Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Persiapan sekolah 2


__ADS_3

"Kita ke mana sekarang?" tanya Div yang sudah berada di dalam mobil, wanita di sampingnya masih sibuk dengan gadget nya.


Ersya menoleh sebentar lalu kembali fokus pada benda pipih itu.


Segitu menariknya benda itu, sampai aku di cuekin .....


Divta benar-benar kesal dengan kelakuan wanita di sampingnya itu.


"Bisa tidak jawab dulu pertanyaan ku!" keluhnya dengan tatapan kesalnya.


Ersya pun menurunkan ponselnya ke pangkuannya.


Hehhhh. Suara helaan kesal juga turut andil saat wanita itu menoleh dengan terpaksa pada pria di sampingnya.


"Aku sedang konsentrasi, bisa nggak sih ganggunya nanti aja!"


"Memang apa sih yang lebih penting ketimbang menjawab pertanyaan orang?"


"Ini masalahnya aku lagi jawab pesan dari guru kelas Divia, jadi jangan bawel!"


Div tampak mengerutkan keningnya, ia hanya bingung sejak kapan istrinya itu punya nomor guru putrinya padahal sekolahnya masih di mulai besok.


"Coba lihat!"


Tangan Div menggantung di udara.


"Nggak percaya banget!"


Walaupun menggerutu tapi tetap saja Ersya menyerahkan ponselnya.


Div pun memeriksa isi ponsel Ersya dan benar saja, wanita di sampingnya baru saja melakukan percakapan via chat dengan guru kelas Divia.


Dia curang sekali, kenapa sudah masuk group aja sih ....., Div menatap iri pada ponsel itu. Pasalnya dia yang daddy kandungnya tapi mom tirinya yang di hubungi oleh guru Divia.


"Nih!"


Div menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.


"Lain kali jawab dulu kalau di tanya!"


"Memang tadi tanya apa?"


Ersya akui jika memang dia tadi tidak begitu konsentrasi dengan pertanyaan Div.


"Kita kemana sekarang?"


"Yakin tanya aku?" Ersya menunjuk dirinya sendiri.


"Emang di sini ada orang lain selain kamu?" Div malah balik bertanya kesal.


"Ya enggak, kita kan harus menjemput Divia!"


"Kita langsung pulang saja!"


Ersya benar-benar pengen menjambak rambut panjang pria di sampingnya. Setelah bertanya dia malah menentukan keputusannya sendiri.


"Kok bisa gitu sih, Divia bagaimana?"


"Oma sama opanya mengajaknya berkunjung ke rumah Rendi, nanti akan di antar ke rumah!"


Gitu aja pakek tanya .....

__ADS_1


Ersya memilih memalingkan wajahnya kesal. Tapi tiba-tiba ia merasakan tubuh pria itu begitu dekat dengannya. Ersya dengan reflek menolehkan kepalanya dan benar saja, wajah tampan itu tepat berada di depannya.


Dia apa-apaan .....


Tiba-tiba saja nafasnya tertahan, ia benar-benar seperti kehilangan oksigen. Wajah itu begitu dekat bahkan tangan pria itu tiba-tiba berada di samping pinggangnya.


Dia mau ngapain? Aku belum siap ...., jangan di sini .....


"Sudah!" ucap Div lalu menjauh dari tubuh Ersya.


Ersya baru sadar jika pria itu baru saja memakaikan sabuk pengamannya.


Ersya ...., lo mikir apaan tadi ....., bodoh bodoh .....


"Kenapa wajahnya merah kayak gitu?" tanya Div tanpa menoleh lagi ke arah Ersya. Ia memilin konsentrasi dengan mobilnya yang mulai melaju.


Ia memang merasakan wajahnya tiba-tiba panas, tapi dia tidak menyangka jika wajahnya akan memerah.


"Ahhh tidak, mungkin karena udara hari ini panas sekali!"


"Benarkah?" tanya Div sambil menoleh sebentar pada Ersya sambil memicingkan matanya.


"Iya, memang kamu pikir kenapa?"


"Siapa tahu kau butuh sesuatu yang lebih!"


"Misalnya?"


Jangan jawab ....., jangan jawab ....., Ersya terpancing dengan pertanyaan sendiri.


"Minta aku cium!"


