Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (53. Terlambat datang bulan?)


__ADS_3

Kim terus mengusap kepala Divia yang berkeringat karena cemas, sedangkan Kim mengira Divia berkeringat karena menahan sakit di perutnya.


Akhirnya sepuluh menit berlalu dan bel pintu berbunyi, Kim meninggalkan Divia sebentar untuk menyambut sang dokter.


"Siapa yang sakit Kim?" dokter itu sudah tampak akrab dengan Kim.


"Dia_!"


"Nenek? Atau Dee? Sejak kapan kalian pindah ke apartemen?"


Belum sampai Kim menjawab, dokter sudah membuka pintu kamar dan melihat seorang gadis cantik sedang duduk di atas tempat tidur, dokter kembali menoleh pada Kim dan tersenyum,


"Jadi ini yang kamu sembunyikan?"


"Sudahlah dok jangan banyak bicara dulu, dia sedang butuh pengobatanmu!"


"Baiklah, iya!"


Dokter pun berjalan cepat menghampiri Divia,


"Selamat sore nona, apanya yang sakit?"


Belum sampai Divia membuka mulut, Kim sudah lebih dulu menyambar, "Kamu tidak lihat dia sedang sakit perut!?"


Dokter hanya menoleh kesal pada pria dingin yang tengah duduk di sisi lain tempat tidur Divia, ia tengah memegangi tangan Divia.


"Kim!?" Divia benar-benar merasa tidak enak karena Kim memarahi dokter itu.


"Baiklah, biar saya periksa dulu nona!" dokter mulai mengeluarkan alat medisnya dan melakukan pemeriksaan pada Divia, terlihat beberapa kali mengerutkan keningnya,


"Tidak ada yang serius_!"


"Bagaimana tidak serius, dia sampai memuntahkan semua makanannya!" Kim dengan cepat memotong ucapan dokter membuat Divia kembali melotot padanya.


"Benarkah begitu?"


"Tidak dok, tadi hanya merasa mual saja!"


"Begitu ya, apa nona sedang telat datang bulan?"


Pertanyaan itu seketika membuat Divia terkejut di buatnya,


"Tidak dok, sungguh tidak begitu. Ini hanya salah makan biasa, sungguh ....!"


Kim yang melihat wajah panik Divia membuatnya menatap Divia dan dokter bergantian.


"Begitukah, kamu yakin?"


"Yakin dok, saya masih perawan! Masih perawan!" ucap Divia mempertegas ucapannya.


"Baiklah, sepertinya nona hanya butuh istirahat saja, ini ada resep yang harus di tebus beberapa vitamin saja!" ucap dokter sambil menuliskan beberapa vitamin, karena ia tahu gadis di depannya tidak sedang dalam keadaan sakit.

__ADS_1


"Baiklah, semoga lekas sembuh!"


"Terimakasih dok!"


"Kim, bisa mengantarkan keluar kan?"


Untuk pertama kalinya dokter selama bertugas di keluarga Kim minta di antar keluar.


"Hahh?" Kim cukup terkejut di buatnya.


"Iya, sebentar saja!" dokter pun kembali beralih pada Divia, "Nona, boleh pinjam Kim nya sebentar kan?"


"Silahkan dok!"


Walaupun berat akhirnya Kim pun meninggalkan Divia untuk mengantar sang dokter, ia juga penasaran dengan sakitnya Divia. Tidak mungkin jika tidak apa-apa kalau Divia sampai memuntahkan semua makanannya.


"Kamu serius belum menyentuhnya?"


"Maksud dokter?"


"Ya tadi saya kira kekasihmu sendang hamil!"


"Hamil?" Kim sampai mengerutkan keningnya hingga membuat kedua alis tebalnya hampir menyatu,


"Jadi benar kalian belum melakukan semuanya?" tanya dokter lagi memastikan walaupun melihat ekspresi Kim dokter sudah tahu jawabannya.


"Omong kosong apa ini!" ucap Kim dengan raut wajah yang berubah masam, ia tahu maksud pertanyaan dokter yang menjurus bahwa dia sedang mengejeknya dengan gaya pacaran Kim yang terkesan kaku.


