Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Makan malam


__ADS_3

"Memang siapa dia, bisa-bisanya membuat keningku memar seperti ini!" Div berdiri di depan cermin dan mengoleskan salep ke keningnya yang memar.


"Bisa-bisa semua tubuhku babak belur gara-gara dia, kemarin kakiku, sekarang keningku, besok apa lagi!"


Setelah puas menggerutu, Div pun keluar dari kamarnya, ia ngin melihat bagaimana kelakuan bar bar wanita itu.


Ersya yang sudah lebih dulu keluar segera berjalan menuju meja makan, ia menghampiri Iyya yang ada di meja makan.


"Hai Iyya ....!" sapanya sambil meregangkan kedua tangannya, ia tidak membiarkan Iyya turun. Ersya memilih menghampiri Iyya.


Iyya yang sudah duduk di meja makan begitu senang melihat Ersya datang sampai berdiri di atas kursi menyambut kedatangan Ersya.


"Mom Eca ....!"


Ersya pun menghampiri Iyya dan memeluk lalu mencium keningnya.


Iyya kembali melepaskan pelukannya, memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh Ersya.


"Mom!"


"Iya sayang, ada apa?"


"Mom Eca kenapa pakai bajunya encus?" tanya Iyya saat melihat baju yang di kenakan oleh Ersya.


Ersya menatap bajunya, "Oh ini ....!" ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Ia sebenarnya juga tidak suka dengan baju yang saat ini melekat di tubuhnya tapi apa boleh buat, ini syarat yang harus ia penuhi.


"Itu karena mom Eca sedang berakting sayang, nanti kalau di rumah mom Eca memakai baju encu!" ucap Div yang tiba-tiba datang dari belakang. Pria itu berjalan menghampiri putrinya dan mengusap kepalanya.


Ersya pun ikut duduk di samping Iyya, Ersya dan Div di pisahkan oleh Iyya di tengah.


Iyya masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh daddy nya.


"Dad ...., benalkah ....? Bukan daddy yang meminta?"


"Nggak percaya banget sama daddy!" gerutu Div, pria itu pun menatap Ersya agar wanita itu mau membantunya bicara.


"Iya sayang ...., daddy nggak bohong! Sekarang Iyya makan ya, biar mom yang ambilkan untuk Iyya!"


Ersya pun memilih untuk tidak mempermasalahkan baju itu, jika ia mau ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Iyya dan sudah pasti Iyya akan membelanya, tapi dia memilih untuk tidak melakukan hal itu, dia akan merasa begitu jahat jika melakukan hal itu walaupun ia tahu pria itu juga tidak kalah sadisnya sama dia.


Ersya mengambilkan makanan untuk Iyya.


"Segini cukup sayang?"


"Iya!"


"Mau lauknya yang mana sayang?"


"Iya mau ayam goyeng!"


"Sama sayurnya ya?"


"Iyya nggak cuka cayul mom!"


"Tapi Iyya harus makan sayur sayang, kamu tahu kenapa Popeye kuat!"


"Ciapa Popeye mom?"


"Kartun kesukaan mom!"

__ADS_1


Kenapa dia malah membicarakan kartun segala, mana tahu Iyya kartun jalan dulu dia anak jama now ....., batin Div yang hanya memperhatikan asiknya interaksi antara Iyya dan Ersya.


"Iyya ingin nonton!"


"Iya nanti mom Eca ajak nonton tapi Iyya makan sayur dulu!"


"Iya ....., Iyya mau!"


"Bagus anak pintar!"


Ersya pun memberikan piring Iyya yang sudah ada sayurnya juga di dalam piring itu.


"Ayo sayang makan!"


"Kenapa mom tidak ambilkan punya daddy juga?" tanya Iyya yang melihat piring daddy nya masih kosong.


Ersya menatap Div, dan sepertinya Div sengaja membiarkan piringnya kosong agar di isi oleh Ersya.


"Ohhh jadi daddy juga mau mom ambilkan? Baiklah!" Ersya tersenyum kesal sambil mengambil piring Div.


"Apa nasinya segini cukup?" tanya Ersya sambil mengambilkan secentong nasi.


