
Ersya pun begitu kesal dan melewati Rizal begitu saja hingga kopernya mengenai kaki Rizal.
"Aughhhh!" pekiknya tapi Ersya tidak mau peduli.
Ersya pun masuk ke dalam mobilnya, mobil miliknya adalah mobil yang ia dapat sendiri dengan sistem potong jadi sebagai angsuran nya jadi Rizal tidak bisa menariknya juga.
"Dasar keras kepala!" gumam Rizal, pria itu segera kembali masuk ke dalam mobilnya yang terlihat masih baru. Dia cukup sukses menjadi seorang pengusaha pemula dan masih merangkap menjadi manager di tempat kerjanya dulu. Usahanya masih baru dan masih butuh banyak sekali suntikan dana, orang tuanya juga tidak bisa membantu banyak karena hanya tinggal mamanya saja.
Ersya yang terlanjur kesal, ia memilih untuk meninggalkan rumah itu. Wanita itu mengendarai mobilnya dan pergi tidak tahu arah tujuannya.
"Gue kemana lagi malam-malam kayak gini!?"
Ersya terlihat beberapa kali memukul setirnya, mau ke rumah Felic juga tidak mungkin sahabatnya itu juga dalam masalah besar, pasti suaminya juga membencinya saat ini.
"Rangga?"
Entah kenapa tiba-tiba dalam pikirannya terlintas pria itu, dia temannya sejak SMP, tidak mungkin jika tidak menolongnya.
"Ehhh tapi jangan deh ..., orang taunya mulutnya pedes-pedes semua!"
Ersya pun memilih menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia masih harus memutar otaknya untuk mencari tempat untuk tidur malam ini.
"Di jalan juga nggak akan aman, gimana kalau gue tertangkap satpol PP di kira mangkal!?"
Hehhhhh ....
Lagi-lagi Ersya menghela nafas, "Kayaknya memang nggak ada pilihan lain deh!"
Ersya pun mencari-cari ponselnya di dalam tas.
"Ohhhh astaga ....!" Ia sampai harus menepuk keningnya dengan begitu keras.
"Ponselku di bawa pria sinting itu!"
"Sial!"
"Sial!"
"Siaaaaaaaal!"
Umpatnya kesal hingga beberapa kali, ia tidak bisa menghubungi siapapun sekarang.
"Gue tidur di depan kantor aja deh, besok pagi-pagi sekali langsung mandi!"
Akhirnya Ersya memutuskan untuk kembali menjalankan mobilnya menuju ke kantor, untuk kantor tempatnya bekerja tidak ada pagar pembatas, jadi dia bisa memarkirkan mobilnya di halaman kantor.
...****...
Masih sangat pagi, matahari pun belum muncul sepenuhnya. Wanita yang berada di dalam mobil itu pun sudah mulai membuka matanya.
"Ahhhh sudah pagi!"
Ersya terlihat beberapa kali meregangkan otot-ototnya yang kaku karena semalaman ini tidur meringkuk.
"Kenapa mobil mbak Ersya di sini?"
Suara seseorang tiba-tiba membuat Ersya begitu terkejut, ia pun segera merapikan rambutnya yang begitu berantakan dan melihat keluar.
"Pagi bang Ilham!" sapa Ersya.
"Mbak Ersya, sejak kapan di sini?"
__ADS_1
"Tadi pagi-pagi sekali!"
"Ada apa mbak datang sepagi ini?"
"Sebenarnya air di rumahku kebetulan sedang ada pembetulan jadi terpaksa aku mau numpang mandi di sini, nggak pa pa kan bang?"
"Nggak pa pa mbak, ya sudah mari saya bukakan pintunya!"
Bang Ilham memang seorang cleaning servis senior, dia yang memegang kunci kantor. Setiap hari dia selalu datang pagi dan malamnya akan datang lagi untuk mengunci pintu.
Ersya pun segera mengikuti bang Ilham, ia mengambil baju gantinya di dalam koper dan juga peralatan mandi seadanya.
"Makasih ya bang, Ersya mandi dulu!"
"Iya!"
Ersya segera mandi sedangkan bang Ilham harus mulai bekerja membersihkan seluruh ruangan kantor.
