Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Hukuman


__ADS_3

"Jadi kamu harus menerima hukumannya setelah ini!"


"Hukuman? Hukuman apa?"


Div tidak lagi menjawabnya, ia memilin untuk melajukan mobilnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Ersya saat jalan yang mereka lalui berbeda dengan jalan yang biasa mereka lalui, jalan itu bukan menuju ke rumah atau ke kantor.


"Melaksanakan hukumanmu!"


Melaksanakan hukuman?


Bulu kuduk Ersya tiba-tiba saja berdiri, ia sudah membayangkan dirinya akan di ikat di suatu tempat yang sunyi dan kotor, di kelilingi oleh preman-preman dengan tubuh besar dan wajah yang menyeramkan. Mereka akan mencambuknya jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari mereka.


"Mas ....., aku masih pengen hidup, jangan macam-macam dong ...!?"


Div hanya tersenyum tipis, senyum yang menurut Ersya menakutkan, senyum yang biasanya di keluarkan oleh para gembong mafia.


Dia benar-benar misterius .....


Ersya semakin cemas, apalagi saat Divta sama sekali tidak menjawab pertanyaan.


Hingga akhirnya Ersya tertidur di dalam mobil gara-gara tidak ada yang bisa ia ajak bicara. Sebenarnya itu adalah caranya Ersya untuk menghilangkan rasa cemasnya.


Div menghentikan mobilnya, seorang belt boy sudah siap menyambut kedatangannya.


Div menoleh ke samping, "Dia tertidur!?" gumamnya lirih.


Ia melihat sekitar, hanya ada beberapa belt boy dan seorang satpam, "Dia benar-benar menyusahkan saja!"


Ia membuka sabuk pengamannya, memastikan jika Ersya tidak terbangun. Ia membuka perlahan pintu mobilnya dan berlari memutari mobilnya dan membuka pintu mobil yang ada di sebelah Ersya, ia membuka sabuk pengaman Ersya dengan perlahan hingga membuat tubuhnya begitu dekat dengan wanita itu, lagi-lagi wajahnya begitu dekat.


Kenapa deg degan gini sih ....


Setelah berhasil melepaskan sabuk pengamannya, Div segera membopong tubuh Ersya. Masih sore tapi wanita itu malah tertidur pulas.


Ternyata Div membawa Ersya ke sebuah hotel bintang lima, ia harus mengikuti jamuan makan malam di hotel itu dan sebelum itu dia harus memberi hukuman pada istrinya itu.


...🍀🍀🍀...


Di tempat lain, Divia mengeluh sepanjang perjalanan menuju ke rumah neneknya.


"Om Langga, kenapa bukan mom yang jemput tadi? Kenapa tiba-tiba Iyya hayus ke yumah nenek?"


"Karena daddy sama mommy Iyya akan ada acara sampai malam, lagian Iyya seneng kan kalau ke rumah nenek?"


"Ceneng!"


Setelah menjemput Divia, tadi sebenarnya Rangga sudah membawa Divia ke kantor. Karena daddy nya masih sibuk meeting, Divia tidak bisa menemui daddy nya.


Hingga akhirnya, Div menerima kabar dari orang suruhannya yang memata-matai Ersya dan mengatakan kalau Ersya berurusan dengan polisi terkait sebuah kecelakaan.

__ADS_1


Div pun memerintahkan Rangga untuk menitipkan Divia ke rumah neneknya hingga keadaannya kondusif.


...🍀🍀🍀...


Div merebahkan tubuh Ersya di atas tempat tidur, ia meregangkan otot-otot nya yang kaku akibat terlalu lama menggendong Ersya,


"Ini kedua kalinya aku harus menggendong nya, benar-benar wanita yang sulit di tebak!"


Div menggerak-gerakkan jari-jarinya, memutar pergelangan tangannya yang kebas lalu ia memutuskan untuk ke kamar mandi, tubuhnya lengket. Karena terlalu khawatir dengan wanita yang sudah menjadi ibu dari putrinya itu, ia sampai berlarian hanya agar bisa cepat bertemu dengannya dan memastikan wanita itu baik-baik saja.


Tapi dia sempat merasa marah saat melihat siapa korban kecelakaan itu, ingin rasanya segera menyeret Ersya pulang.


Div mengguyur melepas kemeja dan celananya, kali ini ia memilih memakai shower. Ia ingin mendinginkan kepalanya yang terlanjur panas, entah kenapa kata-kata Rizal terus terngiang di telinganya,


Bagaimana kalau wanita itu mau kembali ke suaminya?


Div mengusap rambutnya yang di guyur air hingga tersingkap ke belakang, aliran air terlihat mengalir melintasi wajah tampan pria itu,


Dia jelas jauh lebih muda dariku ....


