
"Ayah! Ayah. Keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau tinggal dalam ruangan ini."
Karena masalah sebelumnya yang telah ia ciptakan, Xiao Yuze harus mendekam dalam ruang isolasi sampai batas waktu yang belum ditentukan. Dia meraung-raung sambil menggedor pintu berharap ayahnya membantu dirinya.
Namun bahkan Xiao Lang menginginkannya sekalipun dia tidak dapat berbuat banyak selain diam dan tak melakukan apapun.
"Kau melakukan sesuatu yang sangat tabu. Beruntung kakekmu masih mengampuni nyawamu. Jika tidak, kau pikir kau masih dapat berbicara seperti ini di sini?"
Xiao Yuze terdiam mendengar ucapan ayahnya. Kedua tangannya masih berusaha menggedor pintu berharap akan terbuka.
"Ayah, apa kau akan membiarkan aku tinggal di sini selamanya?! Bantu aku keluar," mohonnya dengan suara bergetar. Tetapi sampai saat itu Xiao Yuze tak lagi mendengar suara ayahnya dari balik pintu. Dia mencoba memanggilnya.
"Ayah. Ayah?!"
"Ayahmu tidak ada di sini."
Seketika wajah Xiao Yuze berubah buruk saat mendengar suara ini.
"Zhang Yu! Kau brengsek! Aku akan memberimu pelajaran begitu keluar dari sini!" seru Xiao Yuze marah.
Zhang Yu hanya tersenyum mencibir. "Apa kau yakin bisa keluar dari ruangan ini? Bahkan jika ayahmu ingin, dia tidak akan bisa membantumu keluar. Jadi, nikmati waktumu di ruangan ini karena aku akan memastikan kau berada di dalam sana selama mungkin!"
"Zhang Yu!"
Terdengar Xiao Yuxe yang meraung cukup keras dari dalam ruangan. Tetapi Zhang Yu mengabaikannya. Andai bukan karena adanya peraturan saling membunuh di wilayah Klan dan permintaan kakek serta ibunya, mustahil baginya untuk membiarkan masalah ini begitu saja.
Namun dengan membiarkan Xiao Yuze terkurung di dalam ruangan isolasi. Pastinya itu akan terasa menyiksa baginya. Selain karena menghalangi ambisinya menjadi genius pertama, dia juga tak lagi bisa berkultivasi karena tidak adanya sumber daya.
Bagi orang sepertinya itu hukuman yang lebih berat dibanding kematian.
"Zhang Yu,"
__ADS_1
Zhang Yu segera membalikkan badan mendengar suara yang memanggilnya.
"Yin'er, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zhang Yu.
"Aku mencarimu tapi kata Bibi kau pergi ke ruang isolasi."
Zhang Yu berjalan ke arah Xuan Yin lalu merangkulnya ke dalam pelukannya. "Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?"
"Ini sudah tiga hari. Aku jauh lebih baik." Sambil bicara Xuan Yin berusaha menyingkirkan tangan Zhang Yu yang merangkulnya. Tapi Zhang Yu malah semakin mengeratkan pegangannya dan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Xuan Yin memaksanya terus berada di sampingnya
Xuan Yin langsung menepis tangan Zhang Yu.
"Apa yang kau lakukan?! Ada penjaga di sana!" ucapnya lirih sambil melirik dua penjaga yang berdiri belasan langkah dari tempat mereka.
Sekilas Zhang Yu melihat dua penjaga itu, tapi segera kembali menatap Xuan Yin dengan tatapan yang dalam. "Kenapa? Bukankah saat itu kau begitu berani menggodaku? Sekarang mau kabur?"
"Menggoda? Siapa yang menggodamu?" kilah Xuan Yin sambil memalingkan wajahnya. Dia terus menggeliat dan akhirnya berhasil lepas dari Zhang Yu. Setelah melepaskan diri dia berlari keluar pagi dari ruangan itu.
