Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 102 : Bertemu "Kenalan"


__ADS_3

Kelima murid dalam melarikan diri secepat kilat ketika bertemu dengan Zhang Yu.


Seorang murid baru yang mampu mencapai lantai kelima panggung naga dan menangkap buronan kelas A jelas bukan sekadar memiliki nama.


Bahkan jika berhadapan satu lawan lima mereka juga tak yakin akan menang mengingat kekuatan Zhang Yu saat ini.


"Sepertinya mereka tidak mengejar," kata salah satu dari mereka seraya mengambil nafas besar.


Mereka berhenti sambil memandang ke belakang berjaga-jaga jika Zhang Yu sampai mengejar.


"Beruntung karena kita tidak gegabah. Aku tak bisa bayangkan jika kita menyerang mereka secara langsung."


"Benar. Menurut cerita yang tersebar, Zhang Yu ini memiliki sifat yang tegas. Dia tak akan ragu mengayunkan pedangnya bahkan pada sesama murid akademi."


"Aku masih ingat bagaimana dia menghajar Xu Ciang. Tanpa menghiraukan Wen Bailou, dia menghajar wajahnya hingga bengkak."


Mereka berlima begitu sibuk membicarakan Zhang Yu. Begitu serius sampai tak sadar sekelompok orang berdiri dalam jarak beberapa puluh langkah dan wajah mereka tampak suram.


"Sepertinya kalian sangat bersemangat membahas tentang hal itu. Bagaimana jika aku ikut bergabung?"


Kelima murid dalam masih tidak menyadari ada yang salah dengan situasi ini. Mereka masih sibuk memuji Zhang Yu dan menertawakan Xu Ciang.


Sampai pada satu ketika mereka berhenti bicara dan mulai mengangkat wajah ke depan. Alangkah terkejutnya melihat sekelompok orang di depan, terlebih pria berambut ikal yang tampak menggertakkan gigi marah.


"Xu-Xu Ciang, sejak kapan kau ada di sini?"


Cih!


Xu Ciang mendengus kesal. Dia mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanan. "Lihat bagaimana aku akan memberi kalian pelajaran! Beraninya membicarakan aku, Xu Ciang, di belakang!"


Kelima murid dalam ini meneguk ludah secara bersamaan. Tubuh mereka mematung dengan tangan gemetar.

__ADS_1


"Xu Ciang, kami tidak bermaksud begitu. Kami hanya ...."


"Persetan dengan alasan kalian! Aku tidak peduli!"


Di saat Xu Ciang akan mengayunkan pedangnya, Wen Bailou yang berdiri di samping angkat bicara. "Xu Ciang, hentikan!"


Xu Ciang adalah pengikut Wen Bailou. Ketika Wen Bailou sudah bicara dia tidak mungkin tidak melakukannya.


"Kakak Wen, bagaimana aku bisa melepaskan mereka begitu saja? Mereka bukan hanya menjelekkanku, tapi juga menghinamu. Biarkan aku melakukannya," katanya.


Wen Bailou tetap menggelengkan kepala. Beralih dari Xu Ciang menghampiri kelima murid dalam. "Kalian berlima telah membicarakan hal buruk tentang ku. Aku akan memaafkan kalian jika mengatakan di mana bertemu Zhang Yu?"


"..."


Mereka berlima saling memandang dengan ragu. Padahal baru saja lolos dari satu masalah, tapi malah terperosok ke dalam masalah yang lain. Ini benar-benar buruk!


...


Sementara itu di tempat Zhang Yu.


"Apa kau merasakan adanya bahaya?" tanya mereka.


Dalam situasi ini mereka bertiga sangat bergantung pada Zhang Yu. Entah itu pola pikirnya yang terbuka atau kekuatannya yang paling menonjol.


"Tidak. Kita lanjutkan perjalanan." Zhang Yu tidak tahu secara pasti. Tapi dirinya merasa akan tertimpa hal sial.


Wu Zetian, Tang Yue dan He Jiao saling memandang. Ketiganya dengan kompak mengedikkan bahu karena tak puas dengan jawaban Zhang Yu.


Namun mereka juga tidak bertanya lebih banyak dan lebih memilih jalan di belakangnya.


Suasana sangat tenang dan sepi. Hal itu bertahan sampai mereka bertemu dengan lorong bercabang.

__ADS_1


"Jalan mana yang akan kita ambil?" gumam Wu Zetian sambil menyentuh dagunya.


Mereka semua memandang dua jalur di depan mata. Kiri atau kanan, benar-benar membingungkan.


"Bagaimana jika yang sebelah kanan? Bukankah sebelumnya kita mengambil jalur sebelah kiri? Jika kiri lagi mungkin kita akan terjebak dalam lingkaran setan." Wu Zetian bersungut-sungut marah ketika mengatakan hal ini.


"Kau masih kesal?" tanya Zhang Yu dengan nada mengejek.


Wu Zetian mendengus. "Semakin memikirkannya membuatku semakin kesal. Aku berputar-putar sendirian di jalan buntu, panik saat kalian tiba-tiba menghilangkan, tapi kalian malah diam begitu santai seolah tak terjadi sesuatu. Menjengkelkan!"


"Itu karena kau sendiri yang berlagak. Kau tak perlu menyalahkan orang lain."


Wu Zetian memutar mata dengan malas. Dia mengabaikan Tang Yue lalu menunjuk ke arah kanan. "Kali ini aku sangat yakin. Jalur sebelah kanan adalah jalan yang benar."


"Zhang Yu, bagaimana menurutmu?" tanya Tang Yue. Bukannya tidak percaya, dia hanya meragukan keputusannya, jadi meminta pendapat Zhang Yu terlebih dahulu.


Wu Zetian memicingkan mata. Dalam hati mulai membatin kesal. "Tidak percaya padaku, tapi percaya padanya. Dia keterlaluan!"


Meski begitu Wu Zetian juga menunggu jawaban Zhang Yu.


"Kali ini aku sependapat dengannya. Aku berpikir jalur sebelah kanan adalah jalur yang benar."


"Yeah! Aku tahu itu! Kau temanku, tentu saja pikiran kita tidak jauh berbeda!" Wu Zetian tersenyum bangga dan bersikap sombong.


"Jadi apa yang kita tunggu di sini? Ayo berangkat!" serunya sambil melambaikan tangan.


Mereka berempat melangkah setelah memilih lorong sebelah kanan.


Satu langkah dua langkah. Begitu langkah ketiga, mereka spontan berhenti mendengar suara tapak kaki dari belakang.


"Kalian akan pergi kemana? Tidakkah berbicara dulu sambil duduk bersama?"

__ADS_1


Zhang Yu menyipitkan mata, dia mengawali untuk membalikkan badan. Namun bertahap raut wajahnya berubah melihat kelompok orang yang mengenakan pakaian murid dalam. Terlebih beberapa sosok yang tampak akrab di matanya.


"Wen Bailou, Xu Ciang, …."


__ADS_2