Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 197 : Antara Guru dan Murid


__ADS_3

Setelah meninggalkan Kota Heishan, Zhang Yu melakukan perjalanan menuju Kota Xue He. Niatnya adalah membawa mereka semua masuk ke Akademi Kekaisaran karena dengan begitu Kelompok Istana Roh tidak akan mengetahui keberadaan mereka.


Namun di saat mereka akan berbaris memasuki gerbang, pada saat itu terlihat beberapa orang Istana Roh yang berkeliaran.


"Apa kita akan baik-baik saja?" tanya Ibu He Jiao.


He Jiao pun menenangkan ibunya. "Kita akan baik-baik saja ibu. Ada Kasim Du dan Zhang Yu di sini," ucapnya.


Akan tetapi siapa yang mampu tenang ketika orang-orang yang membunuh suami dan menghancurkan keluarganya berkeliaran di sekitarnya. Tubuhnya gemetar karena takut dia memegang tangan He Jiao bahkan sampai meremasnya.


Zhang Yu tiba-tiba menahan langkahnya dan berusaha menghindari mereka. Bahkan untuk mengelabui orang-orang Istana Roh, Zhang Yu memberi He Jiao dan ibunya jubah.


Meski sempat tertahan di bagian penjagaan tapi mereka bisa melewati orang-orang Istana Roh yang berkumpul di luar gerbang tanpa curiga.


"Kenapa ada begitu banyak kelompok mereka? Apa tidak ada satu orang pun yang tahu jika mereka adalah pendatang dari luar kekaisaran?" tanya He Jiao setelah berada di dalam kota.


"Mereka bersikap seperti penduduk biasa. Itulah kenapa tidak ada yang curiga. Tapi sebenarnya mereka sedang merencanakan sesuatu yang besar."


He Jiao mengangkat wajahnya menatap Zhang Yu. Dia sungguh merasa tidak aman dalam situasi ini. Entah apa tujuan mereka menginginkan teknik warisan leluhur keluarga He. Padahal keluarga He sendiri tidak ada yang benar-benar mampu menguasai teknik tersebut.


Akhirnya setelah melakukan perjalanan, mereka sampai di depan gerbang Akademi Kekaisaran. Sayangnya mereka yang tidak mempunyai tanda pengenal tidak diperbolehkan masuk sembarangan.


Du Xiong, Han Rui dan Duan Jian tidak diperbolehkan masuk. Kebetulan saat itu ada Tetua Xin Fei yang baru saja kembali dari suatu tempat. Mengenali Zhang Yu bersama beberapa orang lainnya sibuk di depan gerbang, dia pun mendekat karena penasaran.


Alhasil dengan izin Tetua Xin Fei, ketiga orang yang bahkan tidak punya tanda pengenal berhasil masuk.


Zhang Yu tidak mengantar. Dia berpisah begitu melewati gerbang karena ingin pergi menemui gurunya.


Tetapi begitu sampai di kediaman gurunya Zhang Yu kesulitan menemukannya. Dia malah bertemu seorang pemuda yang berada di halaman belakang. Duduk tepat di atas panggung batu yang biasa digunakannya.


"Siapa kau?!" Pemuda itu membuka mata lalu berkelebat cepat sebelum berhenti di beberapa langkah di hadapan Zhang Yu.


"Aku tidak pernah melihatmu. Apa kau murid akademi?" tanyanya menyelidik. Dia terus bicara dan sangat cerewet. Zhang Yu yang malas meladeni nya berjalan melewati untuk pergi mencari gurunya.


Siapa yang mengira pemuda belasan tahun itu dengan berani mencegat langkahnya. "Tidak boleh! Kau tidak boleh lewat. Ini adalah wilayah yang tidak semua orang dapat melewatinya."


"Kau bukan murid guru, jadi kau tidak boleh masuk."


Kata 'murid guru' menarik perhatian Zhang Yu. Dalam hati mulai bertanya-tanya tentang siapa pemuda belasan tahun di hadapannya.


Apa guru baru saja mengangkat murid baru? pikirnya.


Detik selanjutnya, Wang Chen berjalan keluar setelah mendengar keributan. Ketika dia melihat Zhang Yu di halaman belakang, langkahnya terhenti dan terhenyak untuk beberapa saat.