Xiao Yuze yang tidak tahu jika Zhang Yu sudah pergi masih berusaha memanggilnya. "Zhang Yu! Kau dengar, aku tidak akan diam saja. Tunggu sampai aku keluar dari sini dan akan mencarimu untuk menghitung semuanya."
Dua penjaga hanya diam di tempatnya jaga. Mereka merasa kasihan dengan Xiao Yuze yang berbicara sendiri seperti orang gila. Tapi juga tak berniat memberitahunya karena bisa melihat Xiao Yuze seperti sangat jarang dan cukup menyenangkan.
"Dari genius pertama sekarang mendapat hukuman kurungan. Itu semua karena ulahnya sendiri yang ambisius dan arogan," kata penjaga.
Sementara di tempat lain, Zhang Yu dan Xuan Yin sudah kembali ke kediaman. Karena Xuan Yin tidak lagi tinggal di ruang isolasi, dia sekarang tinggal bersama Xiao Mei dan Zhang Yu. Statusnya bukan lagi calon istri Xiao Yuze, tapi calon istri Zhang Yu mengingat sekarang Zhang Yu adalah pemilik garis darah tertinggi.
"Kenapa kau menutup pintunya?" Xuan Yin melangkah mundur dengan waspada saat Zhang Yu menatapnya seperti serigala.
Zhang Yu tersenyum penuh arti. "Kau tudak bisa kabur sekarang. Bukankah sudah tidak ada orang lain di sini?"
Wajah Xuan Yin memerah padam. Namun dia tak menolak saat Zhang Yu mendekat kepadanya. Bahkan ketika Zhang Yu tiba-tiba melahap bibirnya. Dia terdiam beberapa saat sebelum meladeni permainannya.
__ADS_1
Api gairah membara. Akan tetapi saat api itu sampai pada puncaknya, datang suara ketukan pintu yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya.
Tok tok tok!
"Zhang Yu! Keluar. Sudah waktunya makan malam." Xiao Mei mengetuk pintu ruangan putranya itu beberapa kali. Karena tak juga mendapat jawaban dia mulai memanggilnya. Tetapi sampai beberapa waktu tidak juga ada sahutan dari dalam yang membuat wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya heran.
"Apa dia sudah tidur? Jika begitu aku akan pergi ke ruangan Yin'er terlebih dahulu." Saat Xiao Mei hendak pergi ke ruangan Xuan Yin yang ada di sebelah, pintu ruangan itu akhirnya terbuka.
Namun yang membuat Xiao Mei terkejut adalah Xuan Yin keluar bersama Zhang Yu dari ruangan tersebut.
"Eh! Kalian ... Kenapa kalian berada di ruangan yang sama?" tanya Xiao Mei.
Xuan Yin hanya diam dan menyembunyikan wajahnya yang semerah buah persik. Dia ingin bicara tapi seolah lidahnya terbelit.
"Ada yang perlu kami bicarakan, Ibu," kata Zhang Yu sangat tenang.
"Bicara?"
"Benar. Bukankah begitu Yin'er?"
Xuan Yin terbatuk dua kali sebelum menganggukkan kepalanya. "Be-benar, Bibi. Kami hanya bicara."
Xiao Mei menatap curiga. Zhang Yu yang menyadarinya segera mengalihkan perhatian.
"Ibu, kau bilang makan malam sudah siap. Ayo ke ruang makan," ajaknya.
"Ah! Kau benar. Kakekmu juga ada di sini. Ayo ke ruang makan, jangan biarkan dia menunggu."
Xuan Yin segera berjalan ke ruang makan terlebih dahulu. Zhang Yu mengikuti tepat di belakangnya, sementara Xiao Mei berjalan di belakang sambil memperhatikan mereka.
"Hanya bicara? Padahal aku berharap mereka melakukan sesuatu dan memberiku seorang cucu," batinnya kemudian menghela nafas panjang.
__ADS_1