
Sehari setelah kembalinya Zhang Yu dan Xiao Nie, klan Xiao mengadakan perayaan besar dengan mengundang semua anggota klan.
Ini adalah hari bahagia karena bukan hanya Xiao Nie dan Zhang Yu yang kembali, tapi juga keberadaan calon bayi yang sedang di kandung Xuan Yin.
Beberapa bulan ini tidak ada yang berani mengadakan perayaan karena suasana yang tidak mendukung. Sekarang adalah momen yang tepat untuk membayar semua waktu yang telah berlalu.
Tak lupa juga Xiao Nie memperkenalkan Song Yixue pada semua orang. Meski awalnya sebagian orang menatap dengan heran sosok gadis itu karena memiliki rambut berwarna merah, tapi tak butuh waktu lama bagi mereka menyambut kehadirannya.
Tentu hal itu membuat Song Yixue sangat bahagia. Dia sama sekali tidak menyesal mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tanah kelahirannya.
"Istriku, di mana Zhang Yu dan Xuan Yin?" tanya Zhang Long seraya mencari ke penjuru aula.
Namun dia tak bisa menemukan keberadaan putra serta menantunya. Padahal mereka berdua termasuk tokoh utama dalam perayaan ini. Entah kemana mereka pergi saat ini.
Xiao Mei mengedikkan bahu. "Biarkan saja. Mereka berdua pasti sekarang sedang berduaan di suatu tempat. Jangan mengganggu urusan anak muda," ucapnya.
Zhang Long akan mengatakan sesuatu. Tetapi pada akhirnya dia menelan kembali kalimatnya dan memilih duduk di tempat duduknya.
Sementara itu di kediaman, Zhang Yu segera mengunci kamar setelah mengajak istrinya masuk ke dalam.
"Kenapa menguncinya?" tanya Xuan Yin.
Namun Zhang Yu tidak mengatakan apapun selain menarik tangan Xuan Yin ke arah tempat tidur.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Xuan Yin lagi yang mulai curiga.
Kali ini Zhang Yu tersenyum. "Yin'er, apa kau merindukanku?"
Xuan Yin terdiam. Nafasnya tercekat saat Zhang Yu tiba-tiba menghembuskan nafas di telinganya. "A-apa ini tidak masalah? Aku sedikit khawatir," ucap Xuan Yin lirih.
"Tidak akan jadi masalah. Aku akan berhati-hati,"
Dengan ragu Xuan Yin menganggukkan kepala. "Baiklah jika begitu,"
Zhang Yu merasakan darah di tubuhnya benar-benar mendidih. Dia tak sabar menerkam istrinya yang sudah berbaring di tempat tidur. Namun, ketika akan melancarkan aksinya, dia mengingat sesuatu yang membuatnya terdiam.
"..."
"Ke-kenapa?" tanya Xuan Yin menatap Zhang Yu yang diam.
Zhang Yu segera mengulurkan tangan membelai wajah Xuan Yin. "Tidak apa-apa. Aku akan memulainya."
__ADS_1
Tepat ketika pasangan suami istri ini bermesraan, di dalam gelang naga Long Shen berteriak marah karena terjebak tak bisa keluar.
"Zhang Yu! Hei, Zhang Yu! Kau tak bisa melakukan ini padaku! Buka pembatasnya sekarang juga!"
Namun suara Long Shen tidak terdengar oleh Zhang Yu katena pembatas gelang yang diaktifkan Zhang Yu.
"Keterlaluan! Dia enak-enakan di luar sedang aku terkurung di sini. Dia selalu melakukan ini!" dengus Long Shen kesal.
...
.
"Sekarang sudah puas baru mencariku. Apa kau pikir aku simpanan yang dapat kau permainkan?" dengus Long Shen.
Zhang Yu tak menghiraukannya. Dia mengeluarkan pedang kelas menengah dan duduk bersila bersiap memulai proses penempaan.
"Aku akan langsung berusaha menyatukannya ketika sudah meleburkannya. Sepertinya ini akan sulit, jadi mohon bantuannya."
Cih!
Long Shen mendengus. Tetapi tetap tidak mengatakan apapun atau mencoba menolaknya.
Zhang Yu sudah memfokuskan kekuatan jiwanya untuk proses peleburan. Meski sudah beberapa kali berhasil dalam percobaan sebelumnya, tapi ini adalah kali pertama menggunakan senjata kelas menengah.
Pedang kelas menengah melayang di udara. Dengan menggunakan kekuatan jiwa Zhang Yu berusaha mengikis nya. Melebur lalu memisahkan komponennya.
Setiap tahap dilakukan dengan sempurna. Zhang Yu terlihat seperti seorang ahli yang menekuni bidang ini puluhan tahun lamanya.
"Kau sepertinya sudah tidak membutuhkan bantuan ku," kata Long Shen.
