Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 76 : Kalung Yang Sama


__ADS_3

Keesokan paginya, suasana di istana lebih tenang dibandingkan dengan kemarin malam. Xuan Zou mengumpulkan semua penghuni istana, tak terkecuali pelayan dan prajuritnya.


Sekitar tujuh ratus orang, berkumpul di halaman yang luas, berdiri di sana dengan perasaan yang bercampur aduk. Pasalnya sejak mulai berkumpul Xuan Zou tidak membuka mulutnya. Hal ini secara pasti memunculkan perasaan yang tidak nyaman terkhusus bagi para prajurit yang sempat mengikuti Song Wejin.


"Kalian tahu kenapa aku meminta kalian semua untuk datang?"


Itu adalah kalimat pertamanya. Sebagian prajurit mengatupkan mulut manahan bibir yang gemetar. Mengerjapkan mata mengusir rasa gelisah.


"Apa yang dilakukan Perdana Menteri adalah tindak kejahatan. Kekaisaran Xuan tidak akan pernah memaafkan apa yang telah ia lakukan. Terkhusus kalian prajurit yang sempat menerima perintahnya, aku tahu kalian mendapat ancaman dari Perdana Menteri, oleh karena itu aku memberi kalian kesempatan. Tapi bukan berarti kalian akan lepas dari hukuman."


Begitu mendengar apa yang disampaikan Xuan Zou, sebagian prajurit dengan segera menundukkan kepala. Tidak lama kemudian mereka berlutut menekan kening ke tanah.


"Kami berterima kasih kepada Yang Mulia. Kami akan menerima hukuman dari Yang Mulia."


Xuan Zou sejenak diam, lalu meminta prajurit yang masih berlutut untuk bangkit. "Peringatan juga aku berikan kepada kalian semua. Aku harap kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali."


"Kami mengerti Yang Mulia!"


Sementara meninggalkan halaman utama, tepatnya di ruang perjamuan. Zhang Yu duduk dengan tiga wanita paruh baya. Siapa lagi jika bukan Ling Qiao, Permaisuri Kekaisaran Xuan dan kedua Ratu, Ju Qianchen dan Yu Wen.


"Zhang Yu, berapa umurmu?" tanya Ling Qiao tiba-tiba yang sontak membuat Zhang Yu menengadahkan wajahnya.


"Apa ada yang salah, Permaisuri?"


"Tidak, aku hanya berpikir jika kau pasti seumuran dengan putri ... Maksudku putra bungsu ku, pangeran ketujuh." Ling Qiao agak gugup setelah hampir keceplosan. Dia mengambil cawan teh di meja untuk mengalihkan perhatian dan menarik nafas cukup dalam.


"Umurku saat ini dua puluh tahun, Permaisuri."


Ling Qiao manggut-manggut. "Ya, itu benar-benar seumuran dengan pangeran ketujuh."


"Kakak pertama, kau bertanya umurnya seperti akan menjodohkan dia dengan Xuan Yin," kata Ju Qianchen dengan tawa mengikuti kalimatnya.


Yu Wen yang duduk di samping juga ikut tertawa, sementara Ling Qiao semakin gugup. Dia mulai erdehem dua kali lalu berkata dengan mimik serius.


"Bertanya umur bukan hanya untuk mencari pasangan. Aku lihat Zhang Yu ini seumuran dengan Xuan Yin, jadi mungkin dia dapat menjadi temannya."


Ju Qianchen dan Yu Wen tidak tahu rahasia besar Xuan Yin atau pangeran ketujuh. Jadi mereka hanya menganggukkan kepala. Namun ekspresi yang berbeda ditunjukkan Zhang Yu setelah mendengar ucapan Permaisuri Ling Qiao.


Di waktu yang sama pintu ruang perjamuan tiba-tiba terbuka. Jendral Zhao Yun berjalan mendekat dengan langkah lebar kemudian memberi hormat pada Permaisuri dan kedua Ratu.


"Maaf karena pria ini datang mengganggu ...."


"Tidak apa Jendral Zhao. Katakan saja apa urusanmu datang kemari? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" ucap Ling Qiao.


