Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 193 : Keluarga He


__ADS_3

Selama perjalanan Duan Jian benar-benar tidak merasa tenang. Meski Zhang Yu hanya diam di bagian dek depan tapi dia merasa seperti diawasi setiap pergerakannya.


Pada satu momen Duan Jian ingin berbicara pada Zhang Yu. Akan tetapi kalimatnya itu tertahan saat menyadari ikat pinggang di balik jubah hitam Zhang Yu yang terlihat akrab.


"Klan Zhang? Mungkinkah dia berasal dari Klan Zhang?" gumam Duan Jian dalam hati.


Sungguh baru menyadari ikat pinggang itu memiliki lambang naga yang berarti berasal dari Klan Zhang.


Mungkin jika lima tahun yang lalu Klan Zhang tidak begitu menonjol di wilayah sungai barat. Tapi beberapa waktu ini kekuasaan Kota Qian Gu sepenuhnya berada di tangan Klan Zhang yang bahkan mulai mempengaruhi wilayah-wilayah pinggiran seperti sungai barat.


"Tunggu, ... Pakaian ini, penampilan ini ...." Duan Jian mengamati Zhang Yu dengan telaten. Ketika dirinya menjadi lebih yakin, raut wajahnya benar-benar berubah pucat.


"A-apa mungkin kau putra tertua kedua Klan Zhang, Zhang Yu?" tanya Duan Jian dan suaranya sedikit bergetar.


Zhang Yu mengangkat wajahnya. "Kenapa? Kau ingin datang mencari ku?"


Seketika Duan Jian semakin yakin jika pemuda di depannya adalah Zhang Yu. Dia segera menggelengkan kepala atas pertanyaannya. "Tidak. Tidak berani," jawabnya tanpa ragu.


Bagaimana mungkin Duan Jian berani macam-macam dengan orang yang mampu menghancurkan Klan Wen sendirian. Bahkan dalam satu malam. Dengan kekuatan seperti ini, bahkan jika Duan Jian memiliki seribu nyawa pun akan berpikir ribuan kali untuk menantangnya.


"Zhang Yu, Ah ... Maksudku Tuan Muda Zhang Yu, apa kau membutuhkan pengikut?" tanya Duan Jian tiba-tiba.


"Aku dapat melakukan apapun yang kau minta dan aku cukup berguna," tambah Duan Jian sedikit menyombongkan diri.


Tetapi Zhang Yu bahkan tak menggubrisnya. Zhang Yu membiarkan Duan Jian terus mengoceh tapi tak sekalipun membalas perkataannya.


Bahkan ketika mereka sampai di teluk Kota Heishan, Duan Jian terus mengikuti Zhang Yu saat turun dari kapal.


Duan Jian melihat sosok Zhang Yu sangat luar biasa. Masih muda tapi memiliki kekuatan yang tinggi. Dengan porenai seperti ini Duan Jian yakin nasibnya tidak akan buruk jika mengikutinya.


Zhang Yu berhenti setelah memasuki pasar. Dia mengedarkan pandangannya karena merasa ada tatapan yang mengawasinya.


Tentu dia sadar itu bukan Duan Jian. Tatapan ini tidak mengandung kebencian ataupun dendam. Tapi Zhang Yu dapat merasakan tingkat bahaya yang nyata.


Meninggalkan pasar Zhang Yu sampai di pusat kota. Tidak tahu ini hanya perasaannya saja atau memang suasana kota Heishan menjadi lebih padat. Banyak sekali orang padahal sudah mau malam.


"Zhang Yu!"

__ADS_1


Satu suara membuat langkah Zhang Yu berhenti. Seorang wanita berkati mendekat ke arahnya dengan tergopoh-gopoh.


"Tidak kusangka ini memang kau," seru gadis itu lagi yang tak lain adalah Tang Yue.


"Kenapa kau di sini?" tanya Zhang Yu.


"Ini adalah tanah kelahiran ku. Karena aku sangat rindu jadi aku pulang untuk melihat orang tuaku. Selain itu aku meninggalkan akademi bersama He Jiao. Hari ini kita akan kembali ke akademi. Seharusnya dia sudah sampai beberapa jam lalu. Tapi sampai sekarang dia belum juga muncul. Aneh!" decak gadis itu.


Tidak ada yang merasa aneh dengan hal itu karena Tang Yue berpikir He Jiao memang sedang dalam urusan sehingga terlambat.


Akan tetapi tepat pada saat ini, sekelompok orang berjalan dari arah utara sambil berbincang-bincang. Satu topik yang sedang mereka bahas membuat Zhang Yu dan Tang Yue mengerutkan kening secara bersamaan.


"Bahkan di siang hari bolong satu keluarga dihabisi tanpa belas kasihan. Benar-benar miris melihat nasib keluarga He."


"Sekarang hanya beberapa orang yang lolos dari tragedi ini. Entah bagaimana mereka bisa melupakan peristiwa ini yang menghancurkan keluarga mereka."


"Entah siapa yang melakukannya. Tapi sepertinya adalah kelompok yang sangat kuat mengingat hal ini terjadi dalam waktu singkat dan bahkan satu kota tidak ada yang menyadarinya."


