Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 79 : Kedatangan Ketujuh Pangeran


__ADS_3

Lembaran kertas yang ditemukan dalam liontin hati sangat sulit dimengerti. Zhang Yu membentangkan lembaran kertas yang tak lebih lebar dari telapak tangannya itu di atas meja dan berusaha memperhatikannya beberapa waktu tapi belum juga bisa menerjemahkannya.


Namun memang susunan kata-kata ini tidak rapi sama sekali. Ada yang di sudut kanan atas, ada yang di sudut kiri bawah, ada yang di tengah tengah dan ada yang di kiri atas.


Lebih terlihat seperti surat tidak lengkap.


"Ah, mungkin ini surat yang tidak dibuat dengan niat." Zhang Yu memakan potongan daging kering terakhir dalam paketnya. Kemudian mengambil satu gelas air dan meneguknya.


Karena merasakan potongan daging itu tersangkut di tenggorokan dia meneguk air dengan sembrono. Tanpa sengaja tetesan air jatuh melewati dagunya dan mendarat di atas lembaran kertas di meja.


Warna putih kertas itu berubah coklat. Lalu tulisan yang semula hanya beberapa penggal kata sekarang berubah menjadi kalimat panjang seperti paragraf.


Ketika Zhang Yu melihat hal ini, gelas di tangannya langsung jatuh ke lantai. Matanya berkedut tak percaya melihat perubahan pada lembaran kertas tersebut.


"I-ini ...."


Tidak ingin membuang banyak waktu Zhang Yu mencoba membaca kalimat dalam lembaran kertas. Akan tetapi tulisan ini sepertinya sangat berbeda dari tulisan yang dia ketahui.


"Keterlaluan! Tulisan ...."


Eh...


Ketika Zhang Yu ingin mencela, dia mengingat tentang lukisan yang ada di ruangan Tetua Zhu He. Tulisan yang menarik perhatiannya pada saat itu tapi tak mengerti artinya.


Jika diperhatikan sekilas kedua tulisan ini masih dalam jenis yang sama.


Zhang Yu melirik ke tempat Sun yang masih bergeming di tempatnya. Dia merapikan sampai dan gelas di meja lalu meninggalkan ruangan bergegas ke pusat misi.


Kebetulan Tetua Zhu He sedang di mejanya ketika Zhang Yu sampai. Melihatnya sedang berbicara dengan beberapa murid dia tak ingin mengganggu dan memutuskan untuk menunggu.


Setelah beberapa menit kemudian murid-murid yang bergerombol di meja Tetua Zhu He pergi. Zhang Yu bangkit dari tempat duduknya menghampirinya ke meja.


"Sepertinya kau punya urusan denganku. Apa ingin mencari misi tingkat B?" tanya Tetua Zhu He.


Zhang Yu tersenyum hangat untuk membalas sapaan yang diberikan Tetua Zhu He, kemudian menggelengkan kepala. "Tidak, Tetua. Aku datang ke sini bukan untuk misi."


He?


"Jika bukan karena misi lantas ada urusan apa kau sampai datang kemari?" tanya Tetua Zhu He lagi.

__ADS_1


Zhang Yu merenung untuk beberapa saat, dia menggoyangkan jari dengan ragu lalu berkata, "Tetua Zhu He, bolehkah aku melihat lukisan yang ada di ruanganmu?"


Tetua Zhu He tampak mengerutkan kening mendengar keinginan Zhang Yu.


"Lukisan yang mana?" tanya Tetua Zhu He lagi. Dia memiliki banyak koleksi lukisan di dalam ruangan. Entah hasil beli sendiri atau pemberian orang lain. Yang jelas menyimpan lukisan adalah kesenangannya.


"Lukisan yang ada di sebelah kanan rak. Berisi tulisan dengan tinta hitam."


"Oh yang itu ... Boleh boleh. Ayo, aku akan mengantarmu." Tetua Zhu He menggeser kursi dan meninggalkan meja untuk pergi ke lantai dua bersama Zhang Yu.


Sesampainya di ruangan Tetua Zhu He menurunkan lukisan itu dan membawanya ke meja.


"Kau bisa melihatnya dengan seksama."


Zhang Yu mengeluarkan lembaran kertas dari saku pakaiannya lalu mencocokkan tulisan yang ada di sana dengan lukisan milik Tetua Zhu He.


Detik demi detik berlalu. Menyaksikan Zhang Yu yang begitu fokus dengan lukisannya, Tetua Zhu He tak bisa menahan rasa penasaran.


"Zhang Yu, apa kau mengerti tulisan ini?" tunjuk Tetua Zhu He pada lukisannya.


Zhang Yu segera menyimpan lembaran kertas tanpa ketahuan oleh Tetua Zhu He. Tangannya mendorong lukisan itu mengembalikan pada pemiliknya. "Tidak. Bagaimana dengan Tetua?"


