Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 171 : Melindungi Klan Xiao


__ADS_3

"Senior, apa ini sudah cukup?" Sambil duduk di atas panggung batu Zhang Yu menunjukkan jarum spiritualnya yang telah berevolusi mengikuti kekuatan jiwanya.


Sama halnya seperti tingkat kultivasi, kekuatan jiwa juga memiliki tingkatan. Jiwa merah yang berarti pemula atau awam. Jiwa kuning yang berarti menengah. Jiwa hijau yang berarti ahli. Jiwa biru yang berarti tertinggi.


Zhang Yu sebelumnya berada di tingkat jiwa kuning. Meski itu sendiri merupakan tingkat yang tinggi mengingat sebagian besar kultivator hanya memiliki tingkat jiwa merah, tapi untuk meningkatkan basis kekuatan teknik jarum jiwa penakluk Zhang Yu harus meningkatkan kekuatan jiwanya dan batas yang diberikan Xiao Mu adalah tingkat jiwa hijau.


"Kau lagi-lagi mengejutkan ku. Hanya dalam tiga bulan mampu mencapai tingkat jiwa hijau dari tingkat jiwa kuning. Tak diragukan lagi kau memang keturunanku. Hahahaha ...," tawa Xiao Mu merasa bangga.


Zhang Yu tak mengatakan apapun. Tapi tak dipungkiri dia mendapat apa yang menjadi tujuannya. Bukan hanya kultivasi, tapi juga penguasaan teknik jarum jiwa penakluk.


"Sekarang sudah saatnya kita berpisah."


Seketika Zhang Yu mendongakkan kepalanya mendengar kalimat Xiao Mu yang tiba-tiba.


"Apa ada kesempatan lain untuk bertemu denganmu, Senior?" tanya Zhang Yu.


Xiao Mu tertawa mendengar ucapan Zhang Yu. "Jika kau meninggal sekarang, mungkin kita dapat bertemu di suatu tempat," canda Xiao Mu.


Karena penantiannya selama berabad-abad telah selesai, tidak ada alasan lagi bagi Xiao Mu mempertahankan jiwanya di sini. Lebih tepatnya, dia tak bisa terus menolak aturan dunia karena sejatinya dia sudah meninggal.


"Bocah. Kau harus menjaga Klan Xiao bahkan jika nyawamu menjadi taruhannya. Jangan sampai perjuanganku sia-sia. Kau harus mengingatnya!"


Tidak tahu kenapa Zhang Yu merasa sedih dengan kalimat ini. Namun dia berusaha tegar dengan menjawab lantang kalimat tersebut.


"Aku Zhang Yu berjanji akan melindungi Klan Xiao bagaimana keadaannya. Bahkan jika harus mengorbankan nyawa."


Xiao Mu tersenyum puas dengan jawaban Zhang Yu. Perlahan tapi pasti tubuhnya yang bersinar meredup kemudian menghilang bersama dengan aura keberadaannya.


Entah mengakuinya atau tidak, perpisahan selalu saja menyakitkan. Terlebih dengan banyak waktu yang dilakukan bersama. Dua tahun bukan waktu yang singkat, tapi mereka melaluinya di tempat ini.


Zhang Yu menarik nafas panjang menenangkan diri. Di saat yang sama dia mengedarkan aura kekuatannya yang sekarang berada di tingkat suci bintang satu.


Perasaan yang luar biasa. Mengingat berbagai siksaan dan tempaan yang telah dilaluinya dua tahun belakangan.


Shing...


Suara nyaring menyadarkan Zhang Yu dari lamunan. Begitu membuka mata seluruh altar yang megah kini diselimuti cahaya putih. Perlahan kabur, perlahan menghilang.


Zhang Yu tahu ini waktu bagi dirinya kembali. Jadi tanpa melakukan apapun dia berdiri di sebelah panggung batu sambil membayangkan beberapa wajah yang ingin ditemuinya setelah ini.

__ADS_1


"Waktunya kembali. Entah bagaimana keadaan Ibu, Xuan Yin dan yang lain."


Namun begitu sampai di ruangan rahasia dan keluar dari kediaman utama, Zhang Yu tidak menemukan satupun orang yang membuatnya heran.


Ada apa dengan kediaman ini? Di mana kakek? Di mana orang-orang yang berjaga?


Rasa penasaran membuat Zhang Yu meninggalkan halaman kediaman utama untuk keluar lebih jauh. Pada saat itu Zhang Yu melihat Xiao Lang dan Xiao Yuze berjalan cepat ke suatu tempat.


"Tunggu! Bukankah Xiao Yuze masih dalam masa hukuman?" Langkah Zhang Yu terhenti ketika mengingat hal ini. Di waktu yang sama sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.


"Zhang Yu! Apakah itu kau?!"


Seketika Zhang Yu membalikkan badan. Terlihat Xiao Yujin dan Xiao Yuwen berlari ke arahnya.


"Benar-benar kau! Kami senang kau telah kembali. Apa kau berhasil memecahkan misteri di altar leluhur?" tanya Xiao Yujin penasaran.


Akan tetapi bukannya menjawabnya, Zhang Yu malah bertanya hal lain. "Ada apa dengan kediaman ini? Kenapa sangat sepi?" tanyanya.


