
"Kalian dengar sesuatu?"
Phan Gu tiba-tiba duduk setelah hanya berbaring di tempat peristirahatan. Matanya yang hitam legam menatap ke sekitar seolah mencari sesuatu yang mengganggunya.
Pria yang memegang kipas mengerutkan kening. "Kami tidak mendengar apapun kecuali suara kapak memecah batu," ucapnya.
Namun Phan Gu bergeming. Dia yakin telah mendengar sesuatu yang mirip dengan sinyal suara. Mungkin ada satu di antara mereka yang meniupnya untuk menyampaikan pesan tertentu.
"Tidak mungkin kan itu hanya perasaanku?" gumam Phan Gu.
Detik berikutnya Phan Gu meninggalkan gubuk kemudian berjalan ke tambang sambil mengamati orang-orang Suku Niao yang masih menambang kristal api.
Sing...
Cahaya yang terang melesat ke atas dari tambang. Perhatian semua orang langsung tertuju ke arah sana, tak terkecuali Phan Gu yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari batu berwarna merah kekuningan di tempat salah satu penambang.
"Kristal inti api!" Phan Gu seolah lupa dengan suara yang terdengar olehnya beberapa saat yang lalu. Dia melambaikan tangan pada seorang anggota menara iblis yang kebetulan berdiri dalam jarak beberapa meter dari kristal inti api.
"Ambil itu dan bawa ke sini!" perintah Phan Gu.
Tanpa banyak bicara kristal inti api di bawa ke hadapan Phan Gu.
"Persentase kemunculan kristal inti api di tambang kristal api adalah satu banding sepuluh ribu. Siapa yang menyangka kita mendapatkannya lagi setelah yang pertama di ambil oleh Senior Heng."
Wajah Phan Gu berseri. Walau bagaimanapun, hanya sedikit orang yang mampu tetap menjaga citranya di hadapan keuntungan. Namun Phan Gu bukan orang yang memikirkan hal sepele seperti itu. Selama ada keuntungan, dia harus mendapatkannya.
"Mumpung Senior An Xing dan yang lain tidak ada di sini. Kristal inti api ini akan menjadi milikku," batinnya.
Pada saat yang sama, Zhang Yu dan kelompok Suku Niao sedang mengawasi dari tempat tersembunyi. Meskipun sebenarnya Shin dan Yi sangat marah melihat bagaimana puluhan anggota Suku Niao dijadikan budak pekerja dengan rantai yang mengekang, tapi mereka tak bisa bertindak gegabah mengingat saudara mereka masih ada di tangan musuh.
"Kakak Yu, apa kau punya rencana?"
Zhang Yu mengeluarkan seruling kecil yang diambilnya dari pria berambut keriting sebelumnya. Perlahan sudut bibirnya terangkat saat memikirkan satu ide yang mungkin dapat mereka gunakan.
"Kita gunakan benda ini untuk mengalihkan perhatian mereka."
__ADS_1
Shin menautkan kedua alisnya. Setelah berpikir sejenak dia pun mengerti apa yang diinginkan Zhang Yu. "Gui, bisakah kau pergi menarik perhatian mereka?"
Gui mengangguk tanpa ragu. "Aku akan melakukannya, Pangeran."
Zhang Yu lalu memberikan pecahan seruling itu. Meskipun sudah rusak, tapi bagian yang dapat mengeluarkan suara masih berfungsi.
"Bawalah beberapa orang bersamamu. Dan, kalian harus segera pergi sejauh mungkin setelah meniup sinyal suara." Zhang Yu menyerahkan seruling tersebut.
Gui yang paham segera menggenggam seruling itu dan pergi bersama beberapa orang untuk menarik perhatian.
"Selain puluhan orang dijadikan budak pekerja, masih ada kelompok wanita dan anak-anak yang di tahan," kata Shihwa, salah seorang anggota Suku Niao yang sebelumnya di tahan di kapal.
Selain itu, Shihwa juga memberitahu tentang situasi yang ada di pulau saat ini. Tentang pemimpin regu yang tidak ada di pulau dan hanya menyisakan anggota biasa. Namun jumlah mereka terlalu banyak yang diperkirakan tak lebih sedikit dari dua ratus orang.
Syut!!