"Guru! Dia menerobos masuk. Kau harus memberinya pelajaran!" seru pemuda itu.


Wang Chen melambaikan tangan meminta pemuda itu mendekat.

__ADS_1


"Wang Lou, berhenti berulah. Di hadapanmu adalah kakak seperguruan pertama. Kau harus memberi salam."


Mata pemuda itu membulat mendengar ucapan Wang Chen. Dengan segera sikapnya berubah seperti anak anjing yang meminta makanan. "Salam kakak seperguruan pertama. Maafkan aku karena tidak menyadarinya dengan cepat."


"Wang Lou, kembalilah ke kediamanmu. Kau harus berlatih lebih keras lalu naik ke panggung kelima tangga naga."


"Baik Guru!"


Setelah itu Wang Lou pergi meninggalkan halaman belakang. Zhang Yu terus meliriknya lalu beralih kepada gurunya yang sudah duduk di gazebo.


"Guru, apa mungkin dia ...."


Wang Chen langsung memberi tatapan tajam membuat Zhang Yu menghentikan kalimatnya.


"Apa yang kau pikirkan? Itu hanya kebetulan nama marganya mirip. Jadi berhenti berpikir macam-macam."


Zhang Yu tertawa saat melihat wajah kesal sang guru. Pasti sudah banyak yang bertanya hal sama padanya hingga membuatnya sekesal ini. Tapi memang bukan salah orang lain jika mengira Wang Lou adalah anak atau cucu dari gurunya karena marga mereka berdua sama.


"Berhenti membicarakan hal ini. Sekarang katakan, bagaimana kau bisa meningkatkan secepat ini?" tanya Wang Chen serius. Dia memperhatikan aura kekuatan yang terpancar dari Zhang Yu. Sungguh diluar dugaan karena itu bahkan hanya sedikit lebih lemah darinya.


Zhang Yu tertawa canggung menghadapi pertanyaan interogasi ini. "Itu karena aku sedikit beruntung, Guru."


Long Shen yang mendengar segera mencebik. "Sedikit? Itu bukan lagi sedikit. Jika kau yang seberuntung itu masih dibilang sedikit, lantas orang lain bisa disebut apa? Sial?"


Zhang Yu menatap Long Shen sinis. Dia tak mengatakan apapun karena tak perlu menjelaskannya.


Meski dirinya memang sedikit lebih beruntung dari orang lain, tapi tidak ada usahanya yang terlalu rendah untuk mendapatkan semua ini. Jika orang lain berusaha seratus persen untuk meningkatkan kekuatan, dia berada pada tingkat yang lebih tinggi. Juga setiap rasa sakit yang dirinya dapatkan. Itu bukan perasaan yang dalam sekejap hilang. Setiap detik menjadi waktu yang sangat panjang dan Zhang Yu akan selalu mengingatnya.


Wang Chen mengelus jenggotnya sambil terkekeh. "Yah. Setelah kebuntuan belasan tahun akhirnya aku mendapat petunjuk. Aku sudah mendapatkan anugerah surga pertama. Tapi jika dibandingkan denganmu, aku khawatir kau akan segera menyusul bahkan melampaui gurumu."


"Bukankah itu bagus? Jadi aku dapat melindungi guru dalam situasi tertentu," canda Zhang Yu.


Wang Chen mendengus. "Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan berhenti pada tahap ini. Kau harus berusaha keras jika mencobanya."


Setelah itu keduanya tertawa. Pasangan guru dan murid itu terlihat semakin akrab dalam situasi tersebut.


"Guru, tapi kedatanganku kali ini bukan hanya untuk kembali."


Dengan kalimat ini suasana menjadi sedikit tegang. Wang Chen mengerutkan keningnya, lalu menatap Zhang Yu lebih dalam.


"Apa maksud mu?" tanyanya.


Zhang Yu segera menceritakan tentang kelompok Istana Roh. Mengeluarkan gulungan-gulungan yang telah dikumpulkan sembari memberitahunya tentang teknik pengendali jiwa.


Setiap kalimat tak bisa lepas dari mata Wang Chen. Dia membacanya dengan serius, kemudian setelah selesai dia meletakkan gulungan itu kembali.