Zhao Yun mengangguk sekilas, lalu melirik Zhang Yu yang duduk beberapa kursi dari tempatnya. "Yang Mulia meminta Zhang Yu datang menemuinya. Jika Permaisuri dan Ratu memperbolehkan, pria ini datang akan membawanya pergi."


Ling Qiao langsung menyetujuinya.


"Tentu. Karena Yang Mulia ingin bertemu dengannya kau dapat membawanya pergi."


"Baik. Terima kasih, Permaisuri!"


Setelah itu Zhao Yun pergi dengan membawa Zhang Yu bersamanya. Mereka berjalan melewati beberapa lorong lalu berhenti di depan sebuah ruangan.


"Yang Mulia ada di dalam. Kau bisa masuk," kata Zhao Yun seraya memberi tanda dengan kontak matanya.


Zhang Yu melihat lekat pintu besar di depannya. Ini tak lain adalah ruangan yang pernah didatangi nya sebelumnya. Ruangan Perdana Menteri Song Wejin.


"Masuklah, Yang Mulia sudah menunggu di dalam."


Zhang Yu tersadar dari lamunan. Dia perlahan mengangkat tangannya lalu mendorong pintu ruangan itu hingga terbuka separuhnya.


Ketika masuk ke dalam ruangan, tampak Xuan Zou sedang berdiri memperhatikan beberapa detail yang sepertinya menarik perhatiannya.


"Maaf Yang Mulia. Apa engkau memiliki pertanyaan atau perintah?"


Xuan Zou membalikkan badan begitu menyadari keberadaan Zhang Yu. "Tidak. Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Kau bukan hanya membawa kembali stempel dan plakat Kekaisaran Xuan, tapi juga menyelamatkan nyawaku, nyawa istriku dan yang lain. Tanpa keberadaanmu mungkin istana ini sudah jatuh ke tangan Perdana Menteri. Kau adalah pahlawan, dan ini ada sedikit hadiah untukmu dariku."


Zhang Yu menerima cincin penyimpanan dengan lambang Kekaisaran Xuan. Meski memiliki fungsi yang tak jauh berbeda dari cincin penyimpanan biasa tapi ini memiliki identitas Kekaisaran Xuan.


"Terima kasih Yang Mulia."

__ADS_1


Xuan Zou mengangguk. Setelah itu dia menyerahkan gulungan di tangannya sembari berkata, "Aku meminta tolong kepadamu, sampaikan gulungan ini kepada kepala akademi."


Zhang Yu menerima gulungan itu. "Gulungan ini pasti akan sampai ke tangan kepala akademi seperti harapan Yang Mulia."


"Aku percaya kepadamu."


Zhang Yu menyimpan gulungan itu ke dalam cincin penyimpanan. Dia berniat pamit pergi untuk kembali ke Akademi Kekaisaran, tapi perhatiannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah kalung yang ada di tangan Xuan Zou.


"Yang Mulia, jika boleh tahu apa kalung itu milik engkau?"


Secara spontan Xuan Zou mengangkat kalung di tangannya. "Ini ... Bukan. Aku menemukannya di ruangan ini. Kemungkinan milik Perdana Menteri."


Zhang Yu tertegun untuk beberapa saat. Perhatiannya masih tertuju pada kalung tersebut.


Xuan Zou menyadari tatapan dan ketertarikan Zhang Yu pada kalung tembaga berliontin hati di tangannya. Dia menyodorkannya ke hadapan Zhang Yu.


"Kau dapat mengambilnya jika menginginkan kalung ini."


Ah..


Zhang Yu tersentak keget. Tapi tak ragu untuk mengambilnya. "Terima kasih Yang Mulia!"


"Sama-sama. Tapi apa kau mengetahui sesuatu tentang kalung itu?"


"Tidak Yang Mulia. Hanya merasa kalung ini terlihat bagus dan menarik."


Xuan Zou hanya manggut-manggut mendengar jawaban Zhang Yu. Meski ragu dia tidak bertanya lebih dan memberikan kalung itu kepadanya.


Zhang Yu memperhatikan kalung itu lebih seksama. Sesekali melihat kalung yang menggantung di lehernya. Benar-benar sama persis!


