
Terlebih dahulu Xiao Nie menstabilkan kondisinya sebelum bergerak bersama Zhang Yu pergi ke arah barat. Karena melihat uap asap yang masih menguar dari arah sana membuat mereka yakin pertarungan masih berlangsung.
"Tetua Ketiga! Di belakangmu!" Teriakan teriakan mulai terdengar saat Xiao Nie dan Zhang Yu sudah dalam jarak ratusan meter.
Bayangan hitam terhempas lalu menghantam salah satu bangunan hingga hancur, beberapa orang mengejar tapi beberapa orang lainnya menghadang.
"Tetua Keempat, awas di belakangmu!"
Bantuan yang datang dengan pemimpin fraksi ular memiliki kekuatan yang tinggi. Mereka adalah kumpulan ahli yang berada di tingkat surgawi. Tak heran pasukan Klan Xiao kewalahan meski lawan hanya terdiri dari enam orang.
Tetua Keempat yang mendengar peringatan segera membalikkan badan sambil mengayunkan pedangnya. Alhasil serangan itu berhasil ia hindari tanpa menerima tambahan luka.
"Mereka terlalu kuat. Tetua Keempat, Tetua Kelima dan Tetua Ketiga dapat menghadapi masing-masing satu orang, tapi tiga kultivator surgawi yang lain masih terlalu susah untuk kami dua puluh orang," kata pasukan Klan Xiao yang rata-rata di tingkat suci.
Xiao Zhiqian terdiam mendengar kalimat tersebut. Harus diakui memang dirinya dan dua tetua hanya bisa menahan masing-masing satu lawan. Kekuatan mereka tidak cukup untuk menghadapi dua lawan sekaligus.
"Tetua Ketiga, Tetua Keempat, Tetua Kelima!"
Sontak Xiao Zhiqian dan yang lain mendongakkan kepala pada dua sosok yang berdiri di atas atap salah satu bangunan.
"Patriark Sepuh ... Zhang Yu!" Mereka seakan tak percaya pemuda di samping Xiao Nie adalah Zhang Yu. Yang mereka tahu Zhang Yu sebelum kekacauan ini datang masih berada di dalam altar leluhur. Siapa sangka sekarang dia datang bersama Xiao Nie.
"Kau ... Bukankah kau yang dihadapi ketua?" kata anggota fraksi ular yang sempat singgah di wilayah utara saat pertama kali kemunculan mereka.
Xiao Nie memicingkan mata. "Ketua kalian? Mereka sudah mati."
Kalimat ini bagai guntur di siang bolong. Tubuh enam anggota Istana Roh itu menegang dan wajahnya memerah dipenuhi amarah.
"Omong kosong! Ketua tidak mungkin mati!" Pria bertubuh gempal itu menyerang dengan putus asa.
Xiao Nie menggunakan mata pedang bagian pertama langsung menghabisinya.
Sling...
Tubuhnya terbelah. Lima orang yang tersisa membulatkan mata dan menjadi waspada. Kesempatan ini tak disia-siakan Zhang Yu untuk menggunakan kemampuan teknik jarum jiwa penakluk dan menyerang lima orang sekaligus.
Seketika kelima anggota Istana Roh dari fraksi serigala dan ular itu terdiam tak dapat bergerak.
"Tetua Ketiga! Tetua Keempat! tetua Kelima! Serang mereka sekarang!"
__ADS_1
Ketiga orang itu tersadar kemudian dengan dibantu dua puluh pasukan menyerang kelima orang yang pergerakannya sudah dilumpuhkan.
Blar!
Blar!
Beberapa ledakan langsung membunuh kelima orang itu tanpa perlawanan yang berarti.
Xiao Nie dan Zhang Yu turun dari atas atap menuju kelompok yang ada di bawah. "Untuk kalian yang masih bisa bertarung, ikut dengan kami ke ke tempat lain."
Setidaknya ada sepuluh orang yang terluka dan tak bisa bertarung. Mereka harus bertahan di sana untuk memulihkan diri. Sementara yang lain ikut dengan Xiao Nie dan Zhang Yu pergi ke tempat pertarungan lainnya.
Mereka benar-benar menyisir area barat hingga tak meninggalkan celah. Dalam jarak dua ratus meter mereka melihat satu pertarungan lain yang sedang berlangsung. Tetua Pertama, Tetua Kedua dan Tetua Keenam yang dibanding dua puluhan pasukan bertarung menghadapi delapan orang.
Terlihat lebih seimbang karena kekuatan delapan orang ini berada di tingkat surgawi bintang satu sampai lima. Hanya satu orang yang berada di tingkat surgawi bintang sembilan tapi dengan adanya tetua pertama dia adalah lawan yang sepadan.
"Bantu! Selesaikan dengan cepat karena kita harus pergi ke wilayah timur." Xiao Nie memberi perintah. Dia segera melesat ke tempat kultivator yang berada di tingkat surgawi bintang sembilan.
Tentu saja kedatangan Xiao Nie sangat mengejutkan. Terlebih dengan kecepatannya yang membuat lawan seketika tidak punya kesempatan untuk bertahan.
Di sisi lain Zhang Yu juga ikut memanfaatkan situasi. Setelah mengunci target dengan teknik jarum jiwa penakluk dia langsung menyerang menggunakan teknik pedang pembunuh.
Akan tetapi ini masih belum berakhir karena pasukan Klan Xiao harus menuju ke arah timur. Dan di wilayah inilah situasi menjadi tidak terkendali.
Mereka bertemu dengan kelompok Tetua Ketujuh dan Tetua Kedelapan. Namun kondisi pasukan banyak yang terluka termasuk kedua tetua.
"Patriark Sepuh, sepertinya mereka telah menemukan lorong bawah tanah untuk menuju tempat perlindungan darurat."
Raut wajah Xiao Nie dan orang-orang yang datang bersamanya menjadi buruk.
Zhang Yu pun tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Kakek, apa ibu dan Xuan Yin juga berada di tempat perlindungan darurat?"
"Aku meminta mereka pergi ke sana. Seharusnya mereka juga berada di sana." Xiao Nie diam sejenak sambil menautkan kedua alisnya. Lalu bertanya, "Bagai dengan jumlah mereka? Ada berapa orang?"
Tetua Ketujuh menjawabnya. "Kurang lebih dua puluh orang. Separuh tingkat suci dan separuh lagi tingkat surgawi. Tapi di antara sepuluh tingkat surgawi ada dua yang bintang sembilan."
Xiao Nie menganggukkan kepala paham.
"Kakek. Kita harus cepat. Kita harus sampai di tempat perlindungan secepatnya."
__ADS_1
Sekali lagi Xiao Nie menganggukkan kepala. "Baiklah. Aku mengingat ada delapan lorong rahasia di wilayah ini. Kita akan membagi kelompok menjadi delapan kelompok."
Segera setelah itu mereka berpencar untuk menuju delapan titik di mana terdapat pintu lorong rahasia. Mereka yang terluka harus memulihkan diri, tapi yang masih bisa bertarung harus ikut dalam pertarungan ini.
"Patriark Sepuh, apa perlu kita begitu terburu-buru? Tempat perlindungan darurat memiliki pintu berlapis yang sangat kuat. Saat menyadari ada bahaya, aku yakin beberapa orang akan menutup pintu itu dari dalam sehingga mustahil orang-orang Istana Roh mampu membukanya."
Xiao Zhiqian bergerak bersama Xiao Nie dan Zhang Yu ditemani beberapa orang lainnya. Mendengar ucapan Xiao Zhiqian, Xiao Nie terlihat mengerutkan keningnya dengan serius.
"Aku tidak yakin. Masalahnya ...." Xiao Nie mendadak menghentikan kalimatnya.
"Ada apa Kakek?" tanya Zhang Yu.
Namun Xiao Nie hanya menggelengkan kepala. Dia tak ingin menciptakan kepanikan atau kekhawatiran dengan berita pengkhianatan sebelum membereskan orang-orang Istana Roh. Terlebih dia sendiri tidak mengetahui siapa pengkhianat dalam Klan Xiao.
Beberapa lama kemudian setelah mengikuti lorong rahasia mereka akhirnya sampai pada titik di mana seluruh terhubung. Delapan kelompok yang berpisah berkumpul kembali, tapi mereka terlihat baik-baik saja tanpa menemukan kejanggalan atau keanehan.
"Patriark Sepuh, apa kalian menemukan mereka?"
"Tidak. Kami tidak bertemu mereka. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami juga tidak."
Semua saling bertanya tapi tidak ada yang bertemu dengan kelompok orang-orang Istana Roh. Hal ini tentu saja membuat mereka sedikit khawatir.
"Kakek, ayo periksa ke sana." Itu adalah jalur utama menuju tempat perlindungan darurat. Zhang Yu melesat terlebih dahulu. Mereka bergerak bersama-sama kemudian sampai di pintu pertama.
Anehnya sampai di sana mereka juga tidak bertemu dengan kelompok orang-orang Istana Roh. Hal ini membuat sebagian orang merasa heran.
"Tetua Kedelapan, bukankah kau bilang mereka memasuki lorong? Tapi kenapa mereka tidak ada?"
Tetua Kedelapan terdiam karena tidak bisa menjawabnya. Dia hanya tahu mereka sudah menemukan lorong rahasianya. Tapi fakta jika mereka tiba-tiba menghilang membuatnya bingung.
Pada saat ini Xiao Nie maju dengan menempelkan tangannya menekan tombol rahasia pada pintu yang membuatnya seketika terbuka. Satu pintu terbuka, dua pintu terbuka. Ketika enam pintu sudah terbuka seluruhnya, mereka terkejut dengan penampakan tempat perlindungan darurat yang kosong melompong.
"Di mana semua orang? Kenapa tempat ini kosong?" gumam para tetua.
Sementara pasukan Klan Xiao memeriksa sekitar, Xiao Nie melangkah dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ini yang aku khawatirkan. Mereka bahkan mengetahui cara membuka pintu berlapis tempat perlindungan darurat."
__ADS_1