"Pantas saja aku merasakan banyak aura kuat yang berdatangan ke Kota Xue He. Jadi ada kelompok bernama Istana Roh yang kemungkinan mengincar tubuh fisik dewi bulan."

__ADS_1


Zhang Yu menganggukkan kepala. "Tapi ada yang aneh, Guru."


Wang Chen menaikkan alisnya. "Apa?"


"Yakni tujuan Istana Roh untuk menyerang istana. Apa itu hanya pengalihan?"


Wang Chen juga bingung ketika memikirkan hal ini.


Dengan kekuatan mereka yang seperti diceritakan Zhang Yu, harusnya mereka tidak membutuhkan hal seperti itu. Di Kekaisaran Xuan hanya ada satu orang yang berada di tahap setengah abadi. Yakni Wang Chen. Wang Chen pun tidak mengerti kenapa mereka melakukan hal yang lebih merepotkan.


"Guru, bukankah kau dulu pernah mengungkit sebuah buku yang menjelaskan tentang tubuh dewi bulan dan tubuh tungku dewa kuno?"


Wang Chen berusaha mengingatnya. Dia mengetuk meja lalu segera bangkit dari tempatnya. "Ayo, ikut denganku."


Zhang Yu mengikuti gurunya memaauki sebuah ruangan tersembunyi yang ada di balik rak di ruang tamu.


Harus diakui Zhang Yu terkejut karena tidak menyangka ada ruangan tersembunyi. Namun dia tidak punya waktu untuk terkejut karena detik berikutnya dia hanya fokus dengan banyaknya gulungan di dalam sana.


Semua itu adalah teknik bertarung. Dari tingkat rendah, menengah sampai tinggi. Semua dipisah dengan jelas dalam rak yang berbeda.


"Sebelah sini."


Zhang Yu berjalan menuju meja yang ada di sebelah tak paling besar. Wang Zhen menarik laci lalu mengekuatkan sebuah buku yang terlihat usang.


"Sudah lama sejak aku membuka buku ini. Terakhir kali saat aku menyadari fisik spesial Xuan Yin dan itu sudah bertahun-tahun."


"Seharusnya semua hal tentang tubuh dewi bulan berada di ...." Mereka mencari bersama. Setelah menemukan halamn yang diinginkan, mereka pun membaca setiap kalimat dengan serius.


Halaman pertama mereka tidak terlalu terkejut karena sudah mengetahuinya satu sama lain. Tapi ketika membaca halaman kedua, kening mereka mengerut secara bersamaan.


"Pengorbanan darah? Apa mungkin itu yang sedang direncanakan Istana Roh?" kata mereka berdua bersamaan.


Pengorbanan darah adalah ritual terlarang untuk meningkatkan kekuatan. Menjadikan makhluk hidup sebagai tumbal dan menggunakan tubuh dewi bulan untuk menjadi wadah sekaligus tempat memurnikan darah pengorbanan.


Inilah kenapa Istana Roh menginginkan teknik pengendali jiwa untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya binatang spiritual di istana. Kemudian menjadi mereka sebagai tumbal dalam ritual pengorbanan darah.


Tangan Zhang Yu bergetar ketika menyelesaikan bagian ini. Dia tak mengira Istana Roh akan begitu buruk dan tercela dengan mempunyai tujuan seperti itu.


Mereka ingin menjadikan Kekaisaran Xuan tempat pengorbanan lalu Xuan Yin sebagai wadah dengan tubuh dewi bulan.


Tidak! Aku tidak akan membiarkan mereka!


"Guru, apa Xuan Yin belum kembali sama sekali?" tanya Zhang Yu.


"Sebenarnya Xuan Yin sudah kembali. Tapi pagi ini dia berangkat mengambil misi pengawalan."


Kening Zhang Yu semakin mengerut. "Jadi dia sekara berada di luar?"

__ADS_1


Wang Chen menganggukkan kepala tak berdaya. "Sebenarnya dia pergi untuk mengamati beberapa tempat di perbatasan. Dia pergi sembari mengambil misi yang kebetulan sejalan dengan tujuannya. Dia pergi dengan pangeran ketiga dan pangeran kelima."


Zhang Yu tak dapat mengatakan apapun. Kepalanya tak bisa berpikir ketika memikirkan Xuan Yin dan rencana Istana Roh yang benar-benar gila.


__ADS_2