Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 270


__ADS_3

"Senior Heng, sepertinya kami melihat pembatas yang terpasang dalam jarak satu mill."


Pria tua dengan luka sayatan di mata kirinya itu perlahan mengangkat wajahnya mendengar suara laporan dari regu pengintai.


"Seberapa kuat?" tanyanya.


Regu pengintai kembali melihat menggunakan teropong dan memastikan kekuatan pembatas tersebut.


Satu dari mereka berbicara, "Kelas menengah. Kita dapat menghancurkannya."


Pria bernama Heng Haocun mulai mengukir senyum di antara bibirnya. "Bentangkan layar! Sampaikan pesan untuk kapal kedua dan ketiga untuk bergerak lebih cepat."


"Baik!" sahut puluhan orang di atas kapal.


Tiga kapal yang bergerak cukup tenang itu sekarang melaju dengan kecepatan dua kali lipat.


"Heng Haocun, apa menurutmu kali ini kita benar-benar menemukan mereka?" tanya Chyou, pemimpin kapal kedua.


"Sebelumnya kita juga menemukan pulau yang kita pikir adalah tempat tujuan Suku Niao melarikan diri. Tapi tak satupun dari keempat pulau itu yang memiliki penghuni. Ini adalah pulau kelima, aku masih memiliki keraguan yang besar."


Heng Haocun tertawa lirih mendengar kalimat An Ming, pemimpin kapal ketiga. "Tak dipungkiri aku juga ragu pada awalnya. Tapi setelah melihat pembatas ini, aku yakin pulau ini berpenghuni."


"Entah Suku Niao ada atau tidak di pulau ini, aku berpikir kita tidak akan kembali dengan sia-sia."


Kedua pemimpin kapal yang mendengar ucapan Heng Haocun sejenak terdiam sebelum ikut tertawa dengan senang. "Yang kau katakan cukup masuk akal. Kita tidak boleh kembali tanpa membawa sesuatu. Itu akan sangat memalukan jika kelompok lain mendengarnya."


"Meski tidak menemukan kunci rahasia itu, setidaknya kita mendapat ganti yang tidak begitu buruk."


"Senior Heng! Sekarang kita hanya berjarak tiga ratus meter dari pembatas. Kami menunggu perintah!" seru kelompok pasukan di kapal pertama.


Heng Haocun semakin mengembangkan senyumnya dengan percaya diri. "Jika begitu kalian bersiap dalam posisi untuk menyerang. Kita akan menghancurkan pembatas itu dan menerobos masuk wilayah pulau."

__ADS_1


"Mengerti!" seru mereka.


Chyou dan An Ming segera kembali ke kapal masing-masing, juga untuk segera menyiapkan pasukan yang akan bersiap menghancurkan pembatas.


Namun, tepat di waktu yang sama pembatas tipis itu tiba-tiba menghilang dari sana. Lenyap tanpa jejak yang tentunya membuat ketiga pemimpin kapal terkejut.


"Apa?"


"Di mana pembatas itu?"


"Bukankah masih di sana beberapa saat yang lalu?"


Ketiganya bertanya-tanya. Tetapi sebelum mereka menemukan jawaban yang masuk akal untuk situasi itu, tiba-tiba langit menjadi gelap tertutup oleh bayangan.


"A-apa?!" Semua orang di atas ketiga kapal mengangkat wajah dengan spontan.


Alangkah terkejutnya mereka saat menemukan bayangan cakar raksasa yang mengarah tepat ke tempat mereka.


Sing...


Boom!


Ledakan yang sangat kuat tidak dapat dihindari. Meski Heng Hao Cun berhasil menghalaunya dengan perisai pertahanannya, tapi dampak serangan itu terlalu kuat hingga membuat bagian depan kapal hancur.


Bukan hanya kapal pertama, tapi juga kapal kedua yang menerima kerusakan lebih parah. Hanya kapal ketiga yang terlihat baik-baik saja dan dapat terhindar dari serangan tersebut.


"Kurang ajar! Kita benar-benar mendapat sambutan setelah baru memasuki wilayah ini." Heng Haocun mengeluarkan pedangnya yang tersimpan dalam cincin penyimpanan. Tatapan matanya tak berhenti lepas dari beberapa sosok yang berdiri di atas benteng.


"Mereka. Pasti mereka yang melakukannya." Tubuh pria tua itu mulai dilapisi kekuatan. Dia memegang pedangnya dengan erat, lalu berdiri tegap dengan ekspresi yang bersemangat.


"Chyou! An Ming! Apa kalian sudah siap bertarung? Kita tunjukkan kekuatan kita pada orang-orang rendahan itu."

__ADS_1


"Mengerti," ucap Chyou, sementara An Ming hanya menganggukkan kepala seraya mengeluarkan pedangnya.


Di sisi lain, Zhang Yu masih berdiri di atas benteng sambil mengawasi ketiga kapal yang ada di lautan.


"Sepertinya serangan itu tidak membuat mereka bergerak lebih lambat. Bahkan sepertinya mereka semakin cepat."


Zhang Yu berdecak pelan. "Sepertinya begitu. Tujuan mereka semakin komplek ketika menemukan Daratan Zhen Yang. Rasanya mustahil jika mereka pergi begitu saja dari sini jika tidak kita yang menghalangi mereka."


"Ah!" Xuan Yang dengan cepat mengerti apa yang dimaksud Zhang Yu. Dia segera berlari ke sisi benteng yang lain, dan berteriak dari atas pada para pekerja yang ada di bagian dalam.


"Semuanya, tinggalkan benteng! Untuk sementara pekerjaan akan dihentikan!"


Dengan dekat para pekerja serta penduduk yang merasa tidak memiliki kemampuan bertarung segera pergi dari wilayah tersebut. Yang tersisa di sana hanyalah pasukan Klan Zhang dan pasukan istana.


"Zhang Yu, ...."


"Aku juga akan ikut bertarung." Kedatangan Xuan Yin menarik perhatian Zhang Yu dan Xuan Yang.


"Adik ketujuh, apa yang kau lakukan?" tanya Xuan Yang.


"Aku tidak mungkin hanya diam di saat terjadi kekacauan. Aku juga ingin berguna, membantu mempertahankan Kota Qian Gu."


Sekilas Zhang Yu memandang istrinya. Bukan mencoba menghalanginya atau memaksanya kembali, dia hanya tersenyum tipis kepadanya.


"Yin'er sudah berada di tingkat suci. Meski tidak akan bisa mengalahkan pemimpin pasukan, dia masih dapat mengalahkan beberapa anggota di tingkat yang sama."


Xuan Yin menghampiri Zhang Yu setelah mengerti jika dirinya diperbolehkan bergabung dalam pertarungan. Dia tersenyum cukup senang sambil menatap wajah suaminya.


"Sudah cukup lama kita tidak bertarung bersama. Aku sangat menantikannya."


Zhang Yu kembali tersenyum. "Aku juga,"

__ADS_1


__ADS_2