Zhang Yu menyunggingkan senyum. "Terlalu cepat untuk mengatakannya berhasil. Setelah ini adalah proses penggabungan. Aku membutuhkan petunjukmu yang lebih berpengalaman."
Long Shen tidak tahu apakah Zhang Yu benar-benar membutuhkan bantuannya. Tetapi karena sudah diminta, bagaimana mungkin dia menolaknya.
"Kau mungkin juga harus memasukkan batu besi hitam. Mungkin terdengar sia-sia karena ini adalah senjata kelas menengah. Tapi dengan melakukannya kau akan tahu bagaimana karakteristik batu besi hitam saat disatukan dengan komponen senjata."
Setelah diam beberapa saat Zhang Yu segera mengeluarkan batu besi hitam.
Benar yang dikatakan Long Shen. Amat sangat disayangkan untuk menggunakan batu besi hitam untuk senjata kelas menengah. Tapi ini untuk melancarkan pelatihannya. Jika tidak, dia tidak akan tahu karakteristik batu besi hitam.
Jadi anggap saja batu besi hitam sebagai biaya yang ia keluarkan untuk menyempurnakan pedangnya.
__ADS_1
Di ruang makan.
"Yin'er, di mana suamimu?" tanya Xiao Mei.
Xuan Yin yang baru datang sontak mengangkat wajahnya. "Yu Gege ada di gudang. Kenapa ibu mencarinya?"
"Ha? Kenapa dia di gudang?" tanya Zhang Long baru duduk di tempatnya.
"Jika tidak salah Yu Gege sedang berlatih menempa senjata."
Xiao Mei dan Zhang Long terdiam beberapa saat mendengar penuturan Xuan Yin. Tapi tak lama langsung menggelengkan kepala.
"Ibu pikir kalian menghabiskan waktu bersama karena meninggalkan perayaan begitu cepat. Ternyata ...." Xiao Mei tidak melanjutkan kalimatnya dan malah berdecak.
Xuan Yin ingin mengatakan sesuatu, tapi sudah terlebih dahulu dipotong Zhang Long.
"Sejak kapan dia belajar penempaan? Apa itu ilmu yang dipelajarinya di Benua Naga?"
"Terlepas apapun itu. Tidak seharusnya dia meninggalkan istrinya dan hanya mementingkan pelatihannya. Terlebih saat istri sedang mengandung. Seharusnya dia selalu bersiaga dan siap kapanpun jika dibutuhkan," keluh Xiao Mei mengomentari sikap putranya.
Xuan Yin bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya Zhang Yu menelantarkannya, Zhang Yu bahkan sudah menyiapkan makanan khusus untuknya.
"Omong-omong Yin'er, apa kau sudah memilih nama untuk anak kalian?" tanya Xiao Mei. Matanya tiba-tiba menjadi berbinar saat membahas hal ini. Dia mengeluarkan satu gulungan dari cincin penyimpanan yang sudah ia siapkan dalam satu malam daftar nama-nama yang bagus dan baik.
"Coba kau lihat, siapa tahu ada yang cocok," ucap Xiao Mei seraya menggeser gulungan tersebut.
Ketika melihatnya, Xuan Yin merasa nama-nama itu tidak ada yang jelek. Semua bagus. Tapi ia tidak bisa memutuskan sendiri karena harus membicarakannya dengan Zhang Yu.
"Ibu, bagaimana jika kau yang memulihkannya. Kau dapat memilih beberapa nama dan kami akan membicarakannya."
Xiao Mei mengelus dagunya untuk beberapa lama, dia pun mengangguk dengan antusias. "Baiklah. Ibu akan meringkasnya menjadi lebih sedikit dan memikirkan nama yang sangat bagus."
Xuan Yin mengangguk sebelum berpamitan kembali. Zhang Long yang melihat antusiasme istrinya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Istriku, kenapa tidak biarkan mereka memilihnya sendiri?"
Xiao Mei fokus dengan gulungan di tangannya. "Aku hanya membantu saja. Keputusan tetap berada di tangan mereka. Apa itu saja juga tidak boleh?"
"Jika kau begitu ingin memberi nama, kenapa tidak melahirkan satu bayi lagi untukku?" tanya Zhang Long dengan senyum penuh arti.
Tapi Xiao Mei menggelengkan kepala sambil berkata dengan nada bercanda. "Sudah tua seperti ini juga masih berpikir memiliki anak. Memangnya masih mampu?"
__ADS_1
Xiao Mei tertawa. Dia kembali fokus untuk memilih nama dalam gulungan untuk calon cucunya. Tetapi tiba-tiba Zhang Long mengangkat tubuhnya dan membopongnya ke ruangan.
"Walaupun tua juga masih punya tenaga. Mampu atau tidak kita akan segera tahu."