
Zhang Yu sampai di rumahnya. Tampak Zhang Bing dengan kursi roda berada di ambang pintu seolah menunggu kedatangan seseorang.
"Xiao Yu, kebetulan kau sudah pulang. Cepat lihat apa yang terjadi pada kera kecil. Dia tak sadarkan diri. Bibi takut dia telah ...." Zhang Bing tak melanjutkan kalimatnya. Tangan menunjuk ke ruangan Zhang Yu memberitahu lokasi Sun sekarang.
Wajah Zhang Yu menjadi serius mendengar kalimat bibinya.
Apa yang terjadi pada Sun? Bukankah dia dalam fase kultivasi?
Dia ingin bertanya, tapi secara tak sadar tubuhnya telah melesat masuk menuju ruangannya.
Namun ketika sampai di sana, bukan melihat keadaan Sun yang tergeletak tak sadarkan diri, melainkan sedang berayun di tirai jendela.
Zhang Yu terbentang di tempat. Zhang Bing yang baru saja sampai memperlihatkan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Xiao Yu, bibi tak bohong padamu. Kera kecil sebelumnya tak sadarkan diri. Bahkan aku menggerakkan ekornya dengan sapu masih tidak bisa membuatnya bangun." Zhang Bing mengalihkan pandangannya pada Sun si kera kecil. Padahal sebelumnya masih terbaring dan nafasnya sangat lemah. Tapi sekarang sudah bergelayut seperti dirasuki setan.
Kera ini, apa dia sengaja mempermainkan orang?!
Zhang Yu mendorong kursi roda bibinya masuk ke dalam ruangan. Sun yang melihat kedatangan Zhang Yu langsung melompat ke pundaknya.
Cit...
"Aku tahu kau tidak berbohong Bibi. Sun juga tidak menipumu. Lihat dia sekarang, dia berada di puncak tingkat pertama. Mungkin tak lama akan menjadi binatang spiritual tingkat kedua."
Cit... Cit...
Kera kecil itu seperti tahu Zhang Yu sedang membicarakannya. Dia melompat girang sambil mengangkat tangan.
"Ya, sepertinya kau benar. Dia baik-baik saja sekarang. Benar-benar membuat orang panik saja," dengus Zhang Bing di akhir kalimatnya.
Zhang Yu terkekeh geli. Namun di sisi lain dia jadi penasaran dengan Sun. Kera kecil ini lahir dari sebuah kantong transparan seperti telur, padahal dalam kodratnya itu jelas tidak sesuai.
Tentu saja ada terlalu banyak hal di luar nalar di alam semesta. Jadi mungkin saja kera berbulu perak dengan mata merah secerah delima ini adalah salah satunya.
...
Sementara di gua tambang. Setelah mengintai dari kejauhan dan memastikan tidak ada pengawasan dari klan, Zhang Xu dan putranya, Zhang Feng, berjalan mengendap-endap untuk menyelinap.
Mereka masuk ke bangunan tempat pemurnian dan melihat bagaimana para ahli ekstraksi memurnikan kristal mentah menjadi sumber daya berharga.
"Ayah, aku yakin kristal-kristal itu dapat dijual dengan harga mahal. Andai tambang ini berada di bawah kendali kita, keuntungan masa depan sungguh tidak dapat dibayangkan."
__ADS_1
Zhang Xu melirik putranya dan mengangguk. "Kau benar, dan ayah mungkin tahu bagaimana cara untuk menguasai tambang ini."
"Apa kau tak bercanda, Ayah?"
Zhang Xu tersenyum misterius. Tangannya menunjuk ke salah satu sudut ruangan, tepatnya pada sosok pria tua gemuk yang duduk di kursi.
"Bukankah dia Kasim Du? Dia adalah orang kepercayaan Tuan Besar He."
"Kau benar. Dia adalah orang kepercayaan Tuan Besar He. Dia juga penanggung jawab resmi pengelolaan tambang dari Keluarga He," kata Zhang Xu.
Namun Zhang Feng masih tidak mengerti maksud ayahnya.
Memangnya kenapa jika Kasim Du penanggung jawab resmi? Apa itu akan menguntungkan mereka?
"Untuk menguasai tambang ini kita hanya perlu menjalin hubungan khusus dengan Kasim Du. Kita harus mendekatinya, sebisa mungkin memberi kesan yang baik kepadanya. Dengan begitu kita akan mendapat manfaat."
Saat mendengar penjelasan ini, Zhang Feng tak bisa untuk tidak memuji kepintaran ayahnya. "Ide yang cemerlang Ayah. Dengan Kasim Du ada di pihak kita, bahkan jika patriark ingin menentang pun tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Sepasang ayah dan anak itu tertawa dalam diam dan melakukan tos. Mereka begitu bangga dengan rencana itu dan berpikir kejayaan telah ada dalam genggaman. Namun sayang sekali mereka menetapkan target yang keliru.
