
Pada malam itu, kediaman Klan Wen masih sangat tenang bahkan penjaga di sekitar gapura terlihat menikmati minuman sambil tertawa dan memainkan permainan kartu.
Namun pada detik-detik berikutnya, udara dingin seperti menyapu wilayah itu membuat bulu kuduk berdiri.
"Apa kalian merasa ada yang aneh?" tanya seorang penjaga.
Sejenak permainan kartu berhenti karena pertanyaan tersebut. Sayangnya yang lain menganggap hal ini wajar dan malah menertawakannya.
"Tidak ada yang aneh. Kau pasti sedang mencari alasan karena akan kalah dalam permainan." Tawa mereka menggema. Penjaga yang merasakan prasangka buruk pun hanya mencebikkan bibir kemudian memperbaiki posisi duduknya.
"Sekarang giliranku, kan? Aku akan ...."
Sebelum dapat menyelesaikan kalimatnya, satu energi kekuatan melesat dari kegelapan menghancurkan meja permainan mereka.
Bang!
Seketika semua kartu terbang berhamburan. Meja terbalik dan lima penjaga yang sedang bermain jatuh tersungkur.
"Kurang ajar! Siapa yang melakukannya!" teriak satu penjaga dengan wajah murka.
Untuk beberapa waktu mereka bahkan tidak tahu dari mana serangan itu berasal. Sampai perhatian kelima penjaga tertuju pada satu sosok pemuda yang berdiri di luar gapura dengan mengenakan jubah hitam.
Kelima penjaga menarik senyum sinis melihat itu hanyalah seorang pemuda. Mereka melipat tangan dengan arogan kemudian berjalan angkuh menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak tahu ini wilayah siapa?"
Alih-alih menggubris ucapan kelima penjaga, Zhang Yu malah dengan santai mengeluarkan perangnya. Satu ayunan besar lalu sejumlah Qi menyebar dari tubuhnya.
"Sepertinya dia datang untuk mencari masalah. Kita tak perlu banyak bicara, langsung saja tangkap dan serahkan pada Patriark."
Mereka cukup mudah mendapat kesepakatan. Saling melirik lalu mengangguk sebelum mengeluarkan senjata.
"Zhang Yu, hati-hati!" kata Xiao Mei. Meski cukup lirih tapi Zhang Yu mendengarnya. Dia melirik sekilas sebelum kembali fokus pada lima penjaga di hadapannya.
"Serang!"
Kelima penjaga ini sama sekali tidak memperhitungkan kekuatan lawan. Zhang Yu tersenyum sinis lalu melesat membunuh mereka dalam satu tebasan.
Bruk!
Bruk!
__ADS_1
Bruk!
Tubuh mereka jatuh ke tanah. Zhang Yu melewati mayat mereka begitu saja kemudian masuk ke dalam kediaman Klan Wen dan membuat kehebohan.
"Siapa kau!"
Zhang Yu mengabaikan pertanyaan orang-orang yang mencoba mencegatnya.
"Di mana Wen Ou?" tanya Zhang Yu ketika membuka mulutnya. Sontak hal itu membuat puluhan orang yang menghalangi jalannya terlihat sangat marah.
"Banjingan! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
"Beraninya masuk ke kediaman Klan Wen dan bahkan tak menghormati Patriark. Dia pantas mati!"
Lagi-lagi Zhang Yu mengabaikannya. Ketika puluhan orang Klan Wen itu memaksa maju, dia mengeluarkan auranya hingga mereka tak berdaya.
"Aku tanya sekali lagi. Di mana Wen Ou?"
Puluhan orang Klan Wen berusaha bertahan dari tekanan super kuat itu. Tubuh mereka berkeringat dan terasa sangat berat.
"Keterlaluan! Siapa sebenarnya dia? Kenapa datang ke kediaman Klan Wen dan membuat kerusuhan."
"Tubuhku sangat sakit. Aku tak bisa bertahan! Kita harus memanggil Patriark dan Tetua untuk mengalahkannya."
"Tetua datang! Tetua datang!" seru mereka melihat enam pria tua yang baru saja datang. Ini seolah memberi mereka harapan untuk menghadapi pemuda berjubah hitam yang tak disangka memiliki kultivasi yang tinggi.