Selang satu jam, satu per satu rekan kerja Ersya berdatangan dan Ersya sudah duduk manis di tempatnya.
"Sya kemana aja?" tanya salah satu temannya, karena sungguh hal yang luar biasa saat Ersya datang tepat waktu.
"Aku agak kurang enak badan aja kemarin! Tapi sekarang sudah baik!"
Mendengarkan hal itu, reman kerja Ersya pun segera duduk di sampingnya, melihat tag nama yang melekat di bajunya, dia bernama Seila.
"Pantas saja keluar dari rumah sakit, aku kira itu salah orang!"
"Maksudnya?"
Ersya tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh temannya itu.
"Benarkah?"
"Iya, ini lihatlah ...!"
Seila menunjukkan ponselnya pada Ersya, Ersya pun mulai membaca satu per satu berita yang beredar dan kebanyakan memojokkan dia.
Kenapa jadi seheboh ini ....? Gila ini benar-benar gila ...., tanpa sadar Ersya sampai menggelengkan kepalanya.
"Emang kamu nggak liat berita ya? Kemana sih ponsel lo, di hubungi nggak bisa sama sekali, dari kemarin bos uring-uringan nyariin kamu!"
"Ponselku di bawa seseorang!"
"Pantes aja! Jangan-jangan di bawa cowok itu ya, kalian sudah tinggal serumah ya?"
"Enggak! Sumpah nggak kayak gitu!"
"Nggak pa pa lagi kalau sudah tinggal serumah, lagian kamu kan juga udah janda! Asal dia bukan laki orang aja!"
"Ya nggak lah!"
Seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan nafas yang tersengal-sengal, ia sepertinya habis berlari.
"Ada apa soh Bert?" tanya Ersya.
"Lo jangan keluar deh kalau gue bilang!" ucap pria dengan kemeja putih dan celana hitamnya itu, namanya Robert.
"Iya tapi ada apa?" Ersya masih terlihat begitu tenang.
"Ya pokonya jangan keluar!"
__ADS_1
"Ada apa sih!?" Ersya pun malah begitu penasaran, ia segera berdiri dan hendak keluar tapi tangannya di tahan oleh Robert.
"Jangan nekat Sya, bos bisa marah, di luar ada para wartawan sedang nungguin lo!"
"Jadi maksudnya para wartawan itu tahu kalau gue kerja di sini?"
"Iya ...., makanya jangan kemana-mana!"
Akhirnya dari pada mendapat masalah, Ersya pun memilih menurut. Ia kembali duduk dan mulai bekerjan.
Saat waktu makan siang tiba-tiba bos memanggilnya ke ruangan.
"Ada apa ya gue di panggil keruangannya?" tanya Ersya bingung dan Seila mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tahu. Ruang yang tadinya penuh pengunjung tiba-tiba sepi karena para petugasnya akan makan siang.
"Kamu ke sana aja deh dari pada bos marah, sudah dari kemarin dia cari-cari kamu!"
Ersya pun sedang ragu menuju ke ruangan bos. Jarang sekali ia ke ruangan itu jika tidak ada yang sangat mendesak seperti ini.
Tok tok tok
Ersya mengetuk pintu yang berwarna putih itu.
"Masuk!"
Dari dalam terdengar sahutan, Ersya pun segera membuka pintu. Ia bisa melihat seorang pria yang sedang duduk menatap ke luar jendela memunggungi arah pintu.
"Selamat siang pak!"
"Duduklah!"
Tanpa perintah dua kali, Ersya pun duduk. pria itu memutar kursinya hingga menghadap Ersya.
Mereka duduk berhadapan dan hanya terpisah oleh sebuah meja di antara mereka.
"Bapak memanggil saya?"
"Iya!"
Pria itu pun mengambil sesuatu di dalam map dan menggesernya ke depan Ersya, sebuah Amplop.
"Ini apa pak?"
"Buka saja!"
Ersya dengan cepat membuka nya, sebuah surat pemecatan.
"Pak ini saya di pecat?"
"Iya!"
"Tapi kenapa saya di pecat pak?"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1