
Karena lima pemenang telah didapatkan, babak kedua berakhir dan masuk dalam babak tambahan. Lima peserta yang kalah akan bertarung untuk memperebutkan satu tempat yang tersisa. Namun dikarenakan Yan Xou sebelumnya menggunakan ramuan khusus dia didiskualifikasi untuk berpartisipasi. Jadi saat ini di atas arena hanya ada empat peserta.
Hong Shen, Ban Yuetai, Guang Mo dan Zhao Ran.
"Guang Mo, bagaimana jika kita kerja sama terlebih dahulu? Kita kalahkan mereka berdua, lalu bertarung secara adil."
Guang Mo mengerutkan kening mendengar ucapan Hong Shen. Dia menatap dua lawan di seberang yang memang dibandingkan dengan Hong Shen mereka lebih mudah disingkirkan.
"Aku yang kiri, kau yang kanan," ucap Guang Mo.
"Itu yang kumaksud, dengan begitu pertarungan ini akan semakin jelas," sahut Hong Shen.
Ban Yuetai dan Zhao Ran yang merasa terkucilkan menatap dengan marah. "Jangan berpikir kami akan begitu mudah kalah. Kalian harus berhati-hati karena kami juga mengincar satu tempat itu," seru Zhao Ran.
Di sisi lain Jendral Ji Han bersiap mengangkat tangannya. Dia mulai menghitung. "Satu, dua, tiga!"
Begitu suara Jendral Ji Han menggema ke seluruh penjuru, mereka langsung berhadapan satu lawan satu. Hong Shen dengan Ban Yuetai dan Guang Ma dengan Zhao Ran.
"Apa hanya karena kalian berasal dari tiga klan kuno jadi merasa lebih hebat dari kami?" Ban Yuetai mendorong tombaknya hingga memicu aliran petir.
"Terlepas dari hal itu, kalian memang masih berada di bawah kami," balas Hong Shen seraya mengeluarkan aliran api dari pedangnya.
Worst...
Api langsung menelan aliran petir hingga habis tak bersisa. Ban Yuetai terkejut, dia mengubah cara bertarungnya dan menerjang dengan tombaknya.
Sayangnya setiap serangan yang dia lakukan mampu dipatahkan oleh Hong Shen.
"Sudah lihat? Inilah jarak di antara kau dan aku."
Ban Yuetai terpancing dengan kalimat Hong Shen. Dia menarik tombaknya, kemudian mengeluarkan tekniknya.
"Tombak Petir!"
Petir berkumpul membentuk mata tombak. Tekanan yang dihasilkan cukup kuat hingga mampu membuat bulu kuduk berdiri. Namun Hong Shen juga punya serangan yang tidak kalah kuat.
__ADS_1
"Pedang Dewa Agung!"
Siluet makhluk besar berdiri di atas Hong Shen. Hanya setengah badan tapi cukup besar dan tampilannya menyeramkan. Dia juga memegang pedang cahaya merah dengan panjang tak kurang dari empat meter yang membuatnya terlihat perkasa.
"Teknik rahasia Klan Hong!" seru beberapa penonton yang mengenali teknik tersebut.
Ban Yuetai mendadak ragu melihat apa yang ditunjukkan Hong Shen. Hal itu juga mempengaruhi tombak petirnya yang memudar.
"Ini adalah teknik Klan Hong yang sangat terkenal itu? Apa aku dapat menghadapinya?" gumamnya dalam hati. Ban Yuetai berpikir cukup lama sebelum dia mengukuhkan niatnya untuk melanjutkan pertarungan.
"Masa bodo dengan hasilnya. Aku hanya perlu bertarung di sini dan berusaha semaksimal mungkin." Ban Yuetai memegang tombaknya erat, tombak petir di depannya juga menjadi pekat kembali.
Hong Shen menarik sedikit sudut bibirnya, kemudian mengarahkan pedangnya ke depan yang diikuti spontan oleh wujud jiwanya.
Dari ayunan pedang tercipta gelombang api yang menyapu seperti ombak. Tombak petir diterjang brutal tanpa ada kesempatan untuk melawan.
Ban Yuetai tercengang. Dia kembali mengeluarkan tombak petir yang lebih besar, tapi tidak ada hasil nyata yang diperolehnya.
Walau awal-awal berhasil menunjukkan perlawanan, tapi akhirnya tetap kalah dengan ombak api dari ayunan wujud jiwa Hong Shen.
Di sisi lain Guang Mo juga sangat mendominasi. Zhao Ran yang jelas memiliki tingkat kultivasi lebih rendah tidak bisa bertahan lama. Akhirnya dua orang peserta tidak lagi bisa melanjutkan pertarungan. Tersisa Hong Shen dan Guang Mo yang akan bertarung memperebutkan satu tempat babak ketiga.
Guang Mo mendengus. "Aku akan mengalahkan mu!"
Dua detik kemudian Guang Mo menghilang dari tempatnya dan tiba-tiba muncul di belakang Hong Shen. Dia mengangkat pedang lalu melakukan tebasan.
Melihat Hong Shen tidak sempat bereaksi Guang Mo tersenyum senang. Dia berpikir akan mengalahkannya dengan cepat.
Akan tetapi saat akan menebas wujud jiwa milik Hong Shen, pedangnya terpental kembali dengan diikuti suara nyaring.
Trank!
Hong Shen tertawa melihat Guang Mo, lalu berkata, "Wujud jiwa terkenal bulan karena serangannya, tapi pertahanannya yang kuat. Apa kau lupa?" cibirnya.
Mata Guang Mo menjadi kelam. Tangan mencengkeram pedang kemudian mengalirkan Qi ke pedangnya. "Begitu kah? Mati lihat apakah wujud jiwamu itu dapat bertahan dari serangan ku ini?"
__ADS_1
"Lima Pedang Cahaya!"
Lima pedang berwarna putih keluar dari permukaan arena. Berputar mengikuti gerakan tangan Guang Mo, kemudian melaju dengan cepat seperti anak panah.
Wush...
Blam!
Satu pedang menyasar ke bagian dada. Wujud jiwa yang terlihat tangguh itu sekarang tampak retak.
Hong Shen menggigit ujung bibirnya. "Sial! Lima pedang cahaya adalah teknik rahasia Klan Guang. Hanya satu pedang saja sudah membuat kerusakan seperti ini, penguasaanku dalam teknik pedang dewa agung masih terlalu rendah!"
Hong Shen segera memulihkan kembali bagian yang rusak dengan Qi. Dia harus bergerak cepat karena khawatir Guang Mo akan mengincar bagian itu lagi dan membuat kerusakan semakin parah.
Namun, Guang Mo memang sudah mengincarnya. Melihat Hong Shen berusaha memperbaikinya, dia melesatkan empat pedang cahaya yang tersisa.
Boom!!
Ledakan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Lantai arena bergetar dan kabut asap menyebar.
Pada saat ini hampir semua orang berpikir Hong Shen telah tamat. Namun, pada satu momentum tiba-tiba bayangan hitam berkelebat sari kepulan asap.
"Guang Mo! Terima ini!"
Guang Mo yang sudah berpikir pertarungan akan lebih mudah tak mengira Hong Shen keluar dari kepulan asap lalu menyerangnya.
Dia mundur untuk menghindar, tapi gerakan Hong Shen masih lebih cepat. Terlebih dalam posisi yang terdesak, Guang Mo hampir terjungkal.
Hong Shen pun tidak memberi kesempatan. Melihat Guang Mo yang kelabakan dia mengeluarkan serangan kejutan. Guang Mo kehilangan pedangnya, dia terjatuh dengan pedang Hong Shen menyentuh lehernya.
Pertarungan ini pun berakhir begitu tiba-tiba. Saat kebanyakan orang berpikir Guang Mo yang akan lanjut ke babak ketiga, tapi faktanya Hong Shen yang bertahan sampai akhir. Beberapa orang masih bertanya-tanya, bagaimana cara doa lolos dari serangan empat pedang cahaya milik Guang Mo. Padahal itu sangat kuat dan wujud jiwa yang sudah retak tidak mungkin mampu bertahan.
"Dia lumayan juga. Karena tahu tidak mungkin menahan empat pedang cahaya dia tidak memulihkan wujud jiwanya, tapi melepaskan diri dan bersembunyi di belakangnya. Setelah terjadi ledakan dan asap yang membludak, dia keluar dan menyerang dengan ganas. Lawan yang tidak menyangka hal ini tidak siap untuk menghadapinya, akhirnya dia memenangkan pertarungan." Dewa naga memuji bagaimana Hong Shen bertarung.
"Kau juga harus waspada jika bertemu dengannya. Meski unggul tingkat kultivasi, tidak menutup kemungkinan akan menyulitkanmu jika sampai bertemu."
__ADS_1
Zhang Yu mendengar nasehat dewa naga. Tapi pikirannya masih rumit dengan apa yang baru saja terjadi. Sejak awal dia tidak berniat mengekspos identitasnya, sayangnya terdapat satu kejadian tidak terduga yang membuat semua terungkap.
Namun, apa mau dikata. Karena sudah seperti ini dia hanya akan bergerak mengikuti arus.