
Div membopong tubuh Ersya keluar dari dalam kamar mandi, entah sudah berapa lama mereka di kamar mandi hingga Ersya terlihat kedinginan dengan balutan baju mandi. Div juga masih dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Ia menurunkan tubuh Ersya di atas tempat tidur, dan menutup kakinya dengan selimut,
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Ersya,
"Maaf ya tadi aku kelepasan soalnya!"
"Kebiasaan sih kamu mas!"
Div hanya tersenyum lalu mengusap rambut Ersya yang basah, "Sebentar ya aku pakai baju dulu!"
Ersya hanya menganggukkan kepalanya, walaupun kesal tapi ia juga menyukai perlakukan suaminya yang seperti ini. Begitu manis, walaupun tidak pernah terucap kata cinta seperti manta suaminya yang selalu mengucapkan setiap hari setiap saat, tapi Div memperlakukannya seperti tuan putri, seperti wanita yang benar-benar di cintai.
Belum juga Div beranjak dari tempatnya tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk,
Tok tok tok
Div dan Ersya sama-sama menoleh ke arah pintu,
"Siapa?" teriak Div.
"Ini mama!"
Div dan Ersya kembali saling menatap dan mengerutkan keningnya.
"Bentar ya?"
Div mengurungkan niatnya ke ruang ganti, ia memilih untuk menemui mamanya sebelum ganti baju. Tangan kekarnya segera menarik handle pintu dan di depan pintu itu sudah berdiri mamanya dengan wajah kesal,
"Ada apa ma?"
"Kamu yang ada apa? Kenapa mandi saja sampai dua jam sih?"
Nyonya Aruni memiringkan kepalanya dan mendapati Ersya yang masih berada di atas tempat tidur dengan rambut basahnya. Tanpa di jelaskan pun dia sudah tahu apa yang baru terjadi antara putra dan menantunya itu,
"Benar-benar tidak tahu waktu!" gumamnya kesal, "Cepat keluar, Ellen akan pulang, temui dia dulu sebelum pulang!"
"Hmmm!"
Div pun kembali menutup pintunya tanpa menunggu sang mama pergi dari depan pintu. Ia segera menghampiri istrinya, ia duduk di tepi ranjang dan menyisihkan anak rambut yang sedikit berkeliaran di wajah cantik istrinya yang tanpa make up itu,
"Pakai bajumu dan kita turun bersama!"
"Aku juga?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hemmm!" Div pun kembali berdiri, "Sebentar, biar aku ambilkan baju untukmu!"
"Tidak usah, biar aku ambil sendiri saja!"
"Diam saja di situ!" tolak Div yang sudah berlalu masuk ke dalam ruang ganti, hanya dalam beberapa menit saja ia sudah kembali dengan memakai kaos putih ketatnya dengan celana selutut, begitu seksi. Di tangannya memegang sebuah dress berwarna putih dengan motif bunga kecil berwarna biru muda, begitu cantik.
"Pakailah ini dan aku akan membantumu mengeringkan rambutmu!"
Ersya mengambil baju itu, dan terlihat bagian dadanya cukup rendah hingga menampakkan dada dan punggungnya.
__ADS_1
"Kamu yakin aku harus pakek ini?" tanya Ersya memastikan, pasalnya jika di bagian tubuhnya tidak banyak tanda merah yang di buat suaminya tidak masalah, dan saat ini tanda kepemilikan yang sudah di buat suaminya begitu banyak bertebaran di dada dan lehernya.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Ini terlalu terbuka!"
"Jika terbuka di luar rumah itu baru salah, tapi kamu kan cuma di rumah, yang liat juga cuma suami kamu!"
"Tapi_!"
"Jangan banyak protes, cepat pakai sendiri atau mau aku pakaikan juga?" ancam Div membuat Ersya segera mengambil bajunya itu.
"Nggak aku pakai sendiri!" ucap Ersya lalu turun begitu saja dari tempat tidur,
"Mau ke mana?"
"Mau pakek baju!" ucap Ersya sambil mengerutkan keningnya.
"Di sini saja, apa gunanya coba aku ambilkan baju kalau masih mau ke ruang ganti?"
Ersya mengamati dirinya sendiri, "Jangan dong, aku kan malu!"
"Memang bagian mana yang belum aku lihat, hemmmm?" tanya Div sambil mengangkat dagunya dengan tangan yang ia lipat di depan dada
"Ya ..., ya nggak ada!"
"Ya sudah, cepat pakai di sini dan aku akan melihatnya!"