"Aku juga tidak mengerti. Sebelumnya lukisan ini milik kepala akademi. Karena merasa memiliki nilai yang dalam aku memintanya sebagai


Tetua Zhu He memasang kembali lukisan itu di tempatnya, kemudian kembali duduk di kursinya. "Aku sudah mencari tahu tentang tulisan itu di beberapa buku sejarah Kekaisaran Xuan tapi sepertinya tidak ada. Aku juga sudah berusaha bertanya pada kepala akademi tapi dia tidak mau mengatakannya."


"Tapi terlepas dari artinya, lukisan ini benar-benar seperti jimat keberuntungan," tambahnya.


Zhang Yu tak berkomentar ketika mengetahui lukisan itu ternyata dari gurunya. Yang ada dalam kepalanya sekarang adalah datang ke kediamannya lalu bertanya tentang tulisan itu.


"Permisi Tetua, apa kau masih lama? Beberapa beberapa kelompok murid mencarimu ingin bertanya tentang misi." Meng Hua mengetuk pintu dua kali lalu bicara dari ambang pintu.


Zhu He yang mendengar hal ini segera bangkit dari kursi. "Aku harus melakukan pekerjaanku. Kau bisa di sini jika masih ingin melihat-lihat koleksi lukisan ku."


"Terima kasih Tetua. Tapi aku akan kembali."


Zhang Yu memberi hormat lalu berjalan keluar lebih dahulu. Meng Hua masih di ambang pintu, melihat Zhang Yu keluar dia menahan langkah kakinya yang ingin kembali ke lantai pertama.


"Aku tak melihatmu beberapa waktu ini. Apa kau baru kembali dari misi?"

__ADS_1


Zhang Yu berhenti di sana. "Satu bulan terakhir aku berada di kediaman. Memangnya ada urusan apa sehingga Senior Meng Hua mencariku?"


Ah...


"Siapa yang mencarimu. Tidak ada yang mencarimu. Kau terlalu percaya diri!" Meng Hua memalingkan wajahnya yang agak memerah. Dia berdehem sekali lalu berbalik menuruni tangga.


Tidak ada yang tahu isi kepala wanita. Terlalu sulit dimengerti.


Zhang Yu mengangkat kedua bahunya dan pergi dari sama ke tempat gurunya. Akan tetapi ketika dia sudah berada di wilayah perbatasan antara pelataran dalam dan pelataran luar, puluhan murid berlarian menuju gerbang. Entah itu murid dalam atau murid luar, semua tak ingin ketinggalan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa banyak murid yang melihat ke gerbang?"


Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dalam benaknya. Di kejauhan dari arah kanan, Wu Zetian melambaikan tangan sambil berteriak cukup keras.


"Zhang Yu! Kenapa kau hanya diam? Ayo ke gerbang, jangan sampai ketinggalan!"


Padahal niat awal ingin pergi menemui guru untuk bertanya tentang tulisan dalam lembaran kertas. Tapi rasa penasaran yang tidak terbendung membuatnya memutuskan untuk ikut pergi ke gerbang.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Zhang Yu sambil bergerak di samping Wu Zetian.


"Kau ini pura-pura tidak tahu atau apa? Hampir semua murid berlarian keluar tak lain untuk menyambut ketujuh pangeran."


Langkah Zhang Yu hampir terhenti ketika mendengar kata "pangeran". Matanya menyipitkan dan tampak penasaran.


"Apa maksudmu pangeran Kekaisaran Xuan? Kenapa mereka datang ke akademi?"


Wu Zetian berdecak setengah mengeluh. "Kau ini kadang-kadang sangat payah. Tentu saja itu mereka, Pangeran Kekaisaran Xuan. Dan alasan mereka datang tentu saja karena mereka juga murid akademi."


Murid akademi?


Zhang Yu seketika tersadar. Sebagai akademi terbaik di Kekaisaran Xuan tentu saja akan menjadi destinasi utama setiap kultivator di kekaisaran. Tak terkecuali anggota keluarga kekaisaran.


...


Di gerbang akademi. Tujuh pangeran menunggangi kuda berdampingan. Berjalan melewati gerbang dengan banyak sekali sambutan dari murid di sepanjang jalan.


Xuan Wu terus mengukir senyum cerah dan bersemangat. Dia menjadi pangeran yang paling murah senyum dalam situasi ini.


Berbeda dengan Xuan Yin. Sejak memasuki gerbang dia merasa ada yang salah dengan dirinya.

__ADS_1


Meski berusaha fokus, pikirannya terus memikirkan tentang satu pria yang tak ingin ditemuinya.


"Semoga saja itu memang bukan dia."


__ADS_2