Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Teror


__ADS_3

Ersya dengan cepat mencari benda pipih miliknya itu, ia sengaja membedakan nada dering miliknya dengan milik Div agar tidak tertukar. Hp mereka sama persis membuatnya sering tertukar, entah itu di sengaja atau tidak. Mereka selalu meributkan hal itu, Div selalu mengotak-atik ponselnya tanpa sepengetahuan Ersya.


"Mama!?" gumam Ersya, ia pun menatap Div lalu berjalan sedikit menjauh. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan benda tipis itu di daun telinganya.


"Hallo ma!"


"Hallo Sya, maaf ya mama mengganggumu pagi-pagi!"


"Nggak pa pa ma, ada apa?"


"Bisa nggak hari ini ke rumah sakit lagi?"


Pertanyaan itu seketika membuat Ersya menoleh pada Div yang sedari tadi menatapnya.


"Maaf ma tapi_!"


Belum juga Ersya menyelesaikan ucapannya, wanita yang ada di seberang sana segera memotongnya,


"Sya, kasihan Rizal nak, sedari semalam terus saja menyebut Nama kamu, dia nggak mau makan Sya! Maunya nungguin kamu!"


"Nanti aku usahain ma, tapi maaf ya ma, Ersya nggak bisa janji!"


"Iya, terimakasih ya Sya! Mama tunggu!"


Ersya segera mematikan sambungan telponnya, memegang ponselnya dengan erat, ia ingin mengatakan pada pria di depannya, tapi pasti akan sangat sulit.


"Ayo kita pulang!?" ucap Div yang tidak mau mendengar apapun dari Ersya.


Div berjalan mendahului dan Ersya mengikutinya di belakang. Bahkan Div juga tidak menanyakan apapun tentang siapa yang telpon dan kenapa menelpon.


"Silahkan pak!" seseorang sudah menyambut mereka di samping mobil yang akan di tumpangi mereka tapi bukan sekretaris Revan.


"Di mana sekretaris Revan?"


Belum juga sopir itu menjawab, sekretaris Revan sudah muncul dari arah lain. Ia berjalan sedikit lebih cepat, dan lebih tepatnya sedikit berlari.


"Maaf pak, saya terlambat!"


"Dari mana?"


"Tadi ada seseorang yang sepertinya mengintai mobil bapak!"


Div mengerutkan keningnya, "Tertangkap?"


"Dia larinya terlalu cepat pak, maaf saya tidak bisa menangkapnya, tapi beberapa saksi sudah mencatat plat nomor motor yang di gunakan.


"Cari tahu siapa orangnya!"


"Baik pak, sebaiknya untuk keamanan bapak dan ibu tidak menggunakan mobil ini, biar saya carikan mobil hotel pak!"


"Terserah, tapi lebih cepat!"


"Baik pak!"


Sekretaris Revan segera menemui pihak hotel dan mencarikan mobil untuk Div dan Ersya.


Kini Ersya dan Div sudah masuk ke dalam mobil bersama pihak hotel, sekretaris Revan masih mengecek keadaan mobil dengan mendatangkan mekanik dan benar saja, seseorang telah menyabotase mobil mereka dengan memotong kabel rem.


"Mas, siapa yang mau jahat sama kita?"

__ADS_1


Ersya sedari tadi terlihat khawatir, wajahnya pucat saat mengetahui ada hal yang tidak beres.


Div tersenyum membuat Ersya semakin kesal saja dengan pria itu.


Masih santai saja dia .....


"Bukankah aku sudah mengatakannya sejak awal, dan memberimu beberapa pilihan! Kamu sudah memilih untuk menerima segala konsekwensinya dan ini salah satunya!?"


Div kembali menatap ke depan, ia tidak bisa memaksakan orang lain untuk ikut masuk ke dalam bahaya tapi dia juga tidak bisa melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya.


"Kalau aku mati, kau akan bebas kan?"


Pertanyaan itu membuat Ersya tersentak, ia tidak tahu jika masalahnya akan seserius itu.


"Jangan main-main dengan nyawa ....!"


