
Keputusan telah diambil. Empat orang telah sepakat menjadi kelompok dalam misi memberantas komplotan bandit di Desa Sura.
Masing-masing kembali ke kediaman untuk menyiapkan perbekalan. Mereka akan berkumpul satu jam lagi di gerbang keluar.
Namun alih-alih menyiapkan sesuatu, Zhang Yu berbaring di kasur dengan santai. Dia melihat bagaimana Wu Zetian sangat serius menyiapkan barang-barangnya. Padahal itu juga belum tahu akan berguna atau tidak.
"Zhang Yu, apa menurutmu kita perlu membawa makanan?" tanya Wu Zetian yang kini berjongkok di depan lemari persediaan makanan.
"Itu terserah kau. Lebih baik simpan beberapa paket dalam cincin penyimpanan untuk berjaga-jaga."
Wu Zetian mengelus dagunya dengan serius, lalu menganggukkan kepala. "Kau benar. Akan sangat merepotkan jika dalam perjalanan tiba-tiba lapar dan tak menemukan rumah makan."
Zhang Yu tak melanjutkan percakapan ini. Dia menarik tubuhnya untuk bangkit berniat keluar. Akan tetapi tepat pada saat ini, datang sebuah pesan suara dari gurunya.
"Zhang Yu, apa yang sedang kau lakukan?"
Sejenak Zhang Yu termenung. "Aku tidak sedang melakukan apapun, Guru."
"Bagus jika begitu. Sekarang kau ke sini, temui aku."
Zhang Yu kembali terdiam. Dia melirik Wu Zetian yang masih fokus dengan paket makanan di lemari persediaan.
Gurunya yang kemarin tiba-tiba menghilang tanpa kabar hingga membuatnya berpikir macam-macam akhirnya sekarang menghubunginya dan memintanya datang.
"Baik Guru, aku segera datang. Tapi ... Kau ada di mana sekarang?" Zhang Yu menghentikan langkah kakinya mengingat tidak tahu di mana gurunya sekarang.
Guru menjawab, "Datang saja ke wilayah pelataran dalam. Setelah itu aku akan membimbingmu perlahan."
Setelah itu Zhang Yu bersiap pergi. Wu Zetian yang menyadari gelagat Zhang Yu segera bertanya kepadanya. "Kau akan pergi kemana?"
"Aku ada urusan sebentar. Kau berkumpul saja terlebih dahulu, aku akan menyusul." Tak lupa Zhang Yu menyerahkan gulungan misi lalu pergi begitu cepat tanpa membiarkan Wu Zetian bereaksi.
Wu Zetian terlihat bingung, detik berikutnya dia bersungut-sungut kesal. "Keterlaluan! Tidak bisakah dia mengatakan kemana dirinya pergi? Sebentar lagi kita harus berkumpul di gerbang."
Di saat Wu Zetian masih mengomel, Zhang Yu melesat dengan cepat menuju wilayah pelataran dalam.
Ketika berada di perbatasan wilayah antara pelataran dalam dan luar dia bingung harus mengambil arah mana. Pada saat itu suara guru kembali terdengar.
"Tiga puluh derajat sebelah kanan. Maju terus sampai ...."
__ADS_1
Zhang Yu tak menunggu lebih lama langsung mengikuti arahan guru. Sambil bergerak terus melihat mencari petunjuk yang dimaksud.
Beberapa waktu kemudian dia sampai di depan sebuah kediaman besar. Bahkan bisa dikatakan itu adalah kediaman paling besar yang pernah ia lihat sepanjang perjalanannya menuju ke tempat ini.
"Guru, aku sudah di depan. Apa kau ada di dalam kediaman ini?" tanya Zhang Yu.
"Benar. Masuklah lewat belakang dan temui aku di sana."
Zhang Yu sedikit tidak mengerti kenapa gurunya meminta untuk masuk lewat belakang. Apa kediaman besar ini bukan tempat tinggalnya?
Setelah memikirkannya beberapa waktu, Zhang Yu merasa ini sama sekali tidak penting. Jadi lebih baik segera menemuinya lewat belakang.
Akan tetapi sesampainya di halaman belakang Zhang Yu tidak dapat menemukan siapapun di sana. Hanya tampak sebuah gazebo di tengah taman bunga.
"Guru, kau di mana?"
"Aku di belakangmu."
Ha?!
