
Setelah puas menatap
wajah gadis kecil itu, Ersya begitu tertarik untuk mengamati kamar itu, kamar
ibu kandung gadis kecil yang sedang berbaring terlelap di depannya.
Kamar khas anak wanita,
rapi dan di penuhi dengan pernak-pernik anak gadis.
Sebenarnya karakter
seperti apa yang sudah melahirkan gadis malang itu.
Ersya mulai mengelilingi setiap dinding yang terpajang beberapa foto, foto wanita cantik
dengan wajah tegas.
“Ini ya mamanya Iyya! Cantik …! Sepertinya juga bukan wanita yang cengeng!”
Ersya mengambil foto dengan seragam putih abu-abu itu, foto itu terlihat sangat berbeda dengan beberapa foto lainnya. Foto ini menunjukkan betapa polosnya gadis yang ada di
dalam foto, sedangkan foto yang lain ada semacam perubahan yang begitu besar.
“Aku lebih menyukai yang ini! Walaupun dekil dan kusam tapi ada karakter yang kuat di dalamnya!”
Ersya pun mengembalikan
foto itu di dinding, ia memilih kembali berjalan. Memeriksa beberapa gambar artis yang juga terpajang di sana.
“Ternyata dia mengidolakan artis korea juga!”
Ersya membaca sebuah
nama di sudut kanan bawah gambar itu, sebuah nama.
“Davina!”
Ersya memilih kembali
menoleh pada Iyya yang masih terlelap.
“Divia …, mungkin itu
gabungan nama Divta dan Davina!”
Wanita itu pun memilih
untuk duduk kembali di tempat tidur, ia melihat sebuah buku yang mirip dengan
diary yang terjatuh di bawah tempat tidur. Ersya segera mengambilnya, buku itu
tampak berdebu dan sepertinya bu Dewi tidak sadar telah menjatuhkannya.
Ersya mulia membuka
satu persatu halaman itu. Sebuah kisah yang di tulis apik di dalam buku itu.
Perjalan cinta seorang wanita.
“Kasihan sekali Davina
ini …, dia wanita yang kuat!
Hatinya terlalu kuat
untuk mengeluh sakit, mungkin bagi sebagian orang dia adalah tokoh antagonis tapi dia adalah tokoh protagonis di kisahnya sendiri!”
Hati Ersya ikut tersenyum
membaca buku itu, ia seperti ikut larut dalam cerita cinta wanita itu. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan dan berlabuh pada cinta yang salah.
“Div …, pantas jika dia merasa bersalah dengan Davina, jika aku jadi Davina mungkin aku juga tidak bisa memaafkannya!”
Ersya kembali meletakkan buku itu, kali ini ia letakkan di atas nakas.
Brrrttttt brrrrrrttttt brrrrttttt
Tiba-tiba ponsel barunya berdering, ia masih belum terlalu hafal dengan nada dering ponsel
barunya itu.
“Ahhhh ponsel baruku!”
Ersya segera mengambil
ponselnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan.
Deg
__ADS_1
Getaran itu masih ada, walaupun sesakit apa pria itu menyakitinya tetap saja nama itu masih membekas di hatinya.
Kening Ersya tiba-tiba mengkerut, “Mas Rizal?”
Untuk pertama kalinya
setelah sekian lama mereka berpisah baru kali ini pria itu menelponnya lagi. Selama ini Rizal menghubunginya melalui pengacara.
“Di angkat nggak ya?” gumam Ersya. Ia masih begitu ragu untuk mengangkat telpon itu.
“Angkat aja deh dari pada penasaran!”
Hehhhhh
Ersya menghela nafas dalamnya, rasanya begitu berat untuk mendengar suara pria itu lagi.
Ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan mulai menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.
Dengan ragu bibirnya bergetar, “Ha_ hallo!”
“Hallo Sya, ini aku Rizal!”
Deg
Lagi-lagi suara itu masih terlalu menggetarkan jantungnya.
Dia menjauhkan sebentar benda pipih itu lalu kembali menghela nafas untuk menormalkan detak jantungnya. Ia tidak mau terlihat jika dia masih memiliki perasaan pada pria itu.
Setelah lebih baik, ia kembali mendekatkan ponselnya ke daun telinganya.
“Sudah tahu mas!” ucapnya dengan syok tegar.
