Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
shopping ala mom Echa


__ADS_3

Pagi ini Ersya dan Divia sudah sangat rapi dengan baju khas ala jalan-jalan. Berpakaian serba putih, ia tetap terlihat menawan dengan jumpsuit dan sneakers yang warnanya senada begitupun dengan Divia, mereka tinggal menunggu daddy Div.



“Ayolah Dadd …!”


“Bentar sayang, daddy harus menyelesaikan ini dulu!”


Divta sedang sibuk dengan layar datarnya, sejak semalam setelah pulang dari pantai, daddy Div sibuk dengan layar datarnya, bahkan pagi ini bangun tidur yang langsung di tuju juga layar datar itu.


“Ayo lah mas, keburu siang, besok kita kan sudah harus pulang! aku nggak mau di Bali tidak ada kesannya sama sekali!”


Hehhhhh,


Terdengar helaan nafas panjang dari Div, sebenarnya pekerjaannya sudah di handle sekretaris Revan dan Rangga, tapi ia tidak bisa


melepaskannya begitu saja, beberapa berkas masih ingin ia koreksi, ia tidak mau sampai terjadi kesalahan, apalagi ini proyek besar.


“Baiklah, sebentar aku ganti baju dulu!”


Div segera mematikan layar datarnya dan pergi ke ruang ganti mengganti bajunya.


Saat Esya  sedang memakaikan tas kecil untuk Divia saat Div keluar dari ruang ganti, Ersya menatap tajam pada suaminya itu begitupun dengan Divia.


“Mas, memang kamu mau ke kantor?”


Pertanyaan Ersya seketika berhasil membuat Div berhenti dan memperhatikan penampilannya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.


“Ada apa?”


“Kita mau jalan-jalan loh mas, bukan mau meeting di kantor. Ngapain pakek jas sama kemeja kayak gitu?”


Div kembali memperhatikan penampilannya, selama ini ia tidak pernah benar-benar jalan-jalan saat bersama Divia. Pergi ke luar negri atau ke luar kota pasti untuk urusan kerjaan.


“Sebentar ya sayang!” Ersya meminta Divia untuk duduk di sofa sambil menunggunya,


“Sini biar aku cariin!” Ersya mengajak Div kembali masuk ke dalam ruang ganti dan memilihkan kemeja putih polos dan plaid pants hitam.


“Nah begini kan bagus!”


Lalu Ersya melihat sepatu yang di kenakan oleh


Divta, sepatu berwarna hitam, sunggung tidak cocok dengan baju yang di kenakan


sekarang.


Ersya pun berjongkok dan mengambil sebuah sneakers milik suaminya yang berwarna putih, “Sepatunya pakek ini saja! Lebih santai!”


“Yakin?”


“Yakin lah!”



“Baiklah, tapi beri aku upah untuk semua perlakuanmu ini padaku!” ucap Div sambil mendekatkan diri ke tubuh Ersya, mengungkung tubuhnya dengan lemari pakaian yang ada di belakangnya.


“Mau ngapain mas?” tanya Ersya yang sudah terlihat panik, ngalamat akan lama kalau di turuti.


“Sedikit ciuman akan memperbaiki mood ku hari ini!”


Mendengar hal itu tiba-tiba saja tubuh Ersya


menegang, saat menstruasi seperti ini hormon estrogennya pasti akan meningkat. Ia


sampai memejamkan matanya dan mencengkeram kemeja yang di kenakan oleh Div.


Saat bibir Div sudah hampir mendarat tiba-tiba


teriakan Divia menghentikannya,


“Mom …, Dadd …, ayo cepetan!”


"Iya sayang!" sahut Ersya dengan cepat.


Ersya segera membuka matanya, memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur,

__ADS_1


“Itu, Divia sudah menunggu!”


Ersya dapat dengan mudah menyingkirkan tangan Div dan berlari keluar dari ruangan itu dengan penuh kemenangan sedangkan Div di


dalam sedang mendengus kesal.


“Lain kali jika tamu sialanmu itu sudah pergi, aku tidak akan melepaskanmu!”


Div segera menyusul mereka. mobil yang akan mereka pakai untuk jalan-jalan sudah siap di depan resort lengkap dengan sopir dan


pemandu wisata sekaligus beberapa pengawal dengan mobil yang berbeda.


Tujuan pertama mereka adalah tempat berbelanja, ke sebuah pasar tradisional yang ada di Bali, namanya pasar seni sukawati. Letaknya berdekatan dengan pasar tradisional sukawati.


“Yakin di sini? Apa tidak sebaiknya ke mall saja?” tanya Div yang ragu saat akan turun.


“Mas, kalau mall di Jakarta juga banyak, sesekali kita juga harus pergi ke pasar tradisional. Kata orang-orang di sini banyak


sekali menjual kerajinan tangan khas bali mas!”


Div kembali mengamati pasar itu, dari luar sudah terlihat bagaimana berjejalnya pengunjung.


“Tapi ada syaratnya!”


“Apa?”


“Harus tetap dengan pengawal!”


“Kok gitu sih!” protes Ersya. Padahal dia hanya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabiskan waktu bertiga saja.