Dia mulai berpikir dua kalung yang mirip ini sebenarnya berasal dari satu tempat yang sama. Tapi kalung ini ditemukan di ruangan Perdana Menteri Song Wejin. Apa mungkin dia juga berasal dari tempat ibunya berada?


"Zhang Yu, apa kau mau menginap satu malam lagi di istana? Aku akan menyiapkan perjamuan khusus untukmu malam ini."


Suara Xuan Zou menarik kembali kesadaran Zhang Yu dari pikirannya.


"Maaf Yang Mulia, tapi aku harus kembali ke akademi untuk melapor."


"Baik Yang Mulia!"


Setelah itu Zhang Yu benar-benar meninggalkan istana. Xuan Zou, Permaisuri Ling Qiao, Ratu Ju Qianchen dan Ratu Yu Wen ikut mengantar kepergiannya. Ketika punggung pemuda itu kian menjauh, mereka perlahan melangkah masuk kembali ke istana.


Namun baru beberapa langkah, suara derap langkah kaki kuda yang berirama membuat langkah mereka terhenti. Pengintai di atas benteng melambaikan bendera lalu berseru memberi informasi.


"Pangeran Kedua, Pangeran Ketiga, Pangeran Kelima dan Pangeran Keenam kembali!"


Seruan prajurit ini sontak membuat Ratu Ju Qianchen dan Ratu Yu Wen bersemangat.


"Mereka sudah kembali? Yang Mulia, putra-putramu sudah kembali!"


Xuan Zou tersenyum senang lalu segera memerintahkan penjaga untuk membuka gerbang lebih lebar. "Beri jalan untuk pangeran!" serunya.


Ling Qiao menjadi satu-satunya orang yang gelisah karena dari empat nama tidak satu pun muncul anak-anaknya. Tapi ....


"Pangeran Pertama, Pangeran Keempat dan Pangeran Ketujuh kembali!"


Baru setelah mendengar teriakan yang kedua Ling Qiao buru-buru melangkah keluar gerbang untuk menyambut ketiga anaknya.


"Akhirnya kalian semua kembali dengan selamat."


Seorang ibu pastinya akan sangat menyayangi anak-anaknya. Itulah yang ditunjukkan oleh ketiga wanita paruh baya ini ketika melihat tujuh pangeran kembali dari perbatasan.


"Ayah, Ibu Suri, Ibu Ratu, syukurlah kalian baik-baik saja." Xuan Yang, Pangeran Pertama menghadap paling awal.


"Kami segera kembali setelah mengetahui situasi di istana. Kami sungguh menyesal karena tidak menyadari ketidakberesan ini lebih cepat." Xuan Liang, Pangeran Kedua memberi salam dan berkata dengan sebuah tekad di matanya.


"Ini bukan salah kalian. Memang Perdana Menteri lah yang sangat licik dan tidak tahu malu!"


"Benar yang dikatakan Yang Mulia, Perdana Menteri sangat licik bahkan tak ragu menggunakan racun es dan api untuk melancarkan niatnya. Beruntung ada seorang pemuda yang datang lalu mengubah semuanya. Dia sangat berjasa karena telah menolong kami."


Mendengar Ling Qiao mengatakan tentang sosok pemuda, ketujuh pangeran mengernyitkan kening secara kompak.

__ADS_1


"Ibu Suri, siapa pemuda yang engkau maksud? Apa dia seorang prajurit istana?" tanya Xuan San, Pangeran Ketiga.


"Dia bukan prajurit istana. Dia adalah murid Akademi Kekaisaran yang datang ke istana untuk mengantar plakat dan stempel kekaisaran," jelas Xuan Zou atas pertanyaan putranya.


Tapi ini semakin membuat mereka penasaran dan kembali bertanya. "Jika boleh tahu, siapa nama pemuda itu, Ayah Kaisar?" tanya Xuan Si, Pangeran Keempat.


"Namanya adalah Zhang Yu."


"..."


Keenam pangeran mengangguk setelah mendengar nama pemuda yang dimaksud. Tapi Xuan Yin, dia tersedak begitu ayahnya menyebut nama yang familiar.


"A-Ayah Kaisar, apa namanya benar-benar Zhang Yu?"


Pertanyaan Xuan Yin membuat semua mata menatap ke arahnya.