“Jadi nomer aku belum
kamu hapus ya?”
Ahhhh dia pasti kepedan , gue belum hapus nomornya ....., batin Ersya. Ia bingung harus menjawab apa lagi.
“Belum sempat, nanti aku hapus!” ucapnya asal agar tidak terlihat kalau dia masih memendam rasa.
“Bisa ketemu nggak besok, aku tunggu ya di kafe biasa!”
Mas Rizal ngajak ketemu? Ngapain? rasanya belum siap untuk bertemu lagi dengan pria itu. Semenjak sidang perceraian itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Bahkan ia juga melarang Div mengundangnya di acara pernikahannya kemarin.
“Maaf, kayaknya nggak bisa!”
“Ayolah sebentar saja!” Rizal terdengar memaksa.
“Gimana ya?” Ersya bingung harus mengiyakan atau menolaknya.
"Saya mohon, sebentar saja! Mau ya!"
“Aku usahain deh!”
“Aku tunggu jam dua!”
Ersya segera menutup sambungan telponnya. Ia meletakkan ponselnya di depan dadanya, memegangi dadanya yang seperti disko.
Kenapa bilang iya sih .....
Ia masih sangat belum siap untuk bertemu setelah status mereka berganti menjadi orang lain.
Sebenarnya apa yang ingin di bicarakan?
Kring kring kring
Ersya hampir saja melempar ponsel barunya saat tiba-tiba ponselnya kembali berdering, deringnya berbeda dengan yang tadi, ia begitu terkejut. Ia segera melihat siapa yang
melakukan video call.
“Div! Kenapa dia pakek video call sih?" gumamnya kesal.
Ia pun segera mengangkatnya.
“Ada apa?” tanyanya ketus membuat Div sedikit menjauhkan wajahnya dari ponselnya.
"Ketus banget di telpon! Nggak tahu diri banget!"
Hehhhh
Ersya menghela nafas, ia baru ingat jika sekarang ia jadi istri rasa baby sitter.
"Iya pak Div, ada apa?"
“Aku sedikit telat, nanti aku jemput jam tujuh ya!”
“Katanya suruh jemput
Rangga?”
__ADS_1
Div terlihat mengerutkan keningnya tidak suka,
“Jadi kamu lebih suka
kalau di jemput rangga?”
Nih orang kenapa sih .....? batin Ersya kesal.
“Tadi kan kamu sendiri
yang bilang!” ucap Ersya yang di buat selembut mungkin.
“Jangan harap ya kamu bisa deket-deketan sama Rangga!” ucap Div kesal lalu mematikan sambungan video call nya begitu saja.
Klik
Ersya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kadang ia tidak bisa memahami bagaimana daddy nya Iyya ini.
Emang ada yang salah lagi ya .....
Di tempat lain, Div mematikan ponselnya dengan kesal. Ia bahkan sampai meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.
“Dia pikir bisa seenaknya saja apa dekat dengan pria lain, bisa jadi gossip yang meresahkan
kalau begitu!” gumamnya kesal.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar, walaupun tidak di tutup. Tetap saja orang-orang harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk.
Div mendongakkan kepalanya dan itu ada Rangga di sana.
“Masuk!”
Rangga pun segera masuk dan berhenti di depan meja kerja Div.
“Pak rapat akan segera di mulai!”
“Baik!”
Rangga hampir saja berpamitan untuk keluar, tapi Div kembali memanggil nya.
“Rangga tunggu!”
Rangga mengurungkan niatnya untuk berbalik.
“Iya pak!”
“Kamu sama Ersya
sebelumnya bagaimana?”
Rangga mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Div.
“Maksud saya, bagaimana
hubungan kalian di masa lalu?”
Rangga tersenyum, sekarang tahu apa maksudnya.
“Dia teman saya pak!”
Div mengerutkan keningnya, “Hanya teman?”
“Maksud pak Div?”
“Sudah lupakan!”
“Saya permisi pak!”
Divta benar-benar kesal
setiap kali Ersya menyebut nama Rangga. Sepertinya wanita itu senang sekali kalau dekat dengan Rangga.
“Enak saja, kalau statusnya istri aku, berarti nggak boleh dong dekat sama pria lain!”
Div pun segera merapikan jasnya dan keluar dari ruangannya menuju ke ruang rapat.
Spesial visual Div
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