Xiao Yuwen yang mengingat tujuannya keluar dari tempat perlindungan darurat pun segera menepuk keningnya cukup keras. "Bodoh! Kami sungguh lupa harus mengambil persediaan makanan dari gudang."


"Xiao Yujin. Ayo cepat. Semua orang sudah menunggu kita."


"Aku akan menceritakanmu sambil berjalan. Kami harus segera sampai ke gudang untuk mengambil persediaan," kata Xiao Yujin. Mereka pun berangkat menuju gudang yang ada di belakang kedi utama. Sambil berjalan sambil bercerita.


Namun Zhang Yu mendadak berhenti begitu mendengar cerita mereka. Klan Xiao kedatangan musuh dari Kekaisaran Long. Sekarang kakeknya dan para tetua berusaha bertarung menghadapi mereka di wilayah utara.


"Aku harus pergi ke sana."


"Apa?!" Xiao Yujin dan Xiao Yuwen terkejut dengan ucapan Zhang Yu.


"Kau jangan pergi ke sana. Patriark Sepuh dan para tetua masih berusaha, mereka akan kembali setelah mengalahkan penyusup itu," kata Xiao Yujin yang segera diangguki Xiao Yuwen.


Tetapi Zhang Yu tidak tenang. "Aku harus pergi. Kalian lakukan saja tugas kalian untuk mengambil persediaan."


Tanpa menunggu jawaban dari mereka Zhang Yu berkelebat cepat ke arah gerbang utara. Dia harus cepat dan melihat apa yang dapat dia lakukan untuk melindungi Klan Xiao. Itu adalah janji yang telah dirinya buat dengan Leluhur Xiao Mu.


"Zhang Yu, aku merasakan aura yang cukup kuat. Sebaiknya kau berhati-hati."


Dewa naga tiba-tiba muncul di pundak Zhang Yu. Zhang Yu meliriknya sambil menyindir. "Apa kau sudah puas bersembunyi?"

__ADS_1


Dewa naga mendengus dan berbicara dengan terbata-bata. "A-apa maksudmu. Aku tidak bersembunyi. Untuk apa aku bersembunyi?" tegas dewa naga.


Zhang Yu hanya menggelengkan kepala dan tak lagi membahasnya. Dia fokus dengan langkah kakinya yang kemudian membawanya sampai di wilayah utara.


Tetapi keadaan wilayah ini yang sangat kacau berantakan seketika membuat darah Zhang Yu berdesir tak karuan. Wajahnya menggelap dan matanya berkilat tajam.


Blam!


Suara ledakan berasal dari satu rumah yang ada di depan. Terlihat dua bayangan hitam yang berdiri di atap salah satu bangunan, sedang satu sosok lain di rumah yang hancur berantakan.


"Kakek," gumam Zhang Yu mengenali sosok yang baru saja terpelanting itu adalah Xiao Nie, kakeknya.


Dua orang berpakaian hitam yang berdiri di atas bangunan itu seharusnya adalah musuh yang datang menyerang Klan Xiao.


"Kakek yang berada di tingkat setengah abadi pun kewalahan menghadapi mereka berdua. Apa mungkin mereka berdua juga berada di tingkat setengah abadi?" Zhang Yu memikirkan perbedaan jarak kekuatan di antara mereka. Meski dirinya sudah menjadi lebih kuat dari dia tahun lalu, tapi tidak cukup untuk menghadapi lawan di tingkat setengah abadi.


Di saat Zhang Yu masih diam tak bergerak. Dua lawan yang berdiri di atas bangunan sudah bersiap menyerang. Xiao Nie terlihat masih kesakitan dengan lukanya, dia mungkin tidak bisa bertahan.


Zhang Yu menggerakkan gigi lalu mengeluarkan teknik jarum jiwa penakluk.


Wush...


Tidak hanya satu. Zhang Yu mengeluarkan dua serangan secara bersamaan. Kedua jarum spiritual itu pun melesat dengan cepat. Walaupun pria berpakaian hitam menyadari serangan itu dan mencoba menghalau, tapi serangan jiwa bagaimana mungkin dihentikan dengan pertahanan biasa.


Slap!


Slap!


Dua jarum spiritual menembus kening mereka. Keduanya pun seketika berhenti di tempat dan kesulitan menggerakkan tubuh mereka.


"Kakek, kau baik-baik saja?" Zhang Yu segera memapah kakeknya membantunya menjauh.


Xiao Nie terkejut hingga tak bisa bicara. Matanya hanya menatap Zhang Yu dan masih tidak percaya dengan kedatangan cucunya. Terlebih serangan dua teknik jarum jiwa penakluk secara bersamaan. Itu bahkan sulit dia lakukan.


"Zhang Yu, kau ...."


"Kurang ajar! Bocah busuk dari mana ini yang datang mencari masalah!" Perlahan Ning Feng dan rekannya melepaskan diri dari pengaruh teknik jarum jiwa penakluk. Perlahan leher, lalu tangan selanjutnya kaki. Mereka bergerak mencoba menggerakkannya karena terasa agak kaku.


Seketika juga raut wajah Zhang Yu menjadi buruk. "Celaka! Sepertinya jarak kekuatan yang terlalu jauh juga berpengaruh pada teknik ini," batinnya.

__ADS_1


__ADS_2