Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 198 : Bahaya di Depan Mata


__ADS_3

Saat ini Xuan Yin sedang dalam misi pengawalan. Dia dan kedua saudaranya mengawal sebuah keluarga saudagar yang berniat pergi ke wilayah perbatasan bagian selatan.


Mereka mengenakan penutup wajah sehingga keluarga saudagar itu pun tidak tahu jika yang mengawal mereka adalah tiga pangaran yang sedang dalam perjalanan tugas memeriksa wilayah perbatasan.


"Ayah, kenapa kereta kuda berjalan sangat lambat? Jika terus seperti ini kita akan terjebak badai saat malam datang." Fang Liusha, putri Saudagar Fang mengipaskan tangannya berharap dapat menghilangkan rasa pengap di dalam kereta. Tapi apa mau dikata, gurun tetaplah gurun. Panas di saat siang, dingin di saat malam.


"Liusha, jika menambah kecepatan khawatirnya akan terjadi masalah pada kereta yang membawa barang. Bagaimana jika barangnya rusak, keluarga kita akan mengalami kerugian."


Fang Liusha hanya mengerucutkan bibirnya lalu membuka jendela bagian samping. Matanya beralih pada Xuan Yin yang berada di belakang, tepat di samping kereta kuda terakhir. "Hei, kau. Cepat kemari."


Xuan Yin menoleh ke belakang dan memastikan jika memang dirinya yang dimaksud.


"Cepat ke sini," Fang Li Sha melambaikan tangan dan sedikit mengeluarkan kepalanya layaknya seorang penguntit. Gadis kecil itu benar-benar tidak tahu siapa yang coba dipanggil.


"Liusha, apa yang akan kau lakukan? Jangan mencari masalah." Fang Ja khawatir putrinya kembali berdebat dan membuat konsentrasi pengawalan terganggu. Akan sangat berbahaya jika sesuatu datang tiba-tiba.


Fang Liusha hanya menggembungkan pipinya, "Karena tidak bisa mempercepat keretanya, aku akan menunggang kuda. Di sini terlalu pengap, aku akan pingsan jika tidak keluar."


"Liusha, kau tidak bisa menunggang kuda. Bagaimana kau melakukannya?"


"Ayah tidak melarangnya, berarti aku dapat melakukannya. Untuk bagaimana caranya ayah tidak perlu khawatir." Tepat setelah itu Xuan Yin telah menyetarakan posisinya dengan kereta kuda penumpang.


"Ada dia, aku akan menunggang kuda bersamanya."


Hem?


Xuan Yin menyipitkan mata mendengar perkataan Fang Liusha. Bahkan sebelum ia memberi persetujuan, gadis muda berusia lima belas tahun itu melompat dari kereta kuda.


"Kau mundur sedikit, sisakan tempat untukku."


Xuan Yin sungguh harus mengendalikan kuda dengan baik. Hampir saja mereka terjungkal bersama karena Fang Liusha yang datang tak terduga.


Sementara Fang Ja hanya menepuk kening dan menghela nafas secara kasar.


Haih


"Anak ini ... Dia bertindak sesukanya."


Setelah naik ke atas kuda yang juga ditunggangi oleh Xuan Yin, Fang Liusha memukulkan kakinya ke perut kuda hingga kuda berlari semakin kencang meninggalkan rombongan kereta.


Fang Ja memperingati Fang Liusha untuk kembali, tapi kuda sudah semakin jauh dan jarak pandang terhalang oleh kereta kuda di depan.


"Hahahaha... Ini sangat menyenangkan." Fang Liusha memutar kepalanya dan melihat kereta kuda tertinggal jauh di belakang.


"Percepat lagi, ayo percepat."


Bukannya mengikuti ucapan Fang Liusha, Xuan Yin malah menarik tali kuda dan kuda pun bertahap menurunkan kecepatan.


Fang Liusha mengernyitkan keningnya, "Apa yang kau lakukan?"


"Seharusnya aku yang bertanya kau kenapa? Naik seenaknya dan membuat kuda terkejut. Jika aku tidak mengendalikannya dengan baik kita akan terjatuh." Xuan Yin tidak peduli dengan tatapan gadis itu yang tajam, mengabaikan kata yang keluar dari mulut kecilnya.