"Ya siapa tahu kamu mendoakan hal itu dan kalau aku mati kamu bisa kembali ke mantan suamimu kan?"


Kenapa jadi bawa-bawa mas Rizal, apa itu gara-gara telpon tadi? Kan bukan aku yang menelponnya ....


Ersya memilih diam dan beralih menatap ke luar dari pada menatap pria yang selalu membuatnya kesal itu.


Hingga akhirnya mobil sampai juga di depan rumah ayah Roy.


"Aku langsung pergi!"


Div sudah memasang aerophone di telinganya,


"Aku_!" ucap Ersya tapi tidak sampai selesai karena Div sudah lebih dulu memotongnya.


"Tidak boleh ke mana-mana sebelum aku kembali!"


Hehhhh ...., dia tahu apa yang ingin aku katakan ....


Div kembali menatap Ersya yang tangannya mulai meraih pengait pintu,


"Yakin tidak ada yang tertinggal?"


Pertanyaan itu membuat Ersya memeriksa kembali tasnya dan ia tidak menemukan sesuatu yang tertinggal.


"Tidak ada!?"


Isstttt, dia benar-benar tidak paham ...


Div menatap tajam pada Ersya membuat Ersya mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Issstttttt, lupakan saja! Sudah sana keluar!"


Dasar gengsian ....., batin Ersya. Ia tersenyum melihat wajah kesal Div.


"Mas, kayaknya ada sesuatu deh di rambut kamu!?"


Div mengerutkan keningnya, "Apa?"


"Mendekatlah!"


Div pun menuruti perintah Ersya dan mendekatkan kepalanya pada Ersya.


Cup

__ADS_1


Ersya segera mengecup pipi Div membuat pria itu terpaku di tempatnya dengan pipi yang memerah,


"Sampai jumpa nanti!?"


Ersya tersenyum dan melambaikan tangannya setelah pintu mobil itu terbuka. Ia meninggalkan Div yang masih bergeming di tempatnya.


Tangan Div mengusap pipinya yang memerah dan tersenyum sendiri.


Kenapa jadi begini ...., jantunku ....


Div memegangi letak jantungnya yang bekerja lebih cepat.


"Bagaimana pak, apa kita jalan sekarang?"


Pertanyaan dari sopir itu menyadarkannya Ersya sudah menghilang dari pandangannya.


"Ya, kita ke lapas!"


"Baik pak!"


Mobil pun kembali melaju meninggalkan rumah itu. Div harus mengurus surat kebebasan mamanya.


Nyonya Ratih sudah mencabut tuntutannya, bukan karena dia sudah memaafkan tapi menurutnya sudah tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi, apalagi anak-anak sudah hidup dengan kehidupannya masing-masing. Tidak ada pertikaian lagi di antara saudara, baginya sudah lebih dari cukup.


Kini Div sudah menjejakkan kakinya di halaman lapas, sekretaris Revan sudah menunggunya di sana dengan membawa berkas-berkas yang di butuhkan.


"Kamu sudah boleh kembali ke hotel!"


"Baik pak!"


Div pun segera turun dari mobil, ia menghampiri sekretaris Revan.


"Bagaimana? Apa sudah siap?"


"Sudah pak, semua sesuai dengan yang anda minta!"


Div berjalan mendahului masuk ke dalam gedung itu dengan sekretaris Revan yang berjalan sedikit di belakangnya,


"Apa sudah tahu siapa yang mengacau tadi pagi?"


"Ternyata plat motornya hanya tempelan, tidak ada plat motor yang sama dengan yang orang itu pakai!"


"Selidiki terus, sepertinya mereka sudah merencanakan dengan sangat serius!"


"Baik pak!"


"Lakukan juga pengamanan lebih ketat lagi kepada istri dan putriku!"


"Baik pak!"


Langkah mereka akhirnya terhenti di sebuah ruangan, sepertinya ruangan itu adalah ruangan kepala.


...Hanya butuh sentuhan kecil untuk menggetarkan hatiku yang lama membeku, entah karena aku yang sensitif atau memang hatimu terlalu lembut untuk aku yang beku ...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2