Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 80 : Musuh Selalu Bertemu


__ADS_3

"Saudara Ketujuh, kau terlihat gelisah. Apa melupakan sesuatu?"


Xuan Yin segera sadar mendengar pertanyaan dari Xuan Wu. "Tidak. Aku tidak melupakan sesuatu. Aku baik-baik saja."


Xuan Wu hanya manggut-manggut mendengar jawaban yang meragukan ini. Dia kembali menatap ke depan lalu mencari topik lain untuk dibicarakan.


"Aku mendengar kabar tentang seorang murid baru yang sanggup mencapai lantai kelima panggung naga dalam percobaan pertamanya. Bukankah dia hebat?"


Kening Xuan Yin mengerut. Dia tidak tahu ada berita seperti ini. Murid baru sampai di lantai kelima dalam percobaan pertama? Bahkan dirinya saat itu hanya sampai panggung keempat. Apa murid baru tahun ini benar-benar genius?


Masih bergelut dalam pikiran, matanya yang memandang ke arah kerumunan murid tiba-tiba menangkap satu wajah yang sangat familiar.


Xuan Yin langsung menarik wajahnya ke depan lalu mengusap matanya dengan kasar.


"Pria itu ... Kenapa akhir-akhir ini aku terus memikirkannya. Bahkan sekarang berhalusinasi melihat wajahnya." Xuan Yin menggelengkan kepala samar. Semua ini bermula saat mendengar ibu menyebut nama yang mirip dengannya. Setiap hari, setiap malam selalu terbayang sosoknya. Ini benar-benar meresahkan!


"Saudara Ketujuh, setelah ini kami akan langsung ke tempat guru. Bagaimana denganmu apa kau akan langsung ke tempat kepala akademi?"


Xuan Yin masih diam. Diam menarik nafas cukup dalam kemudian mengalihkan perhatiannya pada Xuan Si, saudara keempatnya. "Sepertinya aku memang harus ke tempat guru."


...


Di sisi lain.


"Zhang Yu, apa kau tadi melihatnya? Pangeran Ketujuh sepertinya memandang ke arahku." Wu Zetian menepuk pundak Zhang Yu dan tersenyum bangga.


"Pernah suatu hari saat Pangeran Ketujuh datang ke Kota Heishan, dia mampir ke keluarga Wu. Pasti dia mengenal aku sebagai Tuan Muda Keluarga Wu," jelasnya dengan percaya diri.


Zhang Yu hanya menggelengkan kepala.


"Murid-murid mulai membubarkan diri. Aku harus pergi sekarang."


"Kau akan pergi ke mana?" tanya Wu Zetian cepat.


Namun Zhang Yu tidak menjawabnya. Dalam beberapa tarikan nafas, punggungnya sudah tak terlihat dalam jangkauan penglihatan.


Wu Zetian mendengus kesal. "Keterlaluan! Bilang saja kau iri karena Pangeran Ketujuh mengenaliku."


...


Zhang Yu menuju kediaman guru seperti tujuan awalnya. Sambil memegang sepasang kalung di tangan kirinya dan selembar kertas di tangan kanannya dia bergerak cepat melewati perbatasan pelataran dalam dan luar.


Akan tetapi di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Wen Bailou. Pria bertubuh kekar itu sedang bersama dengan dua temannya yang sama-sama mengenakan jubah murid dalam.


"Berhenti! Apa yang kau lakukan di sini?!" Wen Bailou membentangkan tangan menghalangi jalan Zhang Yu.


Dua teman di sampingnya sampai heran melihat sikap Wen Bailou. "Wen Bailou, apa kau mengenalnya?"

__ADS_1


"Dia Zhang Yu, murid yang aku ceritakan pada kalian."


Mengetahui nama murid ini adalah Zhang Yu, dua teman Wen Bailou tampak mengernyitkan dahi sambil menelisik dalam.


"Ternyata dia murid baru yang sombong dan tak memandang keberadaan seniornya." Satu teman mencibir dengan lantang. Satu teman lainnya berjalan lalu memutari Zhang Yu dengan tatapan mencemooh.


"Apa karena sudah berhasil mencapai panggung kelima membuatmu begitu angkuh? Kami bahkan sudah mencapainya lebih dulu."


Zhang Yu memutar mata dengan malas. "Apa sudah selesai bicara? Jika sudah aku akan pergi sekarang."


Wen Bailou dan kedua temannya tercengang dengan kalimat Zhang Yu. Wajah mereka memerah dan dalam sekejap menjadi kelam.


"Ternyata kau memang tidak menghargai senior."


"Aku menghargai orang yang layak dihargai. Sedang orang seperti kalian sama sekali tidak pantas!" balas Zhang Yu.


Sebelum suasana menjadi lebih panas, Tetua Xin Fei datang menghampiri mereka yang lagi bersitegang.


"Ada apa ini ramai-ramai?"


Wen Bailou dan kedua temannya saling pandang. Dalam hati mereka mencela waktu yang tidak tepat ini. Belum juga melakukan sesuatu pada Zhang Yu, tapi Tetua Xin Fei datang tanpa diundang.


Ketiganya diam untuk beberapa waktu yang lama. Kemudian Wen Bailou memiliki satu ide untuk memojokkan Zhang Yu.


"Tetua Xin Fei, murid baru ini memasuki wilayah pekatara dalam tanpa izin. Bukankah dia harus mendapatkan hukuman?"


Tetua Xin Fei awalnya tidak begitu memperhatikan Zhang Yu. Baru setelah mendengar ucapan Wen Bailou, secara bertahap memalingkan wajahnya ke samping melihat lebih jelas.


Seperti yang dikhawatirkan. Murid baru ini ternyata adalah Zhang Yu, murid baru yang juga murid kepala akademi.


"Tetua Xin Fei, dia harus mendapat hukuman karena masuk ke pelataran dalam tanpa izin," kata Wen Bailou lagi.


Tidak ada yang menyadari raut wajah Tetua Xin Fei sangat buruk.


Memberi hukuman pada murid kepala akademi? Apa dirinya memiliki hak semacam ini?


Setelah diam beberapa tarikan nafas, Tetua Xin Fei melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh.


"Kalian bertiga kembalilah. Di sini hanya kesalahpahaman. Aku yang meminta Zhang Yu datang ke sini. Jadi dia bukan datang tanpa izin."


Wen Bailou dan kedua temannya tak percaya mendengar pernyataan Tetua Xin Fei.


Apa benar seperti itu?


Namun meski ragu mereka juga tidak berani mempertanyakan kalimat Tetua Xin Fei.


"Karena Tetua Xin Fei yang membawanya datang ke sini maka kami tidak lagi memiliki keluhan. Kami permisi!"

__ADS_1


Tetua Xin Fei menganggukkan kepala samar, kemudian beralih pada Zhang Yu.


"Sebelumnya terima kasih atas bantuan Tetua Xin Fei!"


"Itu bukan masalah yang besar. Lagi pula kau datang untuk ke tempat kepala akademi kan? Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi jalanmu. Kau bisa pergi ke sana," balas Tetua Xin Fei.


Karena masalah telah berakhir Zhang Yu segera pergi menuju kediaman guru. Baik Zhang Yu ataupun Tetua Xin Fei tidak menyadari jika Wen Bailou dan kedua temannya belum benar-benar pergi dari sana.


Melihat Zhang Yu dan Tetua Xin Fei pergi ke arah yang berbeda, mereka segera menyadari kejanggalan ini.


"Sudah kukatakan ada yang tidak beres. Tetua Xin Fei hanya mencari alasan untuk membela murid baru itu," kata teman Wen Bailou yang bertubuh cungkring.


"Itu benar. Tapi identitas seperti apa yang membuat Tetua Xin Fei begitu membelanya?" gumam teman lainnya.


Wen Bailou malas memikirkan tentang hal ini. Yang ada dalam kepalanya hanya keinginan untuk memberi pelajaran pada Zhang Yu.


Murid baru itu bukan hanya menantangnya, tapi juga merebut perhatian Meng Yue. Dia tidak akan puas sebelum melihatnya sengsara. Atau setidaknya babak belur dengan tangannya.


"Senior Wen, apa kau ingin mencari kesempatan untuk memberi pelajaran pada murid baru itu?"


Kening Wen Bailou mengerut mendengar suara dari arah belakang. Melihat siapa pemilik suara ini adalah seorang murid luar, dia segera pasti mengedutkan bibirnya.


"Kau siapa?"


Murid luar begitu banyak. Mustahil untuk mengingat semua nama secara pasti kecuali orang itu benar-benar menonjol. Tapi murid di depannya ini jelas tidak begitu menonjol dan sepertinya ini adalah pertama kali bertemu dengannya.


Jiang Fu tersenyum pahit mendengar pertanyaan ini. Tapi dia tak ingin begitu mempermasalahkannya.


"Senior Wen, namaku adalah Jiang Fu. Aku telah menjadi pengagummu sejak lama. Kau bukan hanya kuat, tapi juga berbakat ...."


Kata-kata manis diluncurkan begitu mudah, membuat kepala Wen Bailou membesar.


Pria bertubuh kekar itu berdehem beberapa kali sambil melambaikan tangannya. "Cukup cukup! Kau tak perlu mengatakannya dengan begitu jelas meski kenyataannya memang seperti itu."


Ehem...


"Kau berkata punya cara untuk memberi pelajaran pada Zhang Yu. Cepat katakan padaku," pintanya.


Jiang Fu tersenyum karena rencananya berjalan lancar. "Senior Wen, bukankah tak lama lagi akan ada ritual memasuki Alam Zhen Yang? Itu adalah kesempatan sempurna untuk membalaskan dendammu pada Zhang Yu."


"Alam Zhen Yang?" Kedua teman Wen Bailou membuka mata lebar dengan terkejut.


"Wen Bailou, yang dia katakan benar juga. Kita bisa melakukan apapun saat di Alam Zhen Yang tanpa khawatir hukum akademi."


Wen Bailou termenung beberapa detik. "Bagaimana jika dia tidak datang?"


"Senior Wen tenang saja. Aku sangat yakin. Orang seperti Zhang Yu tidak mungkin melewatkan kesempatan ini selama dia mengetahui informasinya."

__ADS_1


Wen Bailou ragu, tapi perkataan ini sangat masuk akal. Jadi dia mulai menarik sudut bibirnya. "Aku akan melakukannya! Aku akan menunggu sampai waktunya tiba!"


__ADS_2