
...**Aku punya mimpi, tapi aku ingin bangun untuk mengubah mimpi itu menjadi nyata....
...🌺🌺🌺**...
Suara sorak dari anak-anak yang baru saja merayakan kelulusannya memenuhi aula sekolah yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.
Gadis dengan rambut bergelombang itu tampak bahagia dengan ke empat saudaranya.
"Besar juga kamu sekarang!" ledek salah satu adik laki-lakinya.
"Memang kamu pikir aku tidak bisa besar, enak aja!" Divia langsung menoyor kepala adiknya itu.
Mereka tampak seumuran karena memang usia meraka tidak terpaut jauh.
Divia tumbuh bersama keempat adik laki-lakinya, hal itu membuatnya merasa sangat istimewa karena menjadi anak perempuan satu-satunya yang di miliki Dady dan momsnya.
"Hai Divia!" salah satu teman Divia menghampiri Divia. Bajunya tidak kalah penuh di banding baju yang tengah di kenakan oleh Divia saat ini.
"Hai Sa, ada apa?"
"Kamu beneran jadi ke korea?"
Divia menganggukkan kepalanya mantap,
"Ya ampun, aku jadi iri sama kamu. Nanti kalau di sana titip salam buat vi atau namjon ya!"
"Pasti, nanti aku bakal foto sama mereka!"
Beberapa bulan yang lalu ia terus saja membujuk kedua orang tuanya agar mengijinkannya untuk bisa kuliah di korea.
Beberapa temannya dan tentunya dirinya adalah penyuka drama korea.
Jadi nggak Abar pengen buru-buru ke Korea ....
Divia yang dulu begitu manja kini telah tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Ia seperti mewarisi sifat Moms nya. Walaupun mereka tidak punya hubungan darah tapi mereka selalu terlihat kompak dalam segala hal.
Keempat adik laki-lakinya yang pertama bernama Atha, yang ke dua Arya, ke tiga Aufar dan yang ke empat Arnold.
Keempat saudara laki-lakinya kini tengah menempuh pendidikan SMP dan SD. Mereka rata-rata hanya berjarak satu tahun.
Hanya Divia yang jaraknya cukup jauh, Divia dan Atha jaraknya enam tahun. Tapi karena Atha mengikuti kelas akselerasi, satu tahu lagi ia sudah masuk SMA. Begitupun dengan adik-adiknya yang lain.
__ADS_1
Divia yang mengikuti kelas biasa karena memang kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk banyak menerima pelajaran.
Walaupun Divia sudah di nyatakan sembur tetap saja ia harus tetap menjaga kesehatan tubuhnya.
...***...
Kini meja makan itu terlihat sepi walaupun semua anggota keluarga tengah berkumpul di sana.
Tidak ada yang berani bicara karena memang suasananya sedang sangat dingin.
"Kamu benar serius mau ke Korea?" akhirnya pertanyaan yang di tunggu-tunggu muncul juga.
"Dad, Daddy jangan bilang berubah pikiran ya. Sudah sejak jauh-jauh hari kan Daddy udah setuju!"
Protes Divia saat melihat bagaimana cara Daddy nya itu bertanya,
"Tapi sayang, Daddy sama mommy hanya khawatir. Moms tidak bisa membayangkan kamu hidup jauh dari kami, bagaimana kalau nanti_!?"
Divia langsung menggengam tangan mommy nya, "Moms, jangan khawatir. Divia nggak pergi jauh. Divia hanya ke Korea, kalau Moms atau dad rindu sama Divia, pas akhir pekan kalian bisa datang ke sana. Divia sudah besar Moms, Divia janji bakal jga diri Divia baik-baik!"
"Tapi bagaimana dengan kesehatan kamu, kalau kamu sakit siapa yang akan jagain kamu di sana?"
"Moms, Divia kan bisa menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat!"
"Tapi dad!"
"Apa lagi?"
"Divia mau belajar mandiri, jadi Divia harap Daddy nggak usah berlebihan!"
"Memang kapan Daddy berlebihan?"
"Setiap hari, setiap saat. Tidak ada ya fasilitas apapun kecuali Daddy memberi Divia uang saku dan membayar pendidikan Divia untuk lainnya Divia yang akan atur."
Divia langsung memperingatkan dadynya, ia tahu Daddy nya pasti akan melakukan hal-hal yang di luar nalar Divia.
"Bodyguard saja!"
"Enggak!"
"Apartemen!"
__ADS_1
"Enggak!"
"Baiklah, kendaraan saja!"
"Enggak, enggak, enggak! Pokoknya di sana Divia akan hidup seperti mahasiswa lainnya, tinggal di Kos-kosan dengan harga sewa sekitar dua sampai tiga juta saja tidak boleh lebih dari itu, tidak ada pelayan atau bodyguard!"
"Tapi sayang_!?"
"Please ...., Divia hanya ingin mandiri. Divia kan harus dewasa Daddy!"
"Baiklah, memang Daddy bisa apa sekarang!"
"Terimakasih dad!" Divia pun langsung berhambur memeluk dadynya.
...***...
Divia tengah sibuk di kamarnya, ia memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam koper, ia juga tidak lupa memasukkan sebuah poster BTS ke dalam kopernya. Ia berharap nanti bisa bertemu dengan anggota boyband itu dan meminta mereka membubuhkan tanda tangan di poster miliknya,
"I'am coming BTS, pokoknya aku akan menemui kalian bagaimana pun caranya!,"
Divia menatap poster yang berisi member BTS itu dan menciuminya satu per satu.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, Divia tersenyum saat melihat siapa yang mengetuk pintunya.
"Moms!?"
Ersya pun berjalan mendekati Divia, tangannya tengah memegang sesuatu di tangan kanannya!"
Ersya pun segera duduk di tempat tidur, di samping koper yang sudah mulai penuh dengan di isi baju-baju milik Divia.
"Sayang mama tadi dari mall, moms membelikan baju hangat buat kamu, Moms juga sudah menyulam nama kamu di kerahnya, nanti di pakek ya!"
"Pasti Moms, pasti. Divia pasti akan memakainya, sebentar lagi kan musim dingin!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...