Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 276 : Pertarungan Babak Kedua


__ADS_3

Gua warisan leluhur yang ada di pulau adalah tempat yang tak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Hanya keturunan kepala suku, atau raja yang bisa memasukinya.


Sebagai pangeran Suku Niao, Shin jelas memiliki hak itu. Dia pernah masuk ke dalam gua warisan leluhur beberapa kali, tetapi sampai sekarang dia tak begitu mengerti tentang warisan tersebut.


Yang pasti, menurut salah satu catatan yang dimiliki Suku Niao, mereka harus menunggu sampai kunci rahasia yang ada di tangan mereka bereaksi.


Sebelum melihatnya secara langsung beberapa saat yang lalu, Shin berpikir semua itu tidak akan terjadi. Dia bahkan pernah berpikir jika gua warisan leluhur adalah tempat biasa yang tak berbeda dengan gua tempat tinggalnya.


Namun, semua pemikirannya telah berubah. Catatan Suku Niao benar adanya, dan sekarang kunci rahasia itu sudah bereaksi karena kehadiran sesosok naga, Long Shen.


"..."


Zhang Yu sulit menerima kisah yang dikatakan Shin tentang warisan leluhur. Terlebih saat mengatakan jika Long Shen adalah sosok yang telah dinantikan Suku Niao selama ini untuk warisan tersebut.


Akan tetapi, Zhang Yu tak bisa mengubah kenyataan bahwasanya sekarang Shin dapat melihat Long Shen, yang mana sebelumnya tidak ada yang dapat melihatnya kecuali leluhur Xiao Mu.


"Aneh! Jika aku lebih memperhatikannya, ada aura yang akrab dari kunci rahasia itu." Long Shen terbang dari pundak Zhang Yu ke tangan Shin. Dia melihat kunci rahasia Suku Niao lebih dekat dan terlihat sesekali mengendusnya.


"Hei, siapa namamu?" tanya Long Shen setelah puas dengan kunci rahasia.


"Shin."


Shin tidak mengerti maksud Long Shen yang tiba-tiba bertanya namanya. Dia mengedikkan bahu, sedang Long Shen sendiri sudah kembali ke pundak Zhang Yu.


"Apa kau tidak masalah jika aku pergi pulau itu?" tanya Long Shen.


Zhang Yu menautkan kedua alisnya. Maksud ucapan Long Shen yang sebenarnya adalah, "Kau harus pergi denganku." Itu karena tidak mungkin bagi Long Shen untuk pergi jauh dari Zhang Yu. Perlu di ingat, mereka terhubung satu sama lain.


"Baiklah," angguk Zhang Yu.


Shin terhenyak di tempat seakan tidak percaya. Dia menyipitkan matanya, lalu perlahan menatap mata Zhang Yu yang jernih. "Kakak Yu, kau juga akan pergi?"


"Ya, aku tidak punya pilihan lain untuk ikut bersama kalian kembali ke pulau." Tak dipungkiri Zhang Yu juga penasaran dengan warisan leluhur Suku Niao. Selain itu Zhang Yu juga berharap dapat menemukan hal baik lain, mungkin seperti dua bahan yang tersisa untuk menyempurnakan pedang semesta.


Jika benar-benar mendapatkan dua bahan itu, bukankah dia diberkahi dengan keberuntungan? Jadi mari lihat apa yang akan didapatkannya.


...


Setelah mendapat peta yang diinginkan, orang-orang Suku Niao terbang kembali ke pantai.


Zhang Yu mencari keberadaan istrinya di kediaman. Namun Zhang Yu hanya dapat menemukan sang putra yang sedang duduk bersama kakeknya di ruang tamu.


"Ayah, apa kau tahu di mana Yin'er?"


Perlahan Zhang Long mengangkat wajahnya, mulai menggerakkan tangan sambil mengelus dagunya. "Apa kau sudah mencarinya di kamar? Seingat Ayah, istrimu pulang lebih awal setelah ibumu memintanya beristirahat."


Zhang Yu melihat ke arah kamar. Meskipun pintu dalam keadaan tertutup, tapi tidak ada orang di dalamnya.


"Ayah! Ayah!" Zhang Chao turun dari kursi dan berjalan ke arah Zhang Yu. Dia melambaikan tangan selesai tanda agara Zhang Yu berjongkok di hadapannya. Setelah itu, Zhang Chao berbisik tepat di telinga ayahnya.

__ADS_1


"Apa Ayah mencari yang ibu?" tanyanya.


"Kau tahu di mana ibumu?"


Hem...


Zhang Chao mengangguk. "Tadi paman datang ke sini, dia memberitahu ibu jika teman lamanya datang. Ibu pergi tak lama setelah itu."


Zhang Yu mengerutkan keming mendengar ucapan putranya. "Teman lama? Kenapa aku tidak tahu dia punya teman lama?"


Tak beberapa lama kemudian...


"Yu Gege," Xuan Yin masuk ke dalam kamar setelah kembali dari tempat tinggal kakak pertamanya.


Zhang Yu yang sedang berbaring di tempat tidur segera bangkit mendengar suara sang istri.


"Ayah memberitahu ku jika kau mencariku. Ada apa?" tanyanya.


Zhang Yu pun menceritakan tentang kepergiannya yang rencananya akan berangkat dalam waktu dekat. Sontak hal itu membuat Xuan Yin terdiam tanpa bereaksi sedikitpun. Namun dapat dilihat jelas raut wajahnya yang tak bersemangat setelah mendengarnya.


"Berapa lama akan di sana?" tanyanya.


"Untuk hal ini aku tidak dapat memastikannya. Karena perjalanan menuju ke sana saja membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan. Jadi mungkin ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang."


Xuan Yin menghela nafas. Sedetik kemudian dia berdiri di hadapan Zhang Yu yang duduk di tepi tempat tidur, lalu mencium bibirnya dengan singkat.


"Yin'er ...." Zhang Yu bergumam sambil menatap wajah sang istri yang memerah.


Pandangan mereka bertemu, semakin lekat dan intens yang membuat Xuan Yin segera memalingkan wajahnya.


Zhang Yu terkekeh melihat sikap sang istri yang menurutnya begitu menggoda. Dia membenam wajahnya ke ceruk leher Xuan Yin, lalu naik ke telinga kanannya sambil terus menghembuskan nafas ringan.


Dalam sekejap suhu ruangan menjadi panas. Setelah pertarungan di siang hari, pertarungan babak kedua baru saja di mulai.


...


Di luar ruangan. Zhang Chao berdiri tepat di depan pintu ruangan dengan mata besarnya yang bulat. Dia terus memperhatikan tapi tak berani untuk mengetuknya.


"Kakek, kenapa ayah dan ibu lama sekali berbicara di dalam?" Dengan wajah polosnya, Zhang Chao bertanya pada sang kakek yang masih duduk di ruang tamu.


Zhang Long pun melambaikan tangan dari tempatnya. "Chao'er, kemari."


Langkah bocah tiga tahun itu terlihat ragu. Dia masih memandang pintu ruangan ayah dan ibunya, tapi tetap berjalan ke tempat kakeknya.


"Chao'er, ayah-ibumu masih membahas sesuatu yang penting. Chao'er di sini saja dengan kakek, mengerti?"


Zhang Chao mengerucutkan bibirnya. "Chao'er ingin bersama ayah dan ibu."


Melihat cucu semata wayangnya memasang wajah merajuk, Zhang Long berusaha memikirkan cara untuk membujuknya.

__ADS_1


"Chao'er, apa kau menginginkan seorang adik?" tanya Zhang Long.


Dengan segera mata Zhang Chao berbinar. "Adik? Apa itu adik perempuan?" tanyanya antusias.


"Ya, benar."


"Kakek, Chao'er ingin adik perempuan."


Zhang Long tersenyum. "Oleh karena itu Chao'er harus tetap di sini bersama kakek. Ayah dan ibu sedang berusaha membuatkan adik perempuan."


"Benarkah?"


Setelah mendapat anggukan Zhang Chao langsung bersorak senang. Dia mengangkat tangannya dan berteriak cukup lantang dengan suara nyaringnya.


Kebetulan pada saat itu Xiao Mei baru kembali dari aula klan. Dia memasuki ruangan, kemudian melihat cucu dan suaminya begitu berisik di ruang tamu yang membuatnya penasaran untuk mencari tahu.


"Sepertinya kalian sangat bersenang-senang. Tapi ada apa ini sampai Chao'er pun terlihat begitu antusias."


Ah...


Zhang Long terdiam. Sementara Zhang Chao yang melihat kedatangan sang nenek segera menghampirinya, lalu melambaikan tangan memintanya berjongkok di depannya.


"Chao'er, ada apa?"


Zhang Chao masih menunjukkan wajahnya yang berseri. "Nenek, Chao'er sangat senang karena ayah dan ibu sedang membuatkan adik perempuan untuk Chao'er."


Apa?


Kening Xiao Mei mengerut. "Kata siapa ibu dan ayah sedang membuatkan adik perempuan? Chao'er tahu dari siapa?"


Zhang Long merasa hal buruk akan menimpanya. Punggungnya berkeringat ketika melihat tatapan tajam istrinya yang sedang menunggu jawaban dari Zhang Chao.


"Tidak, Chao'er, kau jangan mengatakannya." Dia menggelengkan kepala sembari terus memberi tanda.


Namun bagaimana mungkin Zhang Chao mengerti. Bocah tiga tahun itu langsung menunjuk dengan nalurinya.


"Kakek yang memberitahu," jawabnya.


Ah...


Zhang Long mendesak pasrah. Sedang pada saat itu, Xiao Mei menatap dengan tajam, seolah tatapannya itu dapat menyobek kulit tubuhnya.


"Nenek, Chao'er juga ingin membantu ayah dan ibu membuat adik perempuan. Apa Chao tidak boleh membantu?"


"..."


Xiao Mei yang ingin bicara langsung terbungkam mendengar pertanyaan cucunya. Dia terbatuk dua kali, lalu segera mengubah topik pembicaraan.


"Ah ... Nenek ingat punya gula-gula di kamar. Apa Chao'er ingin gula-gula?"

__ADS_1


Mata Zhang Chao berbinar. "Gula-gula? Chao'er suka gula-gula. Nenek, cepat beri Chao'er gula-gula."


Zhang Long menghela nafas melihat kepergiannya istri dan cucunya. "Sepertinya aku lolos untuk kali ini," batinnya.


__ADS_2