"Kenapa ayah menelpon Vi malam-malam?"
"Benarkah ini malam?"
"Ahhh Divia yang lupa yah, di sini sudah jam sepuluh!"
"Ohhh, maaf ya ayah ganggu istirahat kamu!"
"Enggak kok yah, ada apa?"
"Sebenarnya lusa ayah akan ke Korea?"
Mendengarkan hal itu Divia benar-benar terkejut, "Benarkah?"
Ia tidak mungkin membiarkan ayahnya sampai tahu ia tinggal satu rumah dengan seorang pria.
Bisa di pancung hidup-hidup aku, nanti kalau ayah ngadu sama Daddy, dan Daddy nyusul juga ke sini, tamat lah riwayatku .....
"Vi, kamu masih dengar ayah kan?"
"Iya yah, ayah rencananya ke sini kapan biar Vi jemput!"
"Nggak perlu, kamu cukup kasih alamat kamu sama ayah, nanti ayah yang akan nyamperin kamu ke rumah!"
"Ohhh gitu ya yah, jadi kapan?"
"Nggak sabar banget, kira-kira dua hari lagi, tapi ayah nggak bisa lama!"
__ADS_1
Syukurlah .....
"Baiklah, ayah cuma mau kasih kabar itu, jangan lupa kirim alamat kamu sama ayah!"
"Iya yah pasti!"
"Selamat malam, nak!"
"Selamat malam yah!"
Divia segera mematikan sambungan telponnya, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jika sampai ayahnya tahu ia tinggal serumah dengan seorang pria, sudah pasti ia akan di bawa pulang ke Indonesia dengan paksa.
Divia kembali masuk dan duduk di atas tempat tidur, Kim yang juga belum bisa tidur pun menghampiri Divia dan duduk di sampingnya.
"Apa ada masalah?"
"Masalah yang sangat besar!"
"Benarkah? Apa?"
"Aku harus kembali ke kos ku dalam dua hari ini!"
"Tapi kenapa?"
"Keluargaku akan ada yang datang ke sini, kamu tahu kan bagaimana adat di Indonesia, tinggal dalam satu rumah dengan yang bukan suaminya itu sebuah kesalahan besar!"
"Baiklah, Jika itu masalahnya, maka kita akan menikah besok!"
"Kim_, aku tidak sedang becanda!"
"Aku juga serius!"
"Tapi masalahnya nggak sesederhana itu, aku bisa di minta pulang paksa nanti, bisa kan kamu melakukan sesuatu untukku?"
"Aku akan mencari cara, tidurlah besok kita pikirkan lagi!" Kim mengusap kepala divia dan memintanya untuk tidur.
Sebenarnya Kim juga begitu berat jika mereka harus tinggal terpisah apalagi dengan apa yang sudah mereka lalui beberapa bulan ini sudah membuatnya terlalu terbiasa dengan kehadiran Divia dalam hidupnya.
Tapi juga ia egois mungkin ia malah akan kehilangan Divia selamanya, apalagi saat ini Divia belum juga menerimanya sebagai seorang pria yang mencintainya.
Kim benar-benar tidak bisa tidur sepanjang malam, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ia tetap bisa bertemu dengan Divia meskipun mereka tidak tinggal dalam satu rumah dan lagi, ia bisa membuat alasan untuk neneknya.
Kalau ada yang lupa dengan ayah dan bunda Divia, dia adalah ayah Rendi dan bunda Nadin. Divia begitu dekat dengan mereka karena saat Divia kecil, ayah Rendi yang merawatnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...