
Malam itu juga Zhang Yu meninggalkan domain klan Xiao bersama dengan Long Shen dan Sun. Mereka menuju ke Kota Dou Yan, kemudian berlayar ke Kota Heishan.
Meskipun perjalanan benar-benar mulus tanpa hambatan, tapi Zhang Yu merasa sangat lama dan tak bisa tenang ketika memikirkan kemungkinan kelompok pemberantas sudah jauh di depan mereka.
Memang semua itu hanya tebakan setelah mereka melihat informasi dari Liu Bei. Namun Zhang Yu memiliki firasat yang membuatnya tidak nyaman.
Hal pertama yang ada dalam kepalanya saat ini adalah sampai ke Kekaisaran Xuan secepat mungkin. Kemudian, dia harus pergi ke akademi dan mencegah kelompok pemberantas.
Zhang Yu tidak akan menyangka jika semua perkiraannya memang benar adanya. Kelompok pemberantas yang terdiri dari dua ratusan orang sudah memulai perjalanan lebih awal. Sekarang mereka sudah sampai di Kota Heishan. Berkumpul di sekitar dermaga membuat penduduk lokal ketakutan.
"Siapa mereka?" Pertanyaan yang ada dalam kepala beberapa penduduk yang lebih memilih menjauh dari lokasi.
Keberadaan kelompok berpakaian hitam benar-benar mencolok. Mereka seolah tak takut keberadaannya diketahui oleh musuh atau pihak ketiga.
"Kakak, menurut informasi yang aku dapatkan kakak kedua juga sudah pernah datang ke Kekaisaran Xuan. Dia mungkin sejak awal mengetahui jika teknik pengendali jiwa itu berada di sini. Tapi sepertinya rencananya untuk mengambil teknik itu tidak berjalan dengan baik."
Pria tua berambut panjang mendengus. "Gao Feng Shui, kau benar-benar membuat malu keluarga kita. Kau bahkan gagal dalam rencana yang kau buat. Memalukan!"
Pria setengah baya tidak mengatakan apapun setelah itu. Namun dalam kepalanya bertanya-tanya, siapa sosok yang sudah membuat kakak keduanya begitu menyedihkan.
"Apakah mereka orang yang sama?" gumamnya, memikirkan orang yang sudah membunuh Gao Feng Shui dan menggagalkan rencananya.
"Gao Feng Sha, kenapa kita masih diam di sini? Bukankah seharusnya kita pergi ke akademi Kekaisaran untuk mengambil teknik pengendali jiwa itu?" Seorang wanita keluar dari barisan. Dia mungkin satu-satunya wanita dalam kelompok itu, tapi dia memiliki cukup kedudukan sehingga tanpa segan memanggil langsung nama Gao Feng Sha saat semua anggota memanggilnya wakil ketua.
Namun Gao Feng Sha tidak menerima panggilan itu. Dia melirik tajam pada sosok wanita berpakaian merah tersebut dan berusaha mengingatkannya. "Jia Li, jika kau lupa umurku lebih tua lima belas tahun darimu. Jangan panggil aku seolah kau adalah kakak iparku."
Wanita bernama Jia Li tersenyum. "Gao Feng Sha, mungkin kau sendiri yang lupa. Aku memang kakak iparmu, bukankah begitu Ran Gege?"
Gao Ran memberi tanda pada Gao Feng Sha untuk tidak membuat keributan. Seketika pria berusia lima puluh lima tahun itu mendengus dan berjalan ke arah lain.
Jia Li sangat senang melihat ketidakpuasan Gao Feng Sha, dia berjalan ke sisi Gao Ran, kemudian bersandar di pundaknya sambil menghela nafas besar. "Padahal aku sudah berusaha menjadi kakak ipar yang baik. Tapi dia masih tidak mau menerimaku hanya karena aku lebih muda darinya."
__ADS_1
"Jia Li, kau juga jangan membuat masalah," ucap tegas Gao Ran.
Namun Jia Li tak terlalu mempedulikan ucapan Gao Ran. Dia sudah terbiasa dengan sikap dinginnya. Bahkan jika Gao Ran memakinya dengan keras, ia juga tidak akan pergi dari sisinya.
"Gao Feng Sha, segera bersiap. Kita pergi ke Kota Xue He sekarang!" kata Gao Ran.
Gao Feng Sha segera menyiapkan pasukan. Jia Li masih tetap berdiri di samping Gao Ran, mereka pun meninggalkan dermaga dan pergi menuju Kota Xue He.
Namun, mereka tak langsung menyerang ke dalam akademi. Mereka menunggu waktu yang tepat sambil terus mengumpulkan informasi tentang sisa anggota keluarga He yang masih hidup.
"Kakak pertama," Gao Feng Sha kembali setelah pergi mengumpulkan informasi. Menyaksikan dari wajahnya yang berminat senang, pasti dia menemui informasi yang mereka inginkan.
Gao Ran menjadi penasaran. "Cepat katakan," pintanya.
"Saat ini hanya ada dua orang yang tersisa dari keluarga He. Mereka adalah Han Rui dan anaknya, He Jiao. Menurut informasi He Jiao ini adalah murid pelataran dalam akademi. Untuk mendapatkan teknik pengendali jiwa, kita harus masuk ke bagian terdalam akademi karena mereka berdua tinggal di pelataran dalam."
Gao Ran manggut-manggut. Jia Li tersenyum sambil mengejek, "Tak kusangka kau cukup berguna," ejeknya.
Keduanya kembali bertikai, Gao Ran yang kesal langsung mengeluarkan auranya yang membuat mereka berdua diam seketika.
"Maaf," ucap Gao Feng Sha lirih.
Jia Li pun juga meminta maaf. Dia segera membelai pundak Gao Ran sambil bertanya padanya. "Kapan kita akan bergerak? Hutan ini hanya berjarak beberapa mill dari pintu masuk Akademi. Jika kita menyerang sekarang, mereka tidak akan memiliki waktu untuk bersiap."
Gao Ran menatap satu persatu pasukannya. Dia memandang ke atas dan merasa sebentar lagi waktu yang ditunggu akan tiba. Saat matahari tenggelam dan langit berubah gelap.
"Sekarang saatnya," kata Gao Ran setelah melihat langit kemerahan itu berubah secara pasti menjadi gelap.
Ratusan orang yang dibawanya pun bersiap. Gao Feng Sha berdiri di samping kakaknya dan menunjukkan jubah hitam Istana Roh yang dipakainya.
Pada saat itu gerbang akademi tertutup rapat seperti biasanya. Beberapa murid berpatroli di luar sedang sisanya berjaga di dalam.
__ADS_1
Semua tampak baik-baik saja bahkan sampai matahari tenggelam.
"Buka gerbangnya, sekarang sudah waktunya kami berjaga." Datang kelompok murid lain yang bertugas selanjutnya.
Murid-murid yang mengetahui jadwal jaga sudah berakhir tak ayal langsung memasang wajah bahagia. Belasan murid yang ada di dalam segera membuka gerbang dan berniat memberitahu teman mereka yang ada di luar.
Namun begitu gerbang terbuka. Mata mereka terbelalak sempurna menyaksikan teman yang berjaga di luar dalam keadaan tergeletak dengan luka di tubuh mereka.
"A-apa yang terjadi?"
Karena hal ini belum pernah terjadi, tentu membuat murid-murid pelataran luar itu bingung dan panik. Mereka segera berlari menghampiri keempat teman yang tergeletak di luar gerbang.
Naas bagi beberapa orang yang berlari terlalu cepat. Katika kaki mereka baru saja menginjak batas keluar, siluet tebasan berwarna hitam jatuh tepat di tempat mereka berdiri.
Blar!
Tubuh terhempas dan terluka parah. Murid lain yang sempat mengerem hanya menatap pada beberapa teman yang menjadi korban. Perlahan mereka menengadahkan wajah ke depan dan melihat ratusan orang berpakaian hitam yang berdiri dengan aura menakutkan.
"Ka-kalian siapa?" tanya belasan murid itu sambil menunjuk.
Gao Ran mendengus dingin. Gao Feng Sha yang ada di sebelahnya hanya tertawa mencibir. "Kakak Pertama, serahkan mereka kepadaku!"
Tanpa membuang banyak waktu, Gao Feng Sha langsung melesat dari tempatnya setelah berkata. Dia hanya menggunakan tangan kosong yang dilapisi Qi untuk membunuh belasan murid pelataran luar.
"Lemah!" katanya.
Suara dentuman dan teriakan yang menggema tak ayal terdengar dari beberapa tempat di Akademi. Murid dan tetua yang ada di sekitar segera datang ke gerbang untuk mencari tahu asal ledakan tersebut.
Namun tentu tidak ada yang mengira, ketika mereka sampai di gerbang yang menyambut adalah ratusan orang berjubah hitam.
Wu Zetian menjadi salah satu murid yang ada di sana. Keningnya mengerut saat mencoba mengukur kekuatan ratusan pasukan berjubah hitam.
__ADS_1
"Mereka pasti berniat buruk. Aku harus pergi mencari Kepala Akademi!"