Tiba-tiba ia merasa insecure dengan dirinya sendiri. Ia merasa dirinya tidak punya keunggulan dari pria itu.


Kalau dia kembali ke pria itu, laku bagaimana dengan Divia?


Lagi-lagi helaan nafas dalam dan panjang terdengar, entah kenapa dia merasa jika mungkin istrinya itu mau kembali pada mantan suaminya, apalagi pernikahan mereka bukan berdasarkan cinta dan mungkin akan kalah dengan cinta yang sudah tumbuh begitu lama.


Air itu mengalir ke tubuh Div, dada bidangnya semakin terlihat seksi di bawah guyuran air.


...🍀🍀🍀...


Ia memegangi pergelangan tangannya, "Gue nggak di iket!" gumamnya.


Ia segera merubah posisinya yang tidur menjadi duduk dan memperhatikan sekelilingnya, terlihat begitu asing.


"Ini di mana? Jangan-jangan gue udah di surga ....!?" gumam Ersya.


Ceklek


Tiba-tiba pintu kamar mandi yang berada di salah satu sisi kamar itu terbuka, mata Ersya seketika membelalakkan.


Kenapa ada pangeran dengan tubuh seseksi itu?


Div keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit di pinggang, tubuh atasnya terbuka dengan menampakkan belahan dada dan perut kotak-kotak nya di tambah dengan titik-titik air yang berasal dari rambutnya yang di biarkan basah.


"ilernya jatuh tuh ....!" ucap Div membuat Ersya dengan reflek mengusap sudut bibirnya.


Tapi kemudian ia sadar jika sedang di kerjai oleh pria itu, "Ihhhh jahat banget, aku nggak ileran!"


Div tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Ersya, Ersya dengan reflek memundurkan tubuhnya,


"Mau ngapain?"

__ADS_1


Ia menarik selimutnya hingga menutupi dadanya, Div yang sudah naik ke atas tempat tidur malah menarik tangan Ersya yang memegangi selimut itu dan menempelkan tangan Ersya ke dada Div,


Ersya semakin di buat panik saja, "Kenapa wajahmu terlihat malu seperti itu?"


"Enggak, siapa juga yang malu!?" Esya menatap Div dengan begitu dekat membuat Div lagi-lagi tersenyum.


Div mengusapkan tangan Ersya ke seluruh permukaan kulit dada Div, "Ini milikmu, jadi kamu boleh melakukan apapun pada tubuh ini!"


"Hahhh?"


Srekkkk


Tiba-tiba Div mendorong tubuh Ersya hingga kembali tertidur dan Div segera mengungkung tubuhnya dengan duduk dia atas tubuh Ersya dan tangannya ia gunakan untuk menahan tangan Ersya di bagian kiri dan kanan tubuh Ersya.


"Mas, apa-apa an ini?"


"Kamu harus melaksanakan hukumanmu!"


"Hukuman apa?"


Cup


Tiba-tiba Div mencium bibirnya, m*l*matnya hingga membuat Ersya hampir kehabisan nafas karena tidak ada persiapan.


Div kembali melepaskan ciumannya dan tangannya mengusap bibir Ersya yang basah,


"Ini hukumannya!?"


Div kembali menindih tubuh Ersya, ******* bibirnya dan kembali mengabsen setiap inci tubuh Ersya, kali ini Div tidak meninggalkan jejak kepemilikan di tubuh Ersya karena setelah ini mereka harus menghadiri jamuan makan malam.


Div melepas baju Ersya dengan begitu kasar dan melemparnya ke sembarang tempat, ia juga melepas handuknya. Tangannya Ersya mencengkeram seprei di sampingnya dan tangan sebelahnya sibuk menarik rambut Div saat pria itu terus mengabsen setiap jengkal tubuh Ersya.


Suara ******* yang saling bersahutan memenuhi seisi kamar.


Mendengar suara Ersya, Div semakin terpacu untuk mempercepat ritme gerakannya.


Div menyelesaikannya dengan durasi yang cukup panjang. Ia mencium seluruh wajah Ersya dan menutup kembali tubuh lemas Ersya dengan selimut dan dia pun memilih untuk kembali ke kamar mandi,


Dia benar-benar kuat sekali ....., batin Ersya sambil menatap punggung telanjang pria yang memasuki kamar mandi itu. Benar-benar tidak kehabisan tenaga, bahkan setelah melakukan olah raga fisik sepeti tadi.


...Jika mencintaimu butuh pengorbanan, makan aku akan mengorbankan hidupku untuk mendapatkan cintamu...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2