
"Yang benar saja, kalau seperti ini bagaimana aku bisa lulus dengan mudah!" keluh Divia sambil menatap kotak cincin itu. Sesekali ia juga menggaruk kepalanya kasar, kepala yang tidak punya salah itu akhirnya jadi korban juga.
"Mana satu bulan lagi di kumpul, mau mengumpulkan apa coba, buat dari awal? Kesel banget ...!"
Karena terlalu pusing, ia sampai tidak menyadari kedatangan seseorang,
"Vi, ngapain?" terlihat Yura baru saja datang dengan membawa satu kantong camilan di tangannya. Ia ikut di duduk di rumput tepat di samping Divia.
Tanpa menjawab pertanyaan Yura atau meminta ijin, divia langsung menarik kantong plastik itu dan memakan camilan yang baru saja di bawa oleh Yura.
"Ada apa sih?" tanyanya lagi.
Hiikkksssss
Divia malah menampakkan wajah ingin menangisnya.
"Aku kayaknya nggak bakal lulus deh Yura!"
"Kenapa?"
"Laptop aku hilang, tugas aku yang udah aku kerjain berminggu-minggu musnah, di sana ada tugas dari Mr J!"
"Kok bisa? Tahu kan yang ambil?"
Divia menganggukkan kepalanya.
"Pencuri?"
"Nggak tahu! Dia ambil hp aku juga!"
"Pantas, aku telponin dari tadi nggak di jawab, padahal masuk panggilannya!"
Divia langsung menatap tajam pada temannya itu.
"Kamu serius?"
"Iya!"
"Jadi masih ada harapan dong!"
"Maksudnya?"
"Aku tahu yang ambil tapi masalahnya aku nggak tahu tempat tinggalnya!"
"Kenapa rumit sekali!" Yura ikut berpikir, ia juga tidak mungkin membiarkan temannya sampai tidak lulus di semester ini.
"Kamu ketemunya di mana?"
"Di taman!"
"Jadi besar kemungkinan rumahnya sekitar sana!"
"Mungkin!"
"Ayo!" tiba-tiba Yura menarik tangannya agar berdiri.
"Kemana?"
"Kita cari pencuri itu!"
Mereka pun akhirnya berjalan cepat menuju ke taman, Divia sambil menunjukkan ciri-ciri pria yang telah mengambil ponsel dan laptopnya.
"Ciri-ciri yang seperti itu ya!?" tiba-tuba Yura terlihat ragu.
"Kenapa? Ada masalah ya?"
"Sedikit, dia sepertinya bukan orang biasa!"
"Maksudnya malaikat?"
"Ya bukan, maksudnya dia bukan orang sembarangan. Dia Sampek melakukan sterilisasi di taman, siapa yang bisa melakukan itu kalau bukan orang yang....!"
Ahhhh kenapa aku masih harus berurusan dengan pria yang sama seperti Daddy ....
Divia sudah bisa membayangkan pria seperti apa yang akan ia hadapi. Sudah cukup baginya menghadapi Daddy nya yang penuh dengan aturan dan sekarang bertambah lagi satu orang.
__ADS_1
"Jadi di sini tempatnya?"
"Iya, kemarin tempat ini sepi sekali dan hanya ada kami bertiga!"
Kini Divia dan Yura memilih duduk di bangku taman, menunggu seseorang datang, kalaupun datang kalau tidak, mungkin mereka akan melakukannya besok lagi.
"Kamu punya apa gitu buat jadi petunjuk?"
Pertanyaan Yura mengingatkannya pada kotak cincin itu. Divia kemudian mengeluarkan kotak cincin yang ada di dalam tasnya.
"Ini!"
Yura tampak mengamati cincin itu, ia tidak faham tentang perhiasan tapi kemudian ia teringat dengan seseorang yang sangat mengerti tentang perhiasan. Dia adalah atasan appa nya.
"Aku tahu siapa yang bisa memberitahu kita!"
"Siapa?"
"Ayo ikut aku aja!"
Mereka pun kembali berjalan, kali ini Yura mengajak Divia naik bus karena jaraknya cukup jauh.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan.
"Waw ...., besar sekali!" Divia sampai terkesima melihat Kedung yang begitu besar itu.
"Di sini biasanya member BTS lakukan konser!"
Aku bisa ketemu mereka di sini .....
"Benarkah!?" Divia jadi punya pemikiran lain.