Zhang Yu langsung membalikkan badan begitu mendengar suara guru di belakang. Benar saja, sosok tua rambut putih berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Guru?! Sejak kapan kau ada di belakangku?" Zhang Yu sangat yakin dia tidak melihat gurunya di sekitar. Juga tidak bisa merasakan keberadaannya. Tapi tiba-tiba guru sudah berada di belakangnya. Ini terlalu mengejutkan!
Mereka berjalan ke sana bersama. Zhang Yu terus memandang dan menelisik gurunya yang terlihat istimewa. Dia mencoba menyimpulkan identitas gurunya.
Namun sebaik apapun ia memikirkannya, ia tetap tidak bisa menebak posisi guru di Akademi Kekaisaran.
"Guru, apa kau tidak terkejut saat aku datang ke akademi mencarimu?"
"Terkejut? Aku sudah meninggalkan petunjuk untukmu. Tapi kau masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk datang ke sini. Agak mengecewakan."
Egh...
Zhang Yu kehilangan kata-kata mendengar ucapan guru. Tapi ada sedikit masalah di klan yang membuatnya harus menahan rencana kepergiannya.
"Satu-satunya yang membuatku terkejut adalah pencapaianmu di panggung naga. Kau bisa mencapai panggung kelima saat pertama kali mencoba. Aku harus mengakuinya itu sungguh mengejutkan."
Zhang Yu menggaruk tengkuk kepala dengan senyum canggung. Sejurus kemudian dia berkata setelah berdehem satu kali dengan suara nyaring.
__ADS_1
"Ehem... Guru, bagaimana dengan kesepakatannya?"
"Kesepakatan apa?" Guru menuang teh yang sudah ada di meja lalu meminumnya perlahan.
Kening Zhang Yu mengerut melihat guru berpura-pura melupakan tentang kesepakatan mereka. Namun ia tidak akan menyerah.
"Guru berjanji untuk memenuhi satu permintaanku ketika berhasil mencapai panggung kelima dan masuk dalam daftar seratus besar. Apa Guru berniat menarik kata-kata sendiri?"
Ckckck...
Setelah berdecak guru meletakkan cawan teh di atas meja. "Kau ini sangat tidak sabaran ...."
"Maaf mengganggu waktumu, Kepala Akademi." Belum juga kalimatnya berakhir, seorang pria tua mendekat ke tempat mereka.
Tetua Xin Fei!
Zhang Yu mengenali pria tua ini. Tak lain adalah tiga tetua tertinggi pelataran luar.
Ternyata bukan hanya Zhang Yu yang mengenali Tetua Xin Fei, tapi juga sebaliknya. Tetua Xin Fei beberapa saat tertegun begitu melihat Zhang Yu. Namun dia menjaga ekspresi wajahnya dan berusaha tetap tenang.
"Tetua Xin Fei, ada apa?"
Tetua Xin Fei menarik nafas agak dalam. "Aku datang untuk menyerahkan daftar murid baru. Mohon Kepala Akademi memeriksanya dengan jelas."
Saat menyerahkan lembaran kertas itu tatapan mata Tetua Xin Fei tak henti-hentinya memperhatikan Zhang Yu. Dia masih penasaran apa yang dilakukan murid baru di sini. Apa dia melakukan satu kesalahan sehingga Kepala Akademi memintanya datang untuk mendapatkan hukuman?
"Tetua Xin Fei, aku sudah menerima laporannya. Kau boleh pergi sekarang."
"Baik, Kepala Akademi."
Bahkan ketika sudah berjalan menjauh, Tetua Xin Fei masih berusaha melirik dengan skor matanya ke tempat Zhang Yu.
Namun Zhang Yu tidak menyadarinya. Dia salah fokus dengan panggilan Tetua Xin Fei terhadap gurunya.
Kepala Akademi? Apa aku tidak salah dengar?
Sekali mendengar ia berpikir ada yang salah dengan telinganya. Akan tetapi panggilan kedua dan ketiga meyakinkan dirinya jika telinganya mendengar dengan benar.
Ternyata gurunya ini bukan satu dari lima gurunya besar sesuai perkiraan awalnya. Melainkan adalah kepala akademi yang memiliki posisi tertinggi di Akademi Kekaisaran.
__ADS_1
Zhang Yu sedikit sulit menerima kenyataan ini. Tapi tidak dipungkiri ada perasaan yang tak bisa diungkapkan setelah mengetahui fakta kebenarannya.
Gurunya tak lain adalah Kepala Akademi Kekaisaran!