
Dari Kota Heishan menuju Kota Xue He paling tidak membutuhkan waktu seperempat hari perjalanan. Kendati demikian, Zhang Yu tidak berniat untuk beristirahat walau langit berangsur-angsur gelap.
Dia melakukan perjalanan bersama rombongan saudagar lokal. Melesat dengan menunggang kuda melewati bukit dan padang pasir.
"Saudara Zhang Yu, sebenarnya untuk apa kau pergi ke ibukota?" tanya Wu Zetian, putra kepala saudagar.
Zhang Yu menatap sekilas, dia agak ragu saat akan mengatakannya.
"Aku sendiri pergi ke ibukota untuk bergabung dengan Akademi Kekaisaran. Kau tahu, itu adalah akademi terbesar di Kekaisaran Xuan." Wu Zetian menjelaskan dengan bangga. Senyum terlukis di antara bibir tebalnya.
Mata Zhang Yu memicing. Apa dia tidak salah dengar? Ternyata Wu Zetian akan bergabung dengan Akademi Kekaisaran.
"Aku juga akan pergi ke sana,"
Kalimat Zhang Yu membuat senyum di wajah Wu Zetian menghilang. Dia masih mengendalikan kudanya, matanya menatap Zhang Yu dengan tanda tanya.
"Apa itu benar? ...." Pemuda gemuk berusia 23 tahun itu menyatukan alisnya dan detik berikutnya mulai menggelengkan kepala. "Tidak tidak. Aku tidak mengingatmu adalah bagian dari lima puluh murid baru yang diterima. Kau pasti bercanda. Benar kan?"
"Tiga bulan yang lalu aku menyingkirkan lebih dari seribu pesaing dan menjadi lima puluh orang yang beruntung. Jika kau benar-benar termasuk dalam lima puluh murid baru, aku pasti akan mengingatmu karena kami semua pernah saling berhadapan dalam satu arena pertarungan."
Zhang Yu tidak mengatakan apapun untuk menyangkal. Dirinya memang bukan termasuk lima puluh daftar murid baru. Tapi dia datang dengan token gurunya. Seharusnya dengan begini akan diterima juga kan?
Sejatinya tidak ada kepastian akan hal itu. Tapi Zhang Yu tidak punya pilihan selain datang dan mencobanya langsung.
Dua jam kemudian, rombongan untuk pertama kali melewati gerbang Kota Xue He. Wu Zetian berpisah dengan rombongan ayahnya untuk langsung menuju Akademi Kekaisaran.
Tentu saja Zhang Yu memiliki rute yang sama. Saat Wu Zetian menyadarinya, secara pasti keningnya mengerut.
"Saudara Zhang Yu, apa kau benar-benar akan pergi ke Akademi Kekaisaran? Kau akan diusir setelah sampai di sana jika tidak memiliki token identitas."
"Kau tenang saja. Jika diusir aku hanya perlu memutar balik, kan?" balas Zhang Yu santai.
Wu Zetian menggelengkan kepala sambil menghela nafas. "Berharap saja mereka tidak memperlakukanmu dengan kasar. Takutnya mereka akan mengira kau adalah penyusup."
__ADS_1
"Kau tenang saja,"
Wu Zetian mengangkat bahu dan memilih fokus untuk memacu kudanya lebih cepat.
...
Setelah melakukan perjalanan beberapa waktu akhirnya Wu Zetian dan Zhang Yu sampai di depan wilayah Akademi Kekaisaran.
Tengah malam tidak membuat tempat ini menjadi sepi. Tampak di depan mata puluhan rombongan mengantar putra-putri mereka yang telah mendapat kesempatan menjadi murid baru Akademi Kekaisaran. Meski begitu tidak ada kesedihan di wajah mereka saat menyaksikan punggung sang anak menghilang di balik pintu raksasa setinggi tiga puluh kaki. Mereka semua bangga dan senang karena Akademi Kekaisaran adalah tempat paling tepat untuk membangun pondasi kekuatan.
"Saudara Zhang Yu, kau dapat melihat sendiri bagaimana penjagaan begitu ketat. Yang masuk harus menunjukkan token identitas. Jika aku bisa memberi saran, lebih baik kau kembali dan tunggu dua tahun lagi untuk mengikuti seleksi."