__ADS_1


Tapi semakin dibiarkan, Fang Liusha bukannya takut malah semakin keterlaluan dan tak jarang memakinya.


Xuan Yin berusaha dengan kuat untuk tenang, tapi sepertinya dia gagal.


"Diamlah! Apa kau tidak bisa diam? Kau membuat telingaku sakit."


"..."


Xuan Yin merajut alisnya karena tiba-tiba Fang Liusha berhenti bicara. Dia melihat gadis yang duduk di depannya menahan mulutnya dan tubuhnya bergetar.


"Sekarang apa?" Xuan Yin menghela nafas.


"Ka-kau membentak ku ...." Mata gadis muda itu mulai berkaca-kaca. Kemudian suara nyaring diiringi dengan butiran air mata membuat Xuan Yin langsung membekap telinga.


Lagi dan lagi Xuan Yin harus menghela nafas. Dia pun menghirup nafas panjang untuk menyegarkan pikirannya.


"Baiklah baiklah, aku akan memacu kuda ini secepat mungkin. Berhenti menangis dan membuat keributan." Entah apa yang dilakukan Fang Liusha, dia mungkin terlalu dimanjakan sehingga sikapnya begitu semaunya. Bahkan Xuan Yin hanya sedikit meninggikan suara dan gadis lima belas tahun itu menangis dengan keras.


Kuda dipacu lebih cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Fang Liusha tidak lagi merengek dan membentangkan tangannya selebar mungkin. Tapi, semakin lama kuda berlari semakin kencang. Hal ini sangat menakutkan dan Fang Liusha meminta Xuan Yin untuk mengurangi kecepatan.


"Lebih pelan, lebih pelan. Kita akan jatuh." Fang Liu Sha mencengkaram lengan Xuan Yin dan memohon.


Mau tak mau Xuan Yin mengurangi kecepatan dan berjalan normal. "Aku tak tahu kau bisa takut juga," kekehnya dengan sedikit menyindir.


Fang Liusha mendengus. "Tidak ada gadis lima belas tahun yang tidak takut menunggu kuda dengan kecepatan seperti itu."


Xuan Yin memutar mata sekilas, lalu memandang ke belakang. Dia mengingat saat dirinya berusia sama dengan Fang Liusha. Dia bahkan sudah menunggangi kuda seorang diri dengan kecepatan lebih tinggi.


Jika dipikir, hidupnya ternyata memang lebih seperti laki-laki.


Xuan Yin menyipitkan mata mendengar pertanyaan ini.


Hem...


"Menurutmu ini salah siapa?"


Fang Liusha menekuk wajahnya. Tapi tidak bisa memutar balikkan fakta jika memang dirinya yang menjadi penyebab terjadinya masalah ini.


"Sebaiknya kita berjalan pelan, sambil menunggu rombongan kereta mendekat." Kali ini Fang Liusha tidak berkomentar apapun, dia seolah berubah menjadi gadis penurut.


Waktu berlalu, matahari kian naik dan terik. Fang Liusha tidak bisa untuk tidak mengeluh. Sambil menaruh tangan menghalangi sinar matahari dia memandang ke belakang. "Kenapa belum terlihat? Apa kita terlalu jauh?"


Xuan Yin juga memiliki pertanyaan yang sama. Seharusnya dalam waktu ini mereka telah bertemu dengan rombongan kereta kuda, tapi sampai saat ini tidak tampak satu titik pun di antara hamparan pasir putih.


Apa sesuatu telah terjadi?


Tiba-tiba saja Xuan Yin mendapat prasangka buruk, dia dengan terburu-buru menghentikan kuda dan berbalik memutar tubuhnya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Tentu saja kita harus kembali. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebaiknya memeriksa secara langsung." Xuan Yin dengan segera memacu kudanya melesat dengan kecepatan tinggi. Pasir terhempas tinggi dan luapan debu terbang layaknya ekor.

__ADS_1


"Tidak bisakah kita lebih pelan?"


"Tidak. Sebaiknya kau berpegangan dengan erat."