...
Malam harinya. Zhang Yu mendapat tugas dari patriark untuk melihat bagaimana keadaan tambang.
"Siapa yang mengira sumber daya sebanyak ini berasal dari tanah Klan Zhang." Zhang Yu mulai menghitung berapa banyak yang didapatkan hari ini.
Meski masih satu hari pertama tapi hasil tambang cukup memuaskan. Tidak bisa membayangkan hasil yang diperoleh setelah satu bulan, atau bahkan satu tahun ke depan.
Dan karena perbandingan lima puluh persen untuk Klan Zhang, nantinya empat puluh persen untuk klan dan sepuluh persen untuk dijual.
Sepuluh persen bukan jumlah yang sedikit, Zhang Yu yakin itu dapat menopang ekonomi klan dalam beberapa tahun ke depan.
"Tuan Muda Zhang Yu, apa kau sudah lama berada di sini?"
Zhang Yu membalikkan badan, menemukan sosok pria setengah baya berpakaian biru. "Tidak. Aku baru saja sampai."
Pria setengah baya ini bernama Shu Xiao. Dia adalah kaki tangan Du Xiong dan menjadi penanggung jawab kedua dalam proyek kerjasama ini.
"Apa kau datang untuk mencari Kasim Du?" tanya Shu Xiao lagi.
Zhang Yu bahkan baru sadar jika paman gendut tidak terlihat batang hidungnya. Seharusnya pria tua itu berada di dekat pintu masuk, atau juga sedang di tempat penyimpanan. Tapi dia benar-benar tidak ada.
__ADS_1
"Apa dia pergi ke tambang?"
"Sebelumnya Tetua Zhang Xu datang dengan putranya. Dia mengajak Kasim Du keluar. Seharusnya sudah kembali karena itu sudah cukup lama. Tapi sampai sekarang Kasim Du belum kembali."
Kening Zhang Yu mengerut mendengar nama Zhang Xu. Pria tua itu, apa dia sudah tidak bisa menahan diri untuk berulah? Apa yang dia rencanakan sekarang?
Sejak sikapnya yang aneh karena menolak hadir dalam acara ulang tahun, lalu berita kematian, dan aspirasinya untuk mendapatkan kursi patriark, Zhang Yu benar-benar menaruh perhatiannya pria tua itu.
Bukan hanya dirinya, bahkan Zhang Lei pun telah curiga dan pada saat itu hampir lepas kendali. Beruntung Zhang Yu menarik perhatian dan memberi tanda diam-diam sehingga dapat mengendalikan diri kembali.
Saat ini mereka memiliki satu tujuan yang sama. Membuka wajah asli Zhang Xu di hadapan orang-orang klan dan menjatuhkan reputasinya.
"Apa yang kalian bicarakan di sini. Sepertinya sangat serius." Suara nyaring datang dari arah samping. Du Xiong, berdiri sambil berkacak pinggang seperti orang yang tak punya beban.
"Tuan Muda Zhang Yu, karena Kasim Du sudah di sini, aku pamit dulu untuk melakukan beberapa pemeriksaan." Shu Xiao memberi salam lalu pergi.
Du Xiong menyipitkan mata bingung. Menatap Shu Xiao yang melewatinya begitu saja. Sejurus kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Zhang Yu. "Ada apa ini? Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak ada rahasia." Zhang Yu melompat ke tempat Du Xiong dan mengajaknya meninggalkan tempat penyimpanan. "Paman Gendut, apa yang mereka bicarakan denganmu?"
Kata 'mereka' ini sedikit membingungkan di telinga Du Xiong. Butuh beberapa waktu buat dia memahami pertanyaan tersebut.
Huh...
"Kenapa kau tidak sebut saja, tetua pertama klanmu dan putranya?"
Zhang Yu mengangguk sambil tersenyum. "Ya, apa yang mereka lakukan?"
Du Xiong memperhatikan Zhang Yu sepertinya sangat tidak menyukai Zhang Xu dan putranya.
"Mereka datang hanya mengajakku makan dan minum arak. Tidak ada hal lain."
Tidak ada hal lain?
Ini sangat mencurigakan. Mereka bukan tipe orang yang baik pada semua orang. Sikap ramah ini pasti memiliki tujuan.
Zhang Yu memandang Du Xiong dengan serius lalu berpesan padanya. "Paman Gendut, jika mereka datang dan menemuimu lagi ...."
"Apa aku perlu menolaknya?" tanya Du Xiong menyela kalimat Zhang Yu
Tapi Zhang Yu segera membantahnya. "Tidak. Kau jangan menolaknya. Terima saja dan ikuti kemauan mereka. Tapi jangan lupa beritahu aku semua hal yang mereka sampaikan kepadamu."
__ADS_1
"Kau memintaku jadi mata-mata? Tidak buruk, tidak buruk."
"Kau bisa menganggapnya seperti itu."