"Isssttttt!" dokter hanya bisa mengeluh dan keluar, dengan cepat Kim menutup kembali pintunya dari dalam.


"Dasar dokter tidak berpengalaman!" gumamnya, ia hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu Divia jelas tidak hamil karena masih beberapa hari lalu ia datang bulan.


Kim kembali lagi ke kamar Divia dan duduk di samping Divia tanpa berbicara sepatah katapun,


"Kim apa yang terjadi?" hal itu tentu membuat Divia penasaran.


Kim tersenyum dan menatap Divia, "Tidak pa pa, istirahatlah. Nanti biar aku minta Lee untuk mengambilkan obat untukmu!"


"Oh iya, Lee sama Yura kemana?" tanya Divia saat menyadari sedari tadi Lee dan Yura tidak juga kembali.


"Bukankah kamu yang memintanya mencarikan buat kesukaanmu?"


Divia yang memang tidak merasa menyuruh akhirnya hanya bisa tersenyum, rupanya ini cara Yura agar mereka tidak kembali dengan cepat, "Ahhh, iya!"


"Tidurlah lagi, aku akan meminta seseorang untuk membuatkannya bubur!"


"Tidak usah Kim, sungguh! Tapi dokter tidak mengatakan apapun kan tadi?"


"Tidak jangan khawatir!"


Di tempat lain, terlihat Yura dan Lee sedang berada di dalam mobil yang sama, mereka tampak masih saling diam. Pertemuan terakhir mereka cukup meninggalkan kesan yang tidak baik untuk Yura membuat Yura masih sangat kesal dengan pria di sampingnya.

__ADS_1


"Ini bukan hanya alasan kamu saja kan agar bisa berduaan dengan saya?" tanya Lee tiba-tiba setelah cukup lama saling diam.


Hahhhh, yang benar saja ...., kalau bukan karena Vi, males banget berduaan sama kamu ...., Yura benar-benar kesal dengan pertanyaan pria di sampingnya itu.


Ia yang sedang menyimpan stok sabarnya memilih diam. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan pria dingin itu.


Tapi ternyata Lee malah meminggirkan mobilnya dan memilih berhenti, membuat Yura terpaksa menoleh pada pria itu.


"Ada apa lagi Mr Lee, apa saya melakukan kesalahan?"


"Apa kamu tidak mendengar pertanyaan saya?"


Hehhh .....


Yura menghela nafasnya begitu dalam, ia harus super sabar dengan pria di sampingnya,


"Maaf Mr Lee, sungguh saya hanya menjalankan perintah dari calon nyonya muda anda!"


Melihat tatapan Yura yang sungguh-sungguh, Lee pun tidak mau melanjutkan perdebatan mereka, ia kembali melanjutkan perjalanan.


Hampir setengah jam dan Yura belum berniat memintanya berhenti.


"Apa masih lama?" tanyanya lagi.


Memang enak dikerjai ...., batin Yura kesal. Karena pria itu sudah memancingnya ia sekalian mengerjainya. Sebenarnya mereka tadi sudah melewati pasar tapi Yura sengaja membuat jalan mereka semakin panjang.


"Masih di depan!" ucap Yura tanpa menoleh pada pria di sampingnya.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah pasar tradisional,


"Berhenti di depan situ!" Yura menunjuk ke arah sebuah pasar. Lee yang melihat tempat yang di tunjuk oleh Yura merasa ragu untuk menghentikan mobilnya.


"Cepetan berhenti!" teriak Yura hingga membuat Lee mengerem mobilnya mendadak dan menatap tajam pada Yura.


"Ada apa?" tanya Yura dengan tatapan tanpa rasa bersalah.


"Yakin ke pasar?" tanya Lee kemudian dan Yura mengangukkan kepalanya.


"Kamu tahu kan nona Vi harus memakan makanan yang higienis apalagi sekarang dia sedang sakit perut, jadi lebih baik kita tidak belanja di sini!" Lee masih dengan pendapatnya tapi sepertinya Yura juga tidak ingin di atur oleh pria tampan di sampingnya,


"Tapi Vi maunya di sini!" tegas Yura.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2