Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 139 : Berangkat ke Gunung Tiankong


__ADS_3

Dengan cepat waktu berlalu. Termasuk hari ini, sudah lima puluh hari Zhang Yu tinggal di gedung utama sebagai tamu Saturnus. Pertarungan surga lima hari lagi, tapi Liu Bei dan beberapa tetua Saturnus memutuskan untuk pergi lebih awal ke Gunung Tiankong.


Sekarang semua yang ikut pergi sudah bersiap di depan gedung utama dengan tiga kereta kuda. Setidaknya ada dua puluh orang termasuk Liu Bei, Liu Cang, Liu Mengqi dan pastinya Zhang Yu.


"Ini adalah daftar peserta pertarungan surga setelah pertemuan akhir tiga hari yang lalu. Aku mendapatkannya dari ayahku," kata Liu Mengqi sambil menjulurkan tangan menyerahkan sebuah gulungan.


"Terima kasih." Zhang Yu segera membukanya. Dia sudah menginginkan daftar ini sejak beberapa minggu terakhir. Tapi baru didapatkan saat Tuan Besar Liu kembali dari pertemuan akhir antar perwakilan kekuatan besar.


Hal pertama yang ingin dipastikan adalah Klan Xiao. Apakah ada di antara peserta itu yang merupakan perwakilan Klan Xiao. Ketika menemukan dua nama dengan marga Xiao, Zhang Yu tak bisa menyembunyikan rasa antusiasme dalam raut wajahnya.


"Xiao Yuze, Xiao Yuwen, mereka berdua adalah perwakilan Klan Xiao." Zhang Yu merasa informasi ini cukup untuk memastikan Klan Xiao akan datang ke Gunung Tiankong.


Setelah dua helatan pertarungan surga tidak berpartisipasi, Zhang Yu khawatir kali ini mereka juga akan absen. Namun melihat dua nama ini membuatnya lega.


Liu Mengqi memperhatikan Zhang Yu yang terlihat begitu serius. Anehnya tiba-tiba Zhang Yu tersenyum dan terlihat seperti orang tidak waras.


"Apa yang lucu?" Liu Mengqi mendekat dan melirik ke arah gulungan di tangan Zhang Yu. Namun selain daftar nama perwakilan, sepertinya tidak ada yang salah.


"Apa jangan-jangan kau takut dan tak punya kepercayaan diri untuk bertarung dalam pertarungan itu?" kata Liu Mengqi dengan nada mengejek.


Zhang Yu menghela nafas lalu menyimpan gulungan tersebut. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan bertarung dapat pertarungan itu."


Liu Mengqi tertawa agak ragu seperti meremehkan ucapannya. "Kau tidak perlu merasa terbebani. Bahkan jika kau langsung tersingkir di babak pertama, kami tidak akan begitu kejam dengan meminta kompensasi."


Zhang Yu tak bicara lagi. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kereta kuda setelah mendengar seruan Liu Bei dari kereta kuda paling depan.


"Xiao Qi, cepat masuk. Apa kau tidak ingin ikut?"


Liu Mengqi cepat-cepat menyusul Zhang Yu. Mereka berdua menempati kereta kuda paling depan bersama Liu Bei dan Liu Cang. Tetua dan belasannitanh lainnya berada di kereta kuda nomor dua dan tiga.


"Zhang Yu, apa kau sudah siap?" tanya Liu Bei.

__ADS_1


...


Sementara di tempat lain. Tepatnya sebuah ruangan yang dilapisi pembatas, dua orang wanita terkurung di sana tanpa bisa melakukan apapun. Yang satu berusia akhir empat puluhan, sementara satunya masih berusia dua puluh dua tahun.


"Sampai kapan kau akan seperti itu? Dengan menolak makan mereka juga tidak akan melepaskanmu. Kau hanya menyiksa tubuhmu sendiri," kata wanita berpakaian ungu itu pada wanita yang lebih muda.


Namun wanita lebih muda itu hanya bergeming tanpa mempedulikan masukan yang dilontarkan untuknya.


Wanita berpakaian ungu itu menghela nafas, kemudian berjalan mendekat. "Jika kau tidak ingin menikah kenapa kau datang ke Klan Xiao? Harusnya kau menolak saat mereka membawaku ke sini."


"Apa aku bisa melakukan itu? Janji ini sudah ada bahkan sebelum aku lahir. Jika aku menolak datang, bukan jaminan mereka akan melukai orang tuaku."


Oh...


"Kau ini gadis kecil yang memiliki jiwa besar. Omong-omong, siapa namamu? Aku lupa mengingatnya," kata wanita berpakaian ungu itu sambil tertawa lirih.


