Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Kebahagiaan kecil


__ADS_3

Ersya mulai memegangi dinding yang ada di belakangnya, tangannya mencengkeram erat dan Ajun sudah terlihat khawatir.


"Mbak Ersya yakin tidak pa pa?"


"Ti_tid ....!" ucapannya terputus, karena tiba-tiba tubuh Ersya limbung ke tanah.


Brukkkk


"Mbak ...., mbak Ersya ..., bangun!"


Ajun dengan sigap menopang tubuh Ersya, Div yang mendengarkan ucapan beberapa perawat yang kebetulan menangani tangannya dengan cepat turun dari ranjang pasien dan keluar dari ruang IGD, dan benar saja ia melihat Ajun menaikkan tubuh Ersya ke ranjang dorong rumah sakit.


"Ajun, istri saya kenapa?" tanya Div panik, ia melihat wajah pucat Ersya.


"Sayang ...., kamu kenapa?" Div menepuk pipi Ersya beberapa kali.


"Maaf pak, biar kami memeriksanya dulu!" ucap dokter yang akan menangani Ersya.


"Boleh saya ikut masuk dok?" tanya Div yang tidak ingin melepaskan tangan Ersya, ia sampai lupa dengan lengannya sendiri yang sedang terluka.


"Maaf pak, biarkan kami memeriksanya dulu! Tangan anda juga masih perlu di rawat pak!"


Div pun akhirnya pasrah membiarkan Ersya di tangani oleh para dokter dan membiarkan dokter kembali merawat lukanya.


Ajun masih menemani Div di depan ruang IGD menunggui Ersya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Div pada Ajun.


"Maaf tuan, tapi saya tidak tahu! Tiba-tiba Mbak Ersya terlihat pucat dan tubuhnya limbung lalu terjatuh!"


Div memejamkan matanya, ia begitu terlihat khawatir dengan keadaan Ersya saat ini.


"Tuan, sebenarnya saya teringat sesuatu tentang mbak Ersya!"


Mendengar ucapan Ajun, Div pun menoleh pada Ajun yang duduk di sampingnya hanya berjarak satu bangku yang di biarkan kosong di tengah


"Apa?"


"Kalau tidak salah enam tahun yang lalu, mbak Ersya yang sudah menyelamatkan nyawa Divia!"


Div mengerutkan keningnya, mencoba mencerna ucapan Ajun.


"Maksudnya?"

__ADS_1


Flashback on


Davina sedang hamil besar, saat itu Ersya baru saj lulus kuliah. Dia masih harus mencari kerja.


Saat yang bersamaan karena harus menghemat dan baru saja menikah, Ersya dan suaminya memilih menyewa apartemen temannya.


Salah satu tetangganya adalah seorang wanita hamil yang hanya di kunjungi oleh pria-pria yang terlihat tidak seperti suaminya.


Terlihat sekali jika wanita itu butuh teman, butuh dukungan, dia akan sangat senang saat seorang pria dingin mengunjunginya, tapi rasa penasaran Ersya membuatnya ingin tahu banyak tentang pria itu.


Awalnya dia tidak peduli, tapi melihat betapa kesusahannya wanita itu melakukan aktifitas dan hanya di bantu oleh beberapa pria yang hanya datang untuk mengantarkan kebutuhannya tanpa menanyakan keadaannya membuat Ersya iba.


Hampir setiap hari Ersya selalu berkunjung hanya sekedar mengajaknya bicara, menanyakan keadaanya. Meski begitu dia tidak pernah menanyakan namanya.


Setiap kali pria-pria itu datang, Ersya akan segera pergi. Pria-pria itu adalah Ajun dan Rendi.


Hingga usia kandungan Davina mencapai sembilan bulan, ternyata Ersya lah yang mengantarkan Davina ke rumah sakit, saat Rendi bahkan sedang dalam keadaan tidak baik, dia sedang kalap dengan kepergian Nadin waktu itu.