Fang Liusha sangat ketakutan dan mencengkeram lengan Xuan Yin dengan erat. Dia bahkan memejamkan mata berharap tak melihat betapa cepat kuda bergerak. Tapi, deru angin yang menghantam tubuhnya tidak bisa berbohong dan membuat tangannya sedikit dingin.


"Itu mereka!" Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, Xuan Yin dan Fang Li Sha melihat rombongan kereta kuda dari kejauhan.


Xuan Yin sedikit menahan laju kuda sehingga Fang Liusha mulai berani mengangkat wajahnya. Tapi ekspresinya menjadi buruk ketika melihat sekelompok orang menunggang serigala mengepung kereta kuda dari segala sisi. Sebagian dari mereka telah turun tangan dan menyerang kusir juga Xuan San, Lei Yang dan Lei Jun.


"Ayah? Bagaimana dengan ayah?" Tak melihat keberadaan sang ayah, Fang Liusha tidak menahan rasa cemasnya.


"Tenanglah, kau tunggu di sini. Aku akan membantu mereka." Xuan Yin menenangkan gadis lima belas tahun itu dan memintanya tak beranjak dari atas kuda sementara dirinya melompat sembari menarik pedang di balik punggungnya.


Di waktu yang sama.


"Kakak Ketiga, apa kau melihat Saudara Ketujuh? Kenapa aku tidak melihatnya?" Xuan Wu mencari keberadaan Xuan Yin, tapi ia tidak melihat sosok yang dicarinya.


"Aku tidak melihat sejak beberapa waktu lalu. Tidak berpikir dia benar-benar tidak berada di sini."


"Kemana dia pergi?" gumam Xuan San pelan.


"Apa yang kalian bisikkan? Sebaiknya kalian menyerah saja dan tinggalkan semua di sini." Salah satu pria yang menunggang serigala tertawa sinis.


Xuan San melirik sepuluh orang di sampingnya. Mereka adalah kusir kuda yang juga merupakan pengawal Saudagar Fang.


"Ini akan menjadi pertarungan yang sulit." Xuan San menghitung setidaknya ada lima belas bandit, kemudian lima belas serigala yang tampak juga memiliki kemampuan yang tak bisa diremehkan.


Tetapi pada akhirnya mereka semua kalah di tangan mereka. Xuan yin yang ingin turun tangan pun tak jadi dan hanya memacu kuda mendekat.


"Saudara Ketujuh, kau dari mana saja?" tanya Xuan Wu.


"Aku ...."


"Ayah!"


Fang Liusha turun dan berlari menghampiri kereta kuda. Dia memeluk ayahnya dengan merasa bersalah.


Xuan Yin yang melihat ini kembali menutup bibirnya, dia mengubah raut wajahnya kembali lebih dingin. "Karena kelompok bandit sudah diatasi, sebaiknya kita cepat karena badai mungkin akan datang."


Ck ck ck ....


Xuan Wu menghela nafas. "Dasar. Apa dia hanya bersikap hangat pada Zhang Yu? Aneh sekali," keluhnya.


Pada saat itu setelah kereta kuda kembali berjalan. Beberapa orang berpakaian hitam muncul laku menatap kelompok bandit yang tidak berguna.


"Dasar bodoh!" dengusnya, kemudian beralih pada tiga sosok yang menunggang kuda jauh di depan sana.


"Informasi yang kau dapatkan benar-benar akurat. Aku curiga kau mempunyai mata-mata di dalam akademi, Perdana Menteri!"


Pria berjubah hitam yang mengenakan caping perlahan menurunkan caping lalu tertawa menanggapi ucapan pria di sebelahnya. "Ingat perjanjian kita. Aku bantu kalian mendapatkan teknik pengendali jiwa dan putri ketujuh. Sementara kalian membantuku merebut kekuasaan Istana Kekaisaran."

__ADS_1


Gao Fengshui, pemimpin fraksi singa Istana Roh tertawa sambil menganggukkan kepala. "Tentu saja. Setelah mendapat teknik pengendali jiwa, aku akan mengumpulkan seluruh binatang spiritual untuk menyerang istana. Sampai saat itu, bukankah keinginanmu akan terwujud?"


Song Wejin menganggukkan kepala dengan antusias. "Benar-benar. Itu benar sekali."


__ADS_2