"Xuan Yin," jawab Xuan Yin setelah beberapa saat terhenyak.


Xuan Yin merasa sangat diperhatikan. Dia diam sambil menatap nampan di depannya, lalu bertanya pada wanita ini. "Bukankah Bibi berasal dari Klan Xiao? Kenapa mereka mengurung Bibi di ruangan ini?"


Wanita berpakaian ungu itu hanya tersenyum masam. "Itu sudah berlalu puluhan tahun yang lalu. Jadi jangan membahasnya."


"Puluhan tahun?" Mendengar ini Xuan Yin tercengang. Dia tak berpikir Klan Xiao sangat tidak berperasaan dengan mengurung seseorang di ruangan seperti ini selama puluhan tahun.


"Sudahlah, kau makan saja. Jangan terlalu banyak berpikir." Wanita berpakaian ungu itu berjalan kembali ke tempatnya yang berada di sisi lain ruangan itu.


Xuan Yin kembali menatap makanan di depannya. Pada saat itu pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan seorang pria muda yang mengenakan pakaian coklat dengan ikat pinggang berlambang matahari.


Dua penjaga di luar berseru cukup kencang. "Tuan Muda Xiao Yuze memasuki ruangan!"


Xiao Yuze, pria bermata lebar dengan wajah tegas itu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Xuan Yin. Setelah menemukannya duduk di salah satu sudut ruangan, dia pun melangkah masuk menghampirinya.

__ADS_1


"Tunangan ku terkasih, calon suamimu ini akan pergi untuk berkompetisi dalam pertarungan surga. Do'akan aku agar mendapatkan posisi pertama, karena setelah kembali kita akan melaksanakan ritual pernikahan." Xiao Yuze, pria berusia dua puluh lima tahun itu mencoba meraih tangan Xuan Yin. Tapi segera ditepis nya dengan jijik.


"Sudah kubilang padamu aku lebih baik mati dari pada menikah denganmu," dengus Xuan Yin dengan sengit.


Namun Xiao Yuze masih terlihat tenang, dia berkata, "Jangan berkata seperti itu tunangan ku terkasih. Setelah menikah aku akan memperlakukanmu dengan baik. Jadi kau tidak akan menyesal."


Xiao Yuze mendekatkan wajahnya lalu berbisik dengan suara yang menusuk. "Kau pasti tahu kan konsekuensi jika menolak pernikahan ini?" Tidak hanya orang tuamu, juga keenam saudaramu juga akan dalam bahaya jika kau berani macam-macam."


Tubuh Xuan Yin menegang dan tangannya terkepal. Dia ingin mencabik pria ini jika bisa, sayangnya dia tidak bisa menggunakan kekuatannya setelah jalur meridian disegel.


Xiao Yuze belum selesai dia kembali menjulurkan tangannya hendak menyentuh wajahnya Xuan Yin. Tapi sebelum hal itu terjadi, sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya.


Ah...


Tentu saja ini mengejutkan Xiao Yuze. Dia perlahan memalingkan wajahnya ke samping dan melihat wanita berpakaian ungu yang sudah berdiri tepat di dekatnya.


"Xiao Yuze, jangan keterlaluan."


Xiao Yuze langsung menarik tangannya dan mundur satu langkah. Dia menelan ludah cukup kasar sebelum mendengus kesal.


"Bibi Xiao Mei, ini adalah urusanku dengan tunangan ku. Sebaiknya kau tidak ikut campur."


Namun wanita berpakaian ungu bernama Xiao Mei itu bergeming tanpa menghiraukan peringatan Xiao Yuze. "Aku hanya tidak ingin melihat kau menggertak wanita. Jika kau begitu merasa hebat, kenapa tidak mencari lawan yang sepadan?"


Xiao Yuze tak berkutik. Bahkan jika Xiao Mei hanya bisa menggunakan sedikit kekuatannya, dian tidak akan bisa mengalahkan bibinya itu. Pada akhirnya dia hanya bisa pergi dari sana dengan kesal.


"Bibi Xiao Mei aku akan mengingat hal ini. Bukankah kau dan pria itu sudah memiliki anak? Aku tahu kau kembali setelah melahirkan, jadi bagaimana jika aku menemukan anakmu dan membawanya bertemu dengan leluhur?" Xiao Yuze tersenyum percaya diri saat mengatakan ini. Sangat berbeda dengan Xiao Mei yang kini terlihat sangat marah.


"Coba saja! Jika kau berani melakukannya, aku sendiri yang akan memberi kun pelajaran. Bahkan ayahmu tidak akan bisa menghentikan ku!"


Huh!

__ADS_1


Xiao Yuze mendengus lalu keluar dari ruangan itu.


__ADS_2