"Iya, tapi jangan pikirkan itu dulu, pikirkan tentang nasib laptop dan ponselmu!"
Ahhh iya, kenapa aku jadi lupa ....
Mereka pun akhirnya menuju ke sebuah toko yang menjual berbagai perhiasan. Seorang karyawan menyambut kedatangan mereka, tapi Yura terlihat sudah terbiasa ke tempat itu. Ia memilih berlalu begitu saja.
Hingga ia bertemu dengan seseorang yang tengah ia cari,
"Hai Yura!" sapanya begitu hangat pada Yura.
"Kenalkan ini teman saya, Divia!"
"Salam kenal, saya Aeri!"
"Salam kenal!"
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Teman saya punya sesuatu. Tapi dia bingung harus mengembalikan ke mana!"
"Sebaiknya kita duduk dulu!"
Mrs Aeri pun mengajak mereka duduk di sebuah sofa yang di sediakan oleh toko perhiasan itu.
Divia pun menunjukkan kotak cincin yang ia punya itu. Mrs Aeri tampak mengamati benda itu dan memastikan jika isinya benar.
"Ini limited edition, dan baru kemarin mengeluarkannya. Hanya ada satu di sini!"
Yura bisa bernafas lega sekarang, titik terang sudah mulai ada.
"Jadi Mrs tahu kan siapa pemiliknya?"
"Iya, pemiliknya adalah seorang pengusaha muda. Nilai perhiasan ini sangat besar!"
"Siapa pemiliknya?"
"Apa kamu tunangannya?" mrs Aeri malah menatap Divia.
"Ahhhh enggak, bukan!" Divia langsung menggelengkan kepalanya dengan tangan yang ia kibaskan.
"Sungguh, bukan!"
Aku tidak mau berurusan dengan pria yang sama seperti Daddy ...., mana mungkin aku tunangan sama dia, ada-ada aja ....
__ADS_1
Divia sudah membayangkan akan mendapatkan pasangan yang berbeda kasta, bukan pengusaha atau seseorang yang cukup berkuasa. Ia hanya ingin pria sedehana. Kalau bisa.
"Ini katanya Mr Kim pesan untuk calon tunangannya!"
Jadi gadis itu calon tunangannya? Kasian sekali dia di duakan saat lagi sayang sayangnya ...
"Jadi nama pemiliknya adalah Mr Kim?"
"Iya!"
Divia menoleh pada Yura, sepertinya dia tahu siapa Mr Kim itu,
"Kamu tahu?" bisik Divia.
"Itu urusan gampang, kita bisa cari di internet!" Yura pun menjawabnya tidak kalah pelan.
"Terimakasih atas informasinya Mrs, kami permisi dulu!"
"Iya, Sama-sama!"
Divia dan Yura pun akhirnya keluar dari toko itu. Yura memilih tempat makan yang juga berada di gedung yang sama.
"Ahhhh laparnya, mari makan!" Yura sudah siap dengan sumpitnya dengan makanan yang mengepul asap di depannya.
"Katanya mau cari orangnya!" keluh Divia yang melihat temannya malah lahap makan.
"Jangan khawatir, perut ini kalau lapar susah di ajak berpikir! Ayo makan dulu!"
"Baiklah!"
Akhirnya Divia pun ikut makan, hingga semua makanan di depannya habis barulah Yura mengeluarkan ponselnya.
"Kita cari di sini saja, kita tinggal cari nama Mr Kim di sini!"
Yura melakukan pencarian di internet,
Nama ; Mr Kim nam Joon
Usia. ; 25 tahun
Beberapa prestasinya ; xxxxx
Nama perusahaannya ; xxxx
"Bahkan kita tidak bisa menemukan alamatnya sekarang!"
"Kenapa?"
"Karena dia pria luar biasa!"
"Hahhhh, pasti sulit ya menemukannya!?"
"Begitulah!"
"Trus bagaimana dong!"
"Apa kamu yakin akan datang ke perusahaannya? di sini hanya ada alamat perusahaannya!"
"Mau bagaimana lagi, kalau terpaksa. Mungkin aku harus ke sana!"
"Baiklah, semangat!"
"Semangat!"
Beruntung ia punya teman seperti Yura, walaupun mereka baru kenal tapi Yura begitu baik padanya. Membantu semua kesulitannya.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang, dan melanjutkan pencarian esok hari.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...