Zhang Yu dan Tang Yue terdiam mendengar pembicaraan kelompok orang yang sedang berjalan. Setiap kata terdengar sangat jelas dan mereka tidak mungkin salah memahaminya.


Keluarga He hancur?


Tentu saja Zhang Yu mengikutinya tak membiarkannya pergi sendiri.


Sesampainya di wilayah utara, mereka berdua dikejutkan dengan penampakan kediaman yang hancur dan rata dengan tanah. Kondisi ini benar-benar mengingatkan Zhang Yu dengan mirip kondisi Klan Zhang saat itu.


"He Jiao!" teriak Tang Yue seraya naik ke bangunan tertinggi yang bisa dilihatnya. Dia terus berseru sambil matanya berpendar mendeteksi keberadaan orang-orang di sekitar.


Saat menemukan satu mayat tertimpa reruntuhan tembok, Tang Yue berlari lalu menghancurkan tembok itu untuk melihat mayat tersebut.


Bukan. Ternyata bukan He Jiao.


Tang Yue senang untuk hal ini. Dia kembali naik ke bangunan lain lalu sekali lagi memanggil nama He Jiao.


Sementara itu agak jauh di belakang Zhang Yu mengamati kekacauan ini sambil berusaha menemukan petunjuk tentang pelakunya. Sayangnya selain jejak serangan dan darah yang tertinggal di tanah tidak ada apapun yang berguna.


"Tuan Muda, ada yang masih hidup di sini!" Duan Jian berseru sambil melambaikan tangan pada Zhang Yu.

__ADS_1


Zhang Yu segera mendekat. Begitu pula dengan Tang Yue. Mereka melihat tubuh yang tertimpa gapura dan menyisakan satu tangan kirinya yang berusaha bergerak.


"Cepat angkat bebannya," pintar Zhang Yu.


Segera setelah itu Duan Jian mengangkat puing-puing gapura yang besar sehingga tampak sosok yang ada di bawahnya.


"Paman gendut!"


Seketika nafas Zhang Yu tercekat mengenali sosok tersebut. Dia tak lain adalah Du Xiong. Kasim keluarga He yang cukup akrab dengan Zhang Yu.


"Paman gendut!" panggil Zhang Yu berusaha memeriksa kesadarannya. Namun bahkan jika dia mampu menggerakkan jari tangan kirinya, tapi sepertinya kesadarannya sangat sangat lemah.


"Bantu dia untuk duduk. Aku akan membantunya memulihkan luka," pintar Zhang Yu.


Duan Jian dan Tang Yue segera membantu Du Xiong duduk bersila. Zhang Yu mengalirkan Qi ke tubuh Du Xiong lalu secara bertahap mengembalikan kondisi pria tua itu.


Setengah jam kemudian Du Xiong sadar. Dia terkejut saat menyadari dirinya tidak mati.


"A-aku selamat?!" ucapnya tak percaya. Karena dia sendiri sudah berpikir akan kehilangan nyawa saat tubuhnya mati rasa. Siapa yang mengira sekarang dia kembali dapat membuka matanya dan merasakan tubuhnya.


"Paman gendut, kau jangan banyak bergerak. Tulang rusukmu hancur sementara tulang punggung mu patah. Jika kau bergerak sembarangan, mungkin kau tidak akan pernah pulih sepenuhnya."


Du Xiong mengangkat wajahnya menatap Zhang Yu. "Zha-Zhang Yu, apa kau yang menyelamatkanku?"


"Kami bertiga yang menyelamatkanmu," bantah Zhang Yu seraya melirik Tang Yue dan Duan Jian.


Du Xiong terhenyak beberapa saat sebelum berterima kasih dengan tulus. Sedetik kemudian dia bangkit berdiri meski kondisi tubuhnya sedikit tidak memungkinkan.


"Paman gendut, ...."


"Jangan mempedulikan kondisiku. Bahkan jika lumpuh sekalipun aku tetap harus menemukan nyonya dan nona muda." Itu adalah tugasnya. Du Xiong merasa memiliki kewajiban untuk melakukannya.


"Jadi He Jiao selamat? Di mana dia sekarang?" tanya Tang Yue.


Melihat seseorang yang begitu khawatir dengan keadaan nona mudanya membuat Du Xiong sekilas memperhatikan Tang Yue. Dia tersenyum saat mengingat wajahnya. "Ternyata Nona Muda Tang. Nona Muda sangat beruntung punya teman seperti Nona Muda Tang," ucap Di Xiong pelan.


"Nona muda dan nyonya pergi melewati jalur rahasia. Jalur rahasia itu mengarah ke timur dan seharusnya mereka berdua sudah sampai di perbatasan."

__ADS_1


"Zhang Yu, aku harus memastikan keselamatan mereka. Itu adalah janjiku pada Tuan Besar. Kau harus membantuku menemukan mereka." Setelah mengatakannya Du Xiong menggigit ujung bibirnya sambil mencengkeram tangannya.


"Aku juga harus memastikan gulungan teknik rahasia itu tidak jatuh ke tangan musuh," batinnya.


__ADS_2