
Zhang Yu sudah cukup lama berada di kediaman gurunya. Mereka berbicara banyak hal terutama tentang peristiwa di istana.
Mendengar berkali-kali tidak membuat Wang Chen bosan. Dia bertanya lebih detail memaksa Zhang Yu menceritakan semua.
Baru setelah langit berangsur gelap pria tua itu berhenti mendesak Zhang Yu untuk bercerita. Dia mengeluarkan satu gulungan berwarna coklat lalu menyodorkannya kepada Zhang Yu.
"Ambilah," katanya.
Zhang Yu melihat gulungan itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Hadiah yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah mendapat izin dia bergegas menarik ujung tali membuka gulungan tersebut.
Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui hadiah dari guru ternyata sebuah teknik bertarung.
Zhang Yu mencermati dengan hati-hati, senyum di bibir tipisnya kian kentara mengiring gerakan mata membaca kalimat demi kalimat di sana.
Tentu saja bukan teknik murahan. Namanya adalah teknik pedang utara yang hanya terdiri dari lima gerakan dasar.
Meski begitu Zhang Yu dapat memastikan kelima gerakan dasar ini jika dipadukan sangat-sangat mengerikan.
Zhang Yu segera menyimpan gulungan itu dan membungkukkan sedikit tubuhnya. "Terima kasih atas hadiahmu, Guru. Aku akan berusaha menguasainya secepat mungkin."
Wang Chen tertawa lirih lalu melambaikan tangan kepada Zhang Yu. "Baiklah, kau bisa kembali."
Zhang Yu memberi hormat lalu pergi meninggalkan guru yang masih duduk di gazebo. Pandangan pria tua itu tampak dalam dan tenang.
"Dulu saat aku berlatih teknik pedang utara, membutuhkan waktu lima bulan untuk mulai memahaminya dan waktu lima bulan lagi untuk benar-benar menguasainya. Aku penasaran berapa waktu yang dibutuhkan Zhang Yu untuk dapat menguasai teknik pedang utara."
...
Di sisi lain Zhang Yu sudah sampai di kediamannya. Wu Zetian tidak ada di dalam, entah dia pergi ke mana tapi itu bukan prioritas yang harus dipikirkan.
Zhang Yu mengeluarkan kristal sumber daya lalu memberikannya kepada Sun. Kera kecil itu sangat senang hingga berjingkrak tak karuan. Dia mengambil dengan tangan mungilnya lalu melompat ke pojok ruangan untuk menyantapnya.
Satu detik kemudian tubuh kecil berbulu nya diselimuti cahaya keemasan. Dia sudah masuk dalam mode kultivasi.
Zhang Yu tersenyum samar, tangannya merogoh gulungan teknik hadiah dari guru lalu mulai membacanya perlahan.
__ADS_1
Teknik pedang utara ....
Tanpa sadar waktu berlalu dengan cepat. Zhang Yu yang begitu fokus mendalami teknik pedang utara tak tahu jika malam telah berganti pagi.
Wu Zetian baru saja kembali dari panggung naga. Tampak kelelahan dan keletihan. Dia membuka pintu berniat untuk beristirahat, tapi melihat sosok yang duduk di atas tempat tidur dengan memangku sebuah lembaran membuatnya tanpa sadar menahan langkah.
"Zhang Yu? Kapan dia kembali?" Wu Zetian ingin mendekat lalu bertanya. Tapi dia mengurungkannya melihat Zhang Yu yang sibuk dan begitu fokus.
"Lebih baik aku tidur saja," katanya. Wu Zetian melangkah ke tempat tidurnya lalu merebahkan diri dan dengan segera memejamkan mata.
...
Satu bulan kemudian.
Wu Zetian bangun pagi seperti biasa. Dia melihat ke tempat Zhang Yu tapi temannya ini masih setia dalam posisinya.
Namun dia tak heran sedikitpun. Bagi seorang kultivator mempelajari teknik bertarung bukan semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan teknik biasa saja membutuhkan beberapa bulan untuk memahaminya, kemudian satu sampai dua tahun untuk menguasainya.
Wu Zetian menebak Zhang Yu juga membutuhkan waktu yang sama. Paling tidak dia akan tetap dalam posisi tersebut sampai beberapa bulan ke depan.
Lima belas menit berlalu dan Wu Zetian keluar dengan wajah segar. Akan tetapi satu hal yang membuat raut wajahnya menjadi bingung, dia tak melihat Zhang Yu di atas tempat tidurnya.
Eh...
"Di mana dia? Bukankah beberapa saat yang lalu masih duduk di sana?"
Tepat bersama dengan itu satu suara datang dari belakang. "Apa kau mencari sesuatu?"
Dua alis kian menyatu. Wu Zetian perlahan memutar badannya dan menemukan Zhang Yu yang duduk di kursi sambil menyantap paket daging kering.
"Kau mencari sesuatu?" tanya Zhang Yu lagi melihat Wu Zetian hanya diam.
Satu detik kemudian tuan muda keluarga Wu itu mendapatkan kembali kesadarannya. Dia mengayunkan kakinya ke tempat Zhang Yu dan mengambil paket daging kering di tangannya.
"Keterlaluan! Aku khawatir kau tiba-tiba menghilang tapi ternyata enak enakan sambil menghabiskan persediaan daging kering ku." Wu Zetian bersungut-sungut kesal lalu menghabiskan sisa daging keting itu dengan beberapa suapan.
Satu detik, dua detik, suasana menjadi hening. Wu Zetian berdehem dengan suara nyaring lalu bertanya dengan penasaran. "Bagaimana hasil pemahamanmu? Apa terlalu sulit hingga kau menyerah?"
__ADS_1
Wu Zetian berpikir Zhang Yu mengakhiri proses pemahaman lebih cepat karena tingkat kesulitan teknik yang terlampau tinggi.
Akan tetapi saat melihat Zhang Yu menggelengkan kepala dengan samar, sontak dua alisnya kembali menyatu.
"Tidak sulit? Lantas kenapa kau mengakhirinya lebih cepat?" tanyanya lagi.
"Siapa yang bilang aku mengakhirinya lebih cepat?" tanya balik Zhang Yu santai yang membuat Wu Zetian semakin bingung.
"Kau tidak mengakhirinya lebih cepat? Apa kau sudah memahaminya? Bagaimana mungkin! Aku bukan awam dalam dunia ini, kau tidak bisa membohongiku."
"Itu urusanmu jika kau tidak percaya."
Wu Zetian tertegun. Matanya menatap Zhang Yu menelisik mencari kebohongan di wajahnya. Tapi Zhang Yu yang sangat tenang membuat Wu Zetian kesulitan.
"Cih! Kau hanya membual. Aku tidak peduli lagi dengan hal ini. Lebih baik aku pergi ke paviliun harta sekarang." Setelah mengatakannya dia pergi dari sana.
Zhang Yu mengedikkan bahu, bangkit dari kursi mengambil satu paket daging kering untuk mengisi perutnya yang kosong.
Setelah kembali duduk dia memperhatikan Sun yang tetap pada posisinya di sudut ruangan. Tertidur pulas dengan cahaya emas menyelimuti tubuhnya.
"Apa dia masih tetap seperti itu sampai saat ini? Padahal biasanya tidak selama ini."
Saat Zhang Yu masih fokus dengan Sun, tiba-tiba dia teringat tentang kalung yang ditemukan di ruangan perdana menteri.
Karena terlalu bersemangat mempelajari teknik pedang utara dia hampir saja melupakannya.
"Ya, dua kalung ini memang sama. Bahkan ukiran yang rumit pun sama persis." Zhang Yu memegang dua kalung itu dengan satu tangannya.
Ketika mengingat dalam liontin hati terdapat nama ibunya, Zhang Yu segera membuka liontin hati yang ada di kalung lainnya.
Perlahan tapi pasti Zhang Yu membelah garis tengah pada liontin hati tersebut. Namun bukan nama seperti yang ada pada kalung ibunya, melainkan hanya lipatan kertas putih kosong.
Aneh!
Zhang Yu menyipitkan mata. Tangannya menarik lipatan kertas kecil itu kemudian menemukan beberapa kata yang tak lengkap.
"Apa ini pesan rahasia?" Tidak ada kesimpulan lain dalam kepala Zhang Yu karena kata-kata ini begitu acak. Bahkan tidak bisa memahaminya sama sekali. Dia merasa memahami teknik bertarung jauh lebih mudah.
__ADS_1