Setelah berkata Wu Zetian turun dari kudanya laku berjalan ke arah penjaga di pintu gerbang dengan menunjukkan token identitasnya.
Zhang Yu diam sejenak di sana masih di atas kuda. Melihat gerbang akan ditutup dia segera mendekat.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya dua murid yang bertugas menjaga gerbang. Karena lima puluh murid baru sudah masuk jadi harusnya tidak ada lagi yang datang. Tapi sekarang malah datang satu lagi. Tentu saja mereka bertanya-tanya apa ada perubahan jumlah penerimaan murid baru pada tahun ini?
Zhang Yu tertegun untuk beberapa waktu.
"Aku tidak punya token. Tapi ...."
"Apa kau mempermainkan kami? Tidak punya token tidak bisa masuk. Pergi sana!" Mereka langsung mengusir dengan kesal. Satu murid kemudian masuk ke dalam gerbang menarik tuas untuk menutup gerbang.
Satu murid lainnya kembali melambaikan tangan mengusir. "Jangan pernah datang jika kau tidak punya token identitas."
Zhang Yu bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Dia berdecak pelan lalu mengeluarkan giok ungu pemberian gurunya.
"Lihat ini! Aku akan pergi setelah kau melihatnya."
Murid itu awalnya acuh tak acuh. Bahkan mengabaikan Zhang Yu. Dalam pikiran mereka semua barang tidak penting. Selama tidak ada token identitas tidak ada yang boleh masuk.
Namun, saat pertama kali melihat gion ungu di tangan Zhang Yu ekspresi wajahnya dengan segera berubah. Dia melambaikan tangan pada temannya yang sebelumnya menarik tuas dan memintanya segera datang.
__ADS_1
"Tahan gerbangnya!" serunya.
Murid yang sebelumnya menurunkan tuas untuk menutup gerbang segera datang. "Sebenarnya ada apa? Apa dia tidak mau pergi?"
"Jangan banyak bicara. Lihat apa yang ada di tangannya." Karena temannya banyak bicara, dia menekan pipinya lalu mendorong wajahnya ke depan giok ungu di tangan Zhang Yu.
Sama seperti murid pertama. Murid itu juga terkejut saat mengenali giok ungu itu tak lain adalah token guru. Namun beberapa saat kemudian ekspresi wajahnya menjadi curiga.
"Apa ini asli? Kau tidak mencoba menipu, kan?" tanyanya.
Zhang Yu menjawab "Itu asli", tapi murid itu masih curiga. Sekarang dia menantang untuk melakukan pengecekan.
"Kau boleh mengeceknya. Tapi satu di antara kalian tetap di sini dan gerbangnya tetap dalam keadaan seperti ini."
Dua murid itu menaikkan dua alis mereka secara bersamaan. "Apa kau berpikir kami akan membawa kabur giok ini?"
"Aku hanya melakukan pencegahan. Apapun dapat terjadi karena kita tidak saling mengenal." Zhang Yu mengatakan dengan begitu lugas tanpa menyinggung.
Dua murid itu saling berpandangan. Keduanya kemudian menganggukkan kepala. "Baiklah. Kita sepakat!"
Sesuai kesepakatan satu murid itu pergi untuk melakukan pengecekan. Satu lainnya berdiri di depan gerbang diam sambil melipat tangan.
Tidak ada percakapan saat menunggu. Setengah jam berlalu dan akhirnya murid yang pergi kembali.
"Bagaimana?"
"Asli."
Saat mendengar jawaban ini murid kedua tampak terkejut. Ternyata itu benar-benar token asli. Jadi bisa dikatakan pria di depannya ini memiliki hubungan dengan seorang guru di akademi. Beruntung dia tidak mengatakan suatu yang berlebihan. Jika sampai menyinggungnya, itu akan menjadi menjadi masalah di kemudian hari.
Murid pertama menyerahkan kembali token guru kepada Zhang Yu. "Masuklah. Kau murid baru yang ke lima puluh satu."
Zhang Yu menerima token itu dan diam-diam mengembangkan senyum. "Aku tidak akan sungkan."
__ADS_1