"Cukup!"


"Ehhh daddy kan bekerja, pasti lapar, iya kan Iyya?"


Iyya pun menganggukkan kepalanya.


"Jadi mom akan mengambilkan makanan lebih banyak!! Bagaimana kalau segini?" tanya Ersya sambil menyendokkan dua centong nasi lagi.


"Sudah cukup!"


Dia benar-benar ingin membunuhku perlahan-lahan ...., batin Div saat melihat betapa banyaknya nasi yang ada di atas piringnya.


"Daddy juga nggak cuka cayul cama cepelti Iyya!"


"Benarkah?" Ersya tersenyum penuh arti, "Ehhhh sayang ya!"


"Cayang kenapa mom?"


"Sayang banget sayang, usia Daddy kan sudah hampir empat puluh, jadi daddy harus banyak-banyak makan sayur, kalau enggak pasti kolesterolnya menumpuk, nanti kakinya sakit!"


"Daddy nggak boyeh cakit!"


"Ya sudah karena daddy nggak boleh sakit, jadi harus makan sayur, okey!"


Ersya pun mengambilkan sayur dan memasukkannya di atas piring yang berisi penuh dengan nasi itu.


"Kamu mau membunuhku dengan makanan itu!?" ucap Div kesal saat Ersya hendak menyerahkan piringnya.


"Enggak dad, mom.pelhatian cama daddy!" ucap Iyya membela Ersya. Ia tahu tujuan mom Eca nya baik, Iyya juga tidak mau jika sampai daddy nya sakit.


"Tuh Iyya aja tahu!" ucap Ersya puas karena di bela oleh Iyya.


Ersya menyerahkan piring itu pada Div dengan terpaksa pria itu memakannya, seumur hidup ia belum pernah memakan sayur dan kali ini wanita yang sudah menjadi mom dari putrinya itu memaksanya untuk memakan sayur.


Ersya tersenyum puas melihat wajah pucat dari pria yang sudah beberapa kali mengerjainya.


Makanya jangan macam-macam sama gue ...., Ersya di lawan ....

__ADS_1


Baru beberapa suapan saja, Div segera berlari meninggalkan meja makan menuju ke kamar mandi, ia memuntahkan semua isi perutnya.


Hoeks hoeks hoeks


Krucukkkk kruuuucuuuuk


Div menyalakan kran untuk mencuci mulutnya dengan berkumur.


"Dia benar-benar keterlaluan!" umpat Div.


Di meja makan Ersya dan Iyya sudah menyelesaikan makannya.


"Apa daddy tidak papa mom?"


"Tidak pa pa sayang, daddy hanya belum terbiasa saja makan sayur! Iyya bermain sendiri dulu ya habis ini, mom mau menemui daddy dulu!"


"Iya mom!"


Iyya pun segera turun dari tempat duduknya dan kembali menuju ke kamarnya untuk bermain.


Ersya segera menemui Div, ia jadi khawatir karena telah membuat pria itu sampai muntah-muntah gara-gara dia.


Tok tok tok


Ersya mengetuk pintu kamar mandi.


"Siapa?" sahut Div dari dalam.


"Ini saya!"


Tidak ada sahutan lagi dari dalam, suara air pun juga sudah tidak terdengar lagi.


Ceklek


Pintu terbuka, pria itu terlihat begitu berantakan keluar dari dalam kamar mandi.


"Ada apa lagi, mau menertawai ku karena tidak bisa makan sayur?"


"Bukan!"


"Trus apa?"


"Saya mau minta maaf, saya tidak tahu kalau kamu nggak bisa makan sayur! Tapi kalau di biasain lama-lama juga suka!"


"Jangan memaksa! Dan jangan mengurusi urusan saya, mengerti!"


Div berdiri begitu kesal lalu berlalu begitu saja meninggalkan Ersya sendiri.


"Kasihan sekali pria itu, mungkin aku bisa melakukan sesuatu nanti!" gumam Ersya sambil menatap punggung Div.


Ersya pun memilih untuk menghampiri Iyya dari pada pusing dengan Div.


Lagian bukan urusanku juga ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2