Tuh kan ...., sudah gue bilang, mulut, mulut ...., nggak ada remnya ....


"Ckkkk!"


Div hanya berdecak, ia memilih tidak melanjutkan perdebatan mereka.


Akhirnya setelah sampai di rumah, Ersya segera membawa barang belanjaan mereka ke kamar Divia. Ia harus mengganti beberapa barang lama Divia dengan barang-barang barunya.


Karena sudah sekolah jadi mereka harus menambahkan meja belajar kecil di dalam kamar itu, selain itu mereka juga harus menyiapkan tempat untuk menaruh buku-buku Divia.


Ersya menyingsingkan bajunya, mengikat tinggi rambutnya. Semua pekerjaannya kali ini ingin dia kerjakan sendiri tanpa di bantu oleh pelayan. Ia ingin memberi surprise pada Divia nanti.


Ersya menyingkirkan barang-barang yang tidak terlalu di butuhkan, menggeser beberapa benda untuk meletakkan meja belajar Divia.


Div yang baru saja dari kamarnya, segara menghampiri kamar putrinya, ia begitu penasaran dengan apa yang di lakukan Ersya di kamar putrinya.


Div memilih berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan tangannya di depan dada, melihat Ersya seperti bola yang menggelinding ke sana ke mari membuatnya beberapa kali menggelengkan kepalanya.


"Butuh bantuan?" tanya Dib membuat Ersya menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sumber suara.


"Ngapain di situ? Kalau mau bantu ke sini!"


Div lagi-lagi hanya berdecak. Benar-benar serba salah di bantuin salah nggak juga salah.


Ada beberapa barang yang memang tidak bisa Ersya pindahkan sendiri, Div menyingsing kemejanya. Membantu Ersya memindahkan beberapa barang yang berukuran besar.


Ersya tampak kesusahan meletakkan barang yang tidak terpakai di atas lemari.


Dasar keras kepala ....

__ADS_1


Div pun berjalan mendekat, tanpa aba-aba Div mengangkat tubuh Ersya hingga membuat wanita itu benar-benar terkejut.


"Aughhh!"


"Diam dan lakukan apa yang ingin kau lakukan!"


Ersya pun segera meletakkan barang itu di atas lemari dan menopang tubuhnya dengan meletakkan dengan cepat kedua tangannya di bahu Div.


Ersya menundukkan kepalanya hingga ia bisa melihat wajah pria di bawahnya.


"Aku udah selesai, bisa turunkan aku sekarang!?"


Belum sampai Div menurunkan tubuh itu, karena terlalu banyak barang di bawahnya, kakinya kehilangan keseimbangan hingga kakinya menabrak barang di belakangnya.


Bruugg


Tubuh mereka bendarat tepat di kursi balon yang ada di belakangnya dengan posisi tubuh Ersya berada dia tas tubuh Div.


"Aughhh!" keluh Ersya, ia begitu kesusahan untuk bangun. Tapi suara ******* Ersya malah membuat Div merasakan sensasi yang berbeda.


Dia sengaja menggodaku .....


Div pun mencoba mengalihkan pikirannya agar tidak menjurus ke sesuatu yang tidak semestinya,


"Seharusnya aku yang mengeluh, kamu enak di atas, aku di bawah!"


"Siapa suruh ambil posisi di bawah!"


Dia benar-benar mau main-main ...., okey aku ladeni ...


"Memang tadi di rencanakan apa!?"


"Ya kalau gitu jangan mengeluh!"


Div tersenyum samar nyaris tidak terlihat, "Baiklah kalau gitu kita ganti posisi!"


"Hah?"


Srekkkk


Tiba-tiba Div menarik tubuh Ersya, membaliknya hingga kini tubuh Ersya berada di bawah tubuh Div.


"Kamu apa-apaan?"


Ersya sudah sangat panik, bisa-bisa pria di atasnya itu malah membuat posisi ini bukan malah berdiri.


"Aku cuma mau menunjukkan pada wanita angkuh sepertimu jika aku bisa dengan segala posisi!"


Srekkkk


Ersya segera mendorong tubuh Div hingga bergeser dari tubuhnya.


"Jangan gila deh!"


Ersya segera bangun dan menghindar dari tatapan Div, ia tidak mau pria itu sampai menyadari kalau kali ini dia memang terpancing.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2