Bahkan Ersya yang menemani Davina hingga selesai persalinan.


Tapi saat Divia dan Davina di pindahkan ke rumah sakit dekat dengan keluarganya, Ersya tidak tahu dan mereka kehilangan kontak.


Flashback off


Ajun menceritakan semua yang ia ingat, dan salahnya saat itu dia tidak pernah menanyakan nama Ersya. Ia kita setelah ini tidak akan ada hubungannya, ternyata hubungan batin itu melekat pada diri Ersya dan Divia. Sepertinya Divia tahu tangan mana yang memeluknya waktu itu. Hingga sekarang Divia jatuh ke pelukan yang sama.


"Bahkan mereka sudah sangat dekat dari awal!" gumam Div.


Hingga akhirnya dokter keluar setelah satu jam di dalam ruang IGD.


Div dengan cepat menghampiri dokter yang menangani Ersya,


"Bagaiman dok istri saya?" tanyanya dengan sedikit tergopoh.


"Selamat ya pak!" ucap dokter itu.


Dan Div hanya terbengong mendengarkan ucapan dokter, ia tidak tahu maksudnya,


"Dokter jangan becanda ya, istri saya pingsan dan anda mengucapkan selamat, rumah sakit macam apa ini!?" ucap Div kesal dengan nada tingginya, ia ingin segera tahu keadaan istrinya tapi dokter malah memberi ucapan selamat.


Rangga dan Divia yang baru datang segera mendekati Daddy Div.


"Dad, Daddy baik? Mom mana?" tanya Divia sambil mengedarkan pandangannya. Seingatnya tadi yang di bawa ke rumah sakit Daddy nya dan sekarang daddy-nya masih berdiri dengan begitu sehat walaupun di lengannya terdapat perban hingga siku.

__ADS_1


"Pak Div, Ersya kenapa?" tanya Rangga yang mulai curiga.


Div masih belum menjawab pertanyaan putrinya dan Rangga. Dia masih mencari jawaban dari dokter yang ia rasa sudah mempermainkannya.


"Dok, jangan macam-macam ya, kalau terjadi sesuatu sama istri saya, saya akan menuntut rumah sakit ini, mengerti!" ancam Div lagi.


"Maaf pak, baiklah saya akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya!"


"Iya silahkan!"


"Sebenarnya istri anda sedang hamil!"


Div kali ini benar-benar terdiam, mencoba mencerna kalau ucapan dokter dan apa yang di dengar itu sama.


Divia malah tersenyum dan mencoba mencerna ucapan dokter itu, lalu menarik tangan Rangga hingga membuat pria itu menunduk agar bisa menjangkau Divia,


"Iya?"


"Kata doktel mom hamil, itu artinya mom Echa akan punya dedek bayi ya om?"


Dan Rangga pun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. Tapi sebenarnya dia juga masih dalam mode bingung karena setahu dia selama ini Ersya tidak bisa mengandung tapi yang ia dengar saat ini sepertinya entah keajaiban atau apa.


"Ye ye ye ...., Iyya punya dedek bayi!"


Divia sudah loncat-loncat dan Div masih tetap sama, di sudut matanya bahkan ada air yang menitik.


"Iyya sama om Rangga dulu ya, biar Daddy urus mom Echa!" ucap Rangga dan membawa Divia sedikit menjauh.


"Dokter tidak salah kan?" tanya Div, walaupun dia tahu jika istrinya bisa mengandung tapi kenyataan ini terlalu mengejutkan baginya, bahkan ia sangat bahagia melebihi bahagianya saat melihat putri kecilnya waktu itu.


"Benar pak, memang masih tiga Minggu, usia yang sangat rentang!!"


"Boleh saya melihatnya dok?"


"Tunggu sebentar pak, setelah di pindahkan ke ruang perawatan!"


Bersambung


...Tuhan tahu kapan Dia menempatkan sedih dan bahagia, di setiap kesedihan yang Dia berikan ada kebahagian yang Dia selipkan juga...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2