
"Sejak dia datang dengan membawa plakat dan stempel Kekaisaran Xuan, aku sudah berniat mengambilnya. Tapi karena tidak bisa mendapatkan plakat itu jadi aku hanya bisa mengumpulkan seluruh prajurit dan memaksa mereka untuk bersumpah setia." Song Wejin tersenyum melempar tatapan kepada Zhang Yu. Pemuda yang menciptakan kekacauan ini. Karena dia lah semua ini berakhir dalam situasi ini. Dia ingin membunuhnya pada saat ini juga.
Sementara Xuan Zou, dia menatap ratusan prajurit yang berkumpul di lorong. Semua benar-benar mengabaikan plakat Kekaisaran Xuan yang harusnya menjadi perintah tertinggi atas pasukan istana.
"Semua, dengarkan perintahku. Tangkap mereka!"
Ratusan prajurit bersiap, tapi sebelum mereka bergerak Zhao Yun melesat menerjang kepada pasukan prajurit dan mengambil satu pedang untuk ia gunakan.
Aksi Zhao Yun membuat pasukan prajurit ragu untuk bergerak, bagaimana tidak, identitasnya sebagai jendral perang bukan sekadar nama panggilan, tapi juga sebuah gelar atas kemampuannya. "Kalian benar-benar mengambil keputusan yang keliru. Kalian mempermalukan darah ksatria dengan melakukan pengkhianatan ini."
"Omong kosong!"
"Kenapa kalian hanya diam?! Serang!"
Atas perintah Song Wejin ratusan prajurit menyerang Zhao Yun yang sudah siap dengan pedangnya.
Akan tetapi, ratusan prajurit itu tidak mampu menahan pedang dari seorang jendral perang yang berada di tingkat suci bintang sembilan. Zhao Yun mengayunkan pedang dan menghempaskan belasan prajurit dalam satu tebasan.
Menyaksikan hal ini Song Wejin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Meski sejak awal dia tahu bahwasanya Zhao Yun memang sangat kuat, tapi bukanlah dia sudah terkena racun es dan api.
"Bagaimana dia masih sangat kuat? Tubuhnya juga terlihat baik-baik saja setelah mengeluarkan Qi. Apa mungkin dia sudah menghilangkan racun es dan api dalam tubuhnya?"
Song Wajin merasakan firasat yang buruk. Dia yakin ratusan prajurit saja tidak cukup untuk menghadapi Zhao Yun. Jadi dia memerintahkan lima komandan pasukan yang berdiri di sampingnya untuk turun tangan.
Namun, sebelum mereka terjun kepada Jendral Zhao Yun, tiga kasim berdiri dengan pedang di tangan mereka.
Bukan hanya itu, Xuan Zou pun menerjang dan melesat kepada Song Wejin setelah berpesan kepada Zhang Yu untuk menjaga ketiga istrinya.
Sementara pertarungan di sana pecah, Zhang Yu harus ikut campur meski sekadar menghadapi prajurit yang mendekat kepada permaisuri dan ratu.
"Permaisuri, Ratu, kita harus pergi mencari tempat yang aman."
Ling Qiao sekilas menatap Xuan Zou yang bertarung dengan Song Wejin. "Aku tahu tempat yang aman. Ikut denganku," pintanya lalu berlari dengan Jun Qianchen, Yu Wen dan Zhang Yu yang melindungi mereka dari belakang.
Mereka pun meninggalkan tempat pertarungan itu, menuju ke bagian lain istana yang lebih sepi.
Akan tetapi suasana yang sepi tidak bertahan lama karena pasukan prajurit yang terdiri dari lima puluhan orang datang dari arah lain. Mereka menuju ke tempat pertarungan. Jelas sekali jika mereka adalah pasukan Song Wejin yang akan membantu dalam pertarungan.
__ADS_1
"Permaisuri, kenapa berhenti?"
Ling Qiao menunjuk pada pasukan yang baru saja melintas di depan mereka. "Yang Mulia masih di sana. Sedang pasukan Perdana Menteri terus bertambah. Ini akan buruk."
Tidak dipungkiri Zhang Yu juga memiliki pemikiran yang serupa. "Permaisuri, yang utama untuk saat ini adalah menemukan tempat yang aman untuk persembunyian."
Ling Qiao terlihat ragu, tapi detik berikutnya dia menunjuk ke depan dan mengatakan tempat aman yang dimaksud ada di sana.
Tidak menunggu lebih lama mereka berlari menuju ke sana dan beberapa saat kemudian mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan.
