
Malam ini Div sudah menyiapkan sebuah gaun untuk Ersya, ia sudah mengenakan jas rapi berwarna senada dengan gaun yang akan di kenakan oleh Ersya,
"Kenapa belum siap-siap?" tanya Div sambil menyilangkan tangannya di depan dada saat melihat Ersya tidak juga bersiap-siap.
"Karena kamu nggak mengatakan kita mau ke mana?!" keluh Ersya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Srekkkk
"Aughhhhh!"
Tiba-tiba Div mengangkat tubuh Ersya dan membawanya ke ruang ganti.
"Apa-apaan sih!?" keluh Ersya saat Div sudah kembali menurunkannya, "Memang aku karung apa, bawanya kayak gitu!"
Srekkk
Bukannya menjawab Div malah mendorong tubuh Ersya hingga membentur dinding dan menjadikan tangannya untuk mengungkung tubuh Ersya,
Ersya sudah memejamkan matanya, ia sudah menduga pasti selanjutnya pria itu akan memeluknya, tapi ia tidak merasakan ada bibir yang menempel di bibirnya.
"Kamu mau akan yang memakaikan baju untukmu atau pakai sendiri?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Ersya membuka matanya, ternyata tidak seperti yang dia pikirkan. Ia pikir pria yang telah menikahinya itu sengaja membawanya ke hotel dan tidak membiarkannya pergi dari atas ranjang.
"A_aku pakek sendiri!"
"Aku tidak keberatan kalau kamu mau aku memakaikannya untukmu!?" ucap Div sambil tersenyum lalu tangannya mulai membuka kancing paling atas kemeja miliknya yang di kenakan oleh Ersya. Karena tidak ada persiapan Ersya sama sekali tidak membawa baju ganti, dia terpaksa memakai kemeja milik Div. Memang tidak terlalu besar tapi cukup untuk ia kenakan.
Srekkkkk
Ersya segera menarik bajunya, "Nggak, aku bisa sendiri!"
"Bagus!?"
Div segera melepaskan Ersya dan berbalik meninggalkannya, "Aku tunggu tiga menit, kalau tidak keluar aku akan memberi hukuman tambahan untukmu!"
Div meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Ersya yang begitu kesal.
"Dasar Casanova, pikirannya mesum aja ....!" gerutu Ersya, ia segera melepaskan bajunya dan menggantinya dengan gaun tang sudah tersedia. Ia tidak mau keduluan Div masuk kembali ke dalam ruangan itu.
Setelah selesai bersiap-siap, kini Div mengajak Ersya ke sebuah ruangan yang akan di jadikan untuk tempat jamuan makan malam.
"Agak dekat!?" perintah Div sebelum mereka memasuki ruangan.
"Ini sudah dekat!"
"Lebih dekat lagi!"
"Jarak kita bahkan tidak ada dua puluh centi!"
Srekkkk
Tiba-tiba Div menarik pinggangnya hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
"Begini yang di sebut dekat!?" bisik Div. Ia pun melanjutkan langkahnya melewati penerima tamu yang ada di depan ruangan itu menunjukkan kartu undangannya.
Di dalam terlihat semua orang seperti orang-orang penting, Ersya semakin ragu saja untuk ikut masuk dan berbaur. Ia tidak pernah berada di tempat yang seperti itu, tempat orang-orang besar.
"Mas, aku nunggu di kamar saja ya!?" bisik Ersya.
__ADS_1
"Ikuti aku dan jangan mengeluh!"
Seseorang tiba-tiba menghampiri mereka,
"Selamat datang tuan Div, senang tuan Div bisa datang!"
"Sama-sama tuan Jeff!"
"Ini istri anda? Cantik sekali!"
Ersya tersenyum, pria itu terlihat seperti seseorang yang sudah lama tidak di temui oleh Div, "Terimakasih!"
"Silahkan di nikmati jamuannya, saya temui tamu yang lainnya!"
"Terimakasih tuan Jeff!"
Pria itu kembali meninggalkan mereka berdua.
"Kamu duduklah di sini, aku akan mengambilkan makanan untukmu!"
"Jangan lama-lama ya!"
"Hemmm!"
