
Mereka mendekati mobil, tapi tidak bisa menemukan Divia di sana.
"Di mana mas, Divia nya?"
"Mana aku tahu!"
Mereka mengedarkan pandangannya dan betapa leganya saat melihat Divia sedang bermain di taman yang ada di samping rumah sakit.
"Itu dia!" ucap Ersya tersenyum sambil menunjuk Divia yang sedang bermain di seberang jalan.
Brettttt bretttt bretttttt
Di saat yang bersamaan, ponsel Div berdering. Ia mengurungkan niatnya untuk berjalan.
Div merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya dan melihat siapa yang sedang melakukan panggilan.
"Siapa mas?" tanya Ersya dan Div menjawabnya dengan menggerakkan bibirnya saja tanpa mengeluarkan suara.
"Agra!"
"Aku ke Divia dulu ya mas!"
Div pun menganggukkan kepalanya, ia menggeser layar ponselnya dan mulai melakukan percakapan dengan Agra, membiarkan Ersya berjalan lebih dulu.
Ersya berjalan cepat, ia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Divia di sana. Perhatiannya hanya tertuju pada Divia.
"Mom!" teriak Divia saat melihat mommynya, ia melambaikan tangan dan hendak menghampiri mommynya.
"Tetap di situ saja, mom yang akan ke situ!"
Ersya sampai lupa memperhatikan kanan kiri saat akan menyeberang hingga tanpa sadar sebuah mobil sedang melaju kencang ke arahnya. dan dia baru sadar saat mobil itu sudah begitu dekat.
Citttttttttt
Suara decitan rim yang beradu dengan aspal terdengar begitu keras, Ersya hanya bisa menutup matanya.
Div yang melihat hal itu, ia menjatuhkan ponselnya begitu saja dan berlari menghampiri Ersya, dengan cepat menarik tubuhnya. Memeluknya dengan begitu erat agar tubuh istrinya tidak sampai membentur tanah.
Brug
Tubuh Ersya dan Div jatuh berguling di rumput yang ada di bahu jalan dan tepat mobil bisa terkendali dengan baik hingga tidak sampai terjadi kecelakaan.
__ADS_1
Ersya masih memejamkan matanya, Div menggunakan tangannya untuk mendekap kepala Ersya agar tidak terbentur dengan tanah.
"Sya! Sya ...., kamu tidak pa pa kan?" tanya Div yang masih sama-sama dalam posisi tiduran di atas rumput, wajah Div sedikit nyengir menahan sakit, sepertinya lengannya terbentur benda keras karena ada bercak darah yang keluar dari lengan kemejanya. Meskipun begitu ia tidak menarik paksa lengannya, ia tetap membiarkan kepala Ersya berada di atas lengannya.
"Aku sudah mati ya?" tanya Ersya yang masih menutup matanya.
"Kamu pikir aku malaikat pencabut nyawa apa!?" keluh Div.
Ersya pun perlahan membuka matanya, berharap yang sedang memeluknya sekarang benar-benar suaminya.
"Mas!"
Ersya tersenyum saat benar-benar melihat wajah suaminya.
"Maaf,mbak sama mas tidak pa pa?" tanya seseorang yang sedang berdiri di samping mereka.
Sepertinya pria itu juga tampak terkejut saat melihat siapa yang hampir saja tertabrak oleh mobilnya, "Tuan Div?"
Ersya pun segera bangun, begitu pun dengan Div. Dengan sudah payah ia berdiri karena tubuhnya sempat membentur pembatas jalan untuk melindungi tubuh istrinya dari benturan.
"Ajun kan?" tanya Div dan Ajun pun menganggukkan kepalanya.
Ajun mengamati wajah wanita yang bersama Div. Ia seperti pernah mengalami hal yang sam seperti yang ia alami saat ini beberapa tahun lalu.
"Iya! Tapi di mana ya?"
Belum sampai Ersya mengingatnya tiba-tiba Divia datang dengan menangis dan memeluk Ersya.
"Mom ....., mom tidak pa pa kan? Iyya takut!" rengek Divia.
"Mom tidak pa pa sayang, lihat mom sehat sayang! Kan ada super Hero ha mom!"
Ersya menoleh pada suaminya, tidak biasanya suaminya itu diam saja. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah pucat dari suaminya dan ada darah yang mengalir dari lengannya.
"Mas ...., mas kenapa?"
"Pak, kita ke rumah sakit!" Rangga tidak kalah terkejutnya.
"Kita sudah di depan rumah sakit tuan, kita langsung ke sana saja!"
Div menarik tangan Ajun yang sudah akan memapahnya, "Jangan, kita ke rumah sakit lainnya saja!"
__ADS_1
"Tapi tuan!"
"Sudah saya bilang, ke rumah sakit lainnya saja!"
"Baik, mari saya antar!" Ajun menawarkan diri.
"Iyya sama om Rangga ya, mom ikut Daddy di mobil om ini!" ucap Ersya pada putrinya.
"Yes mom!"
Ersya dengan cepat membatu Ajun membawa Div ke dalam mobil, sedangkan Rangga bersama Divia dia mobil yang lain. Tidak lupa Rangga meminta seseorang untuk mengambil mobil milik Div.
Ersya menemani Div duduk di belakang sedangkan Ajun duduk di balik kemudi.
"Sabar ya mas!" sebenarnya Ersya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Jangan khawatir, ini cuma luka biasa, tidak pa pa!" Div tahu jika saat ini istrinya yang sedang khawatir.
Tapi hal yang lain di rasakan oleh Ersya, ia merasakan perutnya begitu nyeri. Tangannya menggenggam erat kemeja Div, wajahnya semakin pucat saja tapi dia tidak mau mengeluh pada suaminya.
Stelah lima belas menit akhirnya sampai juga di rumah sakit FrAd Medika, Ajun membatu Div untuk ke ruang IGD.
Ersya berjalan perlahan untuk menyusul suaminya, ia merasakan perutnya saat ini sedang kram. Mungkin karena terlalu terkejut, pikirnya.
"Mbak, mbak nggak pa pa?" tanya Ajun setelah Div di tangani oleh para dokter.
"Nggak pa pa, hanya kram perut saja!"
"Mbak Ersya yakin?" tanya Ajun memastikan lagi karena melihat wajah Ersya yang begitu pucat.
"Iya!"
Tapi tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan ia hanya bisa mendengar suara riuh orang-orang mendekat padanya terutama suaminya dan tidak bisa merasakan apa-apa lagi setelah itu.
Bersambung
...Mencintaimu butuh perjuangan tapi mempertahankan mu butuh keteguhan, karena kamu begitu berharga...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰🥰