Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 254 : Mendapatkan Informasi Markas


__ADS_3

Di ruangan yang gelap Gao Feng Shui duduk di kursi kebesarannya. Dia masih menatap layar proyeksi seperti beberapa hari sebelumnya sampai seseorang datang menghadap kepadanya.


"Pemimpin,"


Sejenak Gao Feng Shui menatap ke arahnya, "Ada apa?" tanyanya datar.


Pria itu terlihat takut saat akan menyampaikannya. Setelah diam cukup lama akhirnya dia membuka mulutnya.


"Pemimpin, saat kami melewati hutan tanpa sengaja menemukan mayat ...." Dia berhenti dan tubuhnya semakin gemetar.


Di saat yang sama raut wajah Gao Feng Shui berubah. "Mayat? Apa maksudmu? Mayat siapa?"


Pria itu menelan ludahnya.


"Pemimpin Yan Baufan,"


Kalimat ini sepenuhnya membuat Gao Feng Shui terdiam. Tatapannya menjadi keruh, dan detik berikutnya dia menggebrak meja pegangan kursinya dengan keras.


Tak cukup sampai di sana, Gao Feng Shui juga melempar beberapa barang yang ada di sekitar dan melampiaskan semua kemarahannya.


Pria itu yang hampir menjadi sasaran terlihat sangat ketakutan.


"Dengan berapa orang?" tanya Gao Feng Shui.


Pria itu pantas memberitahu jumlah orang yang terbunuh yakni dia puluhan orang dan sebagian besar tingkat surgawi.


Tentu saja pernyataan ini langsung disambut amarah kembali oleh Gao Feng Shui.


"Bodoh! Kau sangat bodoh!" teriak Gao Feng Shui menyalahkan Yan Baufan.


Padahal sudah diingatkan berkali-kali untuk menunggunya selesai menyerap kristal kehidupan. Tapi ternyata Yan Baufan bergerak tanpa sepengetahuannya.


Jika Yan Baufan berhasil membunuh Zhang Yu mungkin dia akan senang. Tapi Yan Baufan malah terbunuh dan masih membawa puluhan orang tingkat surgawi bersamanya.


Kepala Gao Feng Shui seakan mau pecah ketika memikirkan ketidakpatuhan Yan Baufan. Si bodoh itu benar-benar tidak mendengar ucapannya dan hanya peduli dengan emosinya yang tak terkendali.

__ADS_1


"Bagaimana Zhang Yu saat ini? Apa dia masih di kota?" tanya Gao Feng Shui.


"Maaf, pemimpin. Kami tak bisa menemukan keberadaannya. Tapi kemungkinan dia masih di sekitar Kota Xing Zou."


Gao Feng Shui mengepalkan tangan. Dia melambai meminta pria itu meninggalkannya sendirian.


...


Sementara itu di tempat lain. Zhang Yu bergerak menjauh dari pusat kota untuk mencari tempat yang sepi.


Tiba-tiba saja, tubuhnya bereaksi dan terasa sangat berat setelah bangun dari tidurnya.


Kata Long Shen hal ini juga termasuk tanda-tanda akan menerima anugerah surga.


"Di sini sudah sangat jauh. Tidak akan ada orang yang mengganggumu."


Zhang Yu segera mengambil posisi duduk bersila. Dia mengangkat wajahnya dan melihat awan yang mulai bergemuruh. Seberkas cahaya pun mulai tampal seperti yang terjadi di anugerah surga pertama.


"Anugerah surga kedua pastinya lebih sulit dari yang pertama. Apa kau sungguh akan mampu melakukannya?" tanya Long Shen seolah meragukan.


Long Shen tersenyum. "Jika begitu, semoga saja."


Satu petir pertama datang dari lubang cahaya di langit. Bergerak turun dengan animasi yang lambat tapi mengeluarkan tekanan yang sangat kuat.


Zhang Yu menerima semua itu dalam tubuhnya. Meski merasakan tubuhnya akan meledak karena energi yang sangat besar, Zhang Yu tak sekalipun berpikir untuk menyerah ketika mengingat banyak musuh yang harus ia kalahkan. Banyak orang yang harus ia lindungi. Jalan satu-satunya untuk mewujudkan semua itu adalah dengan menjadi kuat. Bahkan jika harus tersiksa, semua tak berarti selagi dapat mewujudkan keinginannya.


"Petir kedua datang," kata Long Shen sembari menatap kilatan cahaya yang turun dari langit. Jauh lebih besar dari yang pertama dan jauh lebih kuat.


Long Shen sampai mengerutkan keningnya menatap petir kedua.


"Zhang Yu, apa kau dapat bertahan?" gumamnya dalam hati.


Pada waktu ini tidak akan ada yang bisa membantu Zhang Yu. Semua bergantung pada dirinya sendiri.


Beruntung karena kejadian ini tepat dengan hujan dan langit yang gelap sehingga tak banyak orang yang akan menyadarinya. Terlebih dengan posisi mereka yang jauh dari pusat kota, membuat orang akan enggan mencari tahu bahkan jika ada yang melihat fenomenal ini.

__ADS_1


...


Pagi berganti siang dan siang berganti malam. Setelah dua hari dua malam, akhirnya Zhang Yu membuka mata untuk pertama kalinya.


"Perasaan ini benar-benar nyaman," kata Zhang Yu sambil mengangkat tangannya mencoba merasakan energi yang melimpah bersumber dari tubuhnya.


"Kau ini benar-benar membuat orang lain iri. Orang lain bahkan membutuhkan waktu lima bahkan sepuluh tahun untuk mendapat anugerah surga kedua setelan anugerah surga pertama. Tapi kau mendapatkannya hanya dalam waktu kurang dua tahun." Long Shen berdecak dan merasa Zhang Yu ini orang yang sangat beruntung.


"Ayo kita pergi ke sini. Aku harus pergi mencari Duan Jian dan lihat apakah sudah ada petunjuk tentang markas Istana Roh." Zhang Yu segera bangkit, dia pergi setelah mengganti pakaiannya yang compang-camping karena sambaran petir percobaan surga.


Siapa yang mengira saat dalam perjalanan Zhang Yu malah bertemu Duan Jian yang sepertinya hendak pergi ke penginapan tempatnya menginap.


"Tuan Muda!" sapanya.


Zhang Yu terlebih dahulu mengajak Duan Jian masuk ke kedai yang tak jauh dari tempat mereka lalu menanyakan perkembangan penyelidikannya.


"Tuan Muda, kami telah mendapatkan petunjuk," bisik Duan Jian dengan suara lirih tapi penuh penekanan.


Zhang Yu yang mendengar dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi antusias. "Benarkah?"


Duan Jian menganggukkan kepala. "Beberapa hari yang lalu mata-mata kami melihat seorang pria yang berasal dari Istana Roh. Dia terlihat di hutan yang tak begitu jauh dari tempat ini. Mata-mata kami pun mengikutinya, dan berhasil menemukan markas mereka yang ada di perbatasan kota bagian utara."


Duan Jian mengeluarkan peta yang telah ditandainya. Dia menunjukkan ke sebuah kawasan lebat dengan warna hitam pekat. "Markas mereka ada di tengah hutan dan dikelilingi tebing. Selama ini tidak ada yang menyadarinya karena mungkin lokasinya yang sangat tidak terduga. Tapi mata-mata kami berhasil menemukannya."


Zhang Yu mengambil peta itu dan memberikan sebuah pedang milik Yan Baufan pada Duan Jian. "Ambilah. Anggap saja hadiah untukmu."


Duan Jian menatapnya dengan termenung. Dia tak berani menerima hal itu dan berusaha menolaknya.


"Tuan Muda, aku melakukannya bukan karena mengharapkan sesuatu darimu. Lagi pula ini juga perintah dari Nona Liu Mengqi. Aku tak bisa menerimanya."


Zhang Yu berdiri. "Anggap saja ini keberuntunganmu. Itu hadiah dariku. Apa kau masih ingin menolaknya?" tanya Zhang Yu.


Dengan terpaksa Duan Jian menerima pedang tersebut. "Terima kasih Tuan Muda. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, cari saja aku di gedung cabang."


Setelah itu Duan Jian pergi karena harus kembali bertugas. Zhang Yu memandang peta itu dan tersenyum penuh arti. Dia menggulungnya dan pergi dari kedai itu.

__ADS_1


"Istana Roh, aku datang!"


__ADS_2