"Siapa kau?" tanya Tetua Pertama Klan Wen, Wen Yun.
"Di mana Wen Ou?"
Bukan menjawab pertanyaan Tetua Pertama, Zhang Yu malah bertanya hal lain. Sontak wajah Tetua Pertama berubah suram dan merasa sangat terhina.
"Bocah tidak tahu diri! Apa kau pikir Klan Wen adalah taman bermain mu hingga kau begitu seenaknya?!" teriak Tetua Kedua, Wen Zheng.
Namun lagi lagi Zhang Yu mengabaikannya. Karena Wen Ou tidak mau keluar dan bertemu dengannya, maka tidak ada cara lain selain memaksanya keluar dengan sendirinya.
"Teknik pedang pembunuh!"
Begitu bayangan cakar raksasa muncul di atas langit, seluruh orang-orang Klan Wen tercengang menyaksikannya.
Tetua pertama mengedipkan mata lalu tersenyum mencibir. "Ternyata kau orang Klan Zhang. Lantas kenapa kau di sini dan tidak ikut mereka meninggalkan kota? Mereka melarikan diri seperti pengecut. Benar-benar memalukan!"
__ADS_1
Wajah Zhang Yu memerah marah mendengar hal ini. Tanpa banyak bicara lagi dia mengayunkan pedangnya sehingga bayangan cakar itu melesat ke arah enam tetua dan puluhan orang Klan Wen.
Blam!
Tetua pertama berpikir serangan ini tidak akan terlalu kuat. Tapi siapa yang mengira dengan pertahanan terkuatnya, tetua pertama masih tidak bisa bertahan dari serangan bayangan cakar raksasa.
Begitu pula dengan lima tetua lain serta puluhan orang-orang yang mencoba bertahan. Serangan teknik pedang pembunuh itu lebih kuat dari dugaan mereka. Tubuh terpental puluhan meter dengan luka-luka yang parah.
Tidak berhenti sampai di sana. Zhang Yu memburu orang-orang yang masih selamat lalu menyerang mereka satu persatu.
Pedang di tangannya berlumuran darah. Tapi dia bergeming mengabaikan rasa kasihan.
Darahnya mendidih ketika membayangkan bagaimana mereka menyerang Klan Zhang dalam masa terpuruk. Memaksa ayahnya, bibinya, patriark, tetua, serta orang-orang klan meninggalkan Kota Qian Gu dan menjadi bahan tertawaan.
Maaf? Tidak. Karena mereka dengan sangat sadar melakukannya. Dan berdasar pada ambisi dan keserakahan. Bahkan jika mereka berlutut Zhang Yu tidak akan memaafkannya.
Bunuh! Bunuh!
Teriakan dan jerit ketakutan menggema di wilayah tersebut. Dalam sekejap puluhan nyawa melayang, membuat enam tetua ragu untuk melawan.
"Di-dia sangat kuat. Kita tidak akan bisa menghadapinya," kata Tetua Keenam.
Empat dari enam tetua sudah tidak punya keberanian untuk maju. Terlebih melihat bagaimana Zhang Yu menghabisi puluhan orang tanpa kesulitan. Mereka sadar tingkat kultivasi nya berada di atas tingkat senior.
"Di mana Wen Ou?" tanya Zhang Yu untuk yang kesekian kalinya.
Jika sebelumnya Wen Yun akan berteriak dengan arogan. Tapi kali ini pria itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.
Sontak ini membuat Zhang Yu berdecak pelan.
Cih!
"Karena kau ingin terus bersembunyi, aku akan menghancurkan Klan Wen-mu."
Zhang Yu kembali mengeluarkan teknik pedang pembunuh. Lebih besar dari sebelumnya dan lebih kuat.
Mata keenam tetua berkedut melihat kekuatan serangan seperti ini. Tangan mereka berkeringat dan menjadi agak gugup.
Namun tepat pada detik ini sebuah serangan menghancurkan bayangan cakar raksasa yang belum tercipta dengan sempurna.
Blar!
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat semua terkejut tak terkecuali Zhang Yu. Tetapi tak butuh waktu lama bagi pemuda itu untuk mengubah raut wajahnya dengan senyum yang terpancar.
"Wen Ou!"