Isttttt, Ersya hanya bisa berdesis. Apa yang di inginkan suaminya mana bisa ia menolaknya.
Sial, hanya melihat saja kenapa juniorku sudah mau memakannya lagi ...., batin Div kesal, walaupun mau tapi dia tidak bisa melakukan lagi. Bisa-bisa mamanya akan sangat marah padanya.
Sabarlah ..., tunggu nanti malam kita bisa lanjutkan ...., batin Div mencoba mengendalikan hasratnya sendiri. Walaupun sekarang ia sudah merasakan tidak nyaman di celananya. Ia mengendalikannya dengan meneguk air putih yang ada di depannya.
"Sudah!"
Ucapan Ersya menyadarkannya, dan kini istrinya itu sudah berdiri di depannya dengan gaun yang ia pilih tadi.
"Sini, aku keringkan rambutmu!" ucap Div sambil menarik tangan Ersya,
"Nggak usah mas, di sisir aja! Nanti kelamaan kalau mengeringkan rambut dulu!"
"Baiklah, terserah kamu! Kesinikan sisirnya!"
Ersya pun menyerahkan sisir berwarna putih itu dan ia pun duduk di depan suaminya. Dengan telaten Div menyisir rambut istrinya.
...🍂🍂🍂...
Kini mereka pun sudah keluar dari kamar, Div menggenggam tangan Ersya hingga sampai di ujung tangga. Ia melihat wanita yang menjadi masa lalunya itu segera berdiri dari duduknya melihat kedatangan mereka,
"Div_!" pekik Ellen, matanya fokus pada tangan Div yang menggandeng tangan Ersya. Tiba-tiba hatinya mencelus, rasa bahagia yang ia rasakan tadi tiba-tiba hilang.
"Div, dia siapa?" tanya Ellen lagi.
Div pun segera menarik pinggang Ersya, hingga membuat tubuh.meteka tidak ada jarak lagi. Ersya hanya bisa mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya itu,
Apa yang dia lakukan? batin Ersya yang tidak tahu maksud Div melakukan semua itu.
__ADS_1
"Kenalkan, dia Ersya! Istri saya!"
"Istri?"
"Jadi tadi mama tidak cerita ya kalau saya sudah menikah?"
Saya ....., Ellen tiba-tiba seperti menjadi orang asing. Ia sudah berharap banyak dari pria di depannya itu tapi seketika harapannya sirna saat melihat tangannya sudah tidak lagi menggenggam tangannya tapi tangan wanita lain.
"Maaf ya tadi menunggunya terlalu lama, soalnya _!" ucap Div sambil menyibakkan rambut Ersya hingga terlihat tanda kepemilikan yang sudah ia buat di leher Ersya.
Ellen dengan reflek menatap tanda itu, hingga ia tidak mampu menahan sakit. Dadanya terasa semakin sesak,
"Maaf ya tadi pasti aku mengganggu kalian! Sebenarnya aku tadi cuma mau berpamitan!"
"Ohh ...., begitu ya! Maaf ya membuatmu menunggu!"
"Tidak pa pa, aku permisi!"
Ellen menyambar tas tangannya dengan cepat dan berjalan dengan sedikit berlari meninggalkan mereka.
Nyonya Aruni mendengus kesal melewati putra dan menantunya, "Kalian benar-benar keterlaluan!"
Ia pun segera mengejar Ellen ke depan.
"Ellen tunggu!" teriak nyonya Aruni membuat Ellen menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam mobilnya, ia terlihat seperti menghapus air matanya dan kembali berbalik menatap nyonya Aruni.
"Tante!"
Nyonya Aruni pun menghampirinya dan mengusap bahu Ellen,
"Sayang, maaf ya tadi aku tidak cerita sama kamu! Div memang sudah menikah tapi Tante tidak suka dengan wanita itu, tante maunya Div menikah sama kamu!"
"Tapi Tante, Div sepertinya sangat mencintai wanita itu!"
"Jangan khawatir, aku akan membantu kamu!"
"Entahlah Tante, biar Ellen pikirkan di rumah! Ellen pergi dulu!"
"Iya hati-hati ya!"
"Hmm!"
Ellen benar-benar masuk ke dalam mobilnya meninggalkan nyonya Aruni.
...Sekeras apapun kamu usahakan, jika dia tidak di takdirkan menjadi milikmu maka tetaplah dia akan menjadi milik orang lain,...
... jangan khawatir ada yang lebih baik di luar sana yang sedang menunggumu...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya
Follow akun Ig aku ya
IG @ Tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1