"Ya benar. Namanya adalah Zhang Yu," jawab Ling Qiao heran melihat sikap "putranya" satu ini.


Xuan Wu di samping Xuan Yin mengelus dagu dan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia menyenggol bahu Xuan Yin lalu bicara dengan suara pelan. "Saudara Ketujuh, bukankah nama pemuda Klan Zhang waktu itu juga Zhang Yu? Apa jangan-jangan ...."


Tubuh Xuan Yin mendadak tegang. Tidak dipungkiri dia juga berpikir Zhang Yu ini sama dengan Zhang Yu yang ada di Kota Qian Gu. Pria tidak tahu malu yang selalu membuat dirinya sial.


"Karena kalian sudah di sini, ayo kita masuk ke dalam. Kalian tidak perlu memikirkan tentang pemuda itu lagi, kalian bisa bertemu dengannya ketika kembali ke akademi." Ling Qiao melambaikan tangan penuh kasih, lalu mengajak mereka masuk.


...


Sementara itu. Setelah tugasnya selesai Zhang Yu memutuskan meninggalkan istana. Dia baru berhenti ketika memasuki wilayah Desa Ne dan mengeluarkan kalung tembaga yang sangat mirip dengan kaoung peninggalan ibunya.


Di depan Kaisar dia tak leluasa memandang kalung itu. Sekarang tidak ada siapapun selain dirinya dan ia dapat memperhatikannya lebih cermat.


Akan tetapi tepat pada saat ini seseorang yang tidak asing melesat melewatinya.


"Tang Yue?"


Tidak mungkin salah, Zhang Yu sangat yakin jika yang baru saja melintas di depannya adalah Tang Yue.


"Kenapa dia berlari seperti itu? Apa ada yang mengejarnya?" Baru juga Zhang Yu berkata, seorang pria melesat ke arah yang sama dengan Tang Yue. Melihat kejadian ini, bertahap secara pasti wajah Zhang Yu berubah menjadi serius.


"Apa dia berada dalam masalah?" Tidak membuang lebih banyak waktu, Zhang Yu melesat mengejar pria yang mengejar Tang Yue.


Tentu saja, pria itu yang menyadari seseorang mengejarnya dengan segera menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya pria itu dengan wajah tidak senang. Akan tetapi raut wajahnya dengan segera berubah ketika menyadari sosok di depannya.


"Kau?!"


Tidak berbeda dengan pria itu, Zhang Yu juga terkejut setelah melihat lebih jelas siapa sosok pria tersebut. "Xu Ciang," gumamnya pelan tanpa bisa didengar oleh siapapun kecuali dirinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Zhang Yu tetap bergeming. "Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Apa yang kau lakukan?"


Cuih!


"Tidak ada urusannya denganmu. Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan ikut campur urusanku." Xu Ciang mencoba mengusir Zhang Yu.


Tapi pada saat ini Tang Yue muncul tepat di samping Zhang Yu. "Zhang Yu, dia berniat jahat padaku. Dia berniat melecehkanku."


Zhang Yu melirik ke samping dengan sekilas, lalu menatap Xu Ciang. Sementara Xu Ciang yang mendengar perkataan Tang Yue dengan segera menunjukkan kebenciannya. "Sebaiknya kau tidak ikut campur dalam masalahku."


Zhang Yu menggelengkan kepala. "Kau melakukan hal yang tercela terhadap murid akademi, ini tentu saja menjadi masalahku. Aku tidak akan membiarkan kau bertindak sesuka hati di sini."


Wajah Xu Ciang memerah kelam. "Apa kau berlagak menjadi pahlawan?"


"Terserah kau menganggapku apa, tapi jika kau ingin melakukan sesuatu, hadapi aku terlebih dahulu."


Melihat Zhang Yu mulai serius, ada perasaan was-was di hati Xu Ciang. Dia tak lupa beberapa hari yang lalu dipukul sampai pingsan. Tapi sekarang di sini, apa dia akan lari seperti seorang pecundang?


Bah!


Xu Ciang kembali melempar ludahnya ke samping. Dia mengeluarkan pedang dan dengan segera mengalirinya dengan Qi. "Jangan kau pikir aku takut denganmu!"

__ADS_1


__ADS_2