Div pun segera meninggalkan Ersya seorang diri, ia akan mengambilkan makanan untuk mereka berdua. Tapi seseorang kembali menghampirinya dan mereka terpaksa mengobrol.
Ersya sudah mulai jenuh duduk sendiri, Div masih sibuk berbincang.
"Hehhhhh ...., katanya sebentar, ternyata lama!" gerutu Ersya, ia mengedarkan pandangannya tidak ada satupun orang yang ia kenal.
"Boleh ikut duduk?!" tanya seseorang membuat Ersya segera menoleh ke sumber suara, seorang pria seumuran dengan suaminya berdiri di samping tempatnya duduk. Belum sampai Ersya mengatakan kalau di tidak sendiri, tapi pria itu sudah lebih dulu duduk.
Sok akrab banget dia ....., Ersya begitu ragu menerima tangannya, ia menoleh pada Div yang masih sibuk mengobrol.
"Saya Ersya!" ucap Ersya tanpa menyambut uluran tangan pria itu. Pria yang bernama Radit itu tersenyum dan menarik kembali tangannya.
"Kalau aku lihat cuma kamu yang terlihat bosan di tempat ini, jadi mungkin kita sama! Aku tidak terlalu suka dengan pesta seperti ini!"
"Kalau tidak suka kenapa datang?!" ucap Ersya dengan nada judesnya.
"Yah ...., aku tahu kamu pasti juga punya alasan makanya kamu menanyakan hal itu padaku! Aku terpaksa karena ini adalah pesta seorang anak pejabat kota ini, mau tidak mau kalau mau perusahaannya aman harus datang!"
Apa Div juga memiliki alasan yang sama? Tapi bukankah perusahaannya sudah besar, lalu buat apa pengakuan dari pihak lain .....
"Kamu juga berpikir sama dengan diriku?" tanya Radit lagi.
"Bisa jadi!"
"Kamu dari perusahaan mana?"
Di tempat lain Div ternyata menyadari jika Ersya tidak lagi sendiri sekarang, tangan Div mengepal, ia tidak suka Ersya mengobrol akrab dengan pria lain.
"Maaf ya, saya permisi! Ada yang harus saya lakukan!"
"Oh iya, silahkan tuan Div!"
Div mengurungkan niatnya untuk mengambil makanan, kembali menghampiri istrinya jauh lebih penting.
"Sayang ....!"
__ADS_1
Tiba-tiba Div menyapa Ersya dengan sapaan yang berbeda, bahkan Div memeluk dari belakang tubuh Ersya dan mencium pipi nya.
Ersya hanya bisa terbengong tidak percaya, sejak kapan pria itu begitu lembut padanya.
Sayang ......, ckkkkk yang benar saja ....
Radit yang sedari tadi mengamati ulah mereka tiba-tiba tersenyum,
"Div!?"
Panggilan Radit berhasil membuat Div menoleh padanya. Ia melepaskan pelukannya pada Ersya,
"Radit!?"
Sekarang Ersya yang jadi bingung, ia menoleh bergantian pada Div dan Radit.
Srekkkkk
Mereka saling berpelukan dan menanyakan kabar,
"Seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi, bagaimana kabarmu?" tanya Radit.
"Aku baik, bagaimana kabarmu?"
"Aku juga baik, aku kira tidak akan ketemu lagi sama kamu, dan akhirnya!"
"Duduklah lagi, kita ngobrol santai bertiga!"
Mereka pun akhirnya duduk dalam satu meja,
"Dia istrimu?" tanya Radit.
"Hemmmm!"
"Nggak nyangka kamu bisa tobat juga, punya istri juga ternyata!"
Mereka sebenarnya membicarakan apa sih ....., batin Ersya. Ia hanya seperti berada di antara dua pria yang membicarakan masalah pria dan dia hanya menjadi kambing congek.
"Oh iya, kemarin sebelum aku kembali ke Indonesia, aku bertemu dengan Ellen!"
"Ellen?" wajah Div seketika berubah.
"Iya, dia bercerita banyak tentangmu!"
Ellen ...., siapa Ellen?
Entah kenapa tiba-tiba Ersya jadi kepo dengan nama itu.
...Seandainya bisa kembali ke masa lalu sejenak saja, aku akan men skip bagian yang akan membuatku menyesal di kemudian hari...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1