“Kamu lihat kan di sana sangat berjejal!”


“Baiklah, tapi dari jarak lima meter!” ucap Ersya


sambil menunjukkan lima jarinya.


Hehhh …


Lagi-lagi Div hanya bisa menghela nafas, ia tidak pernah bisa menang dari wanita itu.


Ersya dan Divia tersenyum penuh dengan kemenangan, mereka pun segera membuka pintu mobil dan turun. Div hanya bisa mengikuti


mereka , langkah Ersya dan Divia begitu lincah. Mereka benar-benar kompak memilih barang-barang. Beberapa pernak-pernik sudah ada di tangan, Div tinggal melakukan pembayaran dan Ersya yang berbelanja.


Kali Div harus menarik tangan Ersya dan Divia saat orang lain siap menerobos, terlihat sekali wajah khawatirnya.


“Sekarang kita ke mana lagi?’ tanya Div saat mereka sudah kembali ke dalam mobil, sudah dua jam tidak terasa mereka di dalam pasar.


Ersya dan Divia benar-benar berhasil membuat Div kelabakan.


“Ke Discovery shopping mall kuta!” ucap Ersya dan Divia begitu kompak membuat Div menatap mereka bergantian.


“Masih mau belanja?”


“Kan di sana kita juga bisa makan, mas! Lagian ini sudah hampir tengah hari, sudah waktunya makan siang!”


“Iya dadd!” Divia ikut menimpali.


“Baiklah terserah kalian saja!”


Div kembali menatap ke dapan, “Kita ke discovery shopping mall!”


“Baik tuan!”


Mobil mereka kembali melaju ke tempat yang di tuju, sebenarnya letaknya tidak terlalu jauh dari resort tempat mereka menginap, jadi setelah ini mereka bisa kembali menikmati suasana pantai di sore hari.


***


Malam hari di resort, Divia sudah tertidur pulas. Sepertinya gadis kecil itu sudah sangat kelelahan. Ersya sedang asik memasukkan semua barang-barang belanjaannya ke dalam paper bag yang berbeda-beda, ia menempelkan


sticky note pada setiap paper bag dengan nama yang berbeda-beda.


Div yang selesai memeriksa pekerjaannya segera menghampiri Ersya dan melihat paper bag yang sudah ia tutup dengan staples dan ditempeli dengan sticky note itu.


“Kenapa bu Dewi?” tanya Div saat melihat tulisan itu.

__ADS_1


Ersya tersenyum, ia melihat ke arah Div,


“Bukan hanya bu Dewi mas! Nih lihat ini untuk ayah Roy, Nadin, Elan, baby Kei, Ara, si


kembar Felic, dokter Frans , Agra, ibu Ratih, kepala pelayan, dan ini gantungan ini untuk semua pelayan di rumah kita dan juga pengawal, buat sekretaris Revan, Rangga juga ada!”


Ersya mengabsen semua barang yang sudah ada pemiliknya semua,


“Jadi kamu belanja sebanyak ini tadi untuk mereka semua?”


Ersya menganggukkan kepalanya cepat, “Hemm!”


“Untukmu?”


Pertanyaan Div seketika menghentikan kegiatannya untuk mengemas barang-barang itu, ia bingung. Karena terlalu banyak oleh-oleh


yang ia pikirkan untuk orang lain hingga ia lupa membeli sesuatu untuk dirinya


sendiri.


“Emmmm …!”


Lalu ia teringat sesuatu, sesuatu barang yang Divia pilih untuknya tadi, ia menyimpannya bersama beberapa barang yang di beli oleh


Divia.


“Sebentar!”


Ersya segera berdiri dan mengambil salah satu paper bag yang ada di pojok ruangan. Paperbag berwarna hitam,


“Ini dia!”


Ersya mengeluarkan isi paper bag itu, dua buah kaos dengan tulisan daddy dan mommy.


“Ini untukku dan ini untukmu!” ucapnya sambil


menyerahkan kaos berwarna putih dengan tulisan Daddy dengan ukuran besar di


bagian dada kepada Div. dan yang bertuliskan Mommy untuk dirinya sendiri.


“Gimana kamu suka?”


“Ini yakin untukku?”


“Iya, memang untuk siapa lagi. Memang kamu mau aku ngasih kaos ini untuk orang lain?”


“Jangan macam-macam ya!” div segera membawa pergi kaos itu, ia berbalik dan tersenyum senang dengan kaos itu sampai menciumnya beberapa kali. Tapi kemudian ia teringat dengan sesuatu,


Rangga?


Div kembali berbalik dan menatap Ersya yang baru saja mengelus dadanya lega karena tidak terkena masalah.


“Apa yang kamu berikan untuk Rangga?”


Hehhh …


Ersya menghela nafas melihat wajah curiga dari suaminya, “Cuma barang biasa, sama seperti punya sekretaris Revan!”


“Yakin?”


“Yakin!”


Curigaan banget jadi orang ….


Bersambung


...Butuh beribu cara untuk meluluhkan hatimu tapi hanya butuh satu cara untuk bisa menetap di hatiku karena siapapun kamu aku adalah tulang rusukmu...


Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak.


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5259


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2