Sinyal suara terdengar cukup keras. Phan Gu dan orang-orang menara iblis yang ada di sekitar tambang sontak menghentikan seluruh aktivitas dan mengangkat wajah ke sumber suara.
"Itu sinyal suara!" kata beberapa orang.
"Apa kau masih tidak mendengarnya? Aku sudah bilang mendengar suara. Apa kau pikir aku tuli seperti kalian?!" Phan Gu berdecak, sementara pria yang memegang kipas hanya diam termangu.
Cih!
"Pasti telah terjadi sesuatu di sana. Ayo ikut denganku untuk memeriksa." Phan Gu hanya meninggalkan belasan orang untuk berjaga di tambang. Dia membawa lebih banyak orang untuk pergi ke sumber suara.
Mereka tidak akan menyangka jika itu adalah rencana pengalihan. Setelah sebagian besar orang meninggalkan tambang, Zhang Yu dan kelompok Suku Niao bergerak.
"Entah kenapa perasaanku tidak enak," ucap salah satu orang yang bertahan di tambang.
Pria botak di sebelahnya hanya tertawa. "Kau hanya terlalu banyak berpikir. Dengan melihat letak pulau ini yang sangat terpencil, tidak akan ada yang datang kecuali kita."
"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan sinyal suara itu?"
"..."
__ADS_1
Pria botak seketika terdiam. Tapi sedetik kemudian dia masih berusaha menyangkalnya. "Itu pasti hanya karena masalah kecil. Phan Gu saja yang bereaksi berlebihan seakan-akan masalah ini begitu besar."
Teman-teman lain yang mendengar pun sependapat dengan pria berkepala plontos. Dalam pikiran mereka, Phan Gu masih kurang berpengalaman untuk memahami situasi. Itulah kenapa mereka tidak terlalu menaruh simpati kepadanya.
"Sudah, jangan terlalu serius. Kita nikmati saja waktu ini sebelum Phan Gu kembali." Pria botak berjalan ke arah gubuk, lalu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.
Yang lain hendak mengikutinya. Tapi baru beberapa langkah, kelebat bayangan hitam tiba-tiba muncul dan menyerang mereka.
Shut!
Shut!
Gludak!!
Tubuh mereka jatuh dengan serangan mematikan. Dalam hanya waktu yang sangat singkat belasan orang meregang nyawa.
Pria botak yang merasakan suasana menjadi sunyi dan hening merasa curiga. Dia bangkit mengangkat tubuhnya untuk mencari keberadaan teman-temannya. Namun, belasan rekan yang sudah menjadi mayat membuat tubuhnya menegang.
"A-apa yang terjadi?!" Pria botak segera keluar dari gubuk. Ketika dia hendak pergi ke tempat rekan-rekan yang sudah meninggal, Shin dan Yi muncul melompat dari atas gubuk dan menjatuhkan pria botak.
Dengan serangan seperti itu pria botak tak bisa menghindar. Tubuhnya pun langsung terlempar ke tanah.
Uhuk!
Pria botak memuntahkan seteguk darah. Dia menyadari situasi ini sedikit kacau, jadi ingin memberi tahu yang lain dengan sinyal suara.
Sayangnya niat tersebut dapat dengan mudah dibaca oleh Shin. Sang pangeran Suku Niao itu tanpa ragu menghunjam tubuh pria botak dengan pedangnya yang membuatnya mati seketika.
"Kakak Yu!"
"Cepat bebaskan mereka." Zhang Yu meninggalkan belasan mayat yang telah dibunuhnya. Dia berjalan ke arah gubuk sambil menaikkan tudung jubahnya.
Shin dan Yi memberi tanda pada puluhan orang Suku Niao yang masih bersembunyi. Mereka segera keluar setelah melihat tanda, dan pergi ke tambang untuk membebaskan saudara yang dengan kejam dijadikan budak pekerja oleh orang-orang menara iblis.
Zhang Yu hanya melihat dari kejauhan. Setelah berhasil membebaskan orang-orang Suku Niao yang dijadikan budak pekerja, sekarang tujuan mereka adalah membebaskan wanita dan anak-anak yang ditahan, kemudian baru membereskan orang-orang menara iblis yang ada di pulau.
__ADS_1