"Permaisuri, apakah ini tempatnya?"
Ling Qiao mengangguk. "Benar. Ini adalah ruangan utama. Ada ruangan rahasia di dalam sebagai tempat Yang Mulia biasa berkultivasi."
Zhang Yu mendorong tangannya membuka pintu besar di hadapannya. Bersama dengan pintu yang terbuka, seorang pelayan wanita berlari ke arah mereka.
"Yang Mulia Permaisuri! Yang Mulia Ratu!"
Ling Qiao, Ju Qianchen dan Yu Wen mengalihkan pandangan mereka mendengar ada yang memanggil. Mereka tampak terkejut ketika menyaksikan siapa yang datang kepadanya.
"Huan'er?"
Ling Qiao tersenyum sembari menarik pundak pelayan utamanya itu. "Huan'er, aku juga senang dapat melihatmu kembali."
Huan'er tersenyum. "Pelayan ini benar-benar beruntung memiliki majikan seperti ini Permaisuri yang baik hati, tapi pelayan ini sungguh minta maaf."
Hem?
Ling Qiao yang bingung dengan sikap pelayannya yang tiba-tiba minta maaf pun dengan segera merajut kedua alisnya.
Bukan hanya Ling Qiao yang menjadi heran, tapi juga kedua ratu bahkan Zhang Yu.
Karena merasa curiga dia mulai mengalirkan Qi ke telapak tangannya bersiap jika pelayan ini berniat buruk.
Namun, sangat jauh dari apa yang sempat ia pikirkan. Pelayan bernama Huan'er itu mengeluarkan botol dan meneguknya cairan di dalamnya.
"Huan'er, apa yang kau lakukan?" tanya Ling Qiao kepada pelayan utamanya.
__ADS_1
"Permaisuri, yang baru saja pelayan ini minum adalah racun. Racun es dan api."
Mata Ling Qiao seketika terbelalak sempurna. "Kenapa kau melakukannya?"
Pelayan itu hanya tersenyum. "Ini adalah bentuk penyesalan karena pelayan ini lah yang telah membantu Perdana Menteri untuk meracuni Yang Mulia, Jendral, Ratu dan engkau Permaisuri. Pelayan ini benar-benar menyesal."
Sontak saja pernyataan Huan'er membuat Ling Qiao terkejut. Wanita paruh bayar itu dengan cepat mengubah raut wajahnya. "Huan'er ... Jadi kau yang meletakkan racun di makanan kami?!"
Kekecewaan. Itu sangat tergambar jelas di wajah Ling Qiao.
Pelayan yang sudah ia anggap keluarga ternyata orang yang telah meracuninya dan juga suaminya. Bahkan orang lain pun tak luput dari tindakannya.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Ling Qiao dengan nada yang sedikit datar.
Huan'er menundukkan wajahnya.
Huk! huk...
Huan'er memuntahkan gumpalan darah berwarna hitam. Racun es dan api sudah mulai menyerang tubuhnya.
"Itu karena Perdana Menteri mengancam dengan nyawa suami serta anak-anakku, Permaisuri."
"Tapi Permaisuri, semua itu tidak lagi penting ...."
Huk... Huk...
"Pelayan ini datang hanya ingin menyampaikan, prajurit yang masih setia dengan Yang Mulia dipenjarakan di penjara belakang oleh Perdana Menteri. Ada sekitar lima ratus prajurit, termasuk satu komandan. Selama engkau mengeluarkan mereka, mereka pasti akan membantu Yang Mulia menghadapi Perdana Menteri."
Huk huk...
Ling Qiao terkejut mendengar ucapan Huan'er, dia menatap Zhang Yu yang masih berdiri di sampingnya lalu kembali memandang pelayannya. "Huan'er, apa kau tidak berbohong?"
Huan'er menggelengkan kepala dengan kuat. "Ti-tidak Permaisuri. Pelayan ini tidak berbohong."
Huk... Huk...
Setelah berkata Huan'er langsung jatuh ke pelukan Ling Qiao. Ling Qiao spontan menangkap tubuh pelayannya itu sembari memeriksa keadaannya. Tapi saat menempelkan jari ke hidung, tidak ada nafas yang tersisa.
__ADS_1
"Coba kau periksa dia, apa masih bisa diselamatkan?" Ling Qiao meletakkan tubuh Huan'er, lalu meminta Zhang Yu memeriksanya.
Namun, bahkan Zhang Yu menggelengkan kepala. Itu adalah tanda jika nyawanya tidak lagi dapat dipertahankan. "